
Arjun berharap Rindu menghubungi dirinya. namun, sampai detik ini. Rindu masih belum juga mengabarinya.
ponsel Arjun berdering. Arjun segera meraih ponselnya dan senyum di bibirnya mengembang. detik kemudian, senyuman Arjun hilang. karna yang menghubunginya bukan Rindu, melainkan Clara.
"hallo! ". ucap Arjun malas.
"hallo, pak Arjun! ".
"ada apa? ". Arjun berkata dengan nada dingin.
"bisa kita bertemu malam ini? ".
"maaf, Clara! aku sibuk. " ucap Arjun.
Arjun menolak ajakan Clara. ia tak ingin di ganggu untuk sementara waktu.
"mengapa? bukan Rindu. yang menghubungi ku! ". Arjun berkata sembari melihat ponselnya.
ia berharap, Rindu menghubunginya walau pun hanya menanyakan kabar.
"apa kau tidak merindukan aku, Rindu? aku sangat merindukanmu! ". ucap Arjun sembari duduk dan menutup wajahnya menggunakan tangannya.
Arjun pun mencoba menghubungi ponsel Rindu. namun tak ada jawaban.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk! ". begitulah suara operator.
Arjun mencoba menghubungi Rindu lewat WhatsApp! namun disana tertera tulisan.
" nomor yang anda tuju sesang berada di panggilan lain. "
Arjun menyandarkan kepalanya disandaran sebuah kursi, Ia pun menyugar rambutnya kasar.
"apa kau tak ingin bertemu dengan ku lagi, Rindu? ".
Arjun amat merindukan Rindu, ia amat mencintainya. namun ia tak bisa menentang sebuah takdir.
beberapa saat saja tak bertemu dengan Rindu, hati Arjun begitu Rindu. bagaimana, jika ia tak bertemu Rindu selamanya.
"bagaimana, hidup ku tanpamu nanti, Rindu? aku tak yakin bisa menjalaninya! ". ucap Arjun.
Arjun berjalan menuju sebuah balkon di kamarnya. ia berdiri dan memandang langit yang begitu indah. namun hatinya, tak seindah malam ini.
"tuhan, mengapa kau hadirkan cinta? jika akhirnya, kau tak bisa menyatukan ku dengannya. " ucap Arjun.
Arjun menunduk dalam, ia seakan tak memiliki sebuah tenaga. Cintanya, hidupnya bahkan separuh nyawanya sudah tak memperdulikan dirinya.
"tuhan menghadirkan cinta, agar kau bisa menjaganya, menyayanginya dan menerima setiap kekurangannya. cinta tak harus memiliki! kau harus belajar menerima setiap ketentuan yang tuhan berikan. " sahut seseorang. ia berdiri di samping Arjun yang tengah menunduk.
sontak saja Arjun melirik ke asal suara. ternyata Arya sudah berdiri disana.
"kau lagi! ". ucap Arjun, dengan tatapan tajam.
Arya, hanya tersenyum tanpa menyahut. ia pun memandang ke lurus ke perumahan lain.
"mengapa kau selalu ada dimana-mana, Arya? kau selalu menggurui ku, berkata ini dan itu. sebenarnya apa yang kau inginkan? ". ucap Arjun sembari memegang kerah baju Arya.
"tentu saja, aku akan selalu ada di setiap kau membutuhkan ku. aku akan menjadi bayangan mu! aku hanya ingin kau baik-baik saja. " ucap Arya sembari tersenyum ke arah Arjun.
__ADS_1
"akhhhhh! ". teriak Arjun dihadapan Arya.
Arjun pun melepaskan kerah baju Arya. ia pun mundur dan terduduk disebuah kursi.
kini mata Arjun mulai memerah dan berkaca-kaca.
"mari kita berteman? ". ucap Arya, ia pun mengulurkan tangannya.
namun, Arjun tak menyambutnya uluran tangan Arya. ia justru menepis tangan Arya.
