
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
"No….. Jangan lakukan ini, Norman."
Pria itu berjongkok, dengan wajah datarnya dia menatap Malia yang menangis. Tangan putihnya menyentuh jemari Norman, dengan tatapan yang tidak putus. "Jangan lakukan ini, Norman."
"Papamu membunuh Mamaku, Malia."
"Aku minta maaf, aku minta maaf untuknya."
"Karena dia aku mendapat kesakitan, pukulan dan cambukan di setiap malam. Dia menyalahkanku akan semuanya, dia bilang kehadiranku adalah alasan Mama pergi."
Air mata Malia menetes, tangannya kini beralih memegang pipi Norman. "Maafkan aku, maaf aku tidak tahu penderitaanmu."
Norman menahan tangan Malia untuk tidak kembali mengelus pipinya. Dan Malia melihat dengan jelas di mata suaminya, dia tidak ingin melukainya. "Norman….."
"Semua karena Papamu…."
"Semua terjadi karena suatu alasan, ingat apa yang pernah aku katakan?"
"Aku menderita karenanya, Malia."
"Cukup berbicaranya, Norman," ucap Dania datang dengan kameranya. "Holla, aku datang ditugaskan untuk memotret bangkai Malia."
Malia menggeleng kuat. "Tidak, Norman, jangan lakukan ini."
"Ini perintah Marc, Norman. Aku akan menunggu sampai kau melakukannya."
Tubuh Malia menegang. Bukan hanya ketakutan, tapi juga kesedihan mendalam atas apa yang Malia ketahui.Â
"Lakukan itu, Norman!" perintah Dania.
"Tidak, jangan lakukan ini, Norman. Aku tahu masa lalumu menyakitkan, tapi kita bisa membangun kebahagiaan yang baru!"
Dania tertawa keras saat Norman melakulannya.
"Hahahaha, lihat kau kesakitan." Dania mendekat saat Norman berdiri, memotret Malia yang menggeliat menahan sakit. "Astagaaaaa…. Don akan suka melihat foto terbaru darimu."
Malia menahan sakit, meneteskan air mata saat lampu kamera terus saja menjadikannya objek foto.
"Hahahaha, astaga aku suka melihatmu seperti ini," ucap Dania menyeka air mata bahagianya, kini dia beralih menatap Norman yang memegang pisau berdarah. "Kenapa kau tidak membunuhnya sekarang?"
"Kita lakukan dengan perlahan," ucap Norman meninggalkan tempat itu, dia memegang dadanya yang berdetak kencang, entah mengapa apa yang dilihatnya membuat Norman sesak.
Dia menghirup udara kuat saat keluar dari ruang bawah tanah. Keringat menetes dari tubuhnya, Norman menjatuhkan pisau berdarah itu. Wajahnya tetap datar, tapi apa yang ada dalam hatinya selalu membuatnya gusar.
Menelan ludah kasar, Norman melangkah menuju kamar Marc. Di mana pria itu sedang minum anggur di siang hari. Kedatangan Norman membuatnya tertawa, membelakangi pria bermanik abu itu. "Kau tidak membunuhnya?"
"Aku ingin melakukannya dengan perlahan."
"Di bagian mana, Norman?"
__ADS_1
"Kita berikan setiap gambar pada Don."
Marc membalikan badannya, senyum cerah menghiasi wajahnya. Ini yang dia inginkan selama ini. "Ide bagus, Norman."
"Akan aku pastikan Don mendapatkan kesakitan batin, menatap foto putrinya yang sekarat."
Marc mendekat perlahan. "Kau anak yang baik bukan, Norman?"
"Norman?"
"Aku anak yang baik, Kakek."
"Ya, kau tahu kenapa aku melakukan ini?"
"Karena kau benar."
"SÃ." Marc meminum tegukan terakhir. "Tidak ada yang salah denganku, kau tidak bisa membunuhku sebenci apapun dirimu padaku. Karena kau tahu, aku melakukan ini sebab ibumu mati di tangan Van Allejov. Aku melakukan hal benar."
"Kau selalu benar, Kakek."
"Bagus, sekarang keluar. Pergilah, biarkan dia kelaparan di sana."
"SÃ."
"Dan Norman…"
Pria itu berhenti melangkah, membalikan badan sebelum menggapai pintu. "SÃ?"
"Biarkan Dania ikut andil, dia punya ide licik dalam otaknya. Kau akan suka apa yang akan dilakukan Dania pada Malia."
Menelan ludah kasar, pemilik manik abu itu mengangguk. "SÃ, Kakek."
Satu-satunya cara yang bisa Malia lakukan adalah menyeka darahnya dengan menyobek bagian bawah gaunnya. Tidak dalam, tapi darah yang keluar cukup banyak.
