Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 32


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Manik Dania terbuka, di pagi yang cerah ini dirinya di pagi yang mendung. Namun, saat tahu Norman yang menelpon, Dania langsung terbangun. "Hallo? Norman, ada apa?"


'Datanglah ke mari, mereka tidak akan mencegatmu,' ucapnya singkat kemudian menutup telpon.


Dania mengerti, dia tersenyum senang mendapatkan undangan ke mansion kekasihnya. Segera dia berganti pakaian, mempercantik diri dan mengemudikan mobil menuju Puerto Del Marqués. Dan rasa senangnya hilang di saat Dania mendapatkan telpon dari Dennis. Dia berdecak, bahkan menolaknya untuk beberapa kali.


"Sialan! Kenapa dia terus menelpon." Mengambil earpiece dan memasangkannya di telinga. "Hallo?"


'Dimana kau?'


"Aku pergi ke mansion Marc."


'Mau apa kau ke sana? Dasar gila, aku ada di apartemenmu!'


Dania menurunkan volume, suara Dennis membuatnya terpekik. "Norman memanggilku, dia ingin aku ke sana."


'Ah, kau menikmati hari-harimu bersama Norman?'


"Apa yang kau mau, Baj*ngan?" Tanya Dania penuh penekanan.


Dennis tertawa, terdengar mengerikan bagi seseorang yang berjanji melakukan kerjasama. "Apa yang kau mau, Sial*n?"


'Dengar, aku dengar Norman pernah masuk ke dalam Dioses La Asesinos, kini mereka ingin bekerja sama. Satu ton ganja digantikan dengan senapan, biarkan aku yang memegang kendali, beritahu Norman aku yang memegang semuanya.'


Dania menelan ludah kasar, dia menarik napas dalam. "Kapan kau akan bertemu dengan orang-orang Dioses La Asesinos?"


'Bulan depan, dia akan datang ke Meksiko, jika mendapatkan izin dari Norman.'


Dania mematikan setelah mengatakan, "Akan aku coba."


Selebihnya dia memilih mempercepat mobil, menuju kekasihnya. Saat ditahan orang-orangpun, mereka hanya menatap dan mempersilahkan Dania masuk menggunakan mobil. Gerbang besar terbuka lebar untuknya, dia tersenyum senang, berandai semua ini akan segera dia miliki.


Meksiko miliknya, itu yang dia inginkan.


"Dimana Norman?" Tanya Dania saat masuk.


"Tuan ada di kamarnya, Señorita, di atas sana."


Tanpa bertanya lagi, Dania berlari di tangga kaca yang membuat suara di mansion yang selalu sepi sebelumnya. Sayangnya, senyuman Dania luntur saat dia mendapati Norman tengkurap dengan punggung berdarah.


"Astaga, Norman!" Menyentuhnya saja membuat tangan Dania bergetar. "Apa yang terjadi? Apa…. Ini sakit?"


"Obati lukanya, pakai alat yang ada di sana."


Dengan petujuk tatapan Norman, Dania mengambil kotak obat di walk in closet. Dia segera membersihkan, merasakan ngilu saat luka sebelumnya kembali berdarah. "Apa yang terjadi?"


"Kau tahu apa yang terjadi."

__ADS_1


Dia menelan ludahnya kasar, yang diyakini Dania ini semua karena perkataannya semalam. "Marc?"


"Lakukan saja."


Dania mengobati, kulit yang ditatto itu kembali terluka, banyak luka bekas cambukan yang membuat kulit sobek. "Apa kau masih menghubungi Kakakmu dan Papamu?"


"Kau tahu apa yang terjadi, dan tutup mulutmu."


Dania bungkam, dia tahu Marc membatasi komunikasi Norman bersama saudara dan papanya di Madrid. Pria tua itu jelas menguasai pemerintahan Meksiko, membuat El Sinaloa bebas bergerak melakukan apapun.


"Dennis berkata padaku, Dioses La Asesinos meminta satu ton narkoba, dan sebagai gantinya mereka akan mempersenjatai El Sinaloa."


Tidak ada jawaban dari Norman.


"Aku pikir bagus jika El Sinaloa memiliki senjata terbaik dari kelasnya, kartel kita akan bisa menguasai seluruh daratan Amerika."


"Aku tidak akan melakukannya."


"Kenapa tidak?"


Norman terkekeh dalam rasa sakitnya. "Anggota El Sinaloa melebihi kartel manapun di dunia ini, mereka terlalu banyak, jadi biarkan mereka mati jika berhadapan dengan orang bersenjata."


