Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 92 : Malam Pengantin


__ADS_3


Pesta telah usai. Setelah masing-masing mempelai menjadi raja dan ratu sehari, kini tiba saatnya bagi mereka untuk beristirahat di tempat masing-masing. Randy dan Seroja kembali ke apartemen yang sebelumnya pernah mereka tempati bersama. Hakim dan Ana pulang ke kediaman Lili dan Mukhlas sekaligus mengajak Alamanda. Sedangkan Fakhru dan Adiba memilih untuk menginap di hotel selepas acara resepsi.


Seroja yang masih berbalut ball gawn warna merah itu melangkahkan kaki untuk mengitari setiap sudut yang ada di dalam apartemen ini. Dengan lekat ia memperhatikan keadaan tempat tinggalnya ini. Sama sekali tidak berubah. Tata letak barang-barang di apartemen ini masih sama persis seperti saat terakhir kali ia keluar dari sini. Dan ia pun menghentikan pijakan kakinya kala tiba di depan jendela lebar yang berada di sudut belakang kamar.


Dari tempat Seroja berdiri saat ini, nampak jelas lukisan malam yang tersaji di luar sana. Langit yang menghitam dan gelap namun dihiasi dengan kerlip bintang yang terlihat begitu menawan, kayaknya kilauan mutiara di dasar lautan. Gedung-gedung pencakar langit yang dihiasi oleh sinar lampu, seakan semakin menimbulkan kesan romantis dan dramatis yang nampak secara bersamaan. Tidak hanya itu, kuda-kuda besi yang berseliweran di jalan raya seakan menambah keramaian malam hari ini. Meski mesin penunjuk waktu telah menunjukkan tepat pukul setengah sepuluh malam, namun sama sekali tidak menyurutkan niat para pengemudi itu untuk meramaikan suana malam hari ini.


"Jangan melamun! Nanti bisa kesambet jin penunggu apartement ini Sayang!"


Tubuh Seroja sedikit terperanjat kala tiba-tiba ada lengan tangan yang melingkad di pinggangnya. Tidak hanya itu, bulu kuduknya juga sedikit meremang kala merasakan helaan nafas Randy yang menyapu telinganya.


"Aku sedang tidak melamun Mas. Hanya sedang menikmati suasana luar dari tempatku berdiri saat ini saja."


Randy meletakkan dagunya di atas pundak Seroja, dan sesekali mengecupnya. Alhasil hal seperti itulah yang semakin membuat Seroja meremang. "Kamu boleh menikmati suasana luar Sayang, namun saat ini bersihkan tubuhmu terlebih dahulu. Lagipula, apakah kamu tidak merasa kegerahan memakai gaun seperti ini?"


Perkataan Randy sukses membuat Seroja tersadar bahwa memang benar ia belum berganti pakaian sedari tadi. Rasa panas dan gerah yang menjalar di tubuhnya semakin membuat wanita itu menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya ini.


Seroja yang sebelumnya berdiri memunggungi Randy, berbalik arah. Ia menyunggingkan seutas senyum di bibirnya. "Baiklah Mas, aku mandi terlebih dahulu."


Randy hanya membalas tatapan istrinya ini dengan tatapan yang tidak kalah hangat pula. Ia pegang kedua bahu Seroja dan seketika membalikkan lagi tubuhnya.


"Mas, ada apa? Aku mau ke kamar mandi, mengapa kamu membalikkan tubuhku lagi?"


Seroja sedikit terkejut kala tubuhnya kembali memunggungi Randy. Tak selang lama, tangan Randy terulur untuk membuka resleting gaun yang dipakai oleh istrinya ini.


"Aku hanya ingin membantumu membuka pintu resleting gaun ini Sayang. Aku yakin, kamu pasti kesusahan membukanya."


Seroja hanya tergelak lirih. Ia lupa bahwa tanpa bantuan Randy, mungkin sampai besok gaun yang ia pakai ini tidak akan pernah bisa lepas dari tubuhnya. Namun gelak tawa lirih itu seketika terhenti kala ia merasakan gelenyar aneh yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya.


"Mas ..."