"cihh, berteman dengan mu? jangan harap itu akan terjadi! ". ucap Arjun sembari membuang mukanya.
Arya menarik uluran tangannya dari hadapan Arjun. Arjun memang sangat keras kepala.
"baiklah, tapi ingat Arjun! aku akan memantau mu sebagai bayanganmu. aku akan ada di setiap kau butuh! ". ucap Arya, ia pun menghilang.
Arjun tak peduli dengan ucapan Arya. ia mulai tenggelam pada perasaan yang tak bisa ia gapai.
"Mengapa? bukan kau, Rindu. andai saja kau yang memiliki tanda itu, nicaya kita akan bersama selamanya! ". gumam Arjun.
Arjun berharap Rindulah pemilik tanda itu. namun kenyataan mematahkan harapan Arjun. ia tak tahu takdir apa yang tuhan mainkan untuknya.
"jika kau bukan takdirku, jika cintaku dan cintamu tak bisa bersatu dalam dunia nyata ini. maka, aku ingin bersatu dengan mu di dunia ilusi! ". ucap Arjun
tiba-tiba saja, ide gila muncul di otak Arju. ia akan menggunakan segala cara, agar bisa bersatu dengan Rindu.
"ya, aku harus masuk ke dunia ilusi dan membawa Rindu bersama ku! ".
sebuah senyuman terbit di wajah tampan Arjun. walau terdengar gila. namun, ini adalah cara terbaik.
"bagaimana caranya, agar Rindu mau ikut denganku? jika aku beritahu yang sebenarnya, pasti dia tidak akan mau ikut! ". ucap Arjun bimbang.
"lebih baik aku tidur, sekarang! besok saja aku fikirkan rencana selanjutnya. " ucap Arjun sembari berjalan masuk ke kamarnya. ia pun tak lupa menutup pintu dan gorden.
Arjun pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, tak berapa lama akhirnya mata Arjun terpejam. Arjun telah menyelam di alam mimpi.
"Arjun.. ". Arjun terbangun ketika ada seseorang yang memanggil namanya.
tiba-tiba, seseorang telah berdiri di hadapan Arjun sembari memegang sebuah pisau. pisau tersebut siap menancap ke wajah Arjun.
"siapa kau? ". ucap Arjun sembari berusaha menghentir dari pisau tersebut.
"kau harus mati, agar kau tak jadi penghalang! ". ucap Pria tersebut. ia terus menyerang Arjun dengan pisaunya.
"apa maksudmu, aku tidak mengerti apa yang katakan? ". ucap Arjun. ia begitu heran dengan ucapan pria di depannya.
namun, pria tersebut tak menjawab pertanyaan Arjun. ia malah gencar menyerang Arjun. namun, Arjun berusaha menghindar. hingga Arjun terpojok di dinding.
"matilah kau, Arjun! ". ucap pria tersebut dengan nada sedikit berteriak.
hampir saja pisau tersebut menancap di wajah tampan Arjun. namun, Arjun segera menghentikannya, ia menggunakan telapak tangannya untuk menghentikan pisau tersebut.
"jangan gila kamu! ". ucap Arjun.
telapak tangan Arjun terlihat mengeluarkan darah. Arjun pun merasakan perih di tangannya.
"hentikan! ". teriak Arjun, namun pria tersebut tak menghiraukan teriak Arjun. justru ia lebih menyudutkan Arjun.
__ADS_1
Arjun hanya bisa memejamkan matanya, ia sudah pasrah dengan apa yang terjadi. pisau tersebut hampir mengenai wajah Arjun.
brugh...
tiba-tiba, Arya datang dari arah belakang. ia menendang pria tersebut, hingga tersungkur ke lantai.
"awww, sialan! siapa kau? beraninya menghalangi ku! ". ucap pria tersebut, yang tak lain adalah Dwi pangga.
