BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
EPISODE 72


__ADS_3

Tabib mulai memeriksa keadaan Clara. ia mulai memeriksa denyut nadi Clara yang mulai melemah. nampak kekhawatiran di wajah tabib tersebut.


"bagaimana ini, paduka?? ". tanya tabib pada Ki Ageng.


"Dwi Pangga belum juga kembali. " ucapnya.


nampak kekhawatiran diwajah Ki Ageng, nampak kecemasan yang luar biasa. namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Ki Ageng memandang wajah Putrinya dengan lamat-lamat. terlihat wajah putrinya yang terlihat pucat.


"Clara! " ucapnya sembari mendekati putrinya.


"kemana Dwi Pangga sebenarnya?? ". ucap Ki Ageng.


sudah lama ia pergi, namun masih belum kembali juga. Ki Ageng menjadi ragu dengan Dwi, apakah dia benar-benar pergi atau hanya berbohong.


"tidak ada cara lain lagi. aku memang harus pergi kesana! ". gumamnya.


Ki Ageng tak peduli dengan keselamatannya sendiri, yang ia cemaskan saat ini adalah keselamatan putrinya. ia akan menempuh segala cara untuk menyelamatkan Clara.


"ya, aku harus pergi. jika menunggu Dwi kembali, pasti akan lama. apalagi aku tak tahu dia pergi kemana! ". ucapnya.


Ki Ageng mulai meraih jubahnya dan ia mengambil sebuah cincin dari kotak Cincin sebagai pelindungnya disana.


Ki Ageng tak lupa membekali dirinya dengan senjata berupa panah dan pedang.


"tabib tolong jaga putriku dengan baik, sepertinya aku harus pergi untuk mencari bunga itu! ". ucapnya


"baik, paduka. hati-hati dijalan dan jaga keselamatan mu. kami semua membutuhkan pemimpin seperti anda. " ucap sang tabib.


Ki Ageng mengangguk, dan sebelum pergi. ia sempat melirik ke arah Clara, ia pun mencium kening putrinya sekilas dan pergi dari istana tersebut.


"aku pergi! ". ucap Ki Ageng pada tabib.


Tabib mengangguk dan mengantar kepergian Ki Ageng hingga ambang pintu.


Ki Ageng telah menyerahkan urusan istana pada seseorang yang dia percaya.


Ki Ageng mulai menelusuri jalanan setapak, bukit yang tinggi, sungai yang berarus dan terakhir ia harus melewati sebuah hutan belantara untuk sampai di negri siluman tersebut.


"aku harus kembali kesana lagi, tapi ini semua aku lakukan demi putriku! ". ucapnya


Ki Ageng melanjutkan perjalanannya, kini Ki Ageng telah berhasil melewati jalanan setapak dan melewati sungai yang berarus.


"tinggal hutan ini yang harus aku lalui". ucap Ki Ageng.

__ADS_1


Ki Ageng mulai menyelusuri Hutan belantara tersebut. di dalam hutan itu terdapat binatang buas yang siap menyantap siapa saja. maka dari itu Ki Ageng harus waspada.


auuuuuuuu... auuuuu!!


terdengar lorongan serigala dari arah belakang Ki Ageng. ia bergegas membalik tubuhnya, dan disana terdapat beberapa ekor siluman serigala tengaj berdiri disana.


sontak saja Ki Ageng mundur beberapa langkah.


"siapa kalian?? ". tanya Ki Ageng.


"harusnya kami yang bertanya, siapa kau dan mau apa kau kemari?? ". Sahut siluman serigala tersebut.


"aku hanya berniat melewati hutan ini, aku mau pergi ke negri siluman itu". jawab Ki Ageng sembari menunjuk tempat yang hendak ia tuju.


"bohong! kau pasti berbohong. kau pasti ingin mengacau bukan? ". ucapnya tak percaya dengan penuturan Ki Ageng.


terlihat siluman serigala hendak menyerang Ki Ageng. sontak saja Ki Ageng memasang kuda-kuda.


"serang...!!! ". teriak siluman serigala pada kawannya.


siluman serigala pun menyerang Ki Ageng. kini mereka terlibat perkelahian yang sengit. Ki Ageng harus segera menang, agar dirinya segera sampai ke tujuannya.


brugh.. brugh.. brugh!!!


Ki Ageng berhasil melumpuhkan semua siluman tersebut, mereka tersungkur ke tanah. Ki Ageng tak meneruskan membunuh mereka, ia mulai bergerak cepat menuju tempat tujuannya sebelum terlambat.


