
Rindu, hanya bisa menangis dalam diam. ia tak bisa mengutarakan kesedihannya pada siapa pun.
"hiks.. ya tuhan, mengapa kau beri aku rasa ini. jika pada akhirnya, aku harus terluka dengan perasaan ku ini. " ucap Rindu sambil berderai air mata.
tubuh Rindu luruh ke lantai, ia tak bisa menahan kesedihannya. ia tak menyangka bahwa Arjun begitu tega padanya.
"mengapa kau tega! hiks.." Rindu menahan sesak dalam dadanya.
sesakit inikah, mencintai seseorang yang tak mencintai dirinya. mengapa tuhan harus memberi rasa cinta. jika pada akhirnya cinta itu hanya menyakitinya.
"tuhan, aku benar-benar mencintainya. tidak bisakah kau berikan dia untukku? ". ucap Rindu dengan suara parau.
kini Rindu tak lagi menangis, ia menghapus air matanya dengan kasar. ia berusaha menetralkan perasaan.
"percuma saja aku menangis pria seperti Arjun! dia tidak akan mengerti perasaanku. " Rindu bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
di dalam kamar mandi, Rindu membasuh wajahnya. kini, perasaannya sudah semakin membaik. walau hatinya masih terasa sakit.
Rindu memandang wajahnya di cermin. terlihat wajahnya yang sembab, mata yang memerah dan wajah yang sedikit acak-acakan.
visual Rindu
"mungkin ini yang di namakan Cinta tak harus memiliki! mungkin aku harus mengikhlaskan dia bahagia bersama wanita lain. " ucap Rindu di depan cermin.
Rindu menghela nafasnya sejenak. ia harus bisa kuat. mungkin Arjun bukan jodoh yang di kirimkan tuhan untuknya.
"jodoh adalah Rahasia tuhan! ". Rindu, berkata sembari berusaha tersenyum kembali.
Rindu mendengar ponselnya berdering sejak tadi. Rindu bergegas keluar dan melihat siapa yang menghubungi dirinya sejak tadi.
"hallo! iya, ada apa? ". ucap Rindu, setelah mengangkat teleponnya.
"hallo, Rindu! kamu baik-baik saja kan? ". ucap seseorang di seberang sana, ia begitu khawatir dengan keadaan Rindu.
"aku baik-baik saja, ko Arya! tidak ada yang perlu kamu khawatirkan! ". ucap Rindu.
Arya menghela nafas lega, ia begitu senang jika mendengar Rindu baik-baik saja.
"syukurlah, aku takut kau melakukan hal yang akan membahayakan dirimu! ". ucap Arya, dengan nada sedikit lega.
"haha, udahlah kamu Jangan aneh-aneh deh. kamu tenang aja, aku pasti baik-baik aja ko". ucap Rindu berusaha meyakinkan Arya.
walau dalam hati, Rindu tak bisa membohongi dirinya. ia begitu terluka dengan kenyataan ini.
"yaudah, aku tutup ya teleponnya! bye. " Arya mengakhiri panggilannya. ia bisa bernafas dengan lega setelah mendengar Rindu baik-baik saja.
__ADS_1
Rindu menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, tak terasa air matanya menetes. Rindu segera menghapus air matanya.
"mengapa aku masih saja menangis? ". Rindu merutuki kebodohannya, ia tak mengerti dengan hati ini.
tok.. tok.. tok.. !
tak berapa lama kemudian, Rindu mendengar ketukan di depan pintu rumahnya. Rindu segera turun ke bawah dan membuka pintu.
"mas Arjun, untuk apa kamu kemari lagi? ". ternyata yang mengetuk pintu adalah Arjun. Rindu berusaha menutup pintunya kembali. namun, Arjun segera menghalanginya. pintu pun berhasil terbuka kembali.
"dengarkan penjelasan ku, Rindu! ". Ucap Arjun ketika pintu berhasil terbuka.
"sudahlah mas, aku tidak ingin mendengar apa pun dari mu! ". ucap rindu, sembari melenggang masuk ke dalam rumah.
Arjun mencengkram lengannya dengan kuat. hingga Rindu menghentikan langkah dan berbalik menghadap Arjun.
"lepaskan, sakit! ". Rindu meringis, ia berusaha melepaskan cekalan tangan Arjun.
Arjun yang menyadari Rindu kesakitan pun segera melepaskan cekalan tangannya.
"oke aku minta maaf, tapi aku mau kamu dengarkan penjelasan ku! ". Arjuna berusaha berbicara baik-baik pada Rindu.
Mau tak mau akhirnya Rindu menganggukan kepalanya dan duduk di kursi yang berada di ruang tamu miliknya.
"katakan! apa yang ingin kamu katakan. " ucap Rindu sembari duduk menghadap ke arah Arjun.
"aku mencintaimu, sudah sejak lama aku memendam perasaan ini! ". ucap Arjun, setelah beberapa saat terdiam.
