
Beberapa bulan berlalu, Arjun telah memutuskan untuk kembali membuka hatinya walau itu semua memang berat, namun Arjun melakukannya demi Mario, Putra tunggalnya.
"Baiklah. Mungkin ini saatnya aku melupakan mu, Rindu. " Batinnya.
Walau melupakan Rindu adalah hal yang mustahil bagi Arjun, namun tidak ada salahnya jika ia mencoba.
Arjun akan melakukan apapun demi Mario, agar Mario bahagia.
Arjun dan Lita pun mulai semakin dekat, mereka sering terlihat kencan berdua tanpa Mario dan Arjun dapat melihat betapa Lita sangat menyayangi Mario.
"Apakah Lita memang di takdirkan untuk ku? " Batinnya.
Melihat tawa di wajah Mario yang tidak pernah Arjun dapatkan sejak kepergian Rindu, seketika membuatnya teramat bahagia.
Arjun tersenyum, kala melihat Mario tersenyum. "Teruslah bahagia, Mario! " Gumamnya.
Selama ini Arjun telah salah, ia keliru, Arjun anggap Mario baik-baik saja dan bahagia walau tanpa kehadiran seorang Ibu, namun nyatanya Mario benar-benar kesepian.
Sementara Thania, hingga detik ini dirinya masih belum menemukan jati dirinya, ia masih mencari-cari siapa dirinya dan apa hubungannya dengan Arjun. Sosok Arjun selalu muncul dalam ingatannya dan kali ini Thania melihat sosok Anak kecil, namun sosok itu masih samar dalam ingatannya.
"Sebenarnya siapa kalian semua? Dan siapa aku ini? " Batinnya.
Setiap kali Thania berusaha mengingat semua itu, mendadak kepalanya sangat pusing mungkin Thania terlalu memaksakan otaknya untuk bekerja dengan keras.
Ada keanehan dalam diri Thania, entah mengapa setiap melihat Arjun dan Lita bersama membuat hatinya begitu sakit, dan seolah-olah Thania menolak hal itu.
"Ada apa dengan ku? Kenapa setiap melihat mereka bersama hati ku seolah-olah tidak terima? " Batinnya.
Ya, Lita sering mengunjungi kantor Arjun dan mereka berdua pergi untuk sekedar makan siang namun sikap Lita yang selalu bergelayut di lengan kekar Arjun membuat Thania begitu tak suka.
"Ayolah, Thania! Jangan fikirkan mereka. Lagi pula kau tidak ada hubungannya dengan Pak Arjun. " Ucapnya.
Perasaan Thania benar-benar Aneh, ia begitu bahagia saat berada di dekat Arjun seperti saat ini.
Thania tak sengaja terjatuh, dan beruntung Arjun segera menangkap tubuhnya hingga keduanya saling tatap untuk beberapa saat.
Tatapan keduanya menyiratkan sebuah ikatan, keduanya seperti pernah melihat tatapan itu namun entah dimana?
Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terpaku, dan tenggelam dalam fikiran masing-masing.
"Rindu! " Ucap Arjun lirih, nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Detik kemudian Arjun tersadar, dan melepaskan pegangannya. " Kau baik-baik saja, Thania? " Tanyanya.
Thania mengangguk. " Saya baik-baik saja! " Sahutnya.
Arjun tak mengerti setiap bersama Thania, ia merasa seolah-olah Rindu hadir kembali namun dalam tubuh yang berbeda.
Arjun membalikan tubuhnya, dan memejamkan matanya sesaat kemudian Arjun mengingat kenangannya saat bersama Rindu dahulu. Kenangan yang mampu membuat dadanya terasa sesak, namun juga membuat hatinya begitu bahagia tanpa terasa setetes air mata jatuh dari sudut matanya, menandakan betapa Arjun mencintai Rindu hingga detik ini.
Thania yang melihat Arjun seperti itu membuat hatinya sedikit perih, kemudian Thania menepuk pelan bahu Arjun. " Anda baik-baik saja, Pak? " Tanyanya khawatir.
Sedetik kemudian Arjun membuka matanya, dengan cepat Arjun mengusap air matanya dan berbalik menghadap Thania.
"Tentu, aku baik-baik saja. " Sahutnya.
Namun Thania tahu bahwa Arjun sedang berbohong, pasti Arjun sedang merindukan kekasihnya yang meninggal itu.
Sepertinya Arjun butuh sebuah ketenangan agar bayang-bayang Rindu tak lagi mengusiknya, ia ingin melupakan Rindu namun terlalu sulit untuk semua itu.
"Yasudah, Thania. Saya pergi! " Pamitnya seraya mengayunkan langkahnya.
