
"Alana apa kau tak ingin pulang?!" tanya Alka ketika tak melihat Alana beranjak dari duduk nya.
"Maaf tuan saya punya janji dengan seseorang siang ini!"
"Oke! kita makan siang sama-sama di sini?!"
"Tapi tuan.."
"Apa kau menolak makan siang bersama ku!" Alka mulai gusar.
"Bukan begitu maksud saya tuan".
"Hei, kau datang dengan ku pulang pun harus dengan ku, do you understand!"
Alana membuang nafas kasar. "Terserah anda, saya sedang malas berdebat!!" Alana memutar bola mata nya.
"Saya tunggu di meja seberang sana!" Alka melihat seorang pria berjas hitam berjalan kearah mereka.
Alka beranjak dari duduk nya. "Pria mu sudah sampai!" ucap nya sinis pada Alana.
"Selamat siang nona Alana?!" sapa Gilang.
Alana bangkit berdiri. "Siang Gilang, silah kan duduk!", mereka pun duduk.
Alana mengeluarkan kotak imut berwarna merah dari dalam tas nya.
"Tolong beri kan ini pada Kenshin!"
__ADS_1
Gilang hanya menatap kotak imut tersebut.
"Ini apa nona?!"
"Berikan cincin itu pada nya?!"
"Tapi kenapa nona tidak serahkan langsung pada tuan!"
"Kau pasti tau alasan ku tidak menyerahkan langsung pada Kenshin!"
"Kenshin sudah bahagia dengan pilihan ibu nya!" lanjut Alana lagi.
"Maafkan tuan Ken, dia benar-benar tidak ingat siapa nona?!"
"Untuk itu lah aku tidak menyerahkan langsung cincin itu pada nya!"
"Terserah pada mu mau jawab apa!"
Seseorang di meja seberang sana tampak sangat memperhatikan obrolan antara Alana dan Gilang asisten pribadi Kenshin.
"Ternyata kamu masih menyimpan rasa pada laki-laki brengs*k itu, akan ku buat kau benar-benar melupakan nya Al?!" gumam Alka dalam hati.
Gilang menyimpan cincin itu ke dalam saku jas nya. "Maaf kan tuan, bukan maksud nya ingin melupakan nona dan polisi sudah menemukan siapa dalang dari kecelakaan yang kami alami beberapa tahun lalu".
Mata Alana mulai mengembun. "Tapi kenapa dia menerima pertunangan itu Gilang".
"Apa dia tau betapa hancur nya hati ku malam itu!" lanjut ku dengan menahan air mata agar tak terjatuh di depan umum tapi nihil usaha ku sia-sia.
__ADS_1
Gilang menatap Alana iba.
"Kalau begitu saya permisi dulu nona". Gilang tidak sanggup melihat air mata Alana bila lebih lama lagi di sana.
Sembari melangkah keluar Gilang berujar dalam hati. "Maaf kan saya nona Alana tidak bisa membantu anda, maaf kan lah tuan Kenshin!".
Sepeninggal Gilang tadi Alka menghampiri Alana yang tengah berurai air mata.
Alka menyeka air mata yang membasahi pipi mulus Alana dengan jari kanan nya dengan penuh kasih.
"Air mata mu terlalu berharga untuk laki-laki seperti Kenshin itu!"
Alana memejamkan mata untuk beberapa saat untuk menguatkan hati sendiri dan ia merasakan ada sebuah ketulusan di balik usapan lembut jari tangan milik Alka.
Sebelum mereka memutuskan kembali ke mobil milik Alka kedua larut dengan pemikiran masing-masing.
Alka melirik pada Alana sesekali karena ia harus konsentrasi melajukan mobil ke kantor nya.
Alana memilih diam tak bersuara dan memandangi keluar jendela, beberapa saat kemudian kedua nya sampai di kantor yang di pimpin oleh Alka.
Saat Alana melepaskan seat belt di punggung nya Alka berujar. " Untuk apa kamu bertemu lagi dengan orang orang yang akan membuat mu sakit Al!".
Aku menoleh pada nya. " Aku hanya ingin mengembalikan cincin dari Kenshin karena aku tak ingin ke depan nya aku akan terus-terusan mengingat nya, aku juga ingin bahagia walau tak dengan nya", jelas ku panjang lebar.
"Al, simpan air mata mu untuk hal lain karena aku tak ingin melihat mu menangis!".
Degh!!
__ADS_1
Jantung Alana berdegub kencang..