Bulan Di Belah Dua

Bulan Di Belah Dua
BT2 55


__ADS_3

Citttt... Ciitttt...


BRAAKKK...


Mobil putih yang Alana kendarai menabrak sebuah pohon besar, baru saja ia akan menabrak seekor kucing yang tiba-tiba saja melintasi di depan mobil nya.


Untuk sesaat Alana merasakan pusing yang hebat karena kepala nya mengenai setir mobil ia mengusap kening nya yang terasa sakit tersa ada benda cair yang ia pegang.


"Ah, berdarah..!" Alana meringis kesakitan.


Ia paksa keluar dari mobil walau jalan nya sudah tak karuan karena menahan sakit di bagian kening.


"Oh God, parah banget rusak nya, ck!!" sesal nya.


Alana terduduk di samping mobil tanpa berniat meminta bantuan karena ia tidak tau harus meminta bantuan pada siapa.


"Andai kamu ada di sini Alka, si*l lagi-lagi dia yang aku ingat pertama kali dalam keadaan begini!" umpat ku dalam hati.


Sebuah mobil sport hitam berhenti di belang mobil nya terlihat seorang pria tampan nan gagah sedang berjalan ke arah nya.


"Nona Alana sedang apa anda di sini?!"


"Tuan Reiner?!"


"Ah, saya hanya kebetulan lewat sini ingin pulang!" jelas nya pada Alana yang terlihat lemah mungkin karena cukup banyak kehilangannya darah.


Alana tersenyum kecil.


"Saya mengalami kecelakaan kecil...", ucapan nya terpotong.


"Kecelakaan kecil anda bilang, lihat lah kening anda mengeluarkan darah cukup banyak!" Reiner terlihat gusar.


"She*t, kenapa kenapa aku makin lemah..!" belum habis gumaman Alana, ia pingsan tepat di dada sebelah kanan Reiner.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Reiner segera membopong tubuh wanita yang mencuri hati nya.


Reiner membawa Alana ke rumah sakit terdekat supaya Alana cepat mendapat pertolongan.


Ke esokan hari nya baru lah Alana siuman saat siuman orang yang pertama kali Alana lihat adalah sosok pria tampan tengah tertidur di kursi tunggu di ruangan itu.


"Tuan Reiner..!" Alana berusaha mengingat kejadian sore kemarin.


Reiner ikut terbangun mengusap tengkuk nya yang terasa sakit karena semalaman tidur di kursi.


"Nona Alana, anda sudah bangun, sudah berapa lama?!" Reiner berjalan menghampiri Alana yang sudah bersandar.


"Saya juga baru bangun Tuan, Apa anda semalaman tidur di situ?!" Alana melirik ke arah kursi.


Reiner hanya mengangguk.


"Apa anda yang membawa saya ke rumah sakit?!"


Lagi-lagi Reiner hanya mengangguk.


"Apa anda lapar nona, ini kan sudah siang, maaf saya bangun kesiangan?!"


"Apa anda lapar, Tuan kalau gitu biar saya yang traktir sebagai ucapan terima kasih!" Alan meraih mengeluarkan uang di dompet milik nya.


"Apa anda kira saya tidak punya uang untuk sekedar membeli sarapan?!" sahut nya sinis.


"Aku akan panggil kan dokter?!" Reiner ke luar dari rungan Alana.


Setelah dokter keluar rungan Alana baru lah Reiner datang membawa 2 kantong kresek seperti nya ia habis membeli sarapan.


"Ini makan lah?!" ia meletakkan 1 mangkok bubur lengkap dengan lauk pauk nya dan 1 lagi untuk nya.


Aku makan tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Apa kata dokter tadi?!" tanya nya duduk di seberang ku.


"Luka ku tidak terlalu parah siang ini sudah boleh pulang?!"


"Oh syukur lah!" ada rasa lega di balik ucapan nya.


"Tuan..!"


"Nona..!" ucap kami bersamaan.


"Silahkan anda duluan nona, ladies first..!"


"Bisa kah anda jangan memanggil ku dengan sebutan nona dan anda?!"


"Kenapa?"


"Terasa tidak enak di dengar saja di telinga saya".


"Lalu..?!"


"Panggil nama ku saja, Alana!"


"Saya juga punya permintaan yang sama jangan panggil Tuan dan anda, panggil saja Reiner dan aku kamu?!"


"Kenapa?"


"Berasa tuan ajja!" kami pun sama-sama tertawa.


"Gimana sebagai ucapan terima kasih aku traktir makan siang, gimana?" ucap ku meminta pendapat.


"Bukan nya kamu masih sakit?"


"Hei Tuan, aku tidak separah itu!"

__ADS_1


"Oke, setuju!"


__ADS_2