BUKAN MANUSIA

BUKAN MANUSIA
Episode 55


__ADS_3

Rindu tak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. ia harus bisa hidup tanpa Arjun. ia tak mungkin terus-menerus mencintai seseorang yang tidak mencintainya.


"aku harus kuat, aku harus bisa hidup tanpa mas Arjun! ". ucap Rindu menyemangati dirinya sendiri.


keesokan paginya, Rindu sempat malas untuk masuk bekerja. ia tak ingin bertemu kembali dengan Arjun, karna hal itu akan membuka luka lamanya.


"ahh malas sekali hari ini! aku takut bertemu dengan mas Arjun. " ucap Rindu.


Rindu tak bisa berhenti begitu saja, sebab ia sudah terikat kontrak dengan perusahan Arjun. jika Rindu keluar dari kantor tanpa sebab, maka dirinya wajib membayar denda.


"jika saja aku tak terikat kontrak, niscaya akan ku tinggalkan kantor itu! ". ucap Rindu, ia pun turun dari tangga dan pergi menuju kantor.


drrt... drttt...


ponsel Rindu berdering, menandakan ada panggilan masuk.


Rindu sempat melirik ponselnya. namun ia lebih memilih mengabaikan ponselnya. karna yang menghubunginya adalah Arjun.


"mengapa kamu selalu saja mengganggu ku, Mas? bukankah, kau akan menikah! ". ucap Rindu, sembari meletakan ponselnya kembali ke dalam tas.


Rindu pun segera masuk ke dalam taksi. di dalam taksi ponselnya terus saja berdering tanpa henti. disana masih tertera nama Arjun.


"kenapa kamu terus menghubungi diriku? ". ucap Rindu. ia pun mulai jengah dengan panggilan masuk di ponselnya.


Rindu mematikan teleponnya, ia lebih mengabaikan Arjun. ketimbang meladinya.


"kita mau kemana, Mbak? ". ucap sopir taksi, sembari melirik ke arah Rindu.


"oh iya, saya lupa! kita berangkat ke kantor Pratama grup, ya pak. " ucap Rindu


sopir taksi pun mengangguk dan melajukan mobilnya menuju tempat yang telah disebutkan oleh Rindu.


"kita sudah sampai, Mbak! ". ucap sopir taksi, setelah sampai di depan perusahaan Pratama grup.


"oh iya, pak. makasih! " ucap Rindu, ia pun turun dari mobil dan memberikan ongkos sesuai tarif.


sopir taksi pun melajukan mobilnya. Sementara rindu, ia terlihat ragu-ragu untuk masuk ke dalam.


"masuk gak, ya? ". ucap Rindu sembari menggigit ujung kukunya.


Rindu menghela nafasnya sejenak dan menghembuskannya secara perlahan. Rindu pun melangkah masuk ke dalam kantor.


"semoga saja, aku tak bertemu dengan Mas Arjun! ". ucap Rindu.


Rindu berhasil masuk ke dalam Ruangannya tanpa bertemu dengan Arjun. Rindu bisa bernafas dengan lega.


"eh Rin, kamu masuk. aku kira gak bakalan masuk? ". ucap salah seorang teman kerja Rindu.


"masuklah, soalnya masih terikat kontrak! ". ucap Rindu. ia pun duduk di meja kerjanya dan mulai menjalankan tugasnya.


Rindu, mulai fokus dengan laptop dihadapannya. ia mengerjakan tugas-tugas yang masih menumpuk.


"kenapa kau tak mengangkat teleponku, Rindu? ". ucap seseorang.

__ADS_1


tiba-tiba, seseorang bediri di dekat meja kerja Rindu. ia pun menatap wajah Rindu dengan sorot mata tajam.


"aku sibuk! ". ucap Rindu acuh.


ia berkata tanpa menatap wajah Arjun. ia tak peduli dengan tanggapan Arjun.


"aku ingin bicara padamu! ". ucap Arjun.


"bicaralah, apa yang ingin kau katakan? ". rindu berkata tanpa menoleh.


Rindu sibuk menatap layar komputer dan juga berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.


"tidak disini, aku ingin berbicara padamu 4 mata, pliss! ". ucap Arjun memohon.


Rindu pun menghentikan aktivitasnya. ia pun melirik tajam ke arah Arjun yang berdiri di hadapannya.


"katakan disini atau tidak sama sekali! ". ancam Rindu.


Arjun menghela nafas dan mengeluarkannya perlahan. Arjun menatap lekat wajah Rindu.


"oke, Rindu. aku mau kamu tetap di sampingku apapun yang terjadi! ". ucap Arjun dengan wajah serius dan mengiba.


"jangan gila kamu, Mas! mana mungkin aku akan berada di sampingmu. sementara kau akan menikahi wanita lain! ". ucap Rindu tak terima dengan ucapan Arjun.


bagaimana mungkin Arjun memintanya untuk selalu di sampingnya. sementara dirinya bersama wanita lain, Arjun begitu egois.


