
Semakin hari rindunya terhadap Rindu mulai kian bertambah bukannya berkurang, Arjun sendiri tak tahu mengapa dirinya teramat merindukan seseorang yang telah tiada.
"Kenapa rasa ini masih bertahan hingga kini? walaupun kau telah pergi selama bertahun-tahun, Rindu! Kenpa? " Ujarnya sembari menyugar rambutnya kasar.
Bertahun-tahun lamanya Arjun hidup tanpa seorang pasangan, tanpa teman atau pun keluarga selain Mario.
Jika di tanya soal hampa atau tidaknya, pasti Arjun pun merasa hampa namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain berusaha tersenyum demi sang putra, meski hatinya enggan untuk melakukannya.
Arjun sering mengunjungi pusara Rindu, dan Arya. Di sana ia mencurahkan segala isi hatinya tanpa terkecuali, berharap Rindu dapat mendengarnya.
"Rindu. Aku ingin kau kembali padaku. Jika tuhan mengabulkannya, maka aku berjanji akan menjagamu sepanjang hidupku, sepanjang nafas dan Sepanjangan langkahku! " Ucapnya.
Arjun tersenyum konyol, kala menyadari ucapannya yang terdengar konyol tersebut. Mana mungkin seorang yang telah tiada akan kembali?
"Bicara apa aku ini? " Gumamnya.
Arjun melirik jam tangannya, ia pun membulatkan matanya kala melihat jam tangannya, sebab Arjun sudah terlambat menjemput Mario.
"Ya tuhan, Mario! " Ucapnya.
Arjun pun bangkit dan bergegas pergi dari pemakaman.
Arjun segera kembali ke dalam mobilnya, kemudian melajukannya menuju sekolahan Mario.
"Semoga Mario masih ada di sana! " Ucapnya khawatir.
Arjun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di sekolah Mario.
Arjun khawatir terjadi hal yang tidak di inginkan terjadi pada Putranya.
Tanpa Arjun sadari bahwa ucapannya di dengar sampai ke langit, hingga sebuah keajaiban pun terjadi.
Beberapa saat kemudian, kini Arjun telah sampai di sekolah Mario. Ia pun clingukan menjadi Putranya namun ia tak mendapati Putranya di sana, dan sekolahan pun sudah nampak sepi.
"Ya tuhan, Mario. Kemana kau? " Ucapnya Khawatir.
Arjun mencari ke sana kemari hingga akhirnya ia bertemu dengan satpam sekolah.
"Pak, pak. Apa Mario sudah pulang? " Tanyanya.
"Sudah, Pak. Tadi dia pulang bersama Bu Lita! " Ujarnya.
Arjun mengernyitkan keningnya. " Hah, Lita? " Ulangnya.
"Iya, Bu Lita! " Sahutnya.
__ADS_1
Arjun terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia pun mengingat Lita. " O, ya, saya ingat. Kapan perginya? Maksudku, apa ada alamat Lita atau nomornya? " Ujar Arjun.
Satpam pun memberikan alamat lengkapnya pada Arjun, sehingga Arjun mencoba menghubungi Lita sebelum pergi ke rumahnya.
Beberapa kali Arjun mencoba menghubungi nomor Lita, namun masih tak ada jawaban di sana.
"Lita. Ayolah, angkat! " Gumamnya.
Arjun mencoba menghubungi Lita sekali lagi, hingga akhirnya tersambung.
"Hallo! Ini siapa? " Ujarnya di sembarang sana.
"Arjun. Apa Mario bersamamu? " Tanyanya.
"Oh, iya, maaf! Tadi Mario sendirian jadi aku ajak dia pulang ke rumah! " Sahutnya di seberang sana.
Mendengar hal itu Arjun pun merasa lega, ia pun beberapa kali menghela nafas lega. " Syukurlah. Tunggu di sana, aku akan menjemput Mario! " Titahnya.
Arjun mematikan sambungan teleponnya, dan melajukan mobilnya menuju rumah Lita untuk menjemput Mario.
Tak sampai 30 menit, Arjun telah sampai di rumah Lita. Arjun segera turun dari mobilnya dan mengetuk pintu.
Hingga akhirnya Lita pun terlihat keluar dari dalam. " Arjun. Kau sudah datang? " Sapanya.
Lita melirik ke arah sofa, dan Mario pun sedang bermain di sana dengan keponakan Lita. "Mario! " Panggilnya.
Mario pun menoleh, dan melihat Arjun kemudian Mario berlari ke arah Arjun. " Papa!! " Teriaknya.
