
Arya telah memulai rencana balas dendamnya terhadap Yogi, melalui Arjuna yang katanya pewaris kekayaan Yogi.
"Kau hanya menganggap Arjun saja, tanpa melihat aku! " Gumam Arya.
Arya adalah anak yang tidak pernah di akui oleh Yogi di depan publik, sebab kehadiran Arya bisa membuat reputasinya rusak. Karna Arya adalah anak dari wanita lain, bukan dari Istri sahnya.
Namun siapa sangka, jika hal itu memicu kemarahan Arya. Sehingga Arya menuntut balas dengan perlakuan Yogi.
Hari ini Arya akan bertemu dengan Arjun untuk membicarakan kerja sama antar mereka. Setelah sebelumnya berdiskusi.
"Kau harus merasakan apa yang aku rasakan, Arjun! " Ucapnya.
Arjun dan Arya bertemu di Cafe yang sama saat mereka pertama kali bertemu.
Saat tiba di Cafe, Arya sedikit terlambat padahal Arjun sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.
"Maaf, Pak Arjun. Saya telat! " Ucap Arya.
"It's oke. No problem! " Sahut Arjun.
Arjun mengerti keterlambatan Arya, mungkin sebab kemacetan yang terjadi di tengah Ibu kota.
"Thanks you! " Ucap Arya.
Arjun mengangguk, dan mempersilakan Adya duduk.
"Silakan, pesan minum! " Tawar Arjun.
Arya pun memesan minuman berupa Milk Tea Drink. Sementara Arjun ia memesan Coffe latte.
Sembari menunggu pesanan datang, keduanya membicarakan sebuah kerja sama yang akan menguntungkan kedua belah pihak.
Tak berapa lama kemudian pesanan keduanya sudah tiba.
"Silakan di minum! " Ucap Arjun.
Arya dan Arjun meminumnya bersama. Selepas itu, mereka pun kembali mengobrol soal bisnis.
"Seperti yang pernah saya katakan. Saya tertarik bekerja sama dengan perusahaan Anda! " Ucap Arjun.
"Sungguh luar biasa. Kau begitu mudah tertipu daya, Arjun. Apakah kau selugu dan senaif itu? " Gumamnya dalam hati.
Arya tersenyum mendengar hal itu, namun lebih ke senyum puas. Ini adalah langkah awal menuju kehancuran Arjun.
"Baiklah, jika memang Anda tertarik dengan seluruh bisnis yang saya tawarkan. Kita bisa bekerja sama untuk selanjutnya! " Sahut Arya.
"Ide bagus! " Ucap Arjun.
Memang ini yang Arya harapkan, bekerja sama untuk masuk ke dalam perusahaan Arjun dan kemudian menghancurkannya dari dalam, rasanya akan lebih seru.
__ADS_1
"Kapan kita akan melakukam kerja sama? " Tanya Arjun.
"Secepatnya. Jika ada waktu saya akan mampir ke kantor Anda, Pak Arjun! " Sahut Arya.
"Oke. Saya tunggu kedatangan Anda! " Ucap Arjun.
Tentu saja Arya akan datang ke kantor Arjun, semua itu ia lakukan untuk mengetahui dan mencari kelemahan perusahaan Pratama Grup. Arya ingin menghancurkan perusahaan yang lama Yogi bangun dari nol.
"Oke. Jika begitu saya mohon pamit! Banyak urusan yang harus saya urus. Next time kita bisa bertemu kembali! " Ucap Arya berpamitan.
Arya pergi meninggalkan Cafe tersebut dan mengendarai mobilnya. Di tengah perjalanan, lagi-lagi Arya tak sengaja menabrak seseorang dan ia adalah wanita yang sama yang tempo lalu ia tabrak.
"Awas!! " Teriak Arya.
Arya menghentikan mobilnya secara mendadak, ia terlihat kaget sekaligus cemas. " Ya tuhan! " Ucapnya seraya turun dan menghampiri wanita itu.
"Kau lagi, kau lagi! Apa kau ingin mati, Nona? " Tanyanya seraya memalingkan wajahnya.
Wanita itu pun mengangkat wajahnya. " Kau lagi, kau lagi. Apa kau sudah bosan hidup, sehingga kebut-kebutan di jalan? " Jawabnya.
"Dengar, Nona. Time is money! Jadi wajar saja jika saya kebut-kebutan. " Ucapnya beralasan.
"Ya, ya, ya. Time is money, mungkin itu hanya berlaku untuk orang kaya seperti mu! " Ucap Rindu kesal.
