
minggu berlalu, bulan pun telah berlalu. kini kehamilan Rindu telah memasuki bulan ke 9. Rindu telah mempersiapkan perlengkapan untuk persalinan nanti.
Arya menjadi Suamiku sekaligus Ayah yang siap siaga. ia selalu berusaha berada di dekat Rindu.
penolakan demi penolakan yang Rindu berikan dengan alasan kehamilan, maka kini Arya tak lagi meminta haknya.
Arya berusaha meredamnya dengan aktivasi yang begitu menyibukan dirinya. sekalipun itu hal yang tak penting.
namun tak bisa di pungkiri, jika Arya sangat bahagia dengan kehamilan Rindu. ia tak sabar menunggu bayinya lahir.
Arya berusaha menjadi teman, dan suami yang baik untuk Rindu. walau Arya tahu, hingga kini hati Rindu hanya untuk Arjun. ya, hanya Arjuna bukan dirinya.
sekuat apapun Arya mencoba memasuki hati Rindu, namun sepertinya itu adalah hal yang percuma. sebab hati Rindu telah di isi dengan Arjun. Arya sadar dirinya hanya dijadikan sebuah tameng. namun ia menerimanya dengan suka rela atas nama cinta.
Cinta Arya terlalu dalam untuk Rindu. ia teramat mencintainya, walau Cinta itu bisa membunuhnya kapan saja.
"Aku selalu siap akan segala kemungkinan yang akan terjadi. entah, itu hal akan membawaku pergi atau kehilangan mu. mungkin jika rasa ini tak terlalu dalam, aku tak ingin melakukan hal sejauh ini. mencintaimu, kemudian menikahi mu. walau aku tahu kau terpaksa menikah denganku. " ucap Arya.
ya, Arya telah mengorbankan segalanya demi Rindu. secara finansial, segalanya telah ia korbankan. tanpa terkecuali.
Arya sering melihat Rindu tengah memperhatikan sebuah Foto, namun dirinya tak tahu Foto siapa? tapi yang menarik perhatian Arya adalah, kala Rindu mengatakan soal bayi. Arya beranggapan bahwa Rindu tahu siapa ayah dari bayinya, namun enggan menyebutnya. jika di fikir, ini adalah sebuah keputusan gila yang telah Arya ambil. bahkan logika Arya seakan tertutup.
"aku harus mencari tahu, siapa orang yang berada dalam foto itu? " gumam Arya.
jika Arya ingin mengatahui ayah dari bayi yang di kandung Rindu, maka ia harus memecahkan teka teki ini.
Arya berencana akan mengambil foto itu, kala Rindu tak berada di kamar.
Arya melirik ke kamar Rindu, namun sepertinya Rindu tak berada di sana. ini adalah kesempatan bagi Arya. ia tak boleh menyia-nyiakan nya.
"kesempatan Emas!! " ucap Arya.
__ADS_1
Arya mulai mengendap-endap masuk ke dalam kamar.
Arya sudah berada di depan buku harian Rindu yang berada di atas nakas.
Arya mengambilnya dan membuka buku itu.
kau adalah sebuah kisah yang selalu aku kenang dalam setiap langkahku. ya, kau adalah kisah yang selalu aku ukir dalam setiap langkah ini. aku terlalu mencintaimu, hingga aku lupa bagaimana caranya hidup tanpamu. namun, akhirnya aku bisa menjalani hidup ini. walau aku masih selalu mencari mu dan berharap kau akan kembali. ketahuilah, kau adalah sebuah kisah yang tak pernah usai.
Arya berusaha menahan sesak dalam dadanya, kala membaca buku tersebut. ungkapan itu pasti Rindu tujukan untuk Arjuna.
sesak dalam dada, tak mampu Arya jabarkan. terlihat beberapa kali jua Arya menghela nafas berat.
sungguh! Arya telah keliru, sebab mencintai Rindu seorang diri.
"mengapa kau yang berasal dalam hati Rindu, Arjuna? padahal aku adalah Suaminya. aku yang selalu ada untuknya!! " ucap Arya.
beberapa kali Arya mengusap wajahnya. jangan tanya bagaimana hatinya Arya saat ini. sudah pasti hancur, sehancur hancurnya. bagaimana tidak? Rindu adalah helaan nafasnya, jiwanya, cintanya. namun sebuah itu bertepuk sebelah tangan.