Mario menghambur ke pelukan Arjun, dan Arjun pun segera menggendongnya.
"Maafkan Papa, ya! " Ujarnya.
Arjun pun memandang Lita, di tatap seperti itu membuat Lita menjadi salah tingkah di buatnya. "Ya tuhan, debaran apa ini? " Batinnya.
Arjun tersenyum. " Terimakasih, Lita dan maaf jika Mario merepotkan selama denganmu! " Ucapnya.
Lita menggeleng. " Tidak. Mario anaknya baik, dan juga penurut. Lagi pula di sana Arka ada temannya! " Ujarnya.
Setelah mengobrol beberapa saat akhirnya Arjun berpamitan untuk segera pulang. " Ya sudah, Lita, aku harus pulang! " Pamitnya.
Lita mengangguk, dan mengantarkan Arjun sampai di depan pintu.
"Tampan dan menarik, itulah dirimu Arjun. " Gumamnya.
Memang sejak dulu Lita menganggumi Arjun, namun ia tak bisa meluluhkan hatinya hingga kini.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku mendekati Mario? Siapa tahu bapaknya kecantol? " Gumamnya.
Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja dalam otaknya, Lita akan mendekati Mario agar bisa meluluhkan hati Arjun yang sejak dulu beku.
Lita pernah mendengar bahwa Arjun hanya mencintai seorang wanita yang bernama Rindu, namun Lita juga mendapat kabar bahwa Rindu sudah tiada.
"Semoga kali ini aku berhasil mendapatkan hatimu, Arjun. Aku sungguh mencintaimu! " Ucapnya lirih.
Arjun dan Mario sedang berada di dalam mobil, Mario sibuk melihat keluar jendela sementara Arjun sibuk dengan jalanan.
Arjun melirik Mario sekilas. "Mario. Apa tadi kau nakal saat bersama Tante Lita? " Ujarnya.
Mario menoleh sembari menggeleng. " Tidak, Pa. Tadi aku bermain dengannya dan juga Arka! Tapi... " Mario tak melanjutkan ucapannya, kemudian Mario menghembuskan nafasnya.
Arjun mengerutkan keningnya seraya menoleh. " Tapi kenapa, Mario? " Ucapnya.
Mario menatap wajah Arjun dengan lekat, dan terlihat tatapan Mario begitu nanar. " Tapi, aku merindukan Mama! " Sahutnya.
Seketika itu Arjun menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Ia pun merasa jantungnya terasa berhenti berdetak. Arjun pun menatap dengan tatapan kosong.
"Papa, kenapa? " Tanyanya heran.
Arjun menoleh dan menggeleng. " Tidak. Tadi ada seekor kucing! " Sahutnya berbohong.
Jika di tanya atau mendengar Rindu, mendadak Arjun pun begitu rapuh dan hampa. Ia juga merasakan kerinduan yang sama dengan apa yang di rasakan oleh Mario, namun ini dunia yang penuh dengan realita.
Walau dulu Ki Gembor sempat menemui Arjun, namun Arjun sama sekali tak ingin menemuinya dan tahu apapun tentang dunia persilumanan. Dunia yang telah menghancurkan hidupnya, mengubah haluannya dan yang telah merenggut cintanya.
"Sudahlah, Ki. Aku tak ingin tahu apapun tentang semua ini. Aku telah menyaksikan bagaimana hidup ku hancue oleh dunia itu! " Ujarnya.
"Tapi, Arjun... "
"Sudahlah, Aku telah bahagia dengan kehidupan ku saat ini, walau tanpa cinta. " Potongnya.
Ki Gembor menghela nafasnya dengan kasar, dan mengangguk kemudian ia pun pergi dari hadapan Arjun.
"Baiklah. Jika itu memang yang kau inginkan, Arjuna! " Ujarnya.
Arjun tak menanggapi Ucapan Ki Gembor, ia pun memilih memalingkan wajahnya sampai Ki Gembor benar-benar pergi.
Hingga kini, Arjun tak pernah bertemu kembali dengan Ki Gembor lagi. Arjun telah memutus segala hubungannya dengan seluruh dunia siluman, ia ingin hidup dengan normal tanpa gangguan sedikit pun.
Padahal Ki Gembor ingin mengatakan bahwa Rindu, cintanya telah kembali dalam dunia ini namun dalam raga yang berbeda.
Namun Arjun tak ingin lebih memilih tak mendengar hal itu, ia telah kecewa semenjak kepergian Rindu yang menghilangkan segalanya.
__ADS_1