BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
EPISODE 109 #KERINDUAN ARJUN


__ADS_3

Sikap Arjun yang masih sama seperti dulu bahkan hingga kini Arjun masih menutup hatinya bagi siapapun.


Beberapa wanita yang mencoba mendekati Arjun pun selalu ia tolak mentah-mentah.


"Jangan pernah ganggu atau pun mencoba mendekati ku! Aku tak suka. " Ujarnya penuh penekanan pada seorang gadis yang berusaha mendekatinya.


Bahkan banyak dari orang yang menganggapnya tidak lagi normal, namun Arjun tak peduli dengan kabar tersebut. Arjun lebih baik mengabaikannya.


"Percuma ganteng, kaya tapi tidak normal! " Sindir ibu-ibu.


"Ya, bener percuma juga ya! " Timpal ibu yang kalian.


Lama-lama Arjun geram mendengar ocehan para ibu-ibu julid hingga akhirnya Arjun pun menghampiri mereka. "Kalian dengan baik-baik. Jika saya tidak normal, lalu kenapa bisa saya memiliki seorang Putra? Apa kalian perlu bukti lainnya? Ingat, saya lebih memilih setia pada cinta pertama saya ketimbang memilih mencari penggantinya, paham! " Ujarnya penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu Arjun segera berlalu pergi. Riuh ibu-ibu julid itu pun terdengar saling menyalahkan satu sama lain.


"Gara-gara, Bu Ajeng nih! " Celetuknya.


"Lho, ko saya. Kan kalian juga ikut! " Bantahnya.


"Kan, bu Ajeng yang mulai! " Sahutnya.


Kini mereka semua saling menyalahkan dan tak mau di salahkan satu sama lainnya.


Arjun pulang ke rumahnya dengan perasaan marah, sedih dan kecewa. Arjun langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapa Mario yang sedang bermain di ruang tamu.


Mario hanya memperhatikan sikap Papanya yang nampak berbeda. " Papa. Kenapa, ya? " Gumamnya.


Arjun membuka laci lantas mengambilnya sebuah foto kemudian duduk di tepi ranjang. "Apa aku salah jika masih mencintaimu dan masih berharap kau kembali? " Ucapnya lirih.


Arjun masih saja berharap Rindu kembali dan semua yang dia alami hanya sebuah mimpi.


Arjun menatap foto Rindu, dan pun menciuminya beberapa kali kemudian mendekapnya, tak terasa air mata pun menetes dari wajah tampannya. Ini adalah sebuah air mata cinta Arjun untuk Rindu.


"Aku merindukanmu! " Gumamnya.


Rasa Rindu yang Arjun miliki tidak bisa di gambarkan bahkan tidak bisa di ungkapkan lewat sebuah kata-kata.


Arjun tak tahu apa yang harus ia jalani tanpa Rindu, bahkan Arjun bertahan hidup hingga detik ini semua itu hanya demi Mario, putranya bersama Rindu.


Arjun begitu larut dalam kesedihan dan luka masa lalunya, sebuah kenangan bersama Rindu tidak mudah ia lupakan.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Arjun, Arjun segera mengusap air matanya dan bangkit untuk membuka pintu.


"Mario. Ada apa, sayang? " Ucapnya, kala melihat Mario yang sudah berdiri di ambang pintu.


Mario hanya menatap Arjun tanpa berkata apapun, kemudian ia pun memeluk tubuh Arjun.


Arjun membalas pelukan Mario, namun ia pun heran dengan apa yang di lakukan oleh Putranya saat ini.


"Ada apa? Kau kenapa, Mario? " Tanyanya setelah mengurai pelukannya.

__ADS_1


Mario hanya menggeleng, namun Arjun dapat melihat sebuah kesedihan di wajahnya.


"Katakanlah! " Titahnya.


"Pa. Apa Papa juga merindukan Mama? " Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Mario berucap.


Namun ucapan Mario bagaikan sebuah taburan garam pada lukanya. Bagaimana Arjun bisa mengungkapkannya bahkan rasa rindunya begitu besar untuk Rindu.


"Apa Mario merindukan Mama? " Ucapnya, dengan mata yang berkaca-kaca.


Arjun tak kuasa melihat kesedihan dan penderitaan anaknya.


Mario hanya mengangguk. "Really miss him! " Sahutnya.


Lagi-lagi Arjun memeluk tubuh kecil Mario hanya sekedar menenangkannya, sebab Arjun tak bisa berbuat apa-apa.


Untuk mengurangi kesedihan Mario akhirnya Arjun merayunya dengan pergi keluar untuk membeli es krim, dan apa yang Mario inginkan. Hingga akhirnya Mario Tersenyum, dan mengangguk setuju.


"Ya sudah, sekarang cepatlah bersiap! " Titahnya.


Mario dengan cepat-cepat pergi ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan di bantu oleh baby sitternya.


Melihat wajah Mario yang begitu mirip dengan Rindu membuat Arjun bisa melihat Rindu dalam versi mini dan bisa melepas rindunya.


Mario sudah bersiap dan menunggu Arjun, hingga akhirnya Arjun menuruni tangga. " Are you ready? " Tanyanya.


"Ready! " Sahutnya.


Arjun segera menggendong Mario masuk ke dalam mobilnya dan menduduknya di samping dirinya.


