BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
KE KHAWATIRAN ARYA


__ADS_3

Malam hari pun tiba Arya terbangun namun lebam pada wajahnya masih sangat terasa perih. Arya memegangi wajahnya sendiri, ada rasa ngilu dan perih bercampur menjadi satu.


"Sialan. Perih sekali! " Gerutunya kesal.


Arya tak habis fikir dengan Yogi, mengapa ia begitu kejam padanya?


Arya pun menyibak selimutnya lantas turun dari tempat tidurnya. Rasanya ia haus sekali namun saat hendak membuka pintu, tiba-tiba Bu Arumi lebih dulu membuka pintu hingga Arya begitu kaget.


"Ya tuhan, Bu. Kenapa gak ketuk pintu dulu sih? " Ucap Arya seraya mengelus dada.


Arumi pun menunduk seraya meminta maaf. " Saya minta maaf, Den! " Sahutnya.


Arya mengangguk seraya beberapa kali mengelus dadanya.


Tiba-tiba Arya mendapatkan telepon dari seseorang. "Hallo! Baik, Pak! " Sahut Arya sesaat teleponnya tersambung seraya berlalu pergi dari hadapan Bu Arumi.


Bu Arumi meletakan minum serta makan malam di kamar Arya, tak berapa lama kemudian akhirnya Arya kembali ke dalam kamarnya.


"Itu apa, Bu? " Tanya Arya seraya melirik makanan di meja.


"Itu makanan kesukaan, Den Arya! " Sahutnya sembari mengulas senyum.


"Terimakasih! " Ucap Arya.


Arya duduk di kasurnya lantas menyalakan televisi, namun berita tak terduga muncul dari sebuah tayangan yang sedang viral.


"Apa ini? " Ucap Arya tak percaya seraya melirik ke arah Bu Arumi.


Bu Arumi melirik siaran televisi di depannya dengan wajah tegang.


Arya bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah Bu Arumi.


"Katakan apa maksud dari semua ini? " Tanya Arya.


Bu Arumi hanya menggelengkan kepalanya, ia menyangkal bahwa itu bukanlah dirinya.


"Bohong! Itu pasti kau. " Ucap Arya tak percaya, sudah jelas disana terpanggang wajah Arumi.


"Tidak. Itu bukan aku! " Sanggahnya.


" Ternyata kau bukan manusia dan ternyata kau pun siluman! " Ucap Arya tak menyangka, ternyata selama ini ia telah di bodohi oleh Bu Arumi yang berwujud manusia, namun aslinya seorang Siluman.


"Hentikan, Arya! " Bentak Arumi.


Arya tersenyum sinis. " Kau sudah berani meninggikan suaramu di hadapan ku? " Ucap Arya.


"Asal Kau tahu, Arya. Aku adalah... "


Belum sempat Bu Arumi melanjutkan ucapannya, tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Arya. Kemudian Arya mendorong tubuh Bu Arumi dari rumahnya.


"Pergilah dari rumahku! Aku tak sudi hidup dengan siluman macam kau! " Usir Arya.


Bu Arumi menggeleng. " Jangan. Jangan usir saya! " Ucapnya mengiba.


Arya memalingkan wajahnya, ia sudah tak ingin lagi mendengar apapun dari mulut Hu Arumi.


"Pergilah sebelum aku benar-benar murka dan menghabisimu!! " Ancam Arya.


Bu Arumi bangkit, ia pun memandang wajah Arya dengan sangat lekat, ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Andai kau tahu, Arya. Aku ini adalah Ibumu! Kau tidak akan melakukan hal ini padaku. " Gumamnya dalam hati seraya melangkah pergi dari rumah Arya.


Biarlah Arya menenangkan dirinya dahulu, Bu Arumi akan kembali di saat yang tepat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


Sesekali Bu Arumi menegok Arya, namun Arya memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Sebegitu bencinyakah kau padaku, Nak? " Ucapnya lirih.


Sejujurnya Arya memperhatikan kepergian Bu Arumi, namun ia berpura-pura tak peduli sebab tak ingin melihat Bu Arumi kembali lagi.


"Maafkan Aku! " Gumamnya lirih.


Arya menutupa pintu rumahnya dan duduk di ruang tamu, lantas meraih gawainya.


Ia mencari-cari kontak atas nama Rindu. Kemudian mengirim sebuah pesan singkat.


"Hay, Rindu. Ini aku Arya! " Tulisnya kemudian send.


Beberapa saat menunggu. "Oh, ya. Arya! Apa kabar? " Balasnya.


Arya tersenyum senang, akhirnya pesannya di balas. " Kabarku baik! Bagaimana denganmu? " Tulisnya.


