
Saat Arjun mengatahui bahwa Rindu yang menjadi penyelamat bagi karier dan juga nama baiknya, Arjun merasa berhutang budi padanya. Arjun segera menghubungi Rindu.
"Hallo, Rin. Aku ingin mengucapkan terima kasih! " Ucap Arjun, sesaat Rindu mengangkat telepon darinya.
"Untuk apa? " Tanya Rindu heran, mengapa Arjun tiba-tiba mengucapkan terimakasih?
"Kau telah klarifikasi dan menyelamatkan karier dan juga nama baikku! " Ucap Arjun.
"Oh, soal itu? Tidak masalah. Aku tahu kau tidak bersalah!1 " Sahut Rindu.
"Sebagai tanda terimakasih, bagaimana jika aku mengajakmu untuk makan malam? " Tawar Arjun.
Rindu nampak sedang berfikir, awalnya Rindu menolak namun Arjun terus menbujuknya hingga akhirnya Rindu menyetujuinya. "Baiklah. Aku mau! " Sahut Rindu.
"Oke. Aku akan menjemputmu nanti malam! " Ucap Arjun senang.
Arjun pun menutup teleponnya, dan memesan restoran bintang 5 untuk satu malam.
Arjun melakukan ini semua hanya untuk Rindu, ya hanya Rindu. Padahal Arjun bukan tipe Pria romantis bahkan ia tahu bagaimana memperlakukan wanita semestinya. Namun sejak bertemu dengan Rindu, rasa itu muncul dan Arjun mulai mengerti apa yang di inginkan oleh wanita.
Malam hari pun tiba, Arjun telah bersiap dengan setelan jas berwarna cream yang aaaasangat cocok denggan kulit putihnya. Ia pun mematut diri di cermin. " Perfeck! " Ucapnya.
Arjun bersiap pergi dan turun dari tangga, ia pun melewati keluarganya yang sedang mengobrol dan santai.
"Mau kemana, Arjun? " Tanya Novi.
"Keluar! " Sahutnya, namun kali ini Novi melihat ada yang berbeda dengan ekspresi Arjun. Nampaknya wajah Arjun begitu berseri-seri, seperti hendak bertemu dengan seorang bidadari.
"Kemana? Dinner, ya? " Tanya Novi penasaran.
Arjun hanya mengangguk dan tersenyum. Benar dugaan Novi bahwa Putranya tengah kasmaran saat ini.
"Sama cewek? " Tanyanya lagi.
Arjun terlihat salah tingkah saat di tanya lebih detail oleh Novi. Hingga Yogi menyadari hal tersebut. " Sudahlah, Ma. Biarkan sjaat Arjun! " Tegur Yogi.
Novi hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oke! " Sahutnya.
Akhirnya Arjun berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pergi.
"Jangan pulang malam! " Pesan Novi.
"Memangnya Arjun Anak kecil! " Sahut Yogi.
"Bukan gitu, lho. Pa! " Ucap Novi.
"Sudahlah, Papa mau tidur! " Sahut Yogi mengakhiri percakapan.
Novi selalu menganggap Arjun sebagai Putra kecilnya, walaupun ia tahu bahwa Arjun sudah beranjak dewasa.
Arjun tiba di rumah Rindu, lantas ia menelpon Rindu. " Hallo, Rin. Aku sudah berada di depan rumahmu! " Ucap Arjun.
Rindu segera mengakhiri panggilannya dan bergegas menemui Arjun.
Arjun menyimpan ponselnya di saku jasnya, tiba-tiba Rindu memanggil namanya. Arjuna berbalik dan menatap Rindu tanpa berkedip. " Ya tuhan, apakah dia benar Rindu? " Gumam Arjun.
Sungguh, Arjun tidak percaya bahwa saat yang berdiri di depannya adalah Rindu. Ia sangat cantik dengan dress berwarna merah yang memang cocok di gunakannya.
"Lihat apa? " Tanya Rindu membuyarkan lamunan Arjun.
"Tidak ada. Kau cantik! " Celetuk Arjun.
Rindu terlihat malu saat Arjun mengatakannya cantik. Arjun segera membukan pintu mobil hntut Rindu. " Silakan masuk, Baby! " Ucap Arjun.
