
Clara menghilang dan pergi menuju istana Ayahnya.
bluss...
Clara, muncul tepat dihadapan ayahnya dengan keadaan penuh luka dan memprihatinkan.
"Clara, kamu kenapa nak? ". tanya Ki Ageng, ia menghampiri putrinya.
"ayah, aku..." ucap Clara lirih, tak lama kemudian ia tersungkur dan jatuh tepat di hadapan ayahnya.
Ki Ageng, menangkap tubuh Putrinya dan membaringkannya dipangguannya.
"Clara, sadarlah nak! siapa yang telah membuatmu seperti ini? ". lirih Ki Ageng.
nampak wajah Ki Ageng memerah, terlihat urat lehernya begitu menegang menahan amarah.
"siapa yang sudah membuat putriku seperti ini? ". teriaknya marah.
terlihat sorot mata Ki Ageng begitu nyalang, bak seekor elang.
"Arjuna! ". ucap seseorang.
Ki Ageng, menoleh ke arah sumber suara. ia pun menghampiri pria tersebut.
"Sialan kau Arjuna, kau telah membuat putri ku hampir saja tewas! Aku akan membalasmu! ". ucap Ki Ageng penuh emosi.
"ya, Arjuna yang membuat Putri semata wayang mu begini. bahkan semua orang tahu siapa putrimu! ". sahut Dwi.
"kurang ajar. dia sudah berani mengibarkan bendera perang padaku! baiklah, akan aku penuhi tantangannya. " ucap Ki Ageng.
Dwi yang menyaksikan kemarahan Ki Ageng yang begitu besar terhadap Arjuna. Dwi tersenyum puas.
"bagus! ini adalah langkah awal untuk kehancuran mu, Arjun! ". gumam Dwi dalam hatinya.
Sementara Ki Ageng. kini dirinya membawa Clara menuju tempat tidurnya dan segera memanggil tabib untuk menyembuhkan luka Putrinya.
"cepat panggilkan tabib untuk menyembuhkan Putriku! ". teriak Ki Ageng pada pengawalnya.
"baik, paduka! ". ucap mereka serempak.
Ki Ageng terus memandang wajah sang putri dengan tatapan penuh kecemasan. ia pun membingkai wajah sang Putri dengan penuh Cinta.
"Clara, kau harus sembuh nak! jangan tingglkan ayahmu ini. " ucapnya lirih.
__ADS_1
sekejam dan sedingin apapun Ki Ageng saat memimpin. namun, jika melihat keadaan putrinya yang begitu memprihatinkan, Ki Ageng pun sama halnya seperti ayah kebanyak. ia menitikan air mata dan merasa menyesal, sebab telah menyuruh Clara unguk menikahi Arjuna.
"bangunlah, nak! ayah mohon padamu. ayah minta maaf". Ki ageng berucap sembari tertunduk sedih melihat keadaan Clara saat ini.
Jiwa Ki Ageng begitu terkoyak melihat keadaan putrinya yang penuh dengan luka dan lemahnya.
"persetan kau, Arjun! ". ucapnya marah.
tiba-tiba, datanglah seorang tabib dengan pakaian serba hitam ke dalam Ruangan Clara.
"ayo, cepatlah tolong Putriku. selamatkan dia! ". pinta Ki Ageng.
tabib istana pun segera memeriksa keadaan Clara. sesekali ia menoleh ke arah Ki Ageng dengan tatapan cemas.
Ki Ageng yang menyadari hal tersebut pun menjadi kian cemas.
"ada apa dengan Putriku, kau bisa kan menyembuhkan Putriku? " tanya Ki Ageng
sang tabib merasa ragu-ragu untuk menyampaikan hal tersebut. terlihat dari raut wajah sang tabib yang menyiratkan sebuah ketegangan.
"ampun paduka, Saya mohon ampun. sepertinya tuan Putri tidak akan bertahan lama! ". ucap Sang Tabib, ia pun berjongkong sembari menangkupkan kedua tangannya dihadapan Ki Ageng.
"apa yang kau katakan? jangan kau bilang bahwa Clara sudah tiada! ". teriak Ki Ageng, Ia begitu marah dengan jawaban yabg diberikan oleh sang tabib. Ki Ageng pun mencengkeram baju sang Tabib.
"tidak, tidak ada ampun bagimu! ". Ki Ageng membanting tubuh sang Tabib ke lantai. tangannya telah siap mengeluarkan tenaga dalam dan hendak mengarahkannya pada sang Tabib.
