Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 77


__ADS_3

Vote sebelum membaca😚😚😚


.


.


"Ada yang ingin anda beli, Señor? Aku akan keluar sebentar."


"Tidak, Jess. Jika bertemu Louis, suruh dia datang."


"Baik."


Jess segera pergi dari tempat itu menuju hotel tempat adiknya berada. Tidak jauh, hanya berjarak beberapa menit saja dari keramaian Malibu yang sesungguhnya. Rasa sakit dalam tubuhnya tidak lagi Jess rasakan, dia hanya fokus untuk menemui adiknya.


Berada di kamar VVIP, Jess mengetuk pintu sampai adiknya yang kini berambut pendek keluar.


"Jess? Masuklah? Kau sudah sarapan?"


Jess mengangguk. "Tapi aku tidak keberatan jika kau akan membuatkanku makanan lagi."


"Aku sedang memesan."


"Baiklah." Jess mengedarkan pandangan, ruangan yang sangat bagus, dengan fasilitas sempurna. "Apa kau betah berada di sini?"


"Ya, tapi tidak senyaman itu. Aku ingin keluar dari sini."


Jess mengeluarkan rokok, dia mulai menghirupnya sambil membuka jendela agar udara masuk.


"Kenapa terburu-buru?"


"Jess kita sudah tiga hari berada di Malibu, aku ingin pulang."


"Kau tahu aku bekerja pada Norman, untuk sekarang dan selamanya."


"Maka biarkan aku juga melakukannya. Aku tidak ingin diam di sini bosan, setidaknya jika aku bekerja pada mereka aku juga akan mendapatkan uang."


"Kau akan aku pulangkan."


"Tidak!" Jan mendekati saudarinya dengan penuh amarah. "Aku tahu kau akan hilang lagi, Jess. Aku tahu bagaimana dirimu."


"Apa yang ingin kau kerjakan?"


"Aku ingin merawat Malia."


"Menjaganya saja kau tidak benar."


"Jess!" Jan tidak terima. "Aku sudah menganggap Malia sebagai saudaraku, aku juga tidak ingin menjauh darimu. Biarkan aku tetap dalam lingkaran ini."


Jess tidak menjawab, dia melangkah ke balkon sambil merokok. Dan sialnya, balkon itu bersebelahan dengan balkon milik Yoseph. Dimana pria itu sedang duduk di pojok balkon sambil memainkan laptop.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Jess.


"Shit! Kau menakutiku," ucap Yoseph memegang dadanya yang berdetak kencang. "Sesuai keinginanmu, aku meminimalisir berita tentang El Sinaloa."


"Buat mereka menganggap El Sinaloa mati."


"Sesuai keinginanmu, Jess."


Jess melanjutkan merokok, dia keluar dari tempat itu. Untuk menyampaikan pesan pada Louis. Saat mengetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban. Sampai yang ketiga kalinya, baru terbuka.


"Ada apa?"


"Señor Norman meminta bertemu."


"Sepagi ini?"


"Ya, Señor."


"Kenapa tidak mengirim pesan?"


Jess menggeleng. "Saya hanya menyampaikan pesan. Sampai jumpa."


"Ck, semua anak buah Norman seperti itu. Agak autis."


***


Tanpa diduga, Louis disuguhkan oleh aroma sarapan yang menggugah selera. Norman memasak untuknya, dan itu adalah hal yang aneh untuknya.


"Kenapa kau memasak, Norman?"

__ADS_1


"Louis! Masuklah!"


Apalagi saat Norman berbalik, Louis terkejut melihat pria itu menggunakan apron. Dia terlihat menggelikan, dan perkataan itu terlihat jelas di wajah Louis.


Membuat Norman berkata, "Aku sedang berusaha menjadi suami idaman yang baik. Cobalah masakanku, aku akan memasak setiap hari untuk Malia."


"Sejak kapan kau belajar memasak?"


"Sejak datang ke sini, tapi mulai lebih baik saat ini," ucap Norman menyajikan begitu banyak makanan di meja. 


Terususn begitu rapi mulai dari panekuk, salad buah dan sayur, telur dadar, sosis, olahan daging giling dan beberapa makanan manis.


"Kau ingin aku memakan semuanya?"


"Seleramu tinggi, harus memakai koki profesional untuk makananmu, maka cobalah ini, makananku tidak kalah dari koki profesional."


Louis menggeleng. "Aku sudah terbiasa dengan rasa lokal saat Lucia menjadi pasanganku."


"Akan aku beritahu dia."


"Aku akan memakannya," ucap Louis seketika.


Dia duduk menghadap makanan yang tersedia. "Kau tidak makan?"


"Sebentar," ucap Norman melepaskan apron.


Dia duduk di depan Louis.


"Berdoa lebih dulu, Norman."


Dan saat itulah Norman melihat sosok ayah di dalam Louis. Bagaimana dia mulai menyempurnakan hidup.


"Bagaimana rasanya?"