Beberapa lama saling mengirim pesan, akhirnya Arya mengakhirinya dan meletakan ponselnya kembali.


Arya duduk di sofa, ia masih tidak mengerti dengan semua ini. Ternyata selama ini ia telah hidup bersama seorang Siluman yang menjelma menjadi manusia, bahkan lebih parahnya menjadi pengasuhnya sejak kecil.


"Ya, tuhan. Apa-apaan ini semua? " Gumamnya.


Arya hanya bisa menghela nafasnya, tapi tunggu, tunggu. Arya merasa ada yang aneh dengan Bu Arumi, jika memang ia seorang Siluman tapi kenapa ia tak pernah sedikitpun menyakitinya bahkan ia merawatnya sejak kecil. Ada yang tidak beres dengan ini semua! Arya harus mencari tahu!


"Wujud itu, kenapa tidak asing? " Gumamnya.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Arya, ia masih bertanya-tanya dengan ini semua. Wujud itu, semuanya seolah-olah persis seperti wujud silumannya. Apakah Arya dan Bu Arumi siluman yang sama?


"Malas sekali malam ini, semuanya seolah-olah hampa. " Gumamnya.


Arya melirik dan memindai seisi rumah, biasanya ada Bu Arumi yang berada disini. Rumah ini seakan sepi tanpanya.


"Untuk apa aku memikirkan wanita itu? Lagi pula, bukankah aku yang telah mengusirnya? " Ucapnya seraya duduk di depan meja makan, lantas menikmati makan malamnya.


Sesuap 2 suap akhirnya Arya menghentikan makannya, rasanya tidak enak. Semuanya terasa hambar, bukan karna masakannya yang tidak enak melainkan ada sesuatu yang kurang di sini!


Malam ini Arya lalui dengan kesepian, biasanya ada Bu Arumi yang menyiapkan segalanya, termasuk memberikan segelas susu sebelum tidur. Tapi kali ini tidak ada sosok itu lagi. Ah, segalanya terasa berbeda.


"Aku ingin tahu, dimana Ibuku berada? " Ucapnya.


Sebuah tanda tanya besar bagi Arya, hingga kini ia belum tahu dimana dan siapa nama Ibu kandungnya? Arya ingin tahu dan ingin bertemu dengannya.


"Bagaimana rupa Ibuku? Apakah dia cantik? " Gumamnya.


Arya tersenyum kecut, ia berharap bisa bertemu dengan sang Ibu walau hanya dalam mimpi.


"Semoga tuhan melindungi mu, dimana pun kau berada, Bu! " Pintanya pada Tuhan.


Sesekali Arya merintih kesakitan, bekas lebam di wajahnya masih terasa ngilu.


"Kurang ajar kau, Yogi. Aku akan membalasmu suatu hari nanti! " Gumamnya.


Nafasnya memburu, amarah dan dendam bercampur menjadi satu. Ia akan membalas semua perlakuan Yogi padanya.


"Jika aku terluka hari ini, maka kau pun harus terluka di kemudian hari, Yogi. Aku tidak senang melihatmu bahagia. Aku lebih senang melihatmu menderita, sama seperti kau kehilangan Istrimu. Mungkin lain kali kau akan melihat jasad Putramu! " Ucapnya sembari tersenyum miring.


Ya, Arya berencana akan membunuh Arjun dengan tangannya agar Yogi menderita lebih dalam lagi. Ia tahu bahwa Arjun adalah Putra kebanggaan Yogi satu-satunya, beda dengan dirinya yang merupakan Anak yang tidak di inginkan bahkan tidak di akui.


Keadaan yang membuatnya menjadi seorang yang jahat, Arya tak pernah berniat jahat atau pun berniat menjadi seorang penjahat. Namun keadaan yang membuatnya seperti ini.


Jika saja yogi menganggap dan mengakuinya sebagai Putranya, mungkin Arya takan seperti ini. Namun Yogi telah mengibarkan bendera perang antara dirinya dan Arya, apalagi Arya yang selalu mendapatkan hasutan demi hasutan dari Arumi hingga membuatnya semakin terbakar dendam.


"Kau harus membayar segalanya, Yogi. Aku tak ingin terluka sendirian disini. Aku ingin mengajakmu ikut merasakan apa yang aku rasakan! " Ucapnya.


Harus Arya akui bahwa Yogi selalu mengirimkan sejumlah iangy untuk biaya pendidikan dan lain sebagainya, namun semua itu tidaklah cukup baginya. Arya juga ingin mendapatkan kasih sayang yang sama yang di dapat Arjun. Tapi sayang, Yogi tak pernah memberikannya. Suatu yang tidak adil, bukan?

