
beberapa hari berlalu sejak kepergian pak yogi, Arya masih terpuruk. ia masih belum bisa menerima kenyataan ini.
ia lebih banyak menyendiri di ruang rahasia miliknya. disana banyak tersimpan kenangan dari pak yogi.
"andai waktu bisa aku ulangi! aku ingin sekali saja bisa memeluk dirimu pah. " Arya berkata sembari memeluk foto pak yogi.
"ya tuhan, mengapa kau selalu mengujiku! ". gumamnya
"hentikan air matamu, Arya! kau tidak pantas menangis. yang harusnya menangis adalah Arjun bukan dirimu! ". tiba-tiba Bu Arumi menghampiri Arya yang masih termenung.
Arya melirik sekilas ke asal suara. namun Arya tak memperdulikan ucapan bu Arumi.
"tidak! aku tidak ingin mengikuti ucapanmu lagi. " Arya berdiri dan menatap bu Arumi dengan tatapan tak suka.
"Arya, dengarkan aku! Papa mu tidak akan tewas, jika saja Arjun tak menembaknya. " bu arumi terus saja mengobarkan kebencian dalam diri Arya pada Arjun.
Nyi Arum tak senang jika Arya menjadi baik. sebab jika hal itu terjadi maka Arya akan pergi menjauh darinya.
"kau ingin aku membunuh Arjun? begitu! "
Nyi arum yang mendengar ucapan Arya pun tersenyum senang. akhirnya Arya bisa terpengaruh kembali oleh dirinya.
"tentu saja tidak! aku tidak akan membunuh Arjun. justru aku akan membunuh mu". ucap Arya sembari berjalan menghampiri Nyi Arum.
sontak saja senyum yang tadi mengembang di bibir Nyi Arum seketika lenyap. Ia tak menyanka dengan apa yang di ucapkan Arya.
"jangan gila kamu, Arya! aku ini Ibumu. " Nyi Arum mundur beberapa langkah.
"kau yang telah membuatku menjadi psikopat, bukan? lalu, mengapa kau harus takut! ". Arya menyeringai ke arah Nyi Arum.
Arya mulai merubah wujudnya, ia pun mengeluarkan kuku-kuku panjangnya. matanya kini mulai merah menyela. bahkan Arya sudah siap menelan Nyi Arum hidup-hidup.
Arya mencengkeram bahu Nyi Arum dan mencekik lehernya. Nyi Arum berusaha melepaskan diri.
"jangan, Arya! jangan... " Bu Arum terbangun dari tidurnya. ia mengelap keringat dingin yang mengucur di wajahnya. bahkan dadanya terlihat naik turun. mimpi ini seolah nyata.
"untung ini hanya mimpi! ". gumam Nyi Arumi sembari mengatur nafasnya.
Nyi Arum meraih gelas berisikan air minum di atas nakas. ia meminum isinya hingga tandas tak tersisa.
__ADS_1
tok.. tok.. tok.. !
tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar dari luar, Nyi Arum bergegas membuka pintu.
Arya berdiri di ambang pintu, ia mengerutkan keningnya dan menghela nafas sejenak.
"mengapa kau berteriak? ". ucap Arya dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya.
"Ibu hanya bermimpi buruk tadi! ". ucap Nyi Arum, tak bisa menjelaskan mimpinya pada Arya. ia bersikap seperti biasa saja.
"oh, baiklah! aku pergi ke kamar. " ucap Arya sembari berlalu pergi dari hadapan Nyi Arum.
Nyi Arum mengelus dadanya. ia bisa bernafas lega sekarang. ia takut Arya curiga pada dirinya.
"bagaimana jika mimpi itu jadi kenyataan? ". pikiran Nyi Arum tertuju pada mimpinya tadi. ia takut jika mimpi itu jadi nyata.
namun Nyi Arum berusaha menepis pikiran buruknya terhadap Arya. karna tidak mungkin seorang anak akan menghabisi nyawa Ibunya sendiri, bukan.
Nyi Arum pun kembali merebahkan dirinya dan memejamkan matanya sampai ia tertidur kembali.
keesokan harinya, Nyi Arum bangun pagi-pagi sekali, ia menyiapkan sarapan untuk Arya.
