Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 40


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


"Señor….."


Marc yang sedang memejamkan matanya itu malas untuk menjawab, dia tidak ingin bertemu dengan siapapun sekarang ini.


"Señor…." Suara itu kembali terdengar, ketukan pintu yang membuatnya terganggu. "Señor Marc….."


"Masuklah." Dia akhirnya membuka mata, sambil berguman, "Dasar sialan."


Sampai akhirnya pelayan itu masuk, dengan nampan di tangannya. Bukan makanan yang dibawanya, melainkan ponse. Pelayan itu berkata, "Ada pesan untukmu, Tuan."


Marc mengambil salah satunya, membaca pesan yang dikirimkan oleh Dennis. 


Pesan itu bertuliskan, "Seseorang masuk ke Meksiko, bernama Don Van Allejov. Dia menggunakan transportasi air. Dia naik kapal Sunday Bay, berhenti di pelabuhan Tecolutla, Varacruz satu hari yang lalu. Kami tidak bisa menemukan posisinya sekarang ini, dan dia baru bisa kami identifikasikan setelah kau memberi foto Don Van Allejov. Sebelumnya dia menyamarkan nama menjadi Ernesto Ville Adreso."


Marc menggenggam kuat ponselnya, dia membantingnya seperti biasa sampai hancur. Membuat pelayan di sana ketakutan, apalagi saat Marc berdiri. "Bereskan itu."


Pelayan baru bisa menarik napasnya dalam saat Marc keluar dengan amarahnya. Pria itu menuju ruang bawah tanah, menemui Malia yang duduk lemah ditemani oleh mayat.


"Frank! Frank!" Teriak Marc membuat seorang pelayan turun ke ruang bawah tanah.


"Anda butuh sesuatu, Señor?"


"Panggilkan Frank!"


"Sí, Señor."


Sambil menunggu, Marc membuka rantai kaki Malia. Perempuan itu sudah tidak sadarkan diri, hanya napas pelan yang dapat didengar. 


"Frank!"


"Sí, Señor." pria berkulit hitam itu datang. "Anda membutuhkanku?"


"Bawa dia ke kamar Norman, dan suruh pelayan membersihkannya."


"Sí, Señor." Pria itu segera mendekat, dia mengangkat tubuh Malia dan membawanya ke lantai atas.


Sesuai permintaan Marc, seorang pelayan wanita akan membersihkannya. Segera setelah Malia dibaringkan di atas ranjang, pelayan itu segera membersihkan luka-luka Malia yang mulai mengering, dengan darah yang masih di sana.


Tidak ada suara dari Malia, dia benar-benar terlelap oleh rasa sakit.


"Astaga, iblis apa yang tega melakukan ini?" gumamnya sambil mulai membersihkan, berbagai obat dan anti septik disiapkan. "Kau akan sembuh dengan ini, Señora."


Dan sesuai perintah, pelayan itu mengganti pakaiannya dengan gaun tidur yang panjang untuk menutupi semua luka sayatan. Pelayan itu juga mendandani Malia, hingga perempuan itu terlihat cantik kembali. Dengan bibir yang ranum, juga pipi yang pink merona.


Saat pelayan itu keluar, Marc berada di sana. Membuatnya terkaget. "Señor." Menunduk penuh ketakutan.

__ADS_1


"Kau sudah melakukannya?"


"Sí, Señor."


"Siapkan makanan untuknya, dia harus terlihat sehat besok. Akan ada tamu yang datang."


"Sí, Señor," ucap pelayan itu segera turun ke lantai bawah.


Sementara bibir Marc mulai membentuk senyuman iblis, disusul oleh tawa yang membuat orang yang mendengarnya merinding. Pria tua yang dikendalikan amarah membuatnya gila, matanya melotot sambil melangkah pelan menuju sofa di ruang bersantai di lantai dua.


Sore ini, Marc ingin menatap senja dengan penuh rasa bahagia. Semua dendamnya akan tuntas. Don akan datang merangkak ke mansionnya, menjemput putrinya yang akan Marc bunuh di depan Don nantinya.


"Akan aku bunuh kau, Don. Sebagaimana kau menghancurkan keluargaku, anak-anakku yang kau hancurkan dan kau butakan oleh cinta. Akan aku buat kau menderita, penuh kesendirian dan kesakitan," janji Marc dalam hati, pada dirinya sendiri.


*****


"Kau mau kemana, Norman?" Tahan Dania saat kekasihnya hendak masuk ke dalam mobil. "Siapa yang menghubungimu barusan?"


"Lepaskan, aku harus pergi."


"Aku ingin kita membuat tatto yang bagus, sebagai pasangan. Bagaimana?"