"Lumayan."


"Enak?"


"Terlalu manis."


"Malia suka sesuatu yang manis."


"Membereskan di lantai dua."


"Dan dokter? Perawat?"


"Memandikan Malia."


"Memandikan?"


"Hei! Hentikan pemikiran itu, aku tidak menyuruh sembarang orang dan memperlihatkan bagian sembarangan."


Louis mengangkat bahunya, dia mulai mengatakan hal serius. "Papa ingin bicara denganmu."


"Aku belum siap."


"Bahkan dalam telpon?"


"Ya, aku tidak akan pernah siap menerima kenyataan bahwa dia benar," ucap Norman disertai gurauan. "Pria tua itu akan menertawakanku."


"Kau yang mengatakannya."


"Pulanglah, Louis."


Seketika Louis menghentikan kunyahannya, dia menatap Norman sambil menyandarkan pundak di kursi. "Kau mengusirku?"


"Keluargamu merindukanmu."


"Aku berjanji pada Papa untuk membantu dan menjagamu."


"Kau sudah melakukannya."


Louis menggeleng. "Kau belum baik baik saja, aku akan tetap berada di sampingmu sampai kau kembali normal."


"Kau pikir aku gila?"


"Kau tahu apa maksudku."


Louis diam, begitupun dengan Norman. Hingga dia mengatakan dengan nada pelan. "Aku baik baik saja, Louis. Pulang pada keluargamu, aku juga sedang berusaha pulang pada keluargaku."

__ADS_1


***


Sesuai keinginan Norman, Louis berkemas untuk kembali pulang menggunakan pesawat. Dia akan meninggalkan dulu kapal pesiar sebagai jaga jaga jika Norman butuh senjata ataupun Alpha. Karena secara diam-diam, Louis mengambil mereka dari Meksiko dan menempatkannya di kapal Teddy Bear. Mendapat pasokan makanan setiap hari dari orang yang dipercaya Louis.


Hanya membawa satu koper, Louis akan menaiki pesawat jetnya.


Dia mendapatkan telpon.


"Hallo, apa pesawatku sudah siap?"


"Sudah, Señor. Kami sudah berada di Bandara."


"Bagus, aku akan ke sana setengah jam lagi."


Louis keluar dari kamar hotel, dia tahu Norman tidak ingin ditemui lagi. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah mempersiapkan bangunnya Malia. Louis tahu itu hal mulia, tapi juga hal yang sia sia.


Jess yang bertugas mengantarnya sampai bandara.


"Señor…."


"Bagaimana Norman?"


"Seperti biasa, dia bercerita pada Señora Malia."


"Jaga dia, Jess. Dia masih sakit."


"Saya mengerti, Señor."


Masuk ke dalam mobil, Louis menatap keluar jendela.


Norman bilang dia akan mendapatkan uang dari hasil perkebunan anggur di Meksiko tanpa terlibat lagi El Sinaloa. Itu menjadi tanggungan Louis sekarang, kartel yang masih agak berantakan. Masih ada sisa kegilaan di mana mana. 


Sambil diperjalanan, Louis membaca beberapa judul artikel yang sedang trending di Meksiko.


El Sinaloa kembali dinyatakan mati. Vargasta Guereo : Ini hanya manipulasi.


Ditemukan mayat wanita yang diculik, "El Sinaloa membuat ulah?"


Ditemukan banyak sisa baku tembak di Campo Morado, warga yakin itu adalah perang saudara dalam kartel El Sinaloa.


Pemerintah menjamin bangunya El Sinaloa bukan karena campur tangan Marco Valentio.


Pemerintah menegaskan bahwa mereka telah membunuh Marco Valentio 30 tahun silam.


Louis tahu mereka akan tetap menjadi sorotan dunia. 


Saat sampai di bandara, Jess membantu Louis mengeluarkan koper.


"Terima kasih, Jess."


"Sama sama, Tuan."


"Jaga Norman."


"Dengan nyawaku."


Saat Louis berjalan memasuki bandara, dia mendapatkan telpon. Keningnya berkerut mendapatkan telpon dari Lucia.


"Hallo, Sayang. Ada apa?"


"Lihat ke arah kanan."


"Apa? Jangan bilang kau ada di sini."


Tidak lama kemudian, Louis mendengar teriakan langsung. "Daddy!"


Dia segera berbalik, terkejut melihat keluarganya ada di sini. Lucia, Leon, Louisa dan Andrean. Louis tidak percaya, sampai akhirnya Louisa berlari dan memeluk kakinya. "Daddy!"


Louis tertawa, seketika dia menggendong putrinya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini, Sayang?"


Louisa tertawa. "Lee ingin melihat keadaan Aunty Malia, dia pasti akan bangun setelah Lee datang."


"Kau tidak datang karena merindukan Daddy?"


"I miss you too, Daddy," ucap Louisa mencium pipi Louis.


---


**Love

__ADS_1


ig : @Alzen2108**


__ADS_2