
Selesai kami sarapan Reiner masuk ke kamar nya tanpa bicara sedang aku mencuci piring dan gelas kotor bekas sarapan kami.
Reiner keluar dari kamar nya terlihat sudah tampan dan rapi seperti nya ia akan keluar.
"Aku keluar sebentar kamu tunggu saja di sini, aku tidak akan lama!" ucap nya sekilas berlalu.
Setelah pintu tertutup ia kembali masuk menyampaikan sesuatu.
"Oh ya tadi hp mu berdering berkali-kali lihat lah ke kamar siapa tau penting!" Reiner benar-benar menghilang dari balik pintu.
Aku penasaran siapa yang menelepon sepagi ini, tertera nama adik sepupu ku Kayla di layar hp dan sudah belasan kali panggilan tak terjawab.
Aku menghubungi nya balik mungkin benar apa yang Reiner bilang seperti nya penting.
Panggilan ku di angkat nya.
"Hallo dek, ada apa?!" tanya ku khawatir mendengar isak tangis nya.
"Bunda, mbak?!" sahut nya.
"Bibi kenapa, dek?!" pikiran ku seketika kosong
"Bunda udah ga ada mbak, bunda udah pergi meninggalkan kita!!"
"Apa!!!!" teriak ku spontan.
__ADS_1
"Mbak dimana sekarang?!"
"Mbak lagi di rumah teman sebentar lagi pulang!"
"Kita pulang sekarang juga ya mbak, aku pengen melihat bunda untuk terakhir kali nya!" ia semakin terisak.
"Iya mbak pulang sekarang juga!" bergegas aku keluar dari kamar Reiner.
Bughhh..
Aku menabrak seseorang.
"Siapa itu tadi?!" tanya Reiner.
"Tapi ini hujan nya makin deras kamu ga akan bisa mengemudi hujan deras seperti ini apa lagi dalam kondisi kamu sekarang!" jelas nya meyakinkan ku.
"Tapi aku harus pergi sekarang juga beliau ibu kedua bagi ku!"
"Aku akan mengantarkan kalian ke kampung!" aku terperangah mendengar ucapan nya.
"Terima kasih!" hanya itu yng keluar dari mulut ku karena aku tak ingin memperpanjang waktu.
"Tapi aku minta kamu mandi terlebih dahulu, ini aku belikan pakaian untuk mu!" ia menyerahkan paper bag hitam pada ku kemudian berlalu pergi.
Bergegas aku mandi ke kamar mandi milik Reiner yang bernuansa serba hitam, memang benar-benar laki-laki pikir ku.
__ADS_1
Selesai mandi kami berdua langsung pergi ke apartemen ku untuk menjemput Kayla di sana dan setelah menjemput Kayla kami langsung pergi menuju kampung halaman ku.
Butuh waktu 2 sampai 3 jam untuk sampai di sana, saat kami tiba terlihat rumah sudah di penuhi para pelayat dan bergegas berlari ke dalam rumah untuk menjumpai bibi Lasmi untuk terakhir kalu nya.
"Bunda kenapa bunda pergi ninggalin Kayla sendirian, Kayla pengen ikut bunda!!" tangis nya histeris sedang aku memeluk nya dari samping.
Aku membuka kain penutup jenazah bibi bagian wajah ku cium kening beliau pelan kemudian duduk di samping istri mas Farel.
"Gimana kabar mbak Vira?!" sapa ku pada perempuan ayu ini.
"Sehat kalau kamu gimana Lana, sehat?!"
"Seperti yang mbak Vira lihat!"
"Oh syukur lah!"
"Rafa sama siapa mbak?!"
"Di belakang sama adik mbak!"
"Kalau mas Farel kemana?" tanya ku ingin tau.
"Sedang mengurus pemakaman Bunda!" mbak Vira ini memang pemalu.
Mbak Vira ini adalah istri dari mas Farel, dia adalah salah satu kembang desa ini kebetulan sekali mereka 1 sekolahan dalam mengajar di kampung sebelah mbak Vira memang menyukai mas Farel dari sama-sama masih sekolah dulu dan sekarang mereka berjodoh kemudian lahir lah anak mereka bernama Rafa yang di ambil dari nama viRA dan FArel.
__ADS_1