"Rindu, dengarkan aku! aku tak mencintai Clara. "


"apa, tidak cinta? lalu, mengapa kau ingin menikahi dia? katakan! ". Rindu sedikit berteriak dan meminta jawaban atas ucapan Arjun.


"aku, aku apa? katakan! ". Rindu menatap wajah Arjun.


"aku tidak bisa menjelaskannya padamu, Rindu. lagi pula kau tidak akan mengerti!! "


"mengerti apa maksudmu, berbicaralah yang jelas! agar aku bisa mengerti. " ucap Rindu.


"mengertilah, Rindu. " ucap Arjun sembari berusaha meraih tangan Rindu.


Rindu menepis tangan Arjun, ia membuang mukanya ke arah lain.


"Rindu, aku mencintaimu! ".


"jangan pernah ucapkan kata itu, karna hanya akan menyakiti diriku! ". Rindu menunjuk wajah Arjun.


Rindu pergi dari hadapan Arjun. terlihat mata Rindu begitu berkaca-kaca, Arjun berusaha mengejar Rindu. namun langkahnya terhenti oleh kehadiran seorang karyawan.


"Rindu, Tunggu! jangan pergi. " teriak Arjun.


"maaf, pak Arjun! saya butuh tanda tangan anda. " ucap karyawan yang menghampiri Arjun.


mau tak mau, Arjun menghentikan langkahnya. ia pun berbalik dan menanda tangani berkas yang di sodorkan karyawannya.


"ahhhhhh! ". Arjun mengepalkan kedua tangannya, ketika menyadari Rindu sudah tak terlihat.

__ADS_1


sementara Rindu, kini dirinya berlari kedalam kamar mandi. ia ingin menumpahkan sesak yang memenuhi dadanya.


"hiks.. hiks.. ya tuhan, mengapa? aku selalu menangis untuknya. mengapa rasa ini masih tersimpan rapi dalam hati ku? ". ucap Rindu.


Rindu menangis sesenggukan di dalam kamar mandi, ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. agar tak ada yang mendengar tangisnya.


tok.. tok.. tok!


tiba-tiba, pintu kamar mandi di ketuk oleh seseorang dari luar.


"siapa di dalam? lama banget sih, lagi ngapain emangnya. woy! ". teriak seseorang sembari menggedor pintu kamar mandi.


Rindu bergegas menghapus air matanya, ia pun mencuci mukanya. agar tak ada yang tahu bahwa dirinya habis menangis.


"iya sebentar! ". teriak Rindu dari dalam.


Rindu pun merapikan penampilannya kembali. ia pun mengoleskan sedikit bedak dan lipstik.


"lama banget sih, aku udah gak kuat. mau pipis, tahu! ". cerocos Cindy, ketika melihat Rindu keluar dari kamar mandi. ia pun bergegas masuk dan menuntaskan hajatnya.


Rindu pun pergi menuju Ruangannya. ia berusaha tenang dan mengendalikan perasaannya.


"sepertinya aku tak bisa terus-terusan satu kantor bersama mas Arjun. aku harus segera mengundurkan diri dari sini! ya, itu ide yang bagus! ".


Rindu berencana akan membuat surat pengunduran dirinya pada Arjun. ia tak bisa terus-terusan bertemu dengan Arjun.


waktu pulang pun tiba, Rindu sudah membuat surat pengunduran dirinya. ia akan segera mengajukannya langsung pada Arjun.


tok.. tok..tok!


Rindu mengetuk pintu ruangan Arjun.


"masuk! ". sahut Arjun dari dalam.


Rindu pun masuk dan langsung menyodorkan surat pengunduran dirinya ke hadapan Arjun.


"apa ini, Rindu? ". Arjun menatap Rindu dan membaca surat tersebut.


setelah membacanya, Arjun memandang wajah Rindu. ia pun tersenyum ke arah Rindu.


"kau ingin keluar dari perusahaan ini? ". tanya Arjun.


Rindu tak menjawab pertanyaan Arjun. ia hanya diam dan menunduk.


"bisa saja kau mengundurkan diri dari perusahaan ini. tapi, kau harus membayar kerugian ini. karna kau sudah melanggar kontrak kita! ". ucap Arjun dengan senyuman penuh arti.


"tapi, kau tidak bisa begitu! ". protes Rindu.


"kenapa tidak! bukankah kau sudah menanda tangani dan membaca surat kontrak, sebelum kau bekerja disini? ".


sontak saja hal tersebut membuat Rindu terdiam. ia tak bisa berkutik, karna kontraknya masih tersisa 2 tahun lamanya.


"kau bisa keluar dari sini tanpa hukum! tapi, kau harus membayar 1 milyar padaku! apa kau sanggup? ". ucap Arjun sembari tersenyum miring.

__ADS_1


Arjun yakin Rindu tak akan mampu menyediakan uang begitu banyaknya. ia hanya membuat Rindu jera, agar tak berniat keluar dari kantornya.


__ADS_2