Bulan Di Belah Dua

Bulan Di Belah Dua
BT2 83


__ADS_3

3 minggu adalah waktu yang teramat panjang bagi ku yang sedang dalam penantian. Menunggu tunangan ku kembali dari perantauan karena urusan bisnis yang membuat penantian ku ini terasa teramat panjang adalah sekembali nya nanti adalah hari paling bahagia di dalam hidup kami yaitu sebuah pernikahan.


Tinggal seminggu lagi hari bahagia itu akan tiba rupa nya Reiner sudah mempersiapkan nya dengan matang bukti nya ialah undangan pernikahan kami sudah beredar tak ketinggalan WO(Weading Organizer), catering dan sekaligus MUA juga sudah di persiapkan, semua itu di urus oleh asisten pribadi nya karena ia belum bisa pulang ke tanah air.


Suatu malam ia menghubungi ku.


"Sayang, aku minta maaf ya belum bisa pulang sekarang. Aku kira urusan nya akan selesai dalam waktu 3 minggu, kalau tau gitu aku suruh Dimas ajja mengurus nya!"


"Trus gimana dong. Pernikahan kita kan tinggal 5 hari lagi!" ujar ku kesal pada nya.


"Aku kebut ajja kerjaan di sini biar bisa pulang cepat, gimana?!"


"Ya terserah kamu gimana cara nya", sejujur nya aku juga bingung.


"Ya udah, aku atur dulu pertemuan mereka biar bisa selesai tepat waktu!" ucap nya.


"Sayang"


"Hm..!"


"Kangen. Kamu kangen ga sama aku?!"!" Ucap Reiner manja seperti balita yang ingin di peluk ibu nya.


"Ga.."


"Kok Ga kangen aku?!"

__ADS_1


"Habis nya kamu tiap 1 jam sekali telepon aku, gimana aku mau kangen!" terdengar ia terkekeh di seberang telepon.


"Ya nama nya juga kangen!" ia membela diri.


"Ya udah, aku mau kerja lagi".


"Oke, bye sayang ku!" sambungan terputus.


*


*


*


"Udah berapa minggu mbak?" tanya ku pada Fumiko saat kami selesai memesan minum.


"Masuk lima bulan mbak Alana", sahut nya mengusap lembut perut buncit nya.


"Selamat ya, Ken kok kamu ga kasih tau aku sih berita baik ini", aku menggenggam sebelah tangan Fumiko.


"Aku cuma lagi sibuk-sibuk nya pada kerjaan akhir-akhir ini, Al".


"Iya mbak, hampir setiap hari dia lembur", Fumiko mengadu pada ku.


"Kasihan loh Ken, istri mu di tinggal sendirian. Apa lagi sedang hamil gini".

__ADS_1


"Aku ga sendirian kok mbak di rumah ada ART lagi pula dia juga cari uang buat aku ", ia membela suami nya.


"Syukur deh kalau gitu, ada yang nemenin kamu", aku merasa lega.


"Oh ya, aku mau ngasih undangan buat kalian!" aku menyerahkan undangan berwarna gold pada mereka.


"Undangan siapa?!" belum sempat Kenshin mengambil keburu Fumiko yang memegang duluan.


"Wah.., selamat ya mbak!!" Fumiko memeluk ku.


"Makasih!"


"Siapa orang nya, apa aku mengenal nya, pria itu pasti tidak lebih baik dari ku?" pertanyaan dan ucapan Kenshin membuat ku merasa terintimidasi.


"Dia hanya anak kemarin sore. Dia adalah di antara pria yang pernah menyematkan cincin sampai sebulan kemudian akan menjadikan ku istri sah nya!" aku menyindir nya dengan perkataan ku.


"Kamu menyindir ku?!" Kenshin merasa tersindir dengan ucapan ku.


Aku mengangkat bahu.


"Nanti mbak Fumiko jadi pendamping ku ya!" ucap ku.


"Boleh!"


Perempuan hamil di hadapan ku ini tersenyum penuh arti menatap ke arah suami nya yang menatap ku khawatir.

__ADS_1


__ADS_2