
Hari ini hari ke 3 bibi Lasmi pergi meninggalkan kami untuk selama-lama nya banyak kenangan-kenangan masa kecil bersama beliau.
Bibi yang mengajari ku memasak semenjak aku kelas 5 SD kebetulan rumah hanya berjarak 3 rumah dari rumah kami dan rumah yang bibi sekeluarga diami itu adalah rumah peninggalan dari orang tua suami nya yang sudah reot.
Semenjak bapak meninggal ku ajak bibi sekeluarga tinggal di rumah kami kebetulan aku tidak ada yang menemani.
Aku, Kayla dan juga Reiner pamit pada mas Farel sekeluarga dan Kayla tampak menangis tersedu dalam dekapan kakak nya.
Sepanjang perjalanan kami bertiga tak ada 1 pun yang bersuara sibuk dengan pemikiran masing-masing, Kayla di jok belakang tampak melamun sesekali menyeka air mata.
"Rein, apa tidak apa kamu libur selama 3 hari secara kan kamu seorang CEO pasti pekerjaan mu sangat banyak!" aku membuka suara.
"Aku bisa memantau perusahaan di mana pun aku berada apa lagi asisten ku pasti bisa menangani nya", sahut nya melihat kearah ku sekilas.
"Oh ya, apa kamu jadi resign dari perusahaan tuan Alka?!"
"Kalau boleh memilih aku tidak ingin resign karena sudah terlanjur nyaman bekerja di sana".
"Nyaman bekerja di sana atau nyaman berada di sisi tuan Alka?!" ia menggoda ku.
__ADS_1
"Aku bukan orang yang mudah beradaptasi dengan perkerjaan baru sudah hampir 4 tahun berada di sana membuat ku harus memikirkan nya matang-matang".
Ia mengangguk kecil mendengar penjelasan ku.
"Reiner ada yang ingin ku tanya kan lagi?!"
"Apa itu".
"Kenapa kamu mau bela-belain mengantar aku ke kampung pada hal kamu bukan siapa-siapa aku sedang kan tunangan aku ajja ga mau tau lagi tentang aku!" tukas ku.
Ia tersenyum lembut menanggapi ucapan ku.
"Maksud kamu!"
"Aku menyukai mu, ya memang ini terdengar bodoh aku menyukai seseorang yang sudah bertunangan tapi aku tidak ingin menyimpan rasa ini terlalu lama lagi karena aku yakin suatu saat pasti akan jadi boomerang buat ku!" ia kembali melajukan mobil nya.
Aku jadi salah tingkah di buat nya mungkin wajah ku sudah memerah oleh nya.
"Alana boleh kan aku memperjuangkan perasaan ini?!"
__ADS_1
Aku mengalihkan pandangan ku ke luar jendela karena tidak ingin menjawab pertanyaan dari nya.
Jujur aku merasa kagum dan terharu atas sikap nya datang sebagai dewa penolong di saat aku memerlukan bantuan seseorang, ingatan ku melayang pada Alka ya pria itu yang dulu begitu ku cintai dan ku cap sebagai belahan jiwa ku telah menorehkan luka yang dalam bertubi-tubi.
Apakah aku masih harus mempertahankan rasa cinta ku pada Alka Indrayana??
Atau harus ku lepas kan saja cinta ini??
Kenapa Reiner hadir di situasi hati ku seperti ini??
Apa aku lampiaskan saja rasa kesal ku terhadap Alka pada Reiner??
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kepala ku pusing hingga mata ku mulai terpejam perlahan.
Sekilas aku merasa ada yang mengusap rambut ku.
"Maaf bila cinta ini datang terlambat tapi aku berjanji akan mempertahankan rasa ini!"
Entah itu suara dan usapan siapa mungkin hanya kembang tidur ku.
__ADS_1