"ahh lebih baik aku masak nasi goreng saja hari ini! ". Nyi Arum bergegas menyiapkan segalanya. ia memotong semua sayur dan mulai memasaknya.
setelah nasi goreng siap, tak berapa lama Arya turun dari tangga dan menghampiri meja makan.
"Ayo duduk Arya, makan dulu! ". ucap bu Arum sembari menuangkan nasi goreng ke piring Arya.
"terimakasih! ". ucao Arya sembari menyuapkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya.
mereka berdua makan bersama namun tak ada obrolan antara mereka berdua. Arya menyudahi sarapan paginya.
"pelan-pelan, Arya! ". Nyi Arum memperingati Arya agar tidak terburu-buru.
"aku harus segera ke kantor, disana urusanku masih banyak. apalagi kemarin aku hampir bangkrut. " Arya berdiri dan Minum dengan cepat.
Nyi Arum hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Arya.
begitulah Arya, ia mudah marah namun mudah juga untuk kembali baik-baik saja.
__ADS_1
"kau menuruni sifat papamu, Arya! tapi sayang! aku sangat membencinya. " gumam Nyi Arum ketika memandang kepergian Arya.
Arya melajukan mobilnya menuju kantor miliknya. sudah lama juga tak mengunjungi kantor Tersebut. pasti akan banyak tugas untuk dirinya, karna ulah Arjun yang membuatnya harus bersembunyi dan masuk kedalam jeruji besi.
di perjalanan, ia tak sengaja melihat Clara tengah berusaha memperbaiki mobil miliknya yang mogok di tengah jalan. Arya bergegas turun dan menghampiri Clara.
"kenapa mobil mu, Clara? ". ucap Arya sembari melepaskan kacamatanya.
"mogok nih, padahal aku harus segera sampai di kantor! ". clara berkata sembari melirik ke arah jam tangannya. ia mulai resah karna jam kantor akan segera di mulai. namun mobilnya sama sekali belum mau menyala.
"ya sudah ayo barengan! kebetulan kita se arah juga kan? ". Arya menawarkan tumpangan pada Clara.
awalnya Clara terlihat ragu menerima penawaran Arya. namun karna waktunya begitu tak memungkinkan, Clara memilih ikut dengan Arya.
"yaudah deh saya ikut! ". Clara naik ke dalam mobil begitu pun dengan Arya.
mereka hanya terdiam dalam mobil. tak ada satupun di antara mereka yang memulai pembicaraan. Arya sibuk dengan memperhatikan jalannya.
"kamu kemana aja, beberapa pekan terakhir ini aku tidak pernah melihat mu dan juga mendengar kabar dari mu? ". Clara memulai obrolan sembari memandang ke arah Arya yang sedang sibuk menyetir.
"kau tahu! Arjun mu telah mengacaukan segalanya. dia telah membagikan video ku, dia telah menghilangkan semua bukti dan membunuh Pengacara ku! ". Arya menjelaskan sembari melirik ke arah Clara sekilas dan fokus kembali pada jalannya.
"Apa? jadi Arjun dalang dari semua ini? ". Clara menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya. ia tak percaya, Arjun bisa melakukan hal sejauh ini.
sementara Arya, ia hanya mengangguk membenarkan ucapan Clara.
"tapi, sekarang Arjun sedang tidak baik-baik saja! ia terlihat depresi! ". Clara menyampaikan keadaan Arjun pada Arya.
"depresi? mengapa? ". Arya yang mendengar kabar Arjun pun langsung melirik ke arah Clara.
"Aku tidak tahu, kemarin aku mengunjunginya di rumah sakit, tatapan matanya amatlah kosong! seperti tdiak ada semangat hidup. namun ketiak Rindu yang menjenguknya dia kembali normal seperti biasanya. " tutur Clara.
sontak saja Arya menghentikan mobilnya secara mendadak, mendengar nama Rindu di sebut. hati Arya seakan teriris bila mendengar kebersamaan Arjun dan juga Rindu.
"awwww". Clara meringis karna kepalanya terpentok.
"sorry, sorry! tadi gak sengaja. " Arya meminta maaf dan melajukan mobilnya kembali.
"apa Rindu dan Arjun saling mencintai? lalu bagaimana dengan perasaan cintaku padamu Rindu? ". gumam Arya dalam hatinya.
__ADS_1