
Vote sebelum membacaš
.
.
"Nona?"
Jess mengalihkan pandangan mendengar seseorang memanggil, seorang pelayan di kapal pesiar mendekat ke arahnya. "Ada apa?"
"Saya diperintahkan untuk memberitahu anda kalau dalam waktu 20 menit kita akan memasuki wilayah perairan Amerika."
Jess mengguk mengerti. "Kau boleh pergi."
Pelayan itu pergi dari ruangan Jan, dimana dia masih terbaring di sana. "Kau mau ke mana?"
"Aku hendak memberitahu Yoseph," jawab Jess.
Namun, Jan tidak melepaskan pegangannya pada saudarinya. "Jan, aku harus keluar."
"Aku tidak ingin sendiri."
"Berhenti manja, aku tahu kau baik-baik saja."
Jan kesal, dia melepaskan pegangannya pada Jess. "Yasudah, pergi saja."
"Diam di sini."
Jess keluar, matanya menjelajahi setiap ruangan. Mencari keberadaan Yoseph yang biasanya duduk menyendiri. Namun, kali ini dia tidak menemukannya.
Jess bertanya pada salah satu pelayan, "Apa kau melihat keberadaan pria penyendiri di sekitar sini?"
"Tidak, Nona."
Jess kesal, dia turun ke ruang bagian bawah. Dan sesuai dugaannya, Yoseph ada di sana diantara mesin dengan laptopnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kenapa kau membuatku kaget?" Tanya Yoseph kesal. "Ada apa?"
"Kita akan memasuki perairan Amerika, aku perlu kau un--"
"Aku sudah melakukannya, tenang saja. Sebelum kau datang, pria lain memberitahuku untuk melakukannya."
"Siapa? Louis?"
"Ya, dia saudaranya Norman."
Jess curiga dengan Yoseph yang tidak melepaskan pandangan dari laptop, membuatnya enggan berpaling. Segera Jess lebih mendekat, dan saat itu Yoseph menyembunyikan apa yang dilakukannya dengan menutupi layar laptop.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Tidak ada."
"Ada, aku tahu itu," ucap Jess mencoba merebutnya.
"Jangan lakukan ini!" Teriak Yoseph enggan memberikan laptopnya. "Lepaskan laptopku!"
Hingga akhirnya Jess mendapatkannya, dia melihat layar laptop itu dan terkejut atas apa yang sedang dilakukan Yoseph.Ā
"Beraninya kau!" teriak Jess dan memberikan bogeman pada pipi Yoseph. Begitu keras hingga pria itu tersungkur dengan kacamatanya yang lepas. Yoseph dengan beraninya meretas hingga mendapatkan uang dari akun uang milik Norman. "Kau mengkhianati!"
"Tidak! Bukan begitu," ucap Yoseph mencoba menahan tangan Jess yang hendak kembali memukulnya. "Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang masuk pada akun Norman dan mencurigai tentang El Sinaloa."
Saat itulah ekspresi wajah Jess berubah, dia menjauh beberapa langkah. Mencoba menutupi kesalahannya, Jess berkata, "Ide bagus, aku akan ke atas."
"Kau tidak ingin mengobatiku?! Hei!"
Jess tidak mendengarkan, dia terus melangkah sampai bertemu dengan seorang pelayan dan berkata, "Ada seorang terluka di ruang mesin, pria yang selalu menyendiri. Tolong obati dia dan bawakan makanan untuknya."
"Baik, Nona."
__ADS_1
Kembali melangkah, Jess menuju kamar Malia. Di mana Norman ada di sana. Dia mengetuk dari luar. "SeƱor, kita hampir menepi dan memasuki Malibu."
Jess masih diam dengan jawaban keheningan. Tiga menit, lima menit hingga sepuluh menit baru pintu terbuka.
"Siapkan mobil dan rumah sakit untuk Malia."
"Baik, SeƱor. Ada lagi yang kau inginkan?"
"Siapkan juga rumah, jika harus dirawat, aku akan merawat Malia di rumah."
"Baik, SeƱor."
"Tunggu, Jess." Norman menahan ketika Jess hendak menjauh.Ā
"Ya, SeƱor? Anda butuh yang lain?"
"Bagaimana kondisi saudarimu?"
"Membaik, SeƱor."
Norman mengangguk, dia memberi isyarat agar Jess menjauh dan melaksanakan perintahnya.
***
Setelah sampai di pelabuhan, sebuah mobil sudah menunggu mereka. Mengangkut Norman dan Malia lebih dulu, menuju rumah sakit milik Louis yang ada di sana.
Sepanjang perjalanan, Norman terus menatap wajah cantik Malia di pangkuannya. Layaknya putri salju, dia terlelap sangat cantik dan tenang. Begitu anggun sampai enggan terbangun.
Dengan Louis yang mengikuti dari belakang, dia harus memastikan adiknya mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Tidak main main, di sana mereka juga ditunggu oleh para medis. Yang sudah menyiapkan ranjang dorong untuk Malia.