"lalu? " ucap rindu singkat.
Arjun mendongakan kepalanya dan memandang wajah Rindu.
" aku ingin menikahi mu! ". ucap Arjun serius.
ucapan Arjun, justru terdengar seperti lelucon di telinga Rindu. bagaimana bisa ia menikahi dirinya. sementara dirinya akan menikahi wanita lain.
"haha, apa kau bilang, ingin menikahi diriku? ". Rindu berkata sambil tertawa.
"dengar Rindu, aku benar-benar serius dengan ucapan ku. aku ingin menikahi dirimu! ". ucap Arjun dengan nada tegasnya. ia terlihat begitu serius dengan ucapannya.
"tidak bisa, mas! kamu akan menikahi Bu Clara, bukan! lalu, untuk apa kau ingin menikahi diriku? ".
"aku mencintaimu, Rindu! soal alasanku menikahi Clara. itu semua adalah urusanku. yabg terpenting, cintaku hanya untukmu! ".
"haha, kau menganggap sebuah pernikahan sebagai lelucon. kau begitu hina, mas! lebih baik sekarang kau pergi! ". ucap Rindu.
ia mulai jengah dengan ucapan Arjun. ternyata fikiran Arjun begitu picik.
__ADS_1
"silakan, kau boleh berfikir apapun tentang ku. tapi akan aku buktikan bahwa cinta ku tulus untuk mu, Rindu! ''. ucap Arjun sembari berdiri, dan melenggang pergi meninggalkan Rindu.
Arjun berjalan menuju mobilnya. sebelum ia masuk ke dalam mobilnya, ia pun memandang ke arah rumah Rindu. ia berjanji akan mendapatkan Rindu, bagaimana pun caranya.
"aku akan memiliki dirimu, Rindu! kita lihat saja nanti. " ucap Arjun, kemudian ia masuk kedalam mobilnya dan menutup pintu mobil dengan kasar.
Arjun ingin menenangkan dirinya. hingga ia tak langsung pulang ke rumahnya. tujuan Arjun saat ini adalah sebuah taman.
ia duduk di sebuah taman. malam yang indah, bertabur bintang dan di hiasi oleh lampu-lampu taman yang indah, namun tak seindah hati Arjun saat ini.
"pilihan ini begitu sulit, aku harus memilih antara Cinta dan juga masa depan ku! ". ucap Arjun perasaan tak karuan.
Arjun di hadapkan pada situasi yang benar-benar pelik. ia harus memilih salah satu dan mengorbankan salah satunya.
"jika aku memilih cintaku, maka aku akan kehilangan hidupku. jika aku memilih hidupku, maka Cintaku akan hilang! ". ucap Arjun.
Arjun, tak tahu pilihan apa yang harus dia ambil. ia begitu takut kehilangan salah satunya.
"tuhan, tidak bisakah kau menyatukan ku dengan Cintaku? aku sangat mencintai Rindu. aku menginginkannya. tapi aku pun tak bisa jika harus menjadi siluman yang mengerikan! ". teriak Arjun di malam yang sepi, tak ada yang mendengar teriak Arjun.
Arjun memang terkesan egois dan kejam, ia ingin mendapatkan keduanya. namun cinta Arjun pada Rindu sangatlah tulus.
"kau harus bertanggung jawab atas pilihanmu, Arjuna! kau tidak bisa lari begitu saja. "
tiba-tiba seseorang menyahut teriak Arjun, sontak Arjun melirik ke arah sumber suara.
"kau! untuk kau kesini?". ucap Arjun, ketika menyadari bahwa yang berkata adalah Arya.
"aku tidak sengaja berada di sini juga! ". ucap Arya dengan santai.
Arjun, tak mengerti mengapa Arya selalu hadir dalam setiap suasana. ia bagaikan sebuah bayangan.
"dasar penguntit! ". ucap Arjun dengan nada marah dan membuang mukanya ke sembarang arah.
"untuk apa, aku menguntit dirimu? memangnya aku orang tidak punya kerjaan apa? ". ucap Arya sambil tersenyum miring.
"dasar kau.." Arjun hendak memukul wajah Arya. namun kali ini, Arya berhasil menangkap tangan Arjun.
Arjun menurunkan tangannya dan membuang mukanya ke sembarang arah.
"tenangkan Fikiranmu, lagi pula kau sudah memilih untuk menikahi Clara, bukan? kau harus bertanggung jawab, atas pilihanmu itu. kau tidak boleh egois, ingin mendapatkan keduanya! ". setelah mengatakan hal tersebut, Arya pun pergi meninggalkan Arjun yang masih merunung.
Arjun nampak berfikir dan merenungi ucapan Arya. ucapan Arya ada benarnya, seharusnya dirinya tak boleh egois. maka dari itu, Arjun harus siap kehilangan Cintanya. karna ini adalah frekuensi yang harus ia terima.
Arjuna Pratama
__ADS_1