"Tentu saja. Dengar baik-baik, gara-gara kau kemarin aku harus kehilangan uangku yang jumlahnya tidak sedikit! " Ucap Arya.
"Apa katamu, karna aku? Hallo! Itu semua salahmu, bukan aku. " Sahut Rindu tak mau kalah.
"Menyingkirkan dari mobilku! Aku harus pergi! " Usir Arya.
Saat Rindu hendak menampol kepala Arya, tiba-tiba kakinya tersandung krikil kecil. Beruntung, Arya tepat waktu dan dengan sigap menangkap tubuh Rindu, agar tidak terjatuh.
Pandangan keduanya saling bertemu, Rindu dapat merasakan nafas Arya yang menyapu wajahnya. Untuk beberapa saat mereka saling tatap, hingga akhirnya Arya memalingkan wajahnya dan melepaskan pelukannya.
"Kenapa liat saya seperti itu? Naksir? " Tanya Rindu.
Arya menyipitkan matanya. "Saya, naksir Anda. Maaf, Nona. Saya tidak berselera dengan Anda! " Jawab Arya dingin.
"Lha, terus kenapa liatin? " Tanyanya.
"Dengar baik-baik, saya punya mata. Jadi wajar saja jika saya melihat Anda! " Sahut Arya.
"Baiklah! " Ucapnya.
Arya memalingkan wajahnya, ia tak merespon ucapan Wanita di depannya. Ia pun hendak melangkah menuju mobilnya. Namun terdengar teriakan dari wanita itu, gegas Arya berbalik dan berlari menghampiri wanita itu.
"Tolong!! Tolong!! Tolong!! " Teriaknya kencang.
"Ada apa? " Tanya Arya.
__ADS_1
"Tolong, tolong Anak itu! " Mohonnya.
"Memangnya siapa dia? " Tanya Arya.
Wanita itu menggeleng. " Aku tidak tahu, tapi aku mohon tolong dia! " Ucapnya mengiba di sertai tangis.
Arya menghela nafasnya dan mengangkat tubuh kecil itu masuk ke dalam mobilnya, lantas membawanya ke rumah sakit terdekat.
Arya heran, mengapa wanita itu begitu terlihat sedih padahal ia sama sekali tidak mengenal Anak itu.
"Bisa aku meminta sesuatu? " Tanya Arya seraya melirik Wanita di sampingnya.
"Apa? " Sahut Rindu seraya melirik Arya dengan tatapan tajam, Rindu pun melirik ke bawah dan menutup dadanya.
"Jangan berfikiran Negatif! Aku tidak sepicik itu. " Ucap Arya, ia tahu maksud dari wanita itu.
"Lalu, apa yang kau minta? " Tanyanya.
"Aku minta kau diam, dan hentikan tangisanmu! Kuping ku sakit mendengar mu menagis sepanjang jalan. Jangan sampai orang-orang menuduhku telah melakukan sesuatu terhadap mu! " Ucap Arya.
Wanita itu membulatkan matanya, ia telah salah sangka pada Arya. " Maaf! " Ucapnya.
Arya tak merespon ucapan wanita di sampingnya, ia tetap fokus pada jalanan.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Arya segera turun dan meminta bantuan pada tenaga medis yang berada di sana.
"Tolong, tolong saya! " Teriak Arya.
Dengan tergopoh-gopoh, tenaga medis datang menghampiri pasien yang di bawa Arya. Mereka melarikan pasien tersebut ke UGD agar segera mendapat tindakan.
"Silakan isi formulirnya! " Ucap salah perawat.
Arya mengangguk dan menuju resepsionis untuk mengisi formulir, sementara wanita itu hanya duduk menunggu di depan ruang UGD.
"Kau tunggulah disini. Biar aku yang mengurus segalanya! " Ucap Arya.
Wanita itu pun mengangguk, dan berdoa semoga Anak itu selamat.
Setelah selesai mengisi formulir, Arya pun segera kembali dan duduk di samping Wanita itu. "Apa kau bersedih? " Tanyanya.
Rindu menatap Arya dengan wajah sembab. " Tentu saja! " Sahutnya.
"Kenapa? bukankah dia bukan siapa-siapa mu? " Tanyanya penasaran.
"Aku pernah di posisi itu! " Sahutnya.
Arya mengangguk, ia tak lagi bertanya banyak hal.
"Siapa namamu? " Tanya Arya di tengah heningnya.
__ADS_1
"Rindu! " Sahutnya.
Arya pun mengangguk dan tak lagi bertanya. Mereka menunggu Dokter keluar dari ruangan UGD.