
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
"Norman?" gumam Marc.
Sepersekian detik pria tua itu mengeluarkan suatu benda guna memicu trauma Norman.Â
"Kau anak tidak tahu diri! Kau membunuh ibumu!"
Marc tidak memberikan kesempatan pada Norman untuk bergerak, membuat Norman terus berteriak karena rasa traumanya.
"Kau anak nakal!"
"Norman!"
"Kau penyebabnya."
"Aku tidak melakukannya!" Teriak Norman memegang ujung cambuk. Dia menarik Marc hingga terjatuh hingga pria tua itu kehilangan kesadarannya.
Malia yang terikat di sebuah pohon menangis, menatap adegan yang mengerikan. Apalagi saat Norman merangkak ke arahnya, membuka tali yang mengikat dirinya.
"Norman…."
Saat itu, Norman kehilangan tenaganya. Semua traumanya di masa kecil membuat Norman ketakutan, panik dan juga sesak di saat bersamaan. Dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk berdiri.
"Norman…."
Tapi pria itu masih bisa mendengar seseorang mendekat. Dia segera memberikan senjata pada Malia. "Lari…., Malia."
"Apa? Aku tidak akan meninggalkanmu." Perempuan itu panik, dia merangkup pipi Norman. Suaminya tergeletak di atas tanah tidak berdaya.
"Norman."
"Lari, Malia…. Pergi ke arah utara, ikuti cahaya matahari. Sampai kau menemukan sebuah tebing, ada gua di sana. Bersembunyi, dan aku akan menemukanmu."
"No….." Malia meneteskan air matanya. "No, aku tidak akan pergi…."
"Pergi, Malia." Norman terus mendorong Malia agar menjauh. "Pergi……"
Pria itu berkeringat. Bayangan akan siksaan di masa kecilnya tetap terngiang, Norman masih belum bisa melawannya.Â
__ADS_1
Dan perempuan itu melakukannya. Sembari menangis, dia mencoba berdiri dan lari dari keadaan di sekitar. Matahari yang mulai terbenam, menjadi saksi bisu bagaimana dirinya melarikan diri seorang diri.Â
Malia mencoba mencari tebing yang diucapkan Norman. Dan sebelum dia mencapai tebing yang dimaksud, Malia terhenti sesaat saat mendengar suara tembakan disusul dengan teriakan Norman.
Di saat yang bersamaan pula, kayu yang Malia jadikan tongkat itu patah.Â
Namun, Malia tetap berusaha, dia tidak ingin pengorbanan Norman itu sia-sia, dia kembali berdiri dengan tubuh yang ditopang oleh kayu.
"Cari dia, aku tahu dia tidak jauh dari sini."
Malia panik, dia melangkah semakin cepat dengan menyeret kaki kirinya. Untuk menuruni tebing, dia menggunakan kekuatan tangannya sebelum akhirnya mencapai gua yang Norman maksud. Di sana Malia bersembunyi, dia membungkam mulutnya saat menyadari seseorang berdiri di bagian atas gua, tepatnya di ujung tebing.Â
Jika saja seseorang itu menengok ke bawah, dia akan menyadari keberadaan gua dan memeriksanya ke sana.
Malia terus berdoa.
"Kau yakin dia ke arah sini?"
"Ini bekasnya, menggunakan kayu untuk melarikan diri."
"Apa mungkin dia terjun ke bawah?"
"Tidak, dia mungkin bersembunyi dalam kegelapan."
"Aku akan ke arah selatan, kau ke utara."
"SÃ, beritahu yang lain untuk ikut mencari. Dia tidak mungkin bisa keluar dari benteng ini. Dan periksa semua CCTV pada Seth, aku yakin dia setidaknya tertangkap jika masih di sekitar sini."
Malia baru bisa menghela napas lega tatkala kedua pria itu menjauh darinya.
****
Dennis menghela napasnya lega saat mendapati Marc masih hidup, dokter yang merawatnya menjamin dia akan baik-baik saja.
"Bolehkah saya pergi sekarang, Señor?" Tanya sang dokter nampak ketakutan, dia tiba-tiba diculik dan dibawa ke tempat seperti ini.
"Tidak, kau harus tetap di sini sampai dia terbangun."
"Maaf, Señor. Tapi aku meninggalkan rumah sakit cukup lama."
"Diam!" Teriak Dennis, dia mengisyaratkan pada seorang pria untuk membawa dokter itu keluar.
Meninggalkan Dennis di ruangan gelap bersama dengan Marc yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Dan Dennis tidak bisa menahan kekesalannya, pasalnya Norman masih hidup. Yang berarti dia tidak ikut mati meledak di motel yang ada di Tierra Colorada. Dennis menarik napasnya dalam sambil memejamkan mata, dia butuh Marc tetap hidup untuk menerima semua uang pria tua itu yang ada di Swiss. Sampai saat itu terjadi, Norman akan menjadi seorang cucu kesayangan, yang menuruti semua perkataan Marc. Dan dia akan membuat Marc membenci Norman secara perlahan.
"Señor, kau baik-baik saja?" Dennis segera mendekat saat melihat Marc membuka matanya.
"Di mana Norman?"
"Di kamarnya, aku terpaksa mengikatnya dan memberinya beberapa suntikan penenang. Norman tidak terkendali da--"
"Bagaimana dengan Malia?" Tanya Marc memotong pembicaraan.Â
"No, Señor, dia kabur, Norman yang membantunya."
"Pukul berapa sekarang?"
"Pukul 1 malam."
Marc tersenyum, membuatnya terlihat menakutkan. "Dia tidak jauh dari sini."
"SÃ, Señor. Mereka masih mencarinya hingga saat ini."
Dan Marc, dia mengingat bagaimana Norman membencinya dengan tatapannya yang hendak membunuh. Membuat Marc mengepalkan tangan, dia tidak bisa membiarkan satu-satunya keturunannya, darah dagingnya memberontak padanya. Marc harus melakukan sesuatu. "Jangan lakukan apapun pada Norman."
Dennis berusaha menahan kekesalannya. "SÃ, Señor."
"Aku harus merubah pola pikirnya terhadap semua ini, dan itu harus dilakukan sampai Malia aku dapatkan."
"Haruskah aku membunuhnya saat menemukannya?"
Marc menggeleng, dia tersenyum miring. "Berapa penghasilan dari bisnis wanita kemarin?"
"Lebih banyak daripada penjualan narkoba milikmu, Señor."
"Aku yakin akan ada yang menginginkannya."
"SÃ, Señor. Aku mengerti."
Marc menoleh menatap Dennis yang berdiri di sampingnya. "Bagus, Dennis, aku bisa mengandalkanmu."
Dennis tersenyum, karena pada kenyataannya, dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk Norman dan Marc, sampai dirinya bisa memegang El Sinaloa dan mendapatkan semua harta kekayaan milik Marc. "Kau bisa mengandalkanku, Señor."
----
**Love,
__ADS_1
ig : @Alzena2108**