
Dug!!!
Dahlia kembali menendang tubuh Seroja yang saat ini masih terkulai lemah di atas lantai. "Pergi kau ja*lang. Pergi!"
Teriakan Dahlia sukses membuat pandangan mata Seroja yang sebelumnya nyalang dan menerawang ke arah bercak darah di atas sprei itu, seperti kembali membawanya ke alam sadarnya. Ia menoleh ke arah samping di mana Dahlia masih berdiri dengan pongahnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Seroja mulai beranjak. Ia bawa tubuhnya untuk mengambil baju yang berada di dalam almari. Perlahan, ia kenakan pakaian itu untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang hanya berbalut bra berwarna hitam.
Rasa perih di bagian intinya itu masih begitu terasa. Namun, ia paksakan untuk melangkah sehingga ia bisa segera keluar dari kamar terkutuk ini. Sedangkan Dahlia, wanita paruh baya itu juga hanya bisa berdiri terpaku menatap pergerakan Seroja, namun masih dengan raut wajah yang dipenuhi oleh amarah dan mungkin kekecewaan.
Seroja tatap lekat tubuh lelaki bi*adab yang telah merenggut kesucian yang ia miliki ini. Tidak ada yang bisa ia katakan untuk mengungkapkan berapa bencinya ia dengan lelaki ini. Bibirnya hanya bergetar diiringi dengan air mata yang kembali meleleh dan membanjiri bingkai wajah sayu miliknya.
"Kakak ..... Kakak mau kemana?"
Alamanda, gadis kecil yang sedari tadi berdiri di depan pintu masuk hanya bisa memandang Seroja dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia masih belum terlalu paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa sang ibu berteriak-teriak dan sang kakak yang tiba-tiba melangkahkan kakinya untuk keluar rumah dalam keadaan berantakan.
Sekilas, Seroja menatap wajah gadis kecil ini. Meski batinnya terasa begitu perih, namun ia paksakan untuk tetap tersenyum dalam kehancuran hidup yang baru saja menyapa.
"K-Kakak keluar sebentar ya Sayang. Alamanda tetap di rumah."
"T-tapi ini masih larut malam, Kakak. Di luar pasti banyak orang-orang jahat, dan itu pasti akan membahayakan kak Seroja. Kakak tetap di rumah saja ya."
Bahkan, Kakak sudah tidak perduli dengan orang-orang jahat yang berada di luar sana, Sayang. Karena di dalam rumah ini, orang jahat dan keji itu sudah berhasil menghancurkan hidup Kakak.
"Tidak mengapa Sayang. Kakak pasti akan baik-baik saja. Manda tetap di rumah ya."
Seroja kembali mengayunkan kakinya untuk meninggalkan rumah. Entah kemana ia akan pergi, namun yang ia inginkan saat ini hanya segera bisa menjauh dari rumah terkutuk ini. Tanpa ia sadari, Alamanda ikut berjalan membuntuti.
🍁🍁🍁🍁
"Aaaarrrggghhh!!
Prang.. prang.. prang...
Vas bunga dari keramik dan cermin yang menggantung di salah satu dinding kamar milik Seroja, dilempar ke sembarang arah oleh Dahlia. Pecah berkeping-keping dan pecahan itu terlihat berserakan di lantai.
__ADS_1
Selepas kepergian Seroja dari kamar ini ternyata masih belum bisa meredakan api amarahnya. Amarah itu masih terlihat membara, memenuhi kepala dan siap untuk kembali meledak. Dan barang-barang yang berada di dalam kamar ini menjadi korban kekalapan wanita paruh baya itu.
"Kamu benar-benar lelaki bajingan Ji! Kamu sengaja mengajakku dan Alamanda berlibur dan menginap di hotel karena kamu memiliki niat untuk mengelabuhiku. Kamu pulang ke rumah tanpa sepengetahuanku kemudian bermesraan dengan wanita penggoda itu, hah?!"
Ajisaka yang tengah duduk di tepian ranjang sedikit terkesiap, karena skenario yang ia buat ternyata bisa dibaca oleh Dahlia.
"Bukan seperti itu Ma. Bukan seperti itu. Aku pulang ke rumah karena ada barangku yang tertinggal dan bermaksud mengambilnya. Namun, anak kamu itu yang tiba-tiba menggodaku!"
"Cih, aku sungguh tidak percaya dengan omong kosongmu itu Ji. Kamu dan wanita penggoda itu sama saja. Sama-sama penghianat dan pelakor."
Gawat, jika aku tidak berhasil membujuk Dahlia untuk memaafkanku, akan sulit bagiku untuk menguasai rumah ini. Sampai saat ini, aku juga belum menemukan di mana sertifikat rumah ini tersimpan. Meski kecil, namun setidaknya rumah ini akan menghasilkan uang untukku.
Ajisaka yang duduk di tepi ranjang seketika bangkit. Ia mendekat ke arah Dahlia yang masih berdiri di dekat pintu masuk kamar, dan mulai bersimpuh di kaki istrinya ini.
"Aku tidak bersalah Ma. Anak kamu lah yang dengan sengaja menggodaku. Sehingga membuatku tidak dapat menahan hasratku. Aku tidak bersalah Ma."
Dalam keadaan seperti ini, Ajisaka masih memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Menguasai rumah kecil inilah yang sampai saat ini menjadi niat terselubung Ajisaka bertahan hidup bersama Dahlia. Ia merasa menjadi lelaki paling beruntung bisa bertemu dengan seorang wanita malam seperti Dahlia ini. Wanita malam kesepian karena sudah beberapa bulan tidak ada yang memakai jasanya, dan berusia lebih tua darinya namun memiliki aset yang cukup menggiurkan untuk ia miliki. Beruntung, saat pertama Ajisaka mengajaknya berkencan, wanita itu langsung terpikat oleh pesonanya.
