Bulan Di Belah Dua

Bulan Di Belah Dua
BT2 70


__ADS_3

"Apa kah aku demam semalam tapi siapa yang mengompres ku?!" aku bangkit menuju pintu hendak keluar dari dalam kamar yang bernuansa hitam dan abu-abu ini.


Ku langkah kan kaki menuju ruang tamu tampak seseorang sedang tertidur di sofa.


"Reiner..?!" ucap ku memastikan indra penglihatan ku.


Aku beranjak kembali kr kamar mengambil selimut untuk nya, ku pakai kan selimut bekas ku tadi ke tubuh nya kemudian duduk kembali di sofa.


Reiner terbangun mendengar suara batuk ku.


"Oh kau sudah bangun rupa nya!" ia memicing kan mata.


"Jam berapa sekarang?!" tanya nya, ku jawab dengan gelengkan kepala.


Ia meraih hp di atas meja.


"Jam berapa?!" tanya ku.


"Jam 11 siang rupa nya aku ketiduran kembali!" ia beranjak duduk.


"Apa kau masih demam?!" tanya nya lagi.


""Apa kau yang merawat ku?"


"Aku merawat mu semalaman dan aku baru bisa tertidur pukul 6 pagi!" sahut nya duduk di dekat ku.

__ADS_1


""Aku minta maaf sudah merepotkan mu tidak seharus nya aku berada di sini".


"Jangan di fikir kan".


"Terima kasih sudah menolong ku semalam".


"Tidak masalah!" ia beranjak dari sofa.


"Kau mau kemana?!"


"Aku mau cuci muka, kau mau ikut?!"


"Tidak, terima kasih!"


Terlintas di memori ku kejadian semalam hampir saja tunangan ku memperk*sa ku untung saja aku berhasil melarikan diri kalau tidak entah bagaimana nasib ku.


"Apa kau mau kopi?" terdengar suara Reiner di belakang ku.


Cepat-cepat aku menyeka air mata ku agar tidak di tuduh nya cengeng.


"Boleh!" sahut ku.


Ia menyerahkan secangkir kopi panas pada ku.


"Apa aku boleh bertanya?!"

__ADS_1


"Iya silah kan!"


"Apa kau masih ingin kembali pada nya?!" kami berdua sama-sama melihat keluar jendela memandangi langit yang begitu mendung.


"Dia sudah menikah aku bukan tipe orang yang suka mengambil yang bukan hak milik ku!"


"Syukur lah berarti aku punya kesempatan mulai dari sekarang!" canda nya.


"Apa kau orang yang suka bercanda dalam situasi yang serius!" aku jengkel pada nya.


"Tidak juga aku cuma menghibur mu!"


Kembali air mata ku menggenang mengingat kejadian semalam orang yang telah menjadi sandaran hidup dengan tega nya ingin merebut kesucian ku.


"Menangis lah bila itu bisa membuat mu lebih baik", Reiner menggamit ku ke dalam dekapan yang ku rasa begitu menenangkan saat ini.


Aku terisak di dalam dekapan nya, detak jantung nya terdengar tak beraturan di dalam sana.


Aku terhenyak saat menyadari aku sekarang berada dalam dekapan siapa, dia bahkan bukan siapa-siapa ku tapi kenapa dekapan ini terasa sangat nyaman dan menenangkan aku harus keluar dari zona nyaman ini!!.


"Maaf?!" dekapan kami terlepas dan buru-buru aku kembali ke sofa.


"Aku akan buat sarapan untuk kita!" ia juga terlihat salah tingkah.


Kami berdua memakan sandwich dan juga susu coklat hangat buatan nya di meja makan sambil melamun aku mengingat kenangan-kenangan manis ku bersama Alka namun semua mungkin hanya akan tinggal kenangan manis di masa lalu ku kembali bulir-bulir bening menggenangi pelupuk mata ku namun secepat mungkin aku menyeka nya agar tak terlihat lemah di mata pria di hadapan ku ini.

__ADS_1


__ADS_2