Tidak ada yang bisa Malia lakukan, dia hanya terbaring di atas lantai kotor, dengan air mata yang terus menetes.Â
Sampai ketika pintu terbuka, Malia bergerak, membuat rantai di kakinya menimbulkan suara.Â
"Dania….?"
"Hallo, Malia. Senang melihatmu sekarang."
"Dimana Norman?"
"Kekasihku? Dia sedang bekerja."
Malia menatap tidak suka. "Dia suamiku."
Dania tertawa keras, dia berjongkok menatap Dania yang tidur miring menahan rasa sakit. Sekarat menahan sakit. "Dia kekasihku, kau tidak percaya?"
"Kau…. Sial*n!"
Dania kembali tertawa, dia dengan bangganya mengeluarkan ponsel, memperlihatkan foto dirinya dan Norman jauh sebelum Malia dan Norman menikah, bahkan sebelum mereka saling mengenal.Â
"Lihat? Lihat tanggalnya, aku dan Norman saling mencintai jauh sebelum dirimu ada."
__ADS_1
Malia memalingkan wajah, yang mena membuat Dania mencengkram dagunya dan memaksa pemilik manik cokelat itu menatapnya. "Lihat! Lihat! Video ini indah bukan."
Malia menangis keras.
"Ya, kau takkan pernah bisa melakukannya bersama Norman, karena dia membencimu, dia jijik pada kakimu yang cacat."
"Tidak!" jerit Malia sambil meneteskan air mata. "Tidak, dia tidak begitu."
"Pada kenyataannya aku dan Norman berhubungan lama, dia menikahimu karena dia ingin membunuhmu, Bodoh." Cengkraman Dania semakin kuat. "Dan ya, aku bisa menghubungi siapa pun. Ingatlah bagaimana kau disambut baik di sini. Tanda-tanda pembalasan itu tidak kau lihat, dasar wanita bodoh."
Dania melepaskan cengkramannya kuat. "Kau tidak berharga di mata Norman, karena dia akan segera membunuhmu dan juga papamu."
"Tidak….. Tidak……"
"Norman tertekan selama ini, dia muak tinggal bersamamu. Dan satu lagi, Malia. Kau tahu atau pernah mendengar tentang El Sinaloa? Kau berada di sarangnya, mustahil Papamu bisa datang dengan selamat, dia akan datang tanpa kepala yang utuh."
"No!"
Dania terkekeh, dia berdiri sambil melemparkan beberapa permen dari kantong celananya. "Makan saja itu, kau harus hidup untuk disiksa kembali. Oke?"
Dania meninggalkan tempat itu.
Kebahagiaannya semakin bertambah saat bayangan-bayangan indah menyatu dengan khayalannya. Ini yang diinginkan Dania selama ini, Norman membalaskan dendam, dan setelahnya dia akan hidup bahagia bersama.
Kini Dania keluar masuk kamar Norman dengan bebas. Menatap foto pernikahan Norman dan Malia terpajang, membuat Dania murka.Â
Mengambilnya lalu memecahkannya hingga berkeping-keping. Dania tertawa layaknya wanita gila, sampai telpon menghentikan.
"Sialan Dennis," gumamnya. "Hallo? Aku yakin kau mendengar aku tidak bekerja lagi di bar. Ya benar, aku kini di sarang El Sinaloa sedang bersama Norman dan akan selamanya begitu. Jadi berhenti menggangguku, sial*n!"
Dennis terkekeh. 'Benar begitu? Kau lepas tanggung jawabmu, haruskah aku katakan pada Norman kau mengadu pada Marc?'
Gigi Dania beradu, menahan kesal. "Norman tidak ingin berhubungan dengan Dioses La Asesinos, aku tidak bisa memaksanya. Ayolah, sial*n, jangan buat aku kesulitan."
'Baiklah, aku punya penawaran lain.'
"Apa itu?"
'Cepat bunuh Malia, kau tahu aku juga akan mendapat hadiah dari Marc.'
"Hanya itu?"
'Oh no…..,' ucap Dennis dengan suara siulan. 'Aku penasaran bagaimana kau rela melakukan apapun, bagaimana jika aku minta kau menghangatkan ranjangku malam besok?'
"Kau gila! Norman temanmu!"
'Dia temanku saat kecil, tapi sekarang dia musuhku. Aku akan mendapatkan El Sinaloa.'
"Diam bodoh!"
Dennis terkekeh kembali. 'Kau akan menghangatkan ranjangku? Atau aku mengatakan pada Norman kau mengadu pada Marc?'
Dania mengumpat berulang kali, bahkan sampai kakinya menghentak, teriakan itu teredam di lehernya. "Oke, Sial*n."
---
__ADS_1
**Love,
ig : @alzena2108**