Dahlia membuang muka. Kali ini kepercayaannya kepada lelaki ini terkikis habis setelah adegan ranjang antara sang suami dengan Seroja benar-benar terlihat nyata di depan mata.
Ajisaka menggelengkan kepala. "Tidak Ma, sama sekali tidak. A-aku benar-benar minta maaf atas kekhilafanku Ma."
Dahlia menautkan pandangannya ke arah Ajisaka yang tengah bersimpuh di bawah telapak kakinya. Ia menatap tubuh lelaki ini dengan tatapan yang sukar untuk diartikan. Ia memang begitu mencintai lelaki ini, namun apa yang telah dilakukan oleh lelaki ini sukses membuatnya kembali teringat akan masa yang telah lalu. Masa lalu yang hanya dirinya sendiri yang tahu.
Aku paling tidak suka dibohongi Ji. Aku tidak suka. Dan sekarang kamu bermain api dengan wanita penggoda itu, itu yang tidak bisa aku maafkan seumur hidupku.
Dahlia tersenyum simpul. Ia merendahkan tubuhnya untuk bisa sejajar dengan Ajisaka. Ia mengambil posisi jongkok, dan kembali menatap lekat netra lelaki di hadapannya ini. Namun, tanpa sepengetahuan Ajisaka, tangan Dahlia terulur untuk meraih salah satu serpihan pecahan cermin yang berserakan di lantai.
"Apakah kamu menyesal?" Dahlia melayangkan sebuah pertanyaan di depan wajah Ajisaka dengan suara lirih.
Ajisaka mengangguk pelan. "Iya Ma. Aku benar-benar menyesal karena telah termakan oleh bujuk rayu wanita itu. Aku minta maaf Ma. Aku minta maaf!"
Memasang raut wajah yang dipenuhi oleh penyesalan terdalam, Ajisaka mencoba kembali merebut hati Dahlia agar sang istri mau untuk memaafkannya. Ia melakukannya, karena hingga saat ini masih ada tujuan hidup yang belum berhasil ia dapatkan dari Dahlia.
Dahlia tersenyum manis. Ia belai pipi Ajisaka dengan penuh lembut. "Apakah kamu masih mencintaiku?"
Ajisaka mengangguk mantap. "Itu sudah pasti Ma. A-aku benar-benar mencintaimu. Bahkan semakin hari rasa cintaku ini bertambah besar untukmu, Ma!"
__ADS_1
Dahlia kembali tergelak lirih. Tangan kirinya menyusuri tubuh Ajisaka yang masih berbalut kaos dalam tipis berwarna putih dan sedikit ia menyibak kaos tipis yang dikenakannya itu, hingga menampakkan dada bidangnya.
Dahlia mendekatkan wajahnya ke wajah Ajisaka, hingga wajah keduanya hanya tinggal berjarak beberapa inchi saja. "Aku juga mencintaimu Ajisaka. Sangat-sangat mencintaimu... "
Sebelah tangan Dahlia yang menggenggam serpihan cermin itu, perlahan ia ayunkan dan...
Jleb!!!!
"Aku mencintaimu, tapi aku begitu membenci sebuah kebohongan. Mati saja kami Ji. Mati saja!"
"Aaaahhhh.... "
Ajisaka memekik kesakitan tatkala serpihan kaca yang berada dalam genggaman tangan Dahlia menancap tepat di bagian perutnya. Beriringan dengan darah segar yang mengucur deras dari sana.
Dahlia menatap lekat wajah Ajisaka yang tengah mengerang kesakitan ini. "Apakah ini sakit?"
"M-Mama.... "
"Hahaha hahahaha.. Inilah yang pantas kamu dapatkan Ji. Kamu pantas mati!"
Dahlia yang sebelumnya tertawa terbahak, mendadak menangis tersedu-sedu. Apa yang terjadi malam ini nampaknya membuat psikisnya sedikit terguncang. Ia bangkit dari posisinya dan melangkah ke sudut kamar.
Ia mengacak rambutnya kasar dan membentur-benturkan kepalanya di dinding. "Aaaarrrggghhh ..... kamu benar-benar brengsek Ji. Kamu brengsek!"
Ajisaka berupaya menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Ingin ia segera beranjak dari tempat ini, namun darah yang mengucur dari perutnya kian deras mengalir, yang membuat tubuhnya semakin lemah. Perlahan, kelopak mata lelaki itu terpejam dan tubuhnya tergeletak di lantai. Ajisaka hilang kesadaran.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dua part flashback lagi, setelah itu kita lanjut ke masa sekarang ya kak.. hihihi hihihihi.. Bagaimana? Apakah dari sini sudah mulai mengerti mengapa Seroja sampai menjatuhkan dirinya ke lembah nista? Kalau masih belum mengerti semoga dua part flashback yang akan kembali hadir bisa semakin memperjelas ya.. ☺☺
Terimakasih banyak bagi yang masih setia mengikuti cerita author remahan kulit kuaci ini ya Kak.. Sekali lagi, untuk novel ini memang saya buat berbeda. Saya angkat sebuah tema yang memang lain dari novel yang pernah saya buat sebelumnya. Tetap temani saya hingga tamat ya kak... Semoga akan ada satu hikmah yang bisa diambil.. 😘😘
Salam love, love, love❤️❤️❤️
__ADS_1