BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
DENDAM ARUMI


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, akhirnya Yogi mengatahui siapa dalang dari pembunuhan Istrinya.


"Kurang ajar kau!! " Gumamnya marah.


Yogi sungguh tak menyangka bahwa pembunuh Istrinya adalah orang yang terdekat. Sungguh miris!


"Ingin rasanya aku mencincang mu! " Ujarnya yang mulai naik pitam.


Ketika mendapati informasi bahwa Istrinya di bunuh oleh terdekat, perasaan Yogi sungguh hancur. Bukan saingan bisnis maupun penjahat, namun ia merupakan Putra kandungnya sendiri.


Yogi bergegas menuju mobilnya dengan kecepatan tinggi lantas menuju rumah Putranya. Saat ini Yogi tengah di kuasai amarah yang amat besar.


"Tunggu saja nanti!! " Ucapnya lirih seraya memukul setir.


Sesampainya di depan rumah Putranya, lantas Yogi membuka pintu dengan sangat kasar.


"Arya. Keluar kau!! " Teriaknya di ambang pintu.


Namun tak ada sahutan, seperti orang rumah sedang sibuk atau tidak ada di rumah.


"Arya. Aku tahu kau di dalam. Jangan bersembunyi dari ku!! " Teriaknya lagi.


Arumi datang menghampiri Yogi, ia juga heran mengapa Yogi datang dengan wajah yang begitu merah padam.


"Ada apa, Tuan? " Tanyanya.


Yogi melirik ke arah Arum. " Dimana Arya? " Tanya Yogi.


Arum menggelengkan kepalanya. " Saya tidak tahu! " Sahutnya bohong.


"Bohong. Katakan dimana dia? " Gertaknya.


Arum masih saja mengelak dan tak mau memberitahu dimana Arya berada.


Yogi yang telah kesal dibuat oleh Arum lantas mencari Arya kesegala penjuru rumah namun nihil, ia tak menemukan keberadaan Arya sama sekali.


"Dimana kau, Anak sialan? " Ucapnya kesal.


Yogi kembali ke ruang tamu dan menanyai Arum tentang Arya. " Katakan dimana dia? Aku tahu kau pasti tahu dimana dia! " Gertaknya.


Arum masih saja tak bergeming, Yogi terus mengguncang tubuh Arum agar mau memberitahu keberadaan Arya.


"Katakan!! " Teriak Yogi.


"Hentikan!! " Sahut seseorang di ambang pintu.


Yogi dan Arum menoleh ke asal suara. Arum membulatkan matanya, sementara Yogi tersenyum sinis ke arahnya.


"Bagus. Kau datang, Arya. Aku sedang menunggu dan ingin memberimu pelajaran! " Ucap Yogi.


Arya hanya tersenyum sinis ke arah Yogi. "Kau mencari ku? Sudah lama? Mari duduk dan kita minum bersama! " Sahut Arya berbasa basi.


"Kau!! " Teriak Yogi.


"Apa? Mau menghajarku? Silakan! " Tantang Arya.


Mendapat tantangan dari Arya, lantas Yogi maju beberapa langkah dan mendekati Arya. Kemudian ia melayangkan bogeman mentah ke wajah tampan Putranya.

__ADS_1


Brugh...


Bogeman Yogi membuat Arya tersungkur ke lantai dan darah segar pun mengalir dari sudut bibirnya.


Arya mengelap darah tersebut dan menatap Yogi tajam.


"Apa begini caramu memperlakukan ku? " Ucap Arya marah.


"Diam kau! Kau manusia berhati iblis sama seperti Ibumu!! " Ucap Yogi menggelegar.


Arya menatap tajam Yogi dengan nafas yang memburu, lantas Arya bangkit dan mencengkeram baju Yogi.


"Hentikan ucapanmu! Jangan kau bandingkan aku dengan Ibuku. Kau tak berhak berkata seperti itu tentang Ibuku, paham! " Sahut Arya marah.


Arumi hanya memandang dan memperhatikan kedua laki-laki di hadapannya yang terus bersitegang dan beradu argumen, tanpa bisa melerainya. Ia pun sakit ketika Yogi mengatakan bahwa dirinya berhati iblis.


Arya benar-benar di kuasa amarah dengan ucapan Yogi, begitu pula dengan Yogi.


"Kau harus membayar atas perbuatanmu yang telah menghabisi Istriku! " Ucap Yogi.


Arya hanya tersenyum sinis. " Salahku? Itu semua salahmu. Berhentilah menyalahkan orang lain! Bukankah aku begini karna didikanmu? " Sahut Arya.


"Aku tidak pernah mendidik mu menjadi seorang pembunuh, Arya! " Ucap Yogi.


"Kau tidak mengajariku sebagai pembunuh, tapi kau mengajariku menjadi seorang Psikopat!! " Sahut Arya.


Yogi yang kian marah dengan ucapan Arya kembali melayangkan bogemannya ke arah Arya.


"Matilah kau! Matilah!! " Teriak Yogi marah seraya terus menghajar Arya.


Arum yang menyaksikan Arya di perlakukan demikian rupa menjerit sesekali menutup mulutnya.


Yogi tak menghiraukan teriak Arumi, ia pun terus menghajar Arya tanpa ampun sehingga darah segar terus mengalir dari wajahnya dan Arya pun mulai kehilangan kesadaran.


"Hentikan!! " Teriak Arumi seraya menunduk untuk melindungi Arya.


