BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
ARYA POV


__ADS_3

Namaku Arya Aditya Pratama. namun aku sengaja menghilangkan Pratama dibelakang namaku, sebab aku begitu membenci Yogi yang merupakan Ayah kandungku!


Usiaku kini tak jauh berbeda dengan Arjun, yaitu 26 tahun. Aku tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita, hingga tak jarang banyak orang-orang beranggapan bahwa aku tidaklah normal.


"Sepertinya, Arya. Tidak normal, masa usia segitu belum nikah. Apa jangan-jangan dia itu Gay, ya? " Ucap seseorang yang tak sengaja terdengar di telinga.


Awalnya aku geram dengan tingkah dan ucapan mereka yang semena-mena, asal mereka tahu? Bukannya aku tidak normal, tapi aku belum siap saja untuk menikah. Aku lebih sibuk bekerja tanpa memikirkan seorang perempuan!


Lama kelamaan akhirnya Aku terbiasa dengan ucapan dan ocehan mereka, nanti juga mereka akan bosan sendiri, bukan?


"Dasar mulut sampah!! " Ucapku kesal.


Hingga suatu ketika aku tak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang bernama Rindu. Ia sangat cantik namun pada awalnya ia begitu menjengkelkan di mataku, tapi lambat laun sikap menjengkelkannya menjadi begitu menggemaskan.


Pertemuan kedua kami pun tak jauh berbeda, saat itu adalah saat yang tidak pernah aku lupakan dalam hidupku. Masa itu sangat-sangatlah manis bagiku. Bagaimana tidak, ia tak sengaja tersandung oleh krikil hingga tubuhnya hampir ambruk ke tanah. Beruntung, aku segera menopang tubuhnya dan aku merasa ada sebuah debaran yang menyelinap dalam dadaku.


"Apa aku sudah jatuh hati padaku? Entahlah! " Gumamku kala itu.


Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta Nomornya, agar aku bisa lebih dekat dengannya. Aku merasa ada sebuah perasaan yang sulit di jelaskan oleh logika namun bisa dirasakan oleh hati.


"Boleh aku meminta nomor ponselmu? " Ucapku sembari menyodorkan ponselku.


Rindu mengangguk dan menekan nomornya di ponselku.


Namun hal yang terduga terjadi, saat aku dan Rindu mengantar seorang Anak korban tabrak lari ke rumah sakit. Anak iti bernama Wira, namun celakanya Anak itu hampir membongkar jati diriku pada Rindu. Beruntung, Rindu hanya menganggap ucapan Wira sebagai guyonan.


"Kau, ada-ada saja!! " Ucap Rindu di sertai gelak tawa.


Aku pun bisa menghela nafas lega, ternyata Rindu tidak percaya dengan ucapan Wira.


"Ini semua tidak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak. Jika tidak, maka aku akan celaka!! " Gumamku.


Hingga sebuah ide gila melintas dalam fikiranku untuk membunuh Wira.


"Tidak. Aku tidak bisa melenyapkan Anak tak berdosa itu!! " Ucapku menolak, namun bisikan demi bisikan terus menghampiri hingga diri ini menyetujuinya.


Aku pun memulai aksiku pada malam hari, saat rumah sakit mulai terasa sepi itu adalah waktu yang tepat untuk membunuhnya.


"Ini adalah waktu yang tepat. Tunggu saja kematianmu akan segera tiba, Wira!! " Gumamku.


Hingga tanpa sadar tangan ini telah membunuh seorang Anak kecil yang tak berdosa, aku sempat menyesal namun jika Wira dibiarkan hidup, maka Wira bisa membahayakan Diriku sendiri.


"Maafkan Aku, Wira!! " Ucapku menyesal, sesaat melemparnya dari gedung rumah sakit ini.


Aku membuat skenario seolah-olah Wira terjatuh dari lantai rumah sakit.


Entah sejak kapan aku menjadi seorang penjahat?

__ADS_1


Mungkin ini adalah didikan dari Bu Arumi yang merupakan pengasuhku sejak kecil.


Didikan yang keras dan selalu membelaku saat aku salah atau pun benar, hingga akhirnya aku tumbuh menjadi pribadi yang menghalalkan segala cara demi meraih sebuah tujuan!


"Kau bisa, jika perlu kau gunakan cara apapun untuk mendapatkan apa yang kau mau, Arya!! " Ucapan Bu Arumi selalu terngiang di kepalaku hingga kini.


Hingga tanpa sadar Bu Arumi telah mencuci otak ku ini, hingga Bu Arumi menciptakan sebuah api kebencian dalam hatiku untuk Yogi yang merupakan Ayahku.


Bu Arumi sering menceritakan hal-hal yang membuat ku semakin membenci Yogi.


"Kau tahu Arya? Bahwa Pak Yogi lebih menyayangi Putranya Arjun! " Ucapnya.


Aku menoleh. "Dari mana kau tahu? " Tanyaku yang saat itu masih polos.


Aku berusaha tak memperdulikan ucapan Bu Arumi. Mungkin, Yogi lebih menyayangi Arjun sebab Arjun adalah Anak yang paling dekat dengannya. Fikirku!!


Bu Arumi semakin gencar memperbaharui diri ini untuk membenci Yogi, hingga akhirnya rencana Bu Arumi berhasil.


"Kau tahu tidak, Arya? Bahwa Pak Yogi tidak meyayangimu? " Tanyanya lagi.


"Kata siapa? Jangan berbohong! " Ucapku tak percaya.


"Jika memang dia menyayangimu, tidak mungkin dia menitipkanmu padaku! Dia juga tidak mungkin membiarkan mu sendirian disini, Bukan? Lalu, dia juga pasti akan mengatakan pada seluruh dunia bahwa kau juga adalah Putranya bukan hanya Arjun!! " Ucapnya.