Norman melepaskan pelan tangan Dania. Bagaimanapun tidak ada alasan dirinya meninggalkan wanita itu. Dania ada bersamanya, maka darinya, dia mengelus pipi Dania pelan.


"Kau mau ke mana?"


"Sesuatu yang penting."


Norman mengangguk pelan. Tangannya kembali di tahan saat hendak kembali masuk. "Kepergianmu membuatku khawatir. Ada apa?"


"Jangan bertanya, Dania. Masuk saja."


"Aku punya satu pertanyaan," ucapnya berdehem. "Kau mencintaiku bukan?"


Norman terdiam, mengakui kalau perasaan menggebu yang ada dalam hatinya dulu bersama Dania hanya gairah sesaat saja. Kembali lagi, tidak ada alasan Norman meninggalkan Dania. "Ya."


Dania tersenyum. "Aku juga mencintaimu," ucap Dania memberi ciuman di bibir Norman.


Membiarkan pria itu menjauh  dan menghilang darinya. 


Norman lebih fokus pada kalimat Don, tidak disangka dia ada di sini. 


Dia berada di Tierra Colorada, hanya hitungan jam dari Acapulco. Sesuai tempat yang dikirimkan Don, Norman menuju ke sebuah motel di pinggiran kota. Berbekal senjata api, Norman masuk ke dalam sana.


Motel tua tanpa lift, Norman menaiki tangga sampai di lantai tiga. Dengan kamar yang ada di ujung koridor.


Tanpa mengetuk, Norman masuk ke dalam sana. Mencari sosok yang sangat dia benci, sampai dia mendengar langkah mendekat. Norman memutar badan. "Beraninya kau datang kemari."


"Demi Tuhan, akan aku lakukan apapun untuk putriku," ucapnya mendekati cahaya.


Di sana Norman melihat, bagaimana mata Don bengkak akibat tangisan. Dia terlihat menyedihkan. Berusaha terlihat baik-baik saja, Don duduk di sebuah kursi kayu, dengan mengisyaratkan Norman ikut duduk di depannya.

__ADS_1


Mereka berdua hanya terhalang meja.


"Apa kau menikahi putriku hanya karena membenciku?"


"Malia akan mati, di tanganku. Begitu pula dengan dirimu."


"Sepertinya Marc memperlihatkan sudut pandang yang salah padamu, Norman."


"Kakekku menderita karenamu, Mamaku kau bunuh dengan keji. Putrimu pantas mendapatkannya."


Tangan Don di atas meja terlihat bergetar, yang segera dia sembunyikan di bawah meja. "Apa Malia masih hidup?"


"Darah membanjirinya."


"Apa kau mencintainya?"


Norman terkekeh, merendahkan kalimat itu.


Don kembali bertanya, "Apa kau mencintainya?"


"Kau tahu apa maksudku, menikahinya hanya karena ingin membunuhmu, memancingmu ke mari."


Don menteskan air matanya, dia terlihat sangat lemah di hadapan Norman. "Siapa Malia di matamu, Nak?"


Norman menelan ludahnya kasar. "Dia bukan siapa-siapa selain musuhku."


"Siapa Malia di matamu, Nak?"


"Bukan siapa-siapa."


"Siapa Malia di matamu, Nak?"


Norman memilih bungkam. Sampai Don mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah amplop cokelat tua yang kotor. Dia melangkah mendekati Norman. "Aku tidak bisa menghentikan anakku untuk mencintaimu, meskipun aku tahu ada amarah di matamu untuknya. Aku tidak bisa menghancurkan kebahagiaan anakku, dia menyayangimu. Dan aku harap, ini akan membuatmu memilih jalan lain."


"Apa ini?" Norman menatap amplop cokelat di atas meja.


Don menggeleng pelan. "Yang dituliskan ibumu, membuatku berjanji untuk memberikannya padamu saat waktunya tiba."


Norman menegang seketika. Dia membukanya, membaca surat dengan tulisan tangan di sana. Don hanya menatap sambil duduk, bagaimana Norman berkaca-kaca di akhir kalimat tulisan itu.


"Marc pintar memanipulasi orang, mendakwah manusia hingga membentuk karakter yang dia inginkan. Aku tahu dia kakekmu, tapi dia bukanlah pria baik. Karena pada kenyataannya, dia meracuni kedua putrinya."


Napas Norman terasa sesak.


Don kembali bertanya. "Jawab aku, Norman. Siapa Malia di matamu?"


Norman meneteskan air mata, suaranya tercekat seolah tercekik. "My Lantern, she's my soul."


---


**Love

__ADS_1


ig : @Alzena2108**


__ADS_2