Yogi yang mulai reda pun menghentikan aksinya, lantas ia pun berlalu pergi dari rumah Arya.


"Arya. Bangun!! " Teriaknya seraya menepuk-nepuk pipinya.


Arumi memandang kepergian Yogi, ia menatap tajam ke arahnya. "Sesungguhnya, kaulah manusia tak punya hati itu, Mas!! " Ucapnya lirih.


Yogi benar-benar pergi meninggalkan Arya tanpa melihat keadaan Putranya atas ulahnya. Ia tak peduli dengan Putranya. Yogi masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya, kini hati Yogi sudah sedikit tenang sebab sudah bisa menghukum pembunuh Istrinya.


Arumi membawa Arya ke kamarnya dengan telaten ia pun mengobati luka di wajah Arya.


"Maafkan Ibu, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa! " Ucapnya lirih.


Tak bisa di pungkiri bahwa Arum sangat menyesal dengan kejadian ini, namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa.


"Awas kau, Yogi. Aku akan menuntut balas atas semua ini! " Gumamnya marah.


Hati Arumi sangat marah kala melihat keadaan Arya seperti ini, apalagi pelakunya adalah Yogi.


Keadaan Arya begitu memprihatinkan, banyaknya memar di wajah yang pastinya amat perih.


Cinta Arumi untuk Yogi sudah mulai terkikis, saat Yogi memberikan Arya pada orang lain dan memperlakukan Putranya dengan sangat kejam.

__ADS_1


"Kau harus mendapatkan ganjaran atas perlakuan mu pada Putraku! " Ucapnya marah.


Arumi bergegas merubah wujudnya menjadi Siluman dan hendak menemui Yogi dengan wujud itu.


"Yogi!! " Teriak Arumi


Yogi menoleh ke arah sumber suara. " Ka-kau. " Sahutnya terbata.


Yogi sungguh tak percaya bahwa wanita di masa lalunya akan datang menemui dirinya.


Arumi melangkah mendekati Yogi seraya tersenyum sinis. " Apa kabar kau, Yogi? Sudah lama kita tidak jumpa! Bagaimana dengan Putraku? Kau merawatnya dengan baik, bukan? " Ucap Arum seolah-olah tidak tahu apa-apa.


Yogi tersentak kaget, ia tak tahu apa yang harus dia katakan pada Arum soal Arya. Keringat dingin mulai mengucur dari wajahnya.


"Kenapa kau gugup, Yogi? " Tanya Arum yang bisa menebak isi hati Yogi, ia tahu saa ini Yogi tengah ketar ketir.


Yogi menggeleng dan berusaha mengelap keringatnya. " Tidak. Aku tidak gugup! " Sahutnya berusaha santai, namun wajahnya menunjukan ekspresi lain.


Arumi tersenyum sinis. " Kau apakan Putraku, Yogi!! " Teriaknya marah, Arumi tak bisa lagi berpura-pura.


Yogi membulatkan matanya. "Apa maksudmu? " Ucap Yogi.


"Aku tahu apa yang kau lakukan pada Arya! " Sahut Arum.


"Kau harus membayar lunas atas semua perlakuan mu itu! " Lanjutnya lagi.


Arumi mulai melangkah mendekati Yogi, sementara Yogi mulai mundur beberapa langkah. Apalagi saat ini Arumi berwujud Siluman, ada ketakutan dalam hati Yogi saat bersitatap dengan Arumi.


"Apa yang ingin kau lakukan? " Tanya Yogi.


"Memberimu pelajaran! " Sahut Arumi.


Arumi menyeringai ke arah Yogi dengan memperlihatkan gigi taringnya, Kemudian mengasah kuku panjang miliknya.


"Jangan lakukan itu, Aku mohon! " Ucap Yogi mengiba.


Arumi senang melihat Yogi memohon padanya, tapi semua itu sudah tak ada gunanya lagi. Semuanya sudah terlambat.


Arum mencengkram bahu Yogi, kemudian mengigit lehernya dengan gigi taringnya. Kemudian membating tubuh Yogi ke lantai.


"Kau wanita siluman berhati iblis! Aku menyesal pernah menikahimu dan memiliki Anak darimu!! " Ucap Yogi di sela kesadarannya.


Tentu saja ucapan Yogi membuat Arumi benar-benar di puncak kemarahan, apalagi saat Yogi menyebut-nyebut Arya.


"Kurang ajar!!! " Teriaknya marah.


Tanpa ampun Arumi terus menghajar Yogi dengan membabi buta, ia tak peduli jika Yogi harus tewas di tangannya. Ucapan Yogi bagaikan belati bagi Arum.


Hingga akhirnya Yogi terkapar lemah di lantai sampai tak sadarkan diri.


Saat Arum hendak membunuhnya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Yogi.


"Sialan! " Gumamnya marah, lantas Arum pun bergegas pergi dari kediaman Yogi.


Arjun terus mengetuk pintu namun tak ada sahutan sama sekali, akhirnya Arjun membuka pintu kamar Papanya.


"Ya tuhan, Papa. Bagaimana ini bisa terjadi!! " Ucapnya kaget kala melihat keadaan Papanya.

__ADS_1


Arjun benar-benar kaget dibuatnya, ia tak tahu bagaimana Papanya bisa seperti itu? Namun jika di amati, ini bukan ulah senjata tajam! Sebab adanya gigitan di leher dan cakaran di wajah Yogi.


__ADS_2