__ADS_1
Rindu Tersenyum seraya masuk ke dalam mobil, dan Arjun pun segera masuk kemudian melajukan mobilnya.
Bintang-bintang yang bertaburan, lampu jalan yang kian menghiasi malam ini semakin menambah suasana romantis antara Arjun dan Rindu.
"Indah sekali, ya. Bintang-bintang itu! " Celetuk Rindu seraya melihat bintang yang bertaburan di langit.
"Ya, indah. Seperti dirimu! " Sahut Arjun seraya melirik Rindu sekilas.
Sontak saja Rindu melirik ke arah Arjun, nampaknya Rindu dibuat salah tingkah oleh ucapan Arjun.
Arjun menepikan mobilnya di area parkir yang sudah di sediakan, lantas turun dari mobilnya dan tak lupa membukanya pintu mobil untuk Rindu.
"Silakan, tuan Putri! " Ucap Arjun.
Rindu tersenyum dan turun dari mobil, lantas berjalan menuju restoran tersebut. " Kenapa sepi sekali? " Tanyanya heran.
"Aku telah menyewa seluruh restoran ini untuk kita berdua! " Sahut Arjun.
Rindu membulatkan matanya tak percaya. " Benarkah? Berarti kau bukan orang sembarangan! " Ucap Rindu.
"Sudahlah, jangan di fikirkan. Ayo kita masuk! Apa kau ingin berdiri disini saja? " Ucap Arjun.
Rindu mengangguk dan mengikuti langkah Arjun masuk.
Akhirnya Rindu dan Arjun telah berada di sebuah meja yang di hias dengan sangat cantik nan indah, musik romantis kian menambah suasana malam yang cerah ini.
Rindu terpana dengan kejutan yang Arjun berikan malam ini. " Ya tuhan, indah sekali! Ternyata Arjun orangnya romantis! " Gumam Rindu.
Rindu sibuk menelisik seisi Restoran, ia pun menatapnya dengan tatapan takjub. "Apa kau suka? " Celetuk Arjun.
Rindu mengangguk, dan ia benar-benar menyukai malam ini.
Arjun turut senang, jika Rindu senang. Ini adalah hadiah yang pantas untuk Rindu dapatkan. Arjun tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada Rindu yang menolongnya, mungkin saat ini dirinya masih berada di penjara.
Mereka menikmati makan malam dengan sangat romantis dan berkesan. Arjun menunjukkan keromantisannya, walaupun mereka bukanlah sepasang kekasih.
Rindu menatap Arjun tanpa berkedip, mengapa tiba-tiba Arjun mengatakan hal itu? Apakah Arjun akan menyatakan Cintanya pada Rindu?
"Apakah Arjun akan menyatakan Cintanya padaku? " Gumam Rindu dalam hatinya.
Rindu hanya tersenyum dan berharap Arjun mengungkapnya perasaan Cintanya, namun sekian lama menunggu tapi Arjun sama sekali tak mengatakan apapun!
Mungkin Rindu terlalu berharap jauh, hingga akhirnya ia tenggelam dalam harapan itu. Rindu menundukan wajahnya sedih, hal itu di sadari oleh Arjun. "Kau kenapa? " Tanyanya.
Rindu menatap Arjun seraya menggeleng. " Tidak. Aku tidak apa-apa! " Sahutnya berbohong.
1 jam berlalu, acara dinner pun telah selesai. Arjun dan Rindu keluar dari dalam Restoran, kemudian keduanya hendak pulang. Tiba-tiba ponsel Arjun berdering saat ia berada di Area parkiran.
"Hallo! Ada apa, Cavin? " Ucap Arjun, sesaat panggilan tersambung.
"Kau harus kesini, Arjun. Gawat, gawat sekali! " Sahut Cavin panik.
Arjun pun ikut cemas. " Katakan! Ada apa? " Gertak Arjun.
"Ke-kebakaran! Ya, kebakaran! " Ucap Cavin terbata.
Arjun mengerutkan keningnya. " Apanya yang kebakaran? Jenggotmu atau rambutmu? " Sahut Arjun di sertai gurauan.
"Bukan. Gudang mu kebakaran! " Tutur Cavin jelas.
