Bulan Di Belah Dua

Bulan Di Belah Dua
BT2 62


__ADS_3

"Apa nona Alana sudah mengetahui kenyataan ini?!" Robby ingin memastikan pemikiran nya.


Alka menggeleng kepala. "Dia pasti akan meninggalkan saya bila tau semua nya".


"Akan lebih menyakitkan bila nona Alana mengetahui dari orang lain!"


"Itulah yang saya takut kan, saya takut kehilangan dia!"


"Cepat atau lambat nona Alana pasti akan tau semua nya dan jangan sampai bukan dari anda, tuan!"


"Apa kamu pernah sangat mencintai seseorang?!" Alka melangkah menuju meja kerja nya lalu bersender di tepi meja.


"Dulu semasa SMA saya pernah menyukai seseorang, dia gadis populer di sekolah selain cantik dan cerdas dia juga pintar bergaul selalu menjadi juara umum di sekolah namun hal itu semua tidak membuat nya sombong bahkan hampir semua siswa laki-laki pernah menyatakan perasaan pada nya tapi selalu dia tolak dengan alasan ayah nya tidak mengizinkan pacaran karena masih sekolah dan gadis itu adalah nona Alana Mulia!" Robby mengakhiri nostalgia nya.


"Oh ya?!" jawab Alka antusias.


"Itu berarti kau sudah lebih dulu mengenal nya dari pada saya!" sambung nya lagi.


"Iya begitu lah".


Tok.. Tok.. Tok..


Ceklek..


Seorang wanita cantik masuk membawa beberapa map di tangan nya.


"Permisi tuan ada yang harus di tanda tangani!" Alana melangkah anggun menuju meja bos nya setelah sebelum nya ia mengisi paru-paru dengan oksigen untuk menenangkan perasaan.

__ADS_1


Robby melirik ke arah kedua nya dengan penasaran, apa yang akan kedua nya bicarakan.


"Permisi tuan, ada yang harus saya kerjakan di luar sebenta!" Robby paham akan situasi.


"Tidak usah, kamu disini saja ada yang masih ingin saya bicarakan!" Alka menyahut dengan tegas.


"Baik tuan!"


"Kamu silahkan duduk!" Alka mempersilahkan Alana untuk duduk.


Alana menarik kursi lalu meletakkan bokong nya tanpa bicara sepatah kata pun.


"Kalau sudah saya permisi keluar karena sebentar lagi jam pulang kantor tuan!" Alana beranjak keluar.


Di balik pintu Alana menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Kamu harus kuat Alana!" ucap nya pada diri sendiri.


Malam hari begitu cerah bintang bertaburan sedang rembulan bersinar begitu anggun nun jauh di atas langit.


Seperti janji tadi siang Kenshin menjemput Alana dan sekarang mereka sedang makan malam romantis di sebuah restoran bintang lima Kenshin sewa khusus untuk Alana.


"Ken apa kau menyewa tempat ini?!" tanya Alana pada pria indojepang di hadapan nya ini.


"Khusus untuk mu, aku sengaja menyewa tempat ini untuk wanita spesial di hadapan ku malam ini!" sahut nya menatap dalam mata Alana.


"Ken jangan memulai nya!" sanggah ku.

__ADS_1


"Katakan apa tujuan mu mengajak ku makan malam di tempat ini!"


Kenshin mengeluarkan sebuah undangan pernikahan di balik saku jas nya.


"Undangan pernikahan?"


"Selasa depan!" Kenshin tertunduk lesu.


"Hei kenapa kau lesu itu?!"


"Aku marah dengan diri ku sendiri tidak bisa melawan kehendak mama!"


Aku meraih tangan nya lalu menggenggam lembut ingin menyalurkan kekuatan pada nya Kenshin melihat ke arah ku.


"Ini adalah keputusan yang tepat!"


"Aku masih mencintai mu, Alana,, hati ini masih milik mu?!"


"Jodoh mu bukan aku, jangan melawan takdir kita hanya masa lalu dan dia adalah masa depan mu".


"Aku ga bisa Al!"


"Aku mohon setidak nya terima takdir ini demi aku, please?!" ucap ku lembut meyakinkan nya.


"Masih bisa kah kita bertemu setelah aku menikah?"


"Tidak seintens dulu kau harus menjaga hati istri mu dia juga punya perasaan sama seperti aku, aku tidak mungkin menyakiti hati sesama perempuan".

__ADS_1


Terlihat mata nya mengembun.


__ADS_2