Bulan Di Belah Dua

Bulan Di Belah Dua
BT2 80


__ADS_3

Reiner menjemput ku ke apartemen pukul 07.00 karena penerbangan kami berangkat pukul 09.00 jadi Reiner ingin mengajak ku sarapan di luar.


Kami tiba di bandara tepat 15 menit lagi akan terbang, Reiner memesan tiket business class agar aku nyaman dalam perjalanan begitu kata nya.


Tiba di bandara Ngurah Rai kami di jemput oleh adik nya yang juga baru datang dari Jerman.


"Selamat datang kakak ku yang tampan, aku sangat merindukan mu!" mereka saling berpelukan.


Lalu Reiner memperkenalkan ku pada adik nya yang sebelas 12 dengan wajah nya sama-sama tampan maklum peranakan Jerman Indonesia Belanda.


"Sayang kenalkan ini adik ku sang casanova cap kadal!" bahu nya spontan di tonjok oleh adik nya.


"****!!"


"Alana!" aku menjabat tangan nya.


"Romeo!" ia menyambut jabatan tangan ku.


"Sudah jangan lama-lama menjabat tangan nya. Dia casanova brengs*k!" Reiner menepuk keras tanya adik nya itu.


"Oh ****, kau benar-benar pria brengs*k Kak!!"


"Sudah-Sudah dari pada kalian bertengkar lebih baik tunjuk di mana kau parkir kan mobil mu, Romeo! aku melerai pertengkaran kedua nya.


Aku berjalan mendahului kakak beradik itu.

__ADS_1


"Sayang, tunggu dong?!" Reiner mengejar ku.


"Ini semua gara-gara bocah brengs*k ini!!" Alka menjitak kepala Romeo.


Romeo di belakang kemudi Reiner duduk di sebelah nya sedang aku duduk di kursi belakang mungkin karena tidak ada teman di ajak ngobrol mata ku mulai mengecil dan akhir nya aku terlelap tanpa mereka sadari.


Sebuah tangan menyentuh pundak ku rupa nya Reiner membangunkan ku karena kami sudah sampai di rumah nya.


Rumah keluarga Reiner terbilang sangat elit bergaya Eropa klasik. Kami di sambut oleh kedua orang tua dan seorang laki-laki remaja, mereka berada di ruang tengah.


"Hai mah, selamat siang!" sapa Reiner pada perempuan paruh baya namun masih terlihat manis lalu memeluk dan mengecup pipi nya.


Aku berdiri di belakang Reiner menjabat tangan perempuan yang di panggil mama oleh Reiner dan memeluk beliau lalu cupika cupiki.


"Pah!" Reiner menjabat tangan papa nya lalu berpelukan sebentar aku pun ikut menjabat tangan papa nya.


"Kakak jangan cubit pipi ku dong, sakit tau!" sahut adik nya cemberut.


"Habis nya kakak kangen sih sama pipi gembul mu ini!" Reiner terkekeh.


"Hallo adik manis, apa kabar?!" sapa ku ramah.


"Kabar ku sangat baik kakak cantik!" sahut nya centil.


"Mah, pah kenal kan ini Alana!" Reiner memperkenalkan aku pada mereka.

__ADS_1


"Siang oom, tante!"


"Aduh,,, jangan panggil oom tante dong, ikut Reiner ajja. Papa sama mama, iya kan pah!" mama nya mendekati ku.


"Iya panggil papa, mama ajja ikut Reiner!"


"Baik mah, pah!"


"Kalian pasti capek, gimana istirahat dulu di kamar. Nanti malam baru kita ngobrol!" ucap mama nya.


"Bibi!!" panggil mama nya lagi.


"Iya nyah!"


"Tolong kamu antar Alana ke kamar nya ya?!" titah nya.


"Baik nyah. Mari non saya antar ke kamar!" ia meraih barang-barang ku.


"Ga perlu bi, biar saya ajja yang bawa!" ucap ku.


"Sayang, biar aku ajja yang bawa barang kamu. Kamu duluan ajja nanti aku nyusul lagi pengen ngobrol sebentar sama mama papa!"


"Ya udah, aku duluan ya. Pah, mah, Alana istirahat dulu ya?!"


"Iya sayang, semoga kamu betah ya di rumah mama!"

__ADS_1


"Iya mah, aku pasti betah kok!"


Aku berjalan mengikuti bibi karena dia yang akan menunjukkan di mata kamar ku


__ADS_2