__ADS_1


Arya yanh hidup sebagai Broken home, yang tak tahu arah hidup. Harus mencari jalan hidupnya sendiri, hidup dalam sebuah asuhan yang tidak benar. Seorang pengasuh yang membawa Arya dalam sebuah kesesatan yang nyata.


Sementara Bu Arumi, ia terus berjalan tanpa arah tujuan, ia tahu akan membawa langkahnya kemana? Hari mulai semakin larut, namun ia tahu akan pergi kemana malam ini?


"Kemana aku harus pergi? " Gumamnya.


Jujur saja, ia bisa pergi ke alamnya, namun ia tak bisa meninggalkan Arya sendirian di dunia yang kejam ini. Apalagi ia belum membalas Yogi, hatinya masih belum tenang!


Lelah dengan langkah yang tak menentu, akhirnya Bu Arumi terduduk di pinggir jalan, ia beristirahat sejenak. Bu Arumi menundukan Wajahnya, raut wajahnya menunjukkan sebuah kesedihan.


"Ibu, kenapa? " Tiba-tiba seorang wanita menghampiri dan bertanya pada Bu Arumi.


Bu Arumi mendongakan kepalanya. " Siapa kau? " Tanyanya.


Wanita itu tersenyum. " Aku Rindu! Ibu mau kemana? Ini sudah malam, Lho! " Ucapnya.


Ya, wanita itu adalah Rindu. Kebetulan malam ini Rindu baru pulang selepas berlembur.


Bu Arumi menggeleng. "Entahlah? Saya tidak tahu kemana langkah kaki ini membawa Saya! " Sahutnya.


Rindu menyipitkan matanya. " Ibu tidak punya tujuan, gitu? Ya, sudah jika begitu. Ayo, ikut pulang bersamaku! " Ajaknya.


Mau tak mau Bu Arumi mengangguk dan ikut pulang bersama Rindu. Sebab hari sudah mulai larut, ia tahun jika ada orang jahat.


"Baiklah. Aku akan ikut bersamamu! " Sahut Bu Arumi.


Mereka pun pergi dengan taksi yang akan membawanya menuju rumah Rindu.


Sesampainya di rumah, Rindu membuka pintu dan lantas ia mempersilakan Bu Arumi masuk.


"Ayo, bu. Masuk! " Ajaknya.


Bu Arumi masuk ke dalam rumah Rindu, ia memperhatikan rumah Rindu. "Apa kau tinggal sendiri, disini? " Tanyanya sembari melirik Rindu.


Rindu mengangguk sembari tersenyum. " Ya, aku tinggal sendiri! " Sahutnya.


Lantas Rindu memperlihatkan kamar Bu Arumi. " Silakan, Bu. Ini kamar Ibu! Oh, ya. Jika aku boleh tahu, siapa nama Ibu? " Tanya Rindu.


Rindu hampir lupa menanyakan namanya.


"Arumi. Panggil saja, Bu Arumi! " Titahnya.


Rindu mengangguk mengerti, lantas berlalu pergi menuju kamarnya.


Bu Arumi pun masuk ke dalam kamarnya, ia pun merebahkan dirinya di kasur. "Arya. Kau sedang apa sekarang, Nak? " Ucapnya lirih.


Sungguh, Bu Arumi. Sangat Rindu dengan Putranya namun ia tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini, sebab Arya masih sangat marah padanya.


"Hukuman apa ini? " Gumamnya.


Bu Arumi tak mengerti, mengapa tuhan begitu kejam padanya? Mengapa tuhan memisahkan antara Ibu dan Anak?


Namun tetap saja, ini semua adalah kesalahan Yogi yang membuat situasi menjadi kacau!


Tiba-tiba Arya bangkit dari tempat tidurnya, ia khawatir dengan keadaan Bu Arumi.


"Ya tuhan, begaimana jika terjadi hal yang buruk pada Bu Arumi? " Ucapnya gelisah.


Lantas Arya meraih kunci mobilnya, ia akan mencari Bu Arumi dan membawanya pulang kembali. Jujur saja ia takut jika hal buruk terjadi pada pengasuhnya!


"Bu, dimana kau? " Ucapnya seraya melirik sisi kanan dan kiri, namun hasilnya nihil.


Arya tak putus asa, ia terus mencari keberadaan Bu Arumi. Sampai hari mulai larut namun Bu Arumi belum kunjung di temukan. Perasaan bersalah mulai kian menelusup ke hati Arya.


"Aku harap kau baik-baik saja, dimana pun kau berada saat ini! " Harapnya.

__ADS_1


2 jam berlalu, namun pencariannya tidak membuahkan hasil akhirnya Arya memutuskan untuk segera pulang, sebab hari sudah semakin larut. Udara dingin dan luka lebam yang masih terasa sakit membuatnya tak bisa berlama-lama di luar.


__ADS_2