
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Norman terlihat kikuk, dia menunduk enggan menatap Malia yang sedang menyajikan makanan. "Duduklah," ucap Malia membuat tatapan mereka beradu. "Duduk dan makanlah."
"Baik," ucap Norman menutup pintu dan duduk di kursi.
Langkag Malia yang terseret-seret membuat Norman ingin membantu, tapi dia masih kikuk dan malu. Apalagi saat Malia duduk berhadapan dengannya, Norman menunduk merasa dirinya tidak pantas.
Malia dengan wajah datarnya memberikan semangkuk pasta makaroni dengan saus jamur. "Makanlah."
"Gracias," ucap Norman mulai melahapnya perlahan.
Saat itu hanya ada keheningan. Malia terlihat tenang dengan makan malamnya, berbeda dengan Norman yang salah tingkah.
Hingga pria itu tidak sengaja tersedak.Â
Malia segera menuangkan air. "Makan dengan pelan, Norman."
Kalimat yang halus, membuat Norman berani mengangkat tatapannya. Yang segera Malia putus dengan kembali fokus pada makanannya.Â
Saat makan malam selesai, Malia mulai membereskan, yang segera diambil alih oleh Norman. "Biar aku saja."
Malia diam, membiarkannya memasukan piring ke dalam mesin pencuci piring. Sialnya Norman tidak tahu bagaimana cara menghidupkannya.
"Hidupkan seperti ini."
"Aku tidak tahu."
"Kau harus tahu, terutama pada sesuatu yang kau rasakan," ucap Malia datar.
Membuat Norman menahan tangan perempuan yang memakai tongkat itu.
Tatapan Malia terangkat. "Ada apa?"
"Maafkan aku, Malia."
"Untuk apa?" Tanya Malia dengan kekehan kosong, hampa begitu pula dengan tatapan matanya.
"Untuk segalanya," ucap Norman berdidi menjulang di hadapan istrinya, tinggi badan Malia hanya sebatas dada. "Maafkan aku yang menyakitimu."
"Hanya itu?"
Norman menggeleng dengan tatapan menunduknya. "Maafkan aku untuk segalanya, rasa sakitmu, niatku yang buruk dan semua lukamu."
Malia mencoba menyembunyikan tangisannya, tidak ingin terlihat lemah di hadapan Norman. "Dan perasaanmu?"
__ADS_1
Norman mengangkat tatapan. "Aku…."
"Kau tidak pernah mencintaiku?"
"Aku mencintaimu," ucap Norman dengan penuh penyesalan, dia merangkup wajah Malia. "Aku mencintaimu sejak awal."
"Kau membiarkanku tersakiti."
"Maafkan aku."
"Kau seharusnya memperjuangkan perasaan itu."
"Maafkan aku, Malia. Aku tidak punya pilihan saat itu."
"Ya, biarkan aku sendiri," ucap Malia melepaskan rangkupan tangan Norman pada pipinya. Dia berjalan menjauh dengan kesulitan
Dan saat Norman hendak membantunya, Malia mengangkat tangannya. "Aku bisa sendiri, Norman. Jangan sentuh aku."
Norman menurunkan tangannya, dia menundukan tatapan dan membiarkan Malia naik ke lantai atas. Malia merasakan dadanya sesak, dalam hatinya dia bergumam, 'Maaf, Norman, tapi kau harus belajar mempertanggung jawabkan perasaanmu sebelum menjadi seorang Papa.'
Dan Norman melihat kepergian Malia dengan penuh sesak, dia duduk di sofa dan menatap kosong. Harapannya, Malia akan menyambutnya dengan menerima maaf, tapi sepertinya Malia akan terus membencinya. Entah sampai kapan.
***
Jan yang sudah makan malam di sebuah caffe memutuskan untuk kembali, apalagi ini hampir tengah malam. Dia yakin Norman dan Malia sudah tidur bersama.
Membuat Jan tersenyum bahagia jika Malia senang. Namun, berbeda dengan dugaannya. Norman tidur di sofa di ruang tamu.Â
"Kau berbohong padaku, Jan."
"Hm…." Jan nampak bingung dengan jawaban yang akan dia berikan, dirinya berdehem. "Maaf, aku hanya ingin kalian memiliki ruang bersama berdua."
Norman terdiam, memberikan gambaran pada Jan atas apa yang terjadi. "Kenapa kau tidak lihat dia, apakah dia sudah tidur atau belum, Señor?"
