
Vote sebelum membaca😜😜
.
.
Jess berdiam lama menunggu saudarinya mengangkat telpon. "Astaga, Jess. Angkat."
"Hallo?"
"Darimana saja kau?"
"Aku sedang mengawasi, apa yang kau butuhkan?"
"Aku mendapatkan suratnya, ini sudah datang. Tapi alangkah baiknya kita menyingkirkan kutu."
Jess diam tidak menjawab.
"Jess, bagaimana dengan kutunya?"
"Baiklah, kau singkirkan."
Setelah mendapatkan persetujuan itu, Jan berdiri. Dia sudah agak mendingan dengan semua kerja keras yang dilakukannya.
Jan menghubungi Edward, memintanya datang dan membawakan buah buahan.
Tidak lama kemudian, Edward datang dengan apa yang diinginkan Jan.
"Jan, bagaimana keadaanmu?"
"Cukup baik, kau membawakannya?"
"Aku bisa mengupaskannya untukmu, aku tidak ingin kau menusuk diri sendiri dengan pisau."
"Ha ha ha, sangat lucu," ejek Jan.
Dia duduk di ruang makan menunggu buah dihidangkan. Saat itu, dia menimang keputusannya untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Jan menarik napas dalam saat Edward datang dengan makanan dalam piring.
"Ini buahmu, Jan."
"Terima kasih, Ed."
"Bagaimana kabar Malia? Dia belum menelponku."
"Dia sedang istirahat."
"Baguslah. Kalau begitu nikmati makananmu," ucap Edward hendak keluar dari sana.
Namun, Jan menahannya dengan panggilan. "Tunggu, Ed!"
Edward berbalik. "Kau butuh sesuatu?"
__ADS_1
"Aku perlu memberitahuku sesuatu."
"Sepertinya penting?"
"Diam dan datanglah," ucap Jan mulai kesal.
Edward mendekat, dia duduk di dekat Jan yang memasang wajah serius.
"Ada apa?"
"Aku ingin memberitahumu, tentang masa lalu Malia," ucap Jan memberikan surat itu pada Edward agar dia tahu bagaimana perjuangan dan cinta yang suaminya berikan untuk Malia.
"Apa ini? Surat cinta?"
"Bacalah, dan aku mohon jangan patah hati."
****
"Ayahku berhutang padamu bukan?"
"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Lepaskan tanganku," ucap Norman mencoba melepaskan borgol di tangannya. "Buka ini."
"Tidak sebelum kita bicara," ucap Malia lalu melangkah, yang otomatis menarik tangan Norman untuk ikut melangkah.
"Lepaskan borgol ini, atau--"
"Atau apa?" Malia berbalik dengan menatap tajam. "Kau akan menjualku dan membuatku menghasilkan uang dengan cara kejam?!"
"Bu… bukan begitu."
Norman terdiam ketika Malia kembali menariknya dan membawanya menaiki tangga, hal itu membuat Norman panik. Dia takut Malia ingat apa yang terjadi diantara mereka, membuatnya menghentikan langkah yang otomatis membuat Malia ikut tertarik berhenti. Tenaga Norman jauh lebih besar.Â
"Astaga! Tanganku sakit, ayo melangkah."
"Kalau begitu lepaskan, aku harus pergi."
"Tidak sebelum kau ikut dan jelaskan apa yang aku lihat."
Malia kembali menarik tangan Norman hingga pria itu mengikutinya. Jantung Norman semakin berdetak kencang saat Malia membuka bekas kamar mereka dulu dan masuk ke sana.
"Bagaimana pintu ini terbuka?" gumam Norman yang didengar Malia.
"Ah…., ini? Aku menemukannya di sana," tunjuk Malia pada ujung ruangan.
Norman menatap tidak percaya, bagaimana kunci ini ada di sana. Jelas ini direncanakan, dan Norman yakin Jess ikut andil dalam hal ini.
"Bisakah kau berhenti melamun dan duduk?" Malia mendorong dada Norman hingga pria itu duduk di sofa, disusul oleh Malia yang duduk di sampingnya.
"Aku punya banyak urusan, lakukan apa yang kau inginkan. Dan buka borgol ini."
"Apa kau mengenalku?"
Norman mencoba mengalihkan pandang dari mata cantik milik istrinya.
__ADS_1
"Tidak."
"Kau mengenal ayahku, jelas mengenalku."
"Aku hanya tahu dirimu, tapi tidak mengenalmu."
Malia memicingkan matanya, membuat Norman salah tingkah. Perempuan ini sudah berubah banyak. "Hei, kau."
Apalagi mendengar nada suara, ekspresi wajah yang seolah tidak kenal takut.Â
"Hei, kau," panggil Malia lagi.
"Apa?"
"Ceritakan padaku, dan aku akan melepaskan borgol ini darimu."
Norman menarik napas dalam, dia harus melakukan ini.
"Oke, dulu ini adalah rumah ayahmu dan dirimu. Kami bekerja sama akan suatu perdagangan. Lalu karena ayahmu bangkrut, dia pindah dari sini. Barang barang di sini menjadi milikku."
"Itu tidak masuk akal."
"Aku tidak peduli. Lepaskan aku."
Dan sebelum Malia melakukannya, dia merogoh saku Norman.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Norman.
"Mencari ponselmu."
Norman melempar tangan Malia kasar, dia tidak ingin perempuan itu menemukan ponselnya. Karena jelas di sana ada foto pernikahan mereka.
Malia berdecak kesal. "Kalau begitu berikan aku nomormu."
Norman terdiam menatap ponsel yang disodorkan.
"Tidak mau? Kalau begitu kita akan seperti ini selamanya."
Dan tahu Malia tidak main main, Norman memasukan nomornya di sana sebelum mengembalikannya pada Malia.
"Siapa namamu?" Tanya Malia yang mengingatkan Norman pada pertanyaan yang sama dahulu. "Hei, siapa namamu?"
"Enrique."
"Oke, Enrique, aku akan mencoba menelponmu."
Tahu ponsel Norman langsung berdering, itu membuat Malia senang. Dia membuka borgolnya. "Oke, aku akan menelponmu nanti. Kita bisa bertemu lagi."
Dan Norman menjawab dengan dingin, "Menjauh dariku, pergi jauh dan jangan pernah memperlihatkan batang hidungmu di depanku lagi."
----
Love,
__ADS_1
Ig : @Alzena2108