
Hari ini adalah hari pertama Thania bekerja di perusahaan yang sudah lama ia idam-idamkan, sebenarnya Thania sudah lama melamar ke tempat ini namun baru kali ini ia di terima di kantor ini.
Thania sudah siap dengan pakaian kerjanya, dan segera berangkat menggunakan angkutan umum.
Saat Thania baru pertama kali menginjakkan kakinya di kantor ini, tiba-tiba Thania pandangannya terasa kabur dan kepalanya menjadi pusing.
"Ya tuhan. Ada apa ini? " Gumamnya heran.
Thania seolah-olah pernah bekerja di kantor ini, namun dirinya baru kali ini menginjakan kakinya.
Thania menghela nafasnya, dan masuk ke dalam kantor tersebut.
Ia pun segera menuju meja kerjanya, ia merupakan karyawan baru di kantor ini hingga ia perlu di bimbing.
Tiba-tiba manager mengumpulkan seluruh karyawan yang di kantor ini. " Perhatian semuanya! " Ucapnya seraya menepuk tangannya.
Seluruh karyawan berkumpul dan bertanya-tanya mengapa mereka di kumpulkan di sini?
"Ada apa ini, ya? " Gumamnya.
Mereka semua bertanya-tanya, untuk mengatasi tanda tanya mereka semua akhirnya manger pun menyampaikan maksudnya.
"Harap tenang. Siang ini kita akan kedatangan pemilik dari perusahaan ini, jadi saya mohon kerja samanya agar beliau tidak kecewa pada kita! " Ujarnya.
Mereka pun mengangguk, dan mulai kembali bekerja.
Tepat pukul 10: 00 seseorang turun dari mobil dengan kacamata yang menambah penampilan elegannya, kemudian ia pun membuka kacamata dan masuk ke dalam kantor tersebut.
"Hey! Hey! Cepat, Pak Bos sudah datang. Siap-siap dan jangan bertindak ceroboh! " Pesan menager.
Mereka semua berdiri dan menyambut pemilik perusahaan ini dengan menampilkan senyum semanis mungkin.
"Wah, ganteng juga, ya? " Bisik seseorang.
"Ya, mau Gue jadi bininya! " Sahutnya.
Mendengar ucapan temannya, sontak saja ia pun menjitak kepala temannya. " Jangan mimpi. Mana mau dia sama ente! " Ucapnya.
Mendengar bisikan dari rekan-rekan kantornya membuat Thania menggelengkan kepalanya. " Memangnya seganteng apa sih? " Ucapnya penasaran.
Derap langkah kaki pun mulai terdengar, seseorang Pria berjas dan tampan pun masuk membuat mata Thania terbelalak.
"Dia. " Gumamnya.
Thania langsung saja menutup wajahnya dengan telapak tangannya, agar Pria tersebut tak melihatnya.
"Selamat siang, semuanya! " Sapanya.
"Siang! " Sahut seluruh karyawan.
Manager pun menyambut pempinannya dengan ramah, dan penuh hormat. " Mari, Pak Arjun! " Ajaknya.
Ya, dia adalah Arjun Pratama sang pemilik perusahaan ini, sebenernya ini adalah cabang kesekian yang Arjun kelola namun Arjun jarang mengunjungi cabang yang ini.
"Tunggu. Berikan laporan keuangan bulan lalu, saya perhatikan banyak data yang tidak sesuai! " Titahnya.
__ADS_1
Manager pun mengangguk dan segera mengambilkan apa yang Arjun inginkan.
"Silakan, Pak! " Ucapnya sembari menyodorkan data keuangan.
Arjun menerimanya dan mulai memeriksanya, setelah beberapa saat membacanya Arjun memandang satu persatu karyawannya kemudian ia pun melihat beberapa karyawan yang mulai ketakutan dan wajah mereka nampak tegang.
Arjun menghampirinya. " Kenapa dengan wajahmu? " Ucapnya sembari memegang bahunya.
Pria tersebut tersentak kaget, keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya namun dengan cepat ia pun mengelapnya. "Tidak, Pak! " Sahutnya gugup.
Arjun tersenyum miring. " Apa ini? Kau berkeringat sementara di sini ada AC. Apa AC nya kurang dingin? " Ujarnya.
Pria tersebut hanya menggeleng, namun ketakutan terpancar jelas di wajahnya, Arjun tak mau membuatnya terus merasa bersalah hingga akhirnya Arjun pun berbalik.
"Saya menemukan sebuah kecurangan sejak beberapa bulan terakhir ini. Ternyata ada seseorang yang mempermainkan kepercayaan saya! " Ujarnya.
Sontak saja ucapan Arjun membuat seluruh karyawan terbelalak termasuk Manager, dan juga Thania.
"Matilah kita. " Bisiknya.
Namun ia sama sekali tidak membalas bisikan temannya tersebut, ia lebih banyak menunduk.
Arjun telah mengawasi peragai seluruh karyawannya dan beberapa do antara mereka memasang wajah tegang, bak seorang pendosa.
"Kamu, kamu, kamu, dan kamu! " Ujarnya penunjuk satu persatu.