Arya megambil sebuah Foto yang terbalik dan mencoba membaliknya.
Arya yang kaget, langsung menjatuhkan Foto tersebut, ia pun menoleh ke arah Rindu.
"Rindu! " ucap Arya.
Rindu datang menghampiri Arya. " mengapa kau membaca buku harianku? " tanya Rindu tak suka.
Rindu menatap tajam ke arah Arya.
"tidak, aku tidak membacanya. aku hanya mengambilnya, sebab tadi terjatuh!! " ucap Arya.
Rindu mengambil buku itu dari lantai, dengan perut yang semakin membesar.
__ADS_1
Arya hanya mematung di tempat. Arya tak berkata-kata dan langsung pergi dari kamar Rindu.
Arya tak pernah merencanakan untuk mencintai Rindu. namun Rasa ini, Cinta ini tumbuh begitu saja tanpa Arya inginkan. jika di fikir oleh logika, mungkin Arya adalah orang yang bodoh! mencintai dengan sangat dalamnya, namun tak pernah berniat pergi. Arya pun tak mengerti dengan takdir tuhan ini.
walau berbulan-bulan lamanya Arjun pergi, namun tak sedikit pun Rindu bisa melupakannya. rasanya masih terus hidup walau Arya tak tahu apakah Arjun masih hidup saat ini.
"sedalam itu perasaan mu Rindu? bahkan saat Arjun tak kunjung kembali hingga detik ini. aku terlalu berharap banyak padamu. Aku berharap suatu saat nanti kau akan mencintai ku, namun aku merasa akulah yang mencintaimu seorang diri!! " ucap Arya pilu.
drt... drt..
ponsel Arya berdering. Ia segera mengangkatnya.
"hallo! " ucap Arya.
"hallo, Pak Arya. besok kita akan melakukan kunjungan ke bandung!! " sahutnya di seberang telepon.
"oke! " ucap Arya dingin.
Arya mematikan teleponnya, mungkin pergi dari sini akan lebih baik. walau hanya untuk sementara.
Arya meraih sebuah Pil yang jumlahnya tak main-main. ia pun meminumnya dan perasaanya cukup tenang.
ya, tanpa Rindu dan orang lain sadari. bahwa Arya sering mengonsumsi obat penenang sebagai penenang diri.
acap kali Arya merasa frustrasi dengan apa yang terjadi. namun, ia selalu bersikap biasa saja. seolah-olah semuanya baik-baik saja.
kerap kali, Arya pernah beberapa kali ingin melakukan percobaan bunuh diri. sedepresi itu Arya saat ini. apalagi tak ada dukungan dari orang terdekat di tambah sikap Rindu yang tak pernah menganggap Arya ada.
di fikiran Rindu hanya ada Arjun dan Arjun saja. ia tak menganggap Arya ada dalam hidupnya. padahal Aryalah yang selalu berjuang untuknya.
Arya selalu memakluminya, namun semakin hari semakin Rindu tak jelas.
__ADS_1
"membalikkan tangan itu mudah, seperti juga bagiku untuk mencintaimu. Semudah itu. Mencari jarum di tumpukan jerami itu pun sangat sulit, dan seperti itu pula jika aku diminta melupakanmu.Cintaku ini bukanlah cinta biasa, yang tidak akan memudar walaupun kau tidak menerima perasaan cinta ini. walaupun kau sering melukai hatiku, sering membuatku kecewa, pun tidak menerima cintaku, izinkanlah aku untuk selalu mencintaimu. Aku rela hanya bisa tersenyum dari kejauhan, aku kepadamu bukan hanya sebatas kata-kata di bibir saja, tetapi cintaku ini tulus dari hatiku yang paling dalam, walaupun cintaku bertepuk sebelah tangan. Cintaku tetap tulus untukmu" ucap Arya.
walau dalam keadaan apapun, Arya akan selalu mencintai Rindu, Rindu dan Rindu saja. Arya takan pernah peduli dengan perasaan yang selalu menyakitinya.