Arjun membulatkan matanya sempurna. "Apa? Gudang kebakaran? Bagaimana mungkin? " Cecar Arjun.
"Kau cepatlah datang kemari dan lihat kondisinya! " Titah Cavin.
__ADS_1
Arjun mematikan teleponnya, ia pun menatap Rindu tak enak, nampaknya Arjun begitu ragu untuk berbicara.
"Ada apa? Katakanlah! " Ucap Rindu, seakan tahu.
"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang! " Ucap Arjun menunduk, ia merasa bersalah pada Rindu.
"Its oke. No problem! " Sahut Rindu.
Arjun mengangkat wajahnya dan menatap Rindu seraya tersenyum. "Terimakasih. Jika begitu aku pergi! " Pamitnya.
Tanpa menunggu persetujuan Rindu, lantas Arjun pergi mengendarai mobilnya menuju gudang yang terbakar.
Rindu berusaha menghentikan taksi, namun hingga menjelang tengah malam Rindu tidak mendapatkan tumpangan. " Apa sopir taksi tidak butuh uang? " Ucapnya kesal.
Lama tak mendapatkan taksi, akhirnya Rindu berjalan menyusuri trotoar. Hingga akhirnya sebuah mobil berwarna silver menghampiri Rindu.
"Siapa yang ada dalam mobil itu? Apakah dia penculik? " Gumam Rindu takut.
Nampak seseorang turun dari dalam mobil, Rindu pun bisa bernafas dengan lega ternyata ia bukan penculik yang berada dalam fikirannya. "Syukurlah. Aku kira kau penculik! " Ucap Rindu.
"Aku, menculikmu! Untuk apa? " Sahutnya seraya menunjuk dirinya.
"Aku kira kayak gitu! Kau sedang apa disini, Arya? " Tanya Rindu.
"Aku habis pulang ngantor! Kau sendiri? " Tanya Arya.
"Dinner! Tapi dia sudah pergi dan aku tidak mendapatkan taksi! " Ucapnya lesu.
"Ya sudah, ayo pulang bareng! Aku antar kamu sampai depan pintu. " Ucap Arya.
Sebenarnya Rindu sungkan menerima bantuan Arya, namun ia terpaksa sebab hari sudah mulai larut tak mungkin seorang gadis masih berada di luar rumah di jam begini.
Rindu pun mengangguk dan naik ke dalam mobil milik Arya.
Di dalam mobil, Arya melirik ke arah Rindu. " Apa kau bekerja? " Tanyanya.
"Ya, tentu saja aku bekerja! " Sahutnya.
"Dimana? " Tanyanya.
"Pratama Grup! " Sahut Rindu.
Arya yang sedang fokus pun melirik sekilas ke arah Rindun. " Pratama Grup? " Ulangnya.
Rindu mengangguk, bukankah Pratama Grup adalah perusahaan Arjun?
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, akhirnya Arya dan Rindu telah sampai di depan rumah Rindu.
Rindu turun dan mengucapkan terimakasih.
"Boleh aku meminta nomor ponselmu? Ya, untuk sekedar mengirim pesan! " Ucapnya seraya menyodorkan ponselnya ke depan Rindu.
Rindu mengangguk dan meraih ponselnya Arya, lantas menuliskan nomornya.
"Jangan lupa save, ya! " Titahnya.
Arya terlihat mengotak atik ponselnya dan menunjukan layar ponselnya pada Rindu. ' Bidadari '
Rindu menggelengkan kepalanya, lantas Arya pun berpamitan dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
Sementara Arjun, ia masih berada di tempat kejadian kebakaran. Memang benar bahwa gudang tempat usahanya telah di lahap si jago merah.
"Bagaimana ini bisa terjadi? " Tanyanya pada Cavin.
__ADS_1
"Sepertinya ini semua akibat dari kosleting listrik! " Sahut Cavin.
Arjun menyugar rambutnya frustasi, sekali lagi ia harus menghadapi situasi sulit seperti ini. Arjun tak mengeri mengapa nasib buruk selalu menimpa dirinya? Ada apa sebenarnya dengan diri Arjun, sehingga sial dan sial yang harus ia dapatkan? Tidak bisakah tuhan adil sedikit saja padanya?