Semua orang memandang pada orang-orang yanh di tunjuk oleh Arjun, dan orang di tunjuk pun hanya saling pandang.
"Maju. Apa perlu saya mengulanginya lagi? " Ujarnya lagi.
"Kalian tahu kenapa alasan saya memanggil kalian? " Tanyanya.
Mereka semua tak menjawab atau pun memandang wajah Arjun.
"Baiklah. Akan aku jelaskan! " Ucapnya.
"Apa kalian fikir saya tidak memperhatikan kelicikan kalian selama beberapa bulan ini? Kalian salah, saya sudah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Bagaimana kalian semua menyabotase data-data itu! " Ujarnya.
"Untuk itu, saya akan memecat kalian semua! " Lanjutnya.
4 orang tersebut memandang Arjun seraya membelalakan matanya. " Apa. Jangan, jangan pecat kami, Pak! " Pintanya.
Arjun tidak bisa menoleransi kecurangan dalam kantornya, ia pun memecat orang-orang yang culas agar menjadi pelajaran bagi karyawan lainnya.
Akhirnya mereka semua pergi dari kantor ini dengan wajah malu, dan tanpa pesangon.
"Awas, Kau Arjun. Aku akan membalasmu atas penghinaan ini! " Batinnya.
Seluruh karyawan memandang kepergian ke 4 orang culas tersebut dengan tatapan miring dan merendahkan.
"Oke. Semuanya saya harap dengan adanya ini kalian menjadi karyawan yang jujur! " Ujar Arjun membulayarkan lamunan seluruh karyawan.
"Dan untuk mu, Yuda, kau harus lebih teliti lagi kedepannya. Saya tidak mau hal serupa terjadi lagi, paham! " Lanjutnya.
Yuda pun mengangguk, dan Arjun membubarkan seluruh karyawan.
__ADS_1
Namun Arjun seperti melihat seseorang. " Hey! Kau tunggu! " Teriaknya.
Thania berpura-pura tak mendengar dan terus berjalan.
"Apa kau tuli atau mau aku pecat! " Ancaman Arjun sukses menghentikan langkahnya.
"Aduh, bagaimana ini? " Gumamnya.
Arjun menghampirinya dan melihat membalik tubuhnya. " Kau! Sejak kapan kau bekerja di sini? " Tanyanya.
"Baru saja, Pak! " Sahutnya.
Untuk beberapa saat pandangan keduanya saling bertemu, dan tiba-tiba saja kepala Thania mendadak pusing.
"Mata itu, wajah itu, tatapan itu. Aku merasa telah mengenalnya sejak lama! " Batinnya.
Arjun menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kau masih punya hutang padaku, Thania... " Ucapnya sembari melangkah pergi.
Thania fikir bahwa Arjun sudah lupa akan hal itu, namun ternyata Arjun masih mengingatnya.
"Dasar pria pelit, dan suka memeras orang miskin! " Gumamnya lirih.
Mendengar ucapan Thania sontak saja Arjun menghentikan langkahnya, kemudian berbalik. " Apa katamu? Aku pelit, dan juga memeras? " Ujarnya.
Thania membulatkan matanya. "Tidak, tidak. Aku tidak bilang seperti itu! " Elaknya.
"Apa kau fikir aku tuli? Aku mendengar ucapanmu, Nona! " Ucapnya.
"Tidak, tidak, Pak. Aku tidak sengaja mengatakan itu. " Sahutnya takut.
Arjun pun memalingkan wajahnya sejenak, kemudian memandang Thania dengan tatapan tajam. "Kau!! " Ujarnya.
Thania pun memandang wajah Arjun, pandangan keduanya bertemu. Entah, mengapa seolah-olah ada sesuatu dalam bola mata Arjun yang Thania lihat.
"Tatapan itu. " Batinnya.
Lama Thania memandang wajah Arjun, hingga suara Arjun membuyarkan lamunannya. " Hey. Apa yang kau lihat? " Ujarnya.
Thania pun menunduk, dan menggeleng. "Tidak. " Sahutnya.
Arjun memilih pergi dari pada terus-menerus bersama dengan Thania, wanita yang membuatnya selalu naik darah setiap bertemu.
"Iih, awas saja! " Ucapnya lirih seraya melenggang pergi.
Thania bisa menghela nafas lega, kala melihat kepergian Arjun. Entah, kenapa setiap tatapan matanya bertemu dengan Arjun ia merasa begitu dekat dengannya, seolah-olah Thania pernah memiliki hubungan bersama Arjun.
Tiba-tiba bayangan-bayangan dalam fikirannya berputar, namun Thania masih melihatnya dengan samar.
Mendadak kepala Thania pusing, dan ia pun hampir saja terjatuh jika tidak ada rama yang menopang tubuhnya.
"Kau tak apa? " Tanyanya khawatir.
Thania mengggeleng. " Tidak. Terimakasih, Rama! " Ucapnya, kemudian Thania memilih pergi.
Rama memandang kepergian Thania hingga punggung Thania hilang di balik tembok.
__ADS_1