Arjun dan Mario hanya pergi berdua saja tanpa di temani oleh baby sitter ataupun IRT, sebab Arjun ingin menghabiskan waktunya berdua saja.


Kini mereka sudah sampai di sebuah pusat pembelanjaan terbesar di kota ini.


"Mario. Kau ambilah apa yang kau inginkan! " Titahnya.


Mario mengangguk dan berlari ke gerai es krim dan Arjun hanya mengikuti Putranya dari belakang.


Tiba-tiba Arjun mendengar suara seseorang yang amat ia rindukan akhir-akhir ini.


"Rindu! " Gumamnya, Arjun clingkukan mencari kesana kemari, namun Arjun tak kunjung menemui si pemilik suara itu.


Arjun pun memilih pergi dan untuk mengejar Putranya yang telah jauh dari awasannya. "Mario. Tunggu!! " Ujarnya.


Di sebarang sana seorang wanita tengah marah-marah pada seorang. " Apa kau tidak bisa menggunakan matamu dengan benar, Tuan. Lihatlah, seluruh barang ku hancur! " Ujarnya.


Namun Pria yang bersalah itu pun tak mau tanggung jawab atas kesalahannya, sontak saja sikapnya membuat wanita itu benar-benar marah. "Kau!! " Ujarnya.


Saat Wanita itu hendak memukul Pria di hadapannya tiba-tiba sahabatnya datang menghampiri. "Thania! Jangan!! " Teriaknya.


Wanita yang di panggil Thania pun menoleh. " Kenapa kau menghalangiku? " Tanyanya heran.


Sahabatnya mencoba berbicara dengan Thania dan melerai pertikaian tersebut hingga akhirnya mereka pun berdamai setelah si Pria mengganti rugi.

__ADS_1


Padahal Thania benar-benar marah dengan Pria tersebut, namun ia pun tak punya alasan lagi saat ini.


Thania dan sahabatnya segera kembali untuk membeli beberapa barang yang sempat rusak tadi.


Arjun yang sedang sibuk dengan ponselnya tiba-tiba tak sengaja tertabrak oleh Thania hingga ponselnya terjatuh.


Thania membulatkan matanya, dan berusaha meminta maaf. " Maafkan saya, saya tidak sengaja! " Ujarnya.


Arjun menatapnya dengan tatapan tajam. " Tidak melihatnya, kau bilang? Hey, Nona. Gunakan matamu dan lihatlah ponsel ku jatuh karna mu! Aku tak mau tahu kau harus menggantinya! " Ucap Arjun.


"Apa. Menggantinya? " Ujarnya tak percaya.


Thania segera meraih ponsel milik Arjun dan terlihat layar ponselnya retak, dan Thania tahu bahwa harga Ponsel Arjun sangat mahal.


Thania berusaha menelan salivanya dengan susah payah, sembari menyodorkannya pada Arjun. " Maafkan aku, Tuan! " Ucapnya.


"Tidak. Aku tidak akan memaafkanmu! " Ujarnya.


"Mana KTP dan tanda pengenal mu? " Ujarnya.


Thania hanya mengegeleng. " Apa yang anda lakukan? " Tanyanya.


Tanpa menunggu jawaban Thania akhirnya Arjun mengambil KTP milik Thania. " Apa kau fikir, kau bisa kabur setelah apa yang kau lakukan? Tidak semudah itu. Kau bisa mengambil ini jika kau sudah mampu memperbaiki ponsel ku! " Ujarnya.


Kemudian Arjun berlalu pergi dari hadapan gadis tersebut. " Mario!! " Panggilnya.


Thania hanya menyugar rambutnya, dan menatap kepergian Arjun. "Ahhhh!! Apa-apaan ini? Rasa-rasanya hari ini nasib ku selalu buruk! " Racaunya.


Thania akan memikirkan cara untuk mengambil KTP-nya dari Arjun, namun Thania lupa harus mencari alamat Arjun kemana.


"Tunggu, tunggu. Siapa Pria itu dan alamatnya? " Gumamnya sembari memegangi kepalanya.


Thania lupa menanyakan nama dan juga alamat Arjun, hingga akhirnya Thania segera berlari mencari Arjun.


"Itu dia! " Gumamnya.


Thania berhasil menemukan Arjun saat Arjun hendak masuk ke dalam mobilnya. Thania segera berlari dan berteriak memanggilnya.


"Tuan, Tuan. Tunggu!! " Teriaknya.


Arjun pun menoleh. " Kau! " Ujarnya.


Thania terlihat menghela nafasnya yang terlihat ngos-ngosan. " Tunggu dulu, Aku belum tahu siapa namamu dan alamatmu! " Ucapnya.


Arjun mengernyitkan keningnya. " Untuk apa? " Sahutnya.


"Tentu saja untuk mengambil identitas yang Anda ambil, Tuan. " Ucapnya.


Arjun pun segera memberikannya kartu nama atas namanya dan alamat lengkap kantornya.


Setelah itu Arjun segera masuk ke dalam mobilnya, tanpa memperdulikan Thania.


Thania membaca kartu nama itu. " Arjun Prtama. " Gumamnya. Tiba-tiba kepalanya pusing kala mendengar nama itu. Rasa-rasanya Thania pernah mendengar nama itu, tapi dimana?

__ADS_1


__ADS_2