"tak perlu tau siapa aku! urusan mu dengan Arjun, adalah urusanku juga, kau mengerti! ". ucap Arya dengan tatapan mata tajam, bagaikan elang.
Arjun yang awalnya berserah diri. akhirnya dapat membuka matanya kembali.
"syukurlah aku masih selamat! ". ucap Arjun dengan nafas lega.
sementara Dwi pangga, dirinya masih duduk di lantai. ia menatap mata Arya tak kalah tajamnya.
"sialan, aku bisa kalah jika berhadapan dengan 2 orang ini! ". gumam Dwi dalam hatinya. ia pun memutuskan pergi daru hadapan Arya dan juga Arjun.
blus..
Dwi pun menghilang, Arya yang hendak menghajar Dwi pun menghentikan langkahnya. ia pun menghampiri Arjun, iq melihat keadaan tangan Arjun yang terluka.
"tanganmu terluka, Arjun! ". ucap Arya, sembari memegang tangan Arjun. ia pun mencari kotak obat dan mulai mengobati arjun.
"lepaskan tanganku, keparat! bukankah kau senang melihat aku menderita? ". ucap Arjun, ia menatap Arya dengan tatapan tak suka.
"mungkin dulu iya, tapi sekarang tidak! jika aku ingin melihat mu menderita. mengapa tadi aku menolongmu dari siluman itu? ". ucap Arya, sembari mengobati luka Arjun.
"awww, pelan-pelan! ". Arjun meringia ketika Arya mengobati lukanya.
Arya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. melihat tingkah Arjun, bak anak kecil. seulas senyum terbit dari bibir Arya.
"mengapa kau tersenyum? jangan berpikiran yang tidak-tidak! ". ucap Arjun. ketika ia menyadari Arya ternyum.
"tenang saja, aku masih normal! aku masih suka perempuan. " ucap Arya, sedikit terkekegh geli.
Arjun membiarkan Arya mengobati lukanya. ia pun memandang wajah Arya. Arjun bisa melihat ketulusan dari wajah Arjun. namun sedetik kemudian, Arjun menepis fikirannya. ia tak mau terlalu percaya pada Arya. sebab dulu, Arya pernah mengkhianatinya.
"dia bisa saja berubah menjadi binatang peliharaan. tapi dia juga bisa berubah menjadi binatang buas, kapanpun. " gumam Arjun dalam hatinya.
Arya yang menyadari, dirinya di perhatikan oleh Arjun pun melirik ke arah Arjun.
"jangan selalu menilai seseorang buruk. bisa saja hari ini dia buruk! tapi siapa sangka, jika esok dia menjadi baik. " ucap Arya. seakan dirinya bisa membaca Fikiran Arjun.
Arjun lebih baik diam, dan tidak berkata sepatah katapun, sampai Arya selesai mengobati lukanya.
"selesai! ". ucap Arya, ia pun berdiri dan menyimpan kembali kotak obatnya.
"apa kau tidak akan mengucapkan terimakasih padaku? ". ucap Arya, ia melirik ke arah Arjun. namun Arjun hanya pura-pura membuang mukanya.
"dasar penguntit! kau itu seperti jelangkung. datang tak di undang, pulang tak di antar. " Arjun berkata sembari tersenyum miring.
"dasar bodoh! jangan samakan aku dengan jelangkung! tentu saja kami beda, aku datang untuk melindungimu. sementara jelangkung datang untuk membunuh! ". ucap Arya, sembari menjiplak kepala Arjun.
"kau.. ". ucap Arjun marah.
Arya, hanya tertawa. ketika melihat Arjun yang marah. wajahnya merah, dia kelihatan seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"sudahlah, aku mau pulang. jaga dirimu! ". ucap Arya sembari keluar dari pintu. ia melompat ke luar rumah Arjun.
Arjun membiarkan Arya pergi. ia tak peduli dengan ucapan Arya. Arjun merasakan kedua tangannya yang amat terasa perih.