Norman terdiam tidak tertarik sama sekali.Â
"Señor…" Jan mendekat dengan membawa sebuah soda dari dalan kulkas, dia duduk di sofa lain. "Dia sangat merindukanmu, dia membencimu karena kau tidak memeluknya saat ini."
"Bagaimana bisa aku memeluknya sedangkan dia sangat membenciku?"
Jan menggeleng. "Dia menginginkanmu, percayalah padakku. Dia ingin kau ada di sisinya."
"Dia menginginkanku atau tidak, aku akan tetap membawanya keluar dari sini lalu membunuh Marc."
"Señor." Jan menarik napasnya dalam. "Temui dia dan bicara padanya."
Norman mendudukan dirinya, dia menatap lantai dua yang sudah padamÂ
"Setidaknya peluk dia dalam tidurnya."
__ADS_1
Seolah terhipnotis oleh perkataan Jan, Norman berdiri dan menaiki lantai dua. Jantungnya berdetak kencang saat dia hendak menemui kekasihnya, dia ingin memeluk dan menciumnya, walaupun itu dalam tidur.
Kenyataannya, saat Norman membuka pintu, dia mendapati Malia masih terjaga sedang menggunting kukunya.Â
"Maaf," ucap Norman saat tatapan mereka beradu.
"Kemarilah," panggil Malia dengan lembut. "Duduk di sini."
Tatapan Norman terpaku pada bagian ranjang yang Malia usap. Perlahan, Norman melangkah ke sana dan duduk di sana. Tanpa diduga, Malia mengusap tangannya. "Kukumu panjang, Norman, kita harus memotongnya," ujar Malia mulai memgguntingnya pelan.
Lama Norman terpaku pada wajah cantik istrinya, membuat jantungnya berdetak kencang. Norman memulai pembicaraan. "Aku membunuh Dania."
Tidak ada jawaban dari Malia, dia masih terfokus pada kuku Norman yang dia rapikan.
"Aku menembak Dennis," lanjutnya lagi. "Jess sedang pergi ke Campo Morado, melihat apa Marc ada di sana. Jika iya, akan aku keluarkan dirimu dari sini setelahnya aku akan membunuh Marc suapaya tidak mengganggumu lagi."
Tanpa diduga, Malia malah mengatakan, "Seharusnya kau menggunting kuku lebih sering supaya tidak seperti ini, Norman. Lihat, banyak debu yang masuk."
Malia menatap sesaat suaminya. "Bagaimana jika kau makan menggunakan tangan? Kotoran ini akan ikut termakan olehmu."
Norman hanya mengangguk, membiarkan Malia memotong kuku terakhirnya. "Sudah selesai, kukumu sekarang rapi dan cantik."
Tatapan Norman tidak teralihkan dari Malia yang meremas tissue berisikan potongan kuku dan memasukannya ke kotak sampah.
"Ini sudah malam, kau ingin tidur di pangkuanku?" Malia menawarkan diri.
Siapa yang ingin menolak tawaran dari wanita yang dicintai? Apalagi dengan senyuman dan wajah cantiknya, Malia mengusap rahang Norman yang mulai berbulu. "Kemarilah, tidur di sini."
Norman tidak bisa berkata-kata. Dia melakukannya.
Jantungnya berdetak kencang tatkala Malia mengusap kepalanya perlahan dan penuh kelembutan. Membuatnya nyaman dan sedih di saat bersamaan, Norman tidak ingin kehilangan momen ini.
"Maafkan aku, Malia."
Perempuan itu hanya tersenyum tipis. "Norman, aku baik-baik saja."
Pernyataan itu malah membuat hati Norman seolah tercubit, air matanya mengenang. "Maafkan aku, Malia."
"Dengar, Norman, kau boleh berjuang sekuat tenagamu untuk kita. Tapi aku mohon, jangan membenci Tuhan jika sesuatu terjadi diluar kehendakmu. Kau boleh kecewa jika kehidupan ini membuatmu kalah, tapi kau harus bersedih jika kau tidak memenangkan kehidupan-Nya yang selanjutnya."
Air mata Norman menetes, tanpa suara.
"Hidup itu sesaat, Norman, kau harus istirahat sejenak."
Dan ketika Norman memejamkan matanya, masuk ke alam mimpi, Malia berkata, "Selamat malam, Suamiku, aku menyayangimu."
---
**Love,
__ADS_1
ig : @Alzena2108**