
Mobil kami pun terparkir di sebuah pemakaman umum seperti nya pemakaman ini di khusus kan bagi orang-orang kaya seperti Alka.
Alka melangkah keluar mendahului ku, kami tidak berbicara sepatah kata pun, entah apa yang ada di fikiran pria tampan di samping ku ini.
Ia di sebuah makan yang bersih dan rapi tanpa menanggalkan kaca mata hitam di hidung mancung nya Alka berjongkok di sana.
"Ma, maaf kan Alka baru sempat jenguk mama dan papa kesini, Alka mengemban tanggungjawab besar dari kakek", akhir nya Alka bersuara.
Di nisan pertama bertuliskan nama Rossa Indrayana dan makam yang kedua tertulis nama Abraham Alexander.
Aku berfikir apa ini makam kedua orang tua nya.
"Al duduk lah", ucap Alka tanpa menatap ku.
Aku berjongkok di samping nya. "Alka ini makam siapa?", tanya ku penuh kehati-hatian takut nya dia tersinggung.
"Ini makam kedua orang tua ku", dia berhenti sesaat.
"Saat aku berumur 3 tahun kami mengalami kecelakaan saat berliburan ke Belanda di antara kami bertiga hanya aku yang selamat dan semenjak itu aku di rawat boleh kakek", Alka bercerita panjang lebar.
"Maaf kan aku Alka", sesal ku.
"It's oke!"
"Ma, pa! Alka pulang dulu ya!" kami melangkah menuju mobil di parkiran.
"Al, kita mampir ke rumah ku dulu ya?!"
"Sekali lagi aku minta maaf?!" sahut ku tidak nyambung.
"Kamu masih mempermasalahkan yang tadi?!" tanya nya tanpa menoleh ke arah ku sembari mengemudi dengan tenang.
"Udah ga usah di fikir lagi".
"Tapi.."
"Kita mampir ke rumah ku ya Al?!" ajak nya menoleh ke arah ku sesaat.
"Boleh!" jawab ku antusias.
Mobil yang kami tumpangi pun melaju arah mansion megah nya.
"Yuk!" ajak nya setelah kami sampai di mansion nya.
Aku pun keluar melangkah menyamai langkah nya masuk ke dalam mansion yang tampak lengang hanya ada seorang ART yang sudah berumur.
"Mbok, kakek mana?!" tanya Alka pada ART di depan kami.
__ADS_1
"Tuan besar sedang istirahat di kamar nya".
"Oke, makasih mbok!" Alka menarik tangan ku menaiki tangga.
"Alka kita mau kemana?!" tanya ku ambigu.
Tok..Tok..
Kami masuk ke sebuah kamar yang cukup luas tampak tuan Indrayana sedang melihat sebuah album foto bersandar pada ranjang king size.
"Tuan besar!" sapa ku penuh hormat.
Laki-laki berumur itu menatap pada aku dan Alka.
"Alana?!" sahut nya heran sembari meletakkan kacamata di meja samping ranjang nya.
"Kamu pasti sama anak nakal ini ya!" tuan Indra melemparkan pandangan nya pada Alka di samping ku.
"Kemari duduk lah!" tuan Indra menepuk kasur di samping nya menyuruh ke duduk di sana.
"Tapi tuan..!"
"Tidak usah panggil saya tuan cukup panggil KAKEK seperti Alka?!" pinta nya ketika aku sudah duduk di samping nya.
"Baik lah k..kakek!"
Tanpa aku sadari rupa nya Alka sudah keluar dari kamar.
"Semua nya seperti yang kakek harap kan, SMART GROUP berkembang cukup pesat di tangan Alka!"
"Syukur lah, keputusan ku ternyata sangat tepat!"
"Kalian dari mana Alana?" tanya kakek pada ku.
"Kami baru saja dari makam alm. nyonya Rosa dan tuan Alexander!" sahut ku apa ada nya.
Kakek memberikan album foto yang di lihat nya tadi pada ku.
"Buka lah.."
Aku membuka halaman pertama. "Ini siapa kek?"
"Itu foto Alka dan kedua orang tua nya".
Aku mengangguk kepala.
"Saat Alka berusia 3 tahun mereka liburan ke Belanda setelah sebelum nya dari Thailand negara asal papa Alka dan di Belanda itu lah ketiga nya mengalami kecelakaan, mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan orang tua nya tidak bisa di selamat kan, saat kecelakaan terjadi Alka berada dalam dekapan Rosa, untuk itu lah Alka selamat dan hanya mengalami lecet di lengan kanan nya!" Kakek mengakhiri cerita nya.
__ADS_1
Aku mengusap punggung kakek untuk memberi nya kekuatan.
"Dan sekarang hanya Alka keluarga kakek satu-satu nya di dunia ini!" pandangan kakek menerawang ke depan.
Kakek menoleh ke arah ku dan menegang tangan ku. "Alana kakek mohon menikah lah dengan cucu ku, karena dia tidak punya orang lain s3lain kakek?!" mohon beliau kepada ku.
Aku masih tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kakek ingin ada yang menjaga nya dengan tulus setelah kakek meninggal kelak!"
"Tapi kek..!"
"Kakek mohon pada mu Alana hanya kamu satu-satu nya perempuan berhati tulus yang bisa mendampingi Alka!"
"Kakek sudah sangat mengenal siapa dan bagaimana kamu Alana?!"
Aku diam tak bergeming.
"Kakek tau Alka sangat menyukai mu, dia selalu memuji-muji mu dan menyebut nama mu".
Ku rasa pipi ku sudah seperti kepiting rebus, memerah mendengar ucapan kakek tentang Alka terhadap ku.
"KAKEK..!!" Alka ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Ups...!" ujar kakek.
"Yang kakek bilang itu tidak benar Alana, kakek bohong!" sentak Alka.
"Ayo lah Alka bicara lah apa ada nya?!"
Aku menahan senyum melihat tingkah Alka.
"Ayo Al, kita keluar?!" Alka menggamit tangan ku.
"Kakek sangat suka bicara sembarangan!" sungut nya sembari menurun anak tangga bersama ku.
"Alka aku mau minum?!" rajuk ku menarik tangan ku.
"Oke mari kita ke dapur!" kami berjalan menuju dapur.
Alka berjalan ke arah kulkas. "Al, kamu mau minum apa?!" tanya nya pada ku.
"Air putih dingin ajja!" sahut ku menarik kursi di meja makan lalu duduk di sana.
Alka menyerahkan gelas berisi air itu pada ku. "Makasih!" ucap ku.
"Al kamu jangan ambil hati ya ucapan kakek tadi!" Alka duduk di sebelah ku.
__ADS_1
"Tidak masalah!"
"Syukur lah!" ia mengusap dada.