
" Selamat datang kembali Om" sapa seorang pria yang tak lain adalah Galih tangan kanan Kavindar selama di Indonesia yang sudah dianggap anak oleh Kavindar.
" Bagaimana kabarmu Galih" tanya Kavindar berjalan mendekat kearah Galih.
" Seperti yang Om sekarang lihat" jawab Galih Ramah.
" Bagaimana perkembangan disini" tanya Kavindar setelah melepas pelukannya.
" Lancar Om, mari masuk Om" ajak Galih menggiring mereka semua kedalam Mansion mewah itu.
" Ternyata masih sama, saya kira bakal ada yang berubah" ucap Sandi berjalan melihat sekitar Mansion yang masih sama seperti dulu.
" Tentu masih sama Sandi, saya tidak mungkin merubah interior kepunyaan Mas Wisnu, kami hanya akan mengecat kembali saat warnanya sudah mulai pudar" jelas Galih.
Mansion mewah itu terlihat mewah dengan ditumbuhi pepohonan disekitarnya, terlihat tak jauh dari sana ada sebuah Mansion yang tak kalah megahnya.
Dapat dipastikan itu adalah Mansion Galih, yang memiliki sekat pemisah yaitu tembok yang lumayan tinggi, namun siapa yang sangka bahwa tembok itu adalah gerbang penghubung antara kedua Mansion ini, Galih sengaja mendesain tembok tersebut agar para musuh yang mengintai tidak dapat mengetahui.
Namun tembok itu, sudah jarang terpakai saat Galih memerintahkan anak buahnya membuat gerbang besar antara kedua markas bawah tanah yang berada tepat dibawah kedua Mansion ini. Alhasil kini mereka hanya melewati gerbang bawah, sebagai jalan alternatif menuju kedua tempat.
" Oh Ya Galih, kata Papa kamu mempunyai kerjaan sampingan selain mengurus Hotel" tanya Sandi yang memang belum tau kerjaan sampingan Galih selain mengurusi hotel mereka.
" Saya adalah kepala sekolah di SMA yang akan Mereka masuki" jawab Galih menunjuk Ke arah Alvin, Elang dan Dion berdiri.
" Emang dimana Om" tanya Alvin.
" Kalian belum di kasih tau" tanya Galih.
__ADS_1
" Belum sih Om" jawab Dion.
" Kita aja kesini nya dadakan" jelas Elang membuat Galih mengangguk.
" Kalian bakalan masuk di SMA xxx xxxx" jelas Galih membuat mereka mengangguk.
" Om kamar kita mana Om" tanya Alvin mulai lelah karena terus berdiri.
" Iya nih Om, kita udah pada capek banget" sambung Dion memegang pinggangnya.
" Kamar kalian diatas.. Pengawal" Galih memanggil dua orang yang berdiri tak jauh didekat mereka.
" Antar mereka ke kamar mereka" titah Kepada kedua pengawal itu.
Alvin, Dion dan Elang pun digiring menuju kamar mereka, dengan didampingi kedua pengawal tadi yang membantu mereka menarik koper.
" Belum" jawab Kavindar menunduk.
" Aku tau ini sulit Om, apalagi Alvin masih remaja" ucap Galih.
" Iya paa.. bagaimana nanti kalau Alvin tidak bisa menerima ini semua" timpal Sandi.
" Semoga saja Alvin dapat menerima kenyataan ini" Harap Kavindar menatap kedua putranya itu.
" Apa kamu sudah menyiapkan Altar untuk Alvin" tanya Kavindar.
" Sudah Om, seminggu kemarin kami sudah mulai mengaktifkan Altar.. Mari kita kesana Om" ucap Galih. " Antarkan aku kesana" Galih pun mengangguk sambil memimpin jalan menuju tempat dimana Altar dia aktifkan.
__ADS_1
Kamar Alvin
" Kenapa gua kepikiran cewe itu lagi sih" gumam Alvin saat merebahkan badannya diatas kasur. " Ah.. Bodoh Amatlah, mending gua Mandi" Alvin pun bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, Alvin langsung saja merendamkan tubuhnya didalam Bathtub, Namun baru saja beberapa menit kemudian Alvin langsung tertidur.
" Tolong.." teriak seorang gadis. " Tolong...." teriaknya sekali semakin kencang. " Siapapun tolongin gua.." teriak gadis itu berkaca kaca, berusaha melepas ikatan tangannya.
" Ckckck... mau gimanapun lu teriak, gk bakal ada yang nolongin lu" pekik seorang pria berjalan mendekatinya.
" Gua mohon, lepasin gua please..." mohon gadis itu.
" Lepas.. yang ada gua bisa mati" ucap pria itu menatapnya iba.
" Please.. lepasin gua, gua yakin lu mau lepasin gua" ucap gadis itu kembali menitihkan air matanya.
" cukup nurut aja okey.. lu gk bakal gua sakitin, gua sayang sama lu, lu gk bakal kenapa napa" jelas pria itu mengelus pipi sekaligus air matanya.
" Bullshitt.. Lepasin gua ajg..." teriak gadis itu menatap jijik pada pria dihadapannya.
" Diem..." dengan kasar pria itu mencengkram erat dagunya.
" Lu mau apa hah.." pekik gadis itu saat wajah pria itu mendekat.
" Mau lu..." ucap pria itu tersenyum misterius.
TBC.......
__ADS_1