Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 16


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


"Apa kau mengenalku?"


Pelayan itu menarik napasnya dalam dan segera menunduk panik. "Maaf, Señorita, aku pikir kau orang lain."


"Kau jelas terlihat mengenalku," gumam Malia, dia mencoba tidak kehilangan lagi sumber yang akan membantunya. "Simpan makananku di meja."


"Baik, Señorita." Pelayan itu gugup, dia segera melangkah mendekati meja. Jelas dirinya terkejut dengan kedatangan Malia, karena dirinya yang melayani Malia satu tahun yang lalu ketika datang berbulan madu bersama suaminya yang memiliki villa ini.


Ketika pelayan itu berbalik, Malia sudah ada di depannya. "Astaga! Apa ada sesuatu yang anda butuhkan, Nona?"


"Aku perlu bicara denganmu. Kau mengenalku bukan? Kau terlihat jelas terkejut melihatku."


"I… itu karena wajah anda sangat mirip dengan almarhum majikanku."


"Majikanmu? Boleh aku tahu siapa namanya? Atau mungkin sebelumnya dia punya media sosial? Yang membuatku yakin aku mirip majikanmu."


"M… maaf, Nona. Dia tidak memiliki akun apa pun, majikan saya adalah orang yang tertutup."


Ketika Malia hendak kembali bicara, pelayan itu mengatakan lebih dulu. "Maaf, Nona. Saya kembali dipanggil," ucapnya menyentuh earpiece di telinganya.


"Permisi."


Malia terdiam di sana, dia masih bingung dengan apa yang terjadi padanya. Dia ingin mencari dirinya saat berada di Meksiko, apa sebab ayahnya meninggal di tempat ini. Padahal Meksiko sangat jauh dari tempat kelahiran mereka di Spanyol.


"Kai, waktunya makan."


Anak itu datang lalu mendekat pada Malia, dia duduk di kursi lalu memakan makanan di sana.


"Makanlah, aku akan ke kamar mandi."


Meskipun ada beberapa perubahan di penginapan ini, tapi Malia masih menyadari sesuatu yang tidak asing.


"Aku pernah ke sini," ungkapnya dalam gumaman.


Malia mencuci wajahnya, dia harus mencari tahu sebelum mencari karya seni esok hari. Dia harus menjelajahi tempat yang tidak asing dalam pemikirannya ini.


"Malia….," panggil Kai.

__ADS_1


"Ada apa?"


Saat Malia mencari keberadaan Kai, anak itu sudah ada di ambang pintu. Di sana ada wanita tua yang menjadi neneknya. "Astaga, kau tahu aku di mana."


"Aku menelponmu, tapi Kai yang mengangkat tadi."


"Maaf, aku tidak menyadari telponmu."


"Tidak apa, terima kasih telah menemaninya, aku akan membawanya pulang."


"Tentu."


Namun, saat Kai hendak melangkah di bawa neneknya, tangan anak itu menarik tangan Malia. "Ada apa, Kai?"


Malia seolah tahu anak itu membisikinya, membuatnya menunduk sesaat.


"Pergilah ke arah utara di jalan yang penuh hutan itu, kau akan menemukan jawabannya," ucap Kai lalu pergi menjauh.


Malia masih memiliki tanda tanya, tapi dia mencoba tenang guna jiwa nya tidak gelisah dan menyebabkan rasa sakit di kepalanya.


Malia memakai jaketnya, dia melangkah keluar untuk sesaat. Dia melangkah ke arah yang Kai katakan, yaitu jalan di mana dia bisa keluar dari tempat itu. 


Jalanan itu dikelilingi oleh pohon lebat, itu adalah hutan.


"Ini tidak asing," gumam Malia semakin melangkah. 


"Aku pernah ke sini," ucapnya berbelok ke arah sana.


"Aakkhhh!" Malia berhenti sesaat tatkala merasakan sakit di kepala. Bayangan itu kembali datang, dia melihat ada orang yang pernah menjaga jalan ini.


"Aku harus tahu apa yang terjadi," gumamnya kembali melangkah.


Dan semakin melangkah, Malia merasa pikirannya semakin buntu akan masa lalu. Sampai dia melihat sebuah benteng besar tua yang sudah ditinggalkan.


"Aku ingat ini…."


***


Norman marah, dia hendak menemui Yoseph untuk memarahinya dan meluapkan emosi jiwa pada Jess dan Yoseph. Norman yakin kedua orang itu tahu, tapi mereka diam saja.


Namun, saat hendak menuju hotel tempat Yoseph mendekam, Norman mendapat pesan dari Jess yang mengatakan bahwa senjata di rumah yang ditinggalkan belum diambil.


Ingin sekali Norman meluapkan amarahnya sekarang, tapi dia tahu tempat dan tahu mana yang lebih penting.

__ADS_1


Dia mengurungkan niat untuk berbelok, lurus menuju ke Puerto del Marques menuju ke tempat di mana dirinya pernah memiliki masa lalu kelam bersama dengan Malia.


Tempat itu ditinggalkan, sejak kejadian satu tahun silam. Malia melupakannya, dan tempat itu pantas dijadikan tempat transaksi, bukan kehidupan manis yang mengingatkannya pada mantan istrinya. 


Kening Norman berkerut saat melihat gerbang sedikit terbuka, dia menabrak dengan mobilnya pelan hingga terbuka sepenuhnya.


Norman berhenti di depan mansion kaca itu, tempat saksi bisu bagaimana Malia tersiksa di sini. 


Norman menarik napasnya dalam, dia masuk menuju ruang bawah tanah.


Tidak ada penjagaan di sini, hanya tempat tidak terpakai dan tidak diketahui kebanyakan orang. Bahkan jalan kecil menuju ke mari telah di hilangkan jejaknya oleh Norman, hanya orang orang tertentu yang tahu.


Norman turun ke ruang bawah tanah mengambil beberapa senjata yang akan dia pakai.


Saat kembali naik ke permukaan, jantungnya kembali berdetak kencang melihat sosok yang berdiri di sana.


"Hai, kita bertemu lagi. Sudah aku duga kita berdua memiliki hubungan yang erat, bukan?"


"Aku tidak tahu siapa dirimu."


"Benarkah? Kau dan aku datang ke sini di waktu yang tepat, ini bukan kebetulan. Kau tahu itu?"


Norman hendak menjauh pergi lagi, tapi Malia menahan tangannya.


Dan tanpa diduga, wanita itu memakaikan borgol pada pergelangan tangannya sendiri pada dirinya lalu pada pria di depannya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku tahu siapa diriku, Tuan Derullo."


Norman terkejut, dia menatap Malia yang terlihat berbeda. Ada kehidupan di matanya, wanitanya kini menjadi pemberani.


"Lihat… kau kembali menatapku seperti itu, apa aku benar tentang pemikiranku?"


"Tidak, hilangkan apa yang ada dalam pikiranmu."


"Ternyata benar…."


"Tidak, bukan begitu."


"Aku adalah mantan penggutang, kau rentenir bukan?"


****

__ADS_1


Love,


Ig : @Alzena2108


__ADS_2