Thania memandang kepergian Arjun, perasaan dan jiwanya seakan ingin memeluk Arjun dengan erat namun Thania tak berdaya.
Di rasa belum menemukan jawaban atas apa yang terjadi padanya, Thania pun kembali masuk ke ruangannya.
"Ternyata hingga detik ini kalian belum menyadari semua ini! " Ucap Ki Gembor yang sejak tadi memantau keduanya.
Mengapa begitu sulit untuk menyatukan mereka kembali, bahkan Ki Gembor tak mengerti dengan Arjun, bukankah Arjun telah merasa bahwa Thania adalah Rindu namun hingga detik ini Arjun masih saja tak menyadarinya.
"Jika terus seperti ini, maka aku yakin mereka berdua akan kembali terpisah! " Gumamnya.
Ki Gembor menghela nafasnya, kemudian menghilang sekejap mata.
Rama yang memang mencintai Thania sejak pandangan pertama pun menyadari sikap Thania yang berubah kala melihat Arjun, dan Lita bersama.
Rama tahu bahwa Thania menyukai Arjun, namun Thania tak menyadari akan hal itu.
"Apa bedanya aku dengan Arjun, Thania? " Batinnya.
Rama berusaha selalu ada untuk Thania, sekalipun Thania tak menginginkan kehadirannya namun Rama selalu ada untuknya.
Rama selalu membantu Thania dalam segala situasi, dan ia telah kenal betul dengan latar belakang Thania bahkan Bibinya juga merestui Rama dengan Thania.
__ADS_1
"Sudahlah, Nak Rama, nikahi Thania secepatnya! " Titahnya.
Rama tersentak kaget mendengar penuturan dari Bibinya Thania, namun tak bisa di pungkiri jika Rama juga senang.
"Tapi, saya dan Thania belum sedekat itu, Tante! " Sahutnya.
"Alah, Thania mah gampang biar nanti tante yang ngomong. " Ujarnya.
Rama terlihat berfikir sejenak, namun Bibinya Thania terus saja membujuk Rama agar menikahi Thania secepatnya agar beban keluarganya segera menghilang.
"Jika kamu tidak mau menikahi Thania, maka jangan salahkan kami jika kami menikahkan Thania dengan orang lain! " Ujarnya penuh penekanan.
Mendengar hal itu sontak saja Rama membelalakan matanya, ia resah dan bimbang. Jika dirinya menolak, maka Thania akan di miliki oleh orang lain namun jika dirinya mengiyakan, lalu bagaimana dengan Thania?
Amitha tersenyum penuh arti, ia yakin dengan cara seperti itu Rama tak ada pilihan lain selain menikahi Thania. "Cepat katakan, Rama! " Batinnya.
Lama Rama berfikir hingga akhirnya ia pun menghela nafasnya sejenak. " Baiklah, Tante. Saya akan menikahi Thania setelah bulan purnama! " Ucapnya.
Rama juga menyanggupi syarat dari Amitha yang menyuruhnya untuk membawa seserahan mewah, dan juga mahar yang fantastis.
"Oke, setuju. Tapi, bagaimana dengan mahar? " Tanyanya.
"Sesuai yang Tante minta! " Sahutnya.
Rama tak peduli dengan jumlah mahar yang di minta oleh Amitha, sebab yang terpenting baginya adalah Thania. Walau mahar yang di minta oleg Amitha terdengar gila, namun Rama berusaha memenuhinya demi untuk menikahi Thania.
Senyum mengembang di bibir Amitha, akhirnya bebannya akan berkurang dan dirinya juga akan mendapatkan uang mahar dari Rama.
"Wah, kaya mendadak ini. " Batinnya.
Rama dan Amitha pun setuju untuk pernikahan ini, dan Amitha akan mengatur semuanya tanpa di ketahui oleh Thania, sebab baginya Thania harus menurut sebagai imbalan karna sudah merawatnya sejak kecil.
Rama bangkit. "Oke, Tante. Saya pamit pulang dan saya serahkan segalanya pada Tante! " Ujarnya sembari menjabat tangan Amitha.
Amitha pun bangkit, kemudian menjabat tangan Rama di sertai senyum. " Serahkan semuanya pada Tante. " Sahutnya.
Rama pun segera pergi dari rumah Amitha, dan melajukan mobil mewahnya.
Sebenarnya Rama bukanlah orang sembarangan. Ia merupakan anak dari pengusaha kaya raya, namun ia memilih bekerja di kantor Arjun sekedar mencari hiburan.
Walau pun Rama Anak Seorang yang kaya tak lantas membuatnya bersyukur bahkan saat dirinya harus menghadapi situasi sulit yang kemudian merubah hidupnya.
__ADS_1