"SeƱor Norman?" Tanya salah satu perawat saat Norman turun dari mobil.
"Bantu istriku agar kembali sadar."
"Silahkan baringkan dia di sini."
"Norman?"
Norman menengok. "Louis? Kenapa kau belum pulang?"
"Aku tidak bisa pulang sebelum melihat kau baik baik saja."
Norman diam, dia menatap Louis yang duduk di sampingnya. "Akankah Malia baik baik saja?"
"Dia akan baik baik saja, tenanglah."
Jan dan Jess juga mendapatkan perawatan lebih lanjut di sana. Dengan Louis yang menanggung semuanya.Ā
"Kau tidak akan kembali ke Meksiko?"
"Kau mendengarku, Louis. Aku ingin diam di sini, di rumahku bersama Malia."
Saat itu, Louis menatap Yoseph yang diam di ujung koridor sambil memainkan laptop. Dia menghindari interaksi dengan siapa saja.
"Sepertinya dia akan berguna untukmu."
"Aku tahu," ucap Norman.
Sampai sang dokter keluar, dia menyapa Louis lebih dulu. "Selamat siang, SeƱor Louis."
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Norman langsung.
"Anda bisa bicara di ruangan saya, Tuan."
"Di sini saja, katakan dia baik atau tidak."
"Norman," ucap Louis menahan emosi adiknya.
__ADS_1
"Katakan!"
"Karena benturan di kepala, Nyonya Malia me--"
"Lebih simple!"
"Norman, tenanglah."
"Dia koma," ucap dokter itu, dia menarik napas dalam kembali. "Kondisi tubuhnya normal, tidak ada yang salah. Ini sepertiā¦. Dia akan tertidur sangat lama... "
Tubuh Norman limbung, membuat Louis segera menahannya dan mendudukannya. "Kau baik baik saja?"
"Maliakuā¦."
Segera Louis menatap dokter itu. "Apakah bisa jika dia dibawa ke rumah?"
"Tentu, Tuan. Anda hanya perlu menggunakan jasa perawat untuk mengganti infus sebagai pengganti cairan tubuhnya dan menjaga Nyonya Malia tetap hidup."
"Dia akan hidup!"
"Norman tenang." Louis menahan bahunya, dia kembali fokus pada dokter itu. "Bagaimana dengan luka luarnya? Di kepalanya?"
"Untungnya itu tidak mengenai apapun, bagian dalamnya normal. Hanya luka di luar tengkorak."
"Terima kasih, tolong urus dan bawa dia ke tempat yang aku maksudkan."
"Baik, SeƱor."
Kini Louis fokus kembali pada Norman. "Tenanglah, semuanya akan baik baik saja."
***
Norman ingin yang terbaik untuk Malia, dia menyewa seorang dokter, dengan dua perawat yang akan memberi laporan setiap perubahan kecil Malia padanya.
Louis masih tidak bisa pulang, dia berjanji pada Andrean akan kembali jika semuanya sudah baik baik saja.Ā
Tinggal di sebuah hotel tidak jauh dari rumah baru Norman. Di sana juga ada Yoseph dan Jan. Sementara Jess masih dibutuhkan Norman untuk melaksanakan perintah.
Malam sudah datang, Norman menatap Malia sambil mendengarkan deburan ombak diluar sana.
"SeƱor, sebaiknya anda makan malam dahulu."
"Tidak, Jess. Aku akan di sisi Malia sampai dia terbangun."
"SeƱor, jangan menyiksa diri anda sendiri. Nyonya Malia akan kesal padamu jika tidak hidup dengan baik."
Dan karena perkataan Jess, Norman meminta pelayan membawakan cemilan untuknya. Rumah dua tingkat yang didominasi kaca itu akan menjadi rumah masa depan oleh Malia dan Norman. Dengan bagian pantai privasi, hanya ada pasir dan deburan ombak. Norman tahu Malia akan senang berada di sini.
Dengan dua pelayan yang akan membantu pekerjaan Malia nantinya. Bahkan Norman sudah mengisi semua kebutuhan Malia.
"Señor⦠ini makanan yang anda inginkan."
"Simpan di sana."
"Baik. Ada lagi yang anda inginkan, SeƱor?"
"Tidak, kembalilah."
"Baik."
Menatap kue kenari yang dibawakan pelayan membuat Norman mengingat semua tentang Malia. Saat memakannya saja, air mata Norman mengenang.
Hanya satu gigitan, itu cukup membuatnya kenyang.
Norman yang duduk di atas ranjang kembali mengganggam tangan Malia. "Sayang⦠bangunlah, buatkan aku lagi kue seperti itu. Jangam biarkan aku seorang diri, Malia. Aku merindukanmu," ucap Norman.
Seperti biasa, jawaban yang didapatkannya hanyalah angin malam dan deburan ombak. Norman tidak tahu kapan Malia akan bangun, atau mungkin tidak akan pernah bangun.
----
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**