"Kau gila, senjata yang El Sinaloa pakai tidak sebagus buatan Louis, kau tahu pria itu mendapatkan bahan-bahan terbaik untuk me--"


"Shut up!"


Teriakan Norman mampu membuat Dania berhenti mengobati, dia menelan ludahnya kasar mendengar nada yang penuh penekanan. 


"Aku tidak akan melibatkan Louis ataupun Papa dalam hal ini, Marco Valentio akan memburu mereka."


"Shut up!"


Dania benar-benar kesal, dia menarik napas dalam dan segera keluar segera setelah selesai. Tentu saja setelah mencium kening Norman yang tidur tengkurap.


"Dania El Consejoss."


"Ah, Marco Valentio, kau tampak lebih bugar, Señor." Mendekati pria yang sedang merokok menghadap hutan belakang mansion. "Kau tampak sehat."


"Tentu saja, bagaimana Norman?"


"Seperti yang kau lihat, dia membutuhkanku." Dania memilih tidak duduk. "Aku sedang mencari jus, aku akan kembali ke kamar dan menemani kekasihku."


"Kau boleh tinggal, Dania."


"Apa?" Wanita itu berbalik kembali.


"Malia dikurung di ruang bawah tanah, dengan kaki dirantai."


Dania tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Benarkah?"


"Semuanya akan dimulai, aku butuh kau untuk mencuci otak Norman hingga dia tidak akan pernah mengulurkan tangannya pada Malia."


"Kau ingat janjimu bukan? Imbalannya aku akan menikah dengan Norman dan kekayaan El Sinaloa menjadi milikku juga?"

__ADS_1


Marc terkekeh "Kita lihat cara kerja dirimu, aku perlu kau terus mengawasi Norman."


"Sí, Señor, akan aku lakukan."


****


Lantai yang berdebu, kotor dan dipenuhi barang-barang sudah tidak terpakai mengundang hewan pengerat. Kaki kecilnya berlari, menggigit tangan Malia yang membuat perempuan itu tersadar seketika.


Dia menarik napasnya dalam, tergeletak di atas lantai kotor. Bau menyengat dari bangkai hewan membuatnya mual, Malia mengerang menahan rasa sakit saat dia mendudukan dirinya.


Satu-satunya cahaya dari ruang bawah tanah itu adalah ventilasi dengan kipas yang berputar. Manik cokelatnya sadar apa yang terjadi, saat itu pula seseorang membuka pintu. 


Marc datang dengan pisau di tangannya, diikuti Norman di belakangnya. 


"No… norman….. Akhh!" Malia tersadar, salah satu kakinya dirantai hingga tidak mampu menggapai pria berkaos hitam itu. "Norman…"


"Tutup mulutmu, Malia. Berhenti memanggil cucuku dengan mulutmu itu."


"Apa? Kenapa kau lakukan ini padaku? Lepaskan aku. Norman tolong aku."


Marc terkekeh, dia mendekat.


Pria itu berjongkok "Kau tahu kenapa kau lakukan ini?"


"Kumohon lepaskan aku, Marc. Ini sakit."


"Kesakitan yang Norman rasakan lebih dari ini!"


"Don Van Allejov membunuh putriku, dia membunuh Ibu dari suamimu itu. Dengan kejam, dia merenggut jantung anakku."


Melepaskan wajah Malia kasar, membuat manik Malia berair. "Tidak, Papaku tidak melakukannya."


"Tidak melakukannya?"


Air mata Malia jatuh saat Marc memperlihatkan foto wanita yang mati mengenaskan. "Tidak, itu bukan ulah Papaku."


"Bukan ulah Papamu? Lihat apa yang dia lakukan!" 


"Tidak, tidak." Malia menggeleng pada setiap foto yang Marc perlihatkan. "Tidak, itu bukan ulah Papaku."


"Itu ulahnya!" Teriak Marc mengarahkan benda tajam pada Malia. "Dan kau tahu siapa yang paling terluka di sini? Ya, suamimu."


Air mata terus mengalir di pipi Malia, apalagi saat Marc berdiri dan memberikan benda tajam itu pada Norman.


"Kau akan melakukannya, Norman?" bisik Marc. "Kau anak yang baik bukan?"


"Aku anak yang baik, Kakek."


"Norman, please….. Jangan lakukan ini…. Norman….."


Marc terkekeh. "Lakukan, Norman," ucapnya keluar dari tempat itu.


---

__ADS_1


**Love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2