Ki Ageng pun melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan siluman serigala tersebut.


siluman serigala pun pergi dari tempat tersebut, walau dengan terseok-seok.


"ayo kita pergi!! ". ajak salah satu dari mereka.


blusshhh...


siluman serigala pun pergi dan menghilang dari pandangan.


sementara Ki Ageng, kini dirinya terus menelusuri hutan belantara dengan rasa waspada. di takutkan ada ancaman kembali yang menghampirinya.


beruntung hingga saat Ki Ageng keluar dari hutan tersebut, tak lagi ada gangguan atau bahaya yang menghampiri dirinya. ia pun bisa melewati hutan tersebut dengan selamat. namun ketakutannya kembali muncul, kala ia memandang Negri yang hendak ia datangi.


Ki Ageng terlihat ragu, ketika hendak menginjakan kakinya di Negri siluman tersebut.


"aku tidak yakin, tapi jika aku tidak masuk. bagaimana aku bisa mendapatkan bunga itu? ". gumamnya dalam hati.


hati dan logika Ki Ageng saling bertentangan. hatinya mengatakan jangan pergi, sebab kamu bisa terbunuh. namun logikanya mengatakan, pergi sebelum terlambat dan putrimu menjadi taruhannya.

__ADS_1


tentu saja Ki Ageng memilih mengikuti logikanya dari pada hatinya. ia memilih untuk tetap masuk dan mengesampingkan hal-hal yang lain. sebab, yang terpenting saat ini adalah keselamatan putrinya, Clara.


"baiklah, aku harus masuk. lagi pula aku sudah berada disini, tak mungkin aku kembali dengan tangan kosong. " ucapnya


Ki Ageng pun kembali menginjakan kakinya di Negri siluman yang sempat menjadi bagian hidupnya. namun ia terpaksa meninggalkannya demi sebuah Cinta.


Ki Ageng terpana, kala melihat sisi kiri dan kanan Negerinya. pasalnya sudah lama dirinya tak menginjakan kakinya kesana.


"sudah banyak yang berubah disini, semuanya nampak baru dan berubah, beda dengan saat aku masih disini! ". ucapnya kembali.


Ki Ageng pun mulai menelusuri Negrinya, ada rasa rindu yang tak bisa dia ungkapkan dalam hatinya. Negri yang dulu tempatnya dilahirnya, tempatnya menjajal ilmu. namun kini malah menjadi musuh baginya.


"aku harus berhati-hati disini, bagaimana jika ada yang mengenali diriku? ". gumamnya.


pruk.. pruk!!


seseorang menepuk bahu Ki Ageng, sontak saja Ki Ageng mulai merasa cemas. bagaimana jika dia ketahuan oleh penghuni Negri ini.


"celaka, ini benar-benar celaka! ". gumamnya dalam hati.


sampai saat ini Ki Ageng tak berani membalikan tubuhnya, ia hanya diam di tempat dan menundukan kepalanya.


"Ageng, Kau Agengkan? sahabatku duu!!". ucap seseorang.


Ki Ageng sepertinya mengenali suara tersebut. lantas dirinya membalikan tubuhnya dan memperhatikan seorang pria yang berdiri dihadapannya.


"Sudawira! ". ucap Ki Ageng.


"iya benar, kau masih ingat aku rupanya! ". ucap Sudawira.


Ki Ageng memeluk sahabatnya tersebut dengan sangat erat. Sudawira adalah sahabat Ki Ageng sejak kecil. namun Ki Ageng tak pernah menemui Sudawira semenjak dirinya memutuskan pergi dari Negri siluman.


"tentu saja, apa kabar kau dan Negri ini? ". tanya Ki Ageng.


"baik, namun sayang Negri ini tidak baik! ". ucap Sudawira.


Ki Ageng mengerutkan keningnya


"kenapa? ". tanyanya penasaran.


"adalah, kau bagaimana? apa yang membawamu kemari, Ageng? ". tanya Sudawira.


"aku sedang mencari bunga teratai emas! ". ucap Ki Ageng.


"bunga teratai emas? ". Sudawira mengulang pertanyaan Ki Ageng.

__ADS_1


Ki Ageng mengangguk dan berharap sahabatnya tahu mengenai bunga tersebut. sebab, dirinya amat membutuhkan bunga itu untuk kehidupan putrinya.


__ADS_2