Aku terdiam beberapa saat, aku mencoba mencerna ucapan Bu Arumi. "Apa benar yang dikatakan oleh Bu Arumi bahwa Ayah tdiak menyayangi ku? " Gumamku dalam hati.


Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam fikiran ku, aku tak tahu mana yang benar dan salah namun ucapan Bu Arumi ada benarnya. Memang selama ini Ayahku tidak pernah mengakuiku sebagai Putranya di depan Publik.


"Tentu saja!! " Sahutnya senang, mungkin rencananya telah berhasil.


Aku pun menatap wajah Bu Arumi dengan sangat lekat, ada sebuah pertanyaan yang selalu ingin aku tanyakan pada Bu Arumi namun selama ini aku urungkan untuk menanyakannya. Hingga akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya.


.


"Bu, boleh aku bertanya sesuatu padaku? " Tanyaku dengan nada nanar.


Bu Arumi nampak menangguk, dan tersenyum. "Tanyakanlah! Jika aku bisa menjawabnya, maka akan aku jawab!! " Sahutnya.


Aku pun menghela nafasku. " Bu, sebenarnya dimana Ibuku? " Tanyaku.


Akhirnya sebuah pertanyaan yang Selama ini ingin aku katakan dan tanyakan lolos juga dari mulutku.


Bu Arumi terlihat sedih kala aku menanyakan hal itu padanya. Ia tertunduk sedih sembari mengusap air matanya yang lolos dari sudut matanya.


"Kenapa kau menangis? " Tanyaku.


.

__ADS_1


Bu Arumi bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. " Tidak. Ibu tidak menangis!! " Sahutnya.


"Bu, aku mohon jawbalah!! " Ucapku dengan nada mengiba.


Bu Arumi menggelengkan kepalanya. " Ibu tidak tahu soal itu!! " Sahutnya sembari memalingkan wajahnya, entah mengapa aku merasa Bu Arumi tengah menyembunyikan sesuatu dariku!


Sebenarnya Ayahku tidak pernah mengunjungi ku. " Mungkin dia sedang sibuk!! " Ucapku, aku berusaha berfikir positif pada Ayahku.


Namun selalu saja begitu, Ayahku tak pernah menemuiku selama ini hingga ada sebuah kerinduan dalam hatiku, namun semuanya hanya sia-sia belaka.


"Pa. Aku kangen! Apa Papa bisa datang? " Tanyaku di sambungan telepon.


"Maaf, Arya. Papa tidak bisa! Papa sibuk. " Ucapnya.


Selalu kata sibuk yang dia ucapkan, lagi-lagi aku berusaha mengerti dirinya. Hingga akhirnya aku lelah dengan semua ini.


"Arya. Papa sudah kirim uang untuk kebutuhan mu selama 1 bulan, ya. Maaf, Papa tidak bisa datang menjengukmu!! " Ucapnya.


"Tapi, Pa.. " belum sempat aku berbicara, panggilan telepon sudah di matikan.


Sungguh, nasib yang amat buruk. Apa artinya sebuah uang jika kita tidak mendapat kasih sayang?


Memang, jika urusan uang Ayahku tidak pernah telat tapi aku pun butuh kasih sayang bukan hanya uang. Tidak bisakah ia mengerti sedikit saja?


Bulan demi bulan berlalu, bahkan tahun pun telah berganti hingga kini aku tak pernah bertemu dengan Ayahku. Ada sebuah rasa iri dalam hatiku, kala melihat anak-anak seusiaku yang bermain dan di antar sekolah oleh Ayahnya berbeda denganku yang selalu di antar oleh Bu Arumi.


"Andai aku seperti mereka, mungkin aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan kecil!! " Gumamku dalam hati.


Tak jarang banyak anak-anak yang sering membully diriku di sekolah. Mereka mengatakan bahwa aku tidak memiliki Ayah maupun Ibu.


"Dasar anak Yatim pintu!! " Ucapnya.


"Diam kalian!! Aku masih punya Ayah!! " Bantahku.


"Mana Ayahmu? Jika memang kau punya Ayah pasti ia ada disini!! Huuuuh tukang bohong, tukang bohong!! " Ejeknya.


Mereka selalu mengatakan aku seorang anak yatim, mereka belum tahu bahwa aku masih punya Ayah walau tak punya Ibu.


Hingga akhirnya aku pun telah selesai mengeyam pendidikan hingga sekolah tinggi, dan aku bertekad menjadi seorang pengusaha yang sukses dan memperlihatkan pada Ayahku bahwa aku mampu sukses walau tanpa dukungannya.


"Tunggu hingga aku sukses. Maka akan ku buat kau menyesal, Yogi!! " Tekad ku.


Hingga akhirnya aku telah berhasil mendirikan perusahaan yang awalnya kecil menjadi perusahaan besar. Itu semua berkat kerja kerasku selama ini.


Perusahaan yang aku beri nama Aditya Grup yang bergerak dalam bidang tekstil dan juga property yang sukses di pasaran dan menjadi perusahaan terbesar kedua setelah Pratama Grup.


"Lihatlah, kini aku telah sesukse ini!! " Ucapku bangga.

__ADS_1


Namun kesuksesan dan popularitas yang aku memiliki tidak lantas membuat ku puas, aku iri dengan Arjun yang merupakan seorang CEO sekaligus saudaraku yang amat di manja oleh Yogi.


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari informasi tentangnya. Hingga aku berhasil mengumpulkan informasi tentangnya, hingga sebuah ide muncul dalam fikiranku aku akan membalas Yogi lewat Arjun.


__ADS_2