"tunggu! setahuku ada sebuah cara agar Clara bisa selamat. " tiba-tiba, Dwi Pangga datang dan menggagalkan aksi Ki Ageng untuk membunuh Tabib.
Ki Ageng mengurungkan niatnya dan mengembalikan kekuatannya. ia pun mulai terlihat tenang dan tak sabar menunggu jawaban Dwi Pangga.
"dengan cara apa? ". tanya Ki Ageng.
"Bunga teratai Emas! ". sahut Dwi Pangga.
"dimana bunga itu berada? ". tanyanya lagi.
"bunga itu hanya tumbuh disebuah batu besar, dimana batu itu berada di sebuah sungai Darah. " Ucap Dwi Pangga.
Dwi, berjalan menuju jendela. ia terlihat melirik ke arah Ki Ageng dengan ekor matanya. ia pun terlihat tersenyum miring ke arahnya.
"dimana sungai itu? ".
"sungai itu berada di Negri siluman itu! ". Dwi menunjuk Negri siluman kekuasaan Nyi Arum dan Juga ayahnya.
__ADS_1
Ki Ageng melihat ke arah yang di tunjuk oleh Dwi. ia pun nampak terlihat ragu, dan wajahnya memucat.
"mana mungkin kita bisa masuk kedalam kawasan siluman itu? ". ujar Ki Ageng.
"ya, itu terserah! jika kau ingin putrimu selamat, maka segeralah. namun jika kau ingin putrimj tewas, maka bersiap-siaplah menyiapkan bakaran untuk kremasi putrimu! " ucap Dwi.
Dwi, tahu bahwa Ki Ageng akan menembus apapun jika menyangkut Clara. sebab ia tahu bahwa Ki Ageng teramat menyayangi putrinya.
Ki Ageng nampak berfikir sejenak, ia tengah memikirkan sebuah cara agar bisa masuk ke dalam kawasan yang mana penghuninya merupan siluman paling kuat.
"baiklah, Segeralah pergi kesana dan bawa bunga teratai emas itu! ". perintahnya pada Dwi.
benar tebakan Dwi, Ki Ageng tak mungkin mengorbankan putrinya hanya karena egonya.
Ki Ageng berjalan menuju sebuah laci. disana terdapat sebuah Cincin miliknya.
"ambil ini dan pakailah ketika kau berada disana. maka kau tidak akan celaka! ". Ki Ageng memberikam sebuah cincin pada Dwi Pangga.
Dwi, mengambil Cincin Tersebut dari tangan Ki Ageng. ia pun menyimpankan di sebuah saku celananya.
"baiklah, aku pergi! ". ucap Dwi, ia pun tersenyum dan pergi.
sementara Ki Ageng, dirinya memandang kepergian Dwi Pangga.
ia pun memandang ke arah tempat tinggal para siluman yang paling kuat.
"aku merindukan tempat asalku! ". gumamnya.
Ki Ageng, dulunya merupakan salah satu siluman yang tinggal ditempat itu. namun sayang dirinya harus terusir, sebab ia lebih memilih menikahi siluman ular ketimbang bangsanya sendiri.
Rasa Cinta membuat Ki Ageng Rela terusir dari tempat asalnya. ia rela dijauhi dan di musuhi oleh bangsanya sendiri hingga kini.
Ki Ageng, tersadar dari lamunan akan masa lalunya. ia pun mengusap pipinya yang mulai basah dengan tetesan air matanya.
"sudahlah, untuk apa aku menangisi hal yang tak penting. " gumamnya dalam hati.
Ki Ageng melangkah menuju Putrinya yang lemah tak berdaya di atas tempat tidur. ia memandang wajah sang putri yang begitu mirip dengan Almarhumah istrinya. maka dari itu Ki Ageng berusaha menjaga Clara.
"semoga Pangga segera mendapatkan bunga itu dan menyembuhkan dirimu, nak! ". ucapnya.
Ki Ageng duduk di samping putrinya, ia memegang tangan sang putri dan sesekali menciumnya dengan penuh Cinta sebagai seorang ayah.
"jangan pernah tinggalkan ayah, nak! ayah tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan dirimu. cukup sekali ayah kehilangan ibumu. " ucapnya lirih.
__ADS_1
Ki Ageng tak ingin kehilangan Clara, sama seperti dirinya kehilangan Istri sekaligus Ibu dari Putrinya. ia tak ingin terluka untuk yang kedua kalinya.