Suara Seroja terdengar sedikit parau kala bibir suaminya ini menyapu seluruh permukaan punggungnya. Matanya terpejam, merasakan sebuah kenikmatan yang dihadirkan oleh suaminya ini.


"Sayang ... Aku sungguh merindukan ini. Bolehkah aku mendapatkannya malam ini?"

__ADS_1


Kedua bola mata Randy yang sudah berkabut hasrat itu tiada henti membidik punggung putih mulus sang istri yang begitu ia rindukan. Meski ia dan Seroja pernah melakukan hal ini, namun kali ini suasananya terasa berbeda. Entah mengapa, saat ini kedamaian dan ketentraman batin begitu terasa menyelimuti hatinya.


Mungkin inilah makna dari sebuah ikatan suci pernikahan yang dilakukan secara terang-terangan dan tidak sembunyi-sembunyi, apalagi tidak ada sedikitpun unsur 'bermain serong' di belakang pasangan sah. Randy jauh lebih merasakan sebuah ketentraman dan ketenangan batin setelah ia menceraikan Rosmala dan berniat untuk kembali menikahi Seroja. Lelaki itu merasakan bahwa pernikahannya kali ini membawa keberkahan untuk dirinya sendiri.


Seroja hanya bisa terus memejamkan mata, larut dalam api hasrat yang terasa semakin bergelora. Ia tidak munafik, bahwa ia pun juga merindukan Randy. Dan hanya Randy lah yang ia inginkan untuk memiliki dan menjamahnya.


"Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya, Mas. Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan dari tubuhku."


Randy memeluk tubuh Seroja dari arah belakang. Ia letakkan kembali dagunya di pundak sang istri. Tangannya terulur untuk menggeser sedikit wajah Seroja untuk bisa melihat ke arahnya. Dan sebuah kecupan mesra, ia labuhkan di bibir merah merekah istrinya ini.


Kecupan yang sebelumnya terasa begitu lembut, kini berubah menjadi sebuah ciuman panas. Randy melahap habis bibir sang istri dengan rakus. Memagut, menyesap dan menghisap bibir itu seakan tanpa memberikan kesempatan Seroja untuk bernafas.


"Aku bantu menggosok punggungmu di kamar mandi ya Sayang."


Ucapan Randy bak sebuah mantra yang sanggup menghipnotis Seroja. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai sebuah isyarat jika ia mempersilakan Randy untuk melakukan apapun di atas tubuhnya.


Tanpa membuang banyak waktu, Randy meraih tubuh sang istri. Ia bopong tubuh Seroja ala-ala bridal style untuk segera memasuki kamar mandi.


🍁🍁🍁


Udara dingin masih terasa menusuk pori-pori kulit. Membuat manusia- manusia yang merasakannya lebih memilih untuk tetap meringkuk di bawah selimut tebal. Menghalau segala rasa dingin yang benar-benar memeluk erat tubuh mereka seakan tidak ingin pergi begitu saja.


"Aa', terima kasih banyak karena Aa' sudah memilih Diba untuk menjadi makmum aa' Fakhru."


Diba berucap sembari menatap kedua netra Fakhru dengan lekat. Semakin dekat Diba menatap dua manik mata lelaki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya ini, ia semakin merasa jika Fakhru memanglah sosok lelaki yang begitu tampan.


Fakhru tersenyum manis sembari mengusap bibir Adiba dengan lembut. "Aa' yang seharusnya berterima kasih kepadamu, Diba. Karena selama ini kamu begitu perhatian kepada Aa'. Bahkan kamu memiliki cinta yang begitu besar untuk Aa'."


Ada perasaan hangat yang tiba-tiba memenuhi ruang hati Adiba kala merasakan sentuhan jemari tangan Fakhru. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain hanya membalas senyuman manis sang suami dengan senyuman yang tidak kalah manis pula.


"Kalau boleh tahu, apa alasan aa' Fakhru membalas segala rasa yang Diba punya?"


Sejenak, Fakhru nampak sedikit berpikir. Namun setelah itu ia kembali tersenyum lebar. "Mungkin ketulusan hatimu lah yang sanggup menembus ruang hatiku, Diba. Selain itu, Allah juga menunjukkan kepadaku bahwa kamu memang wanita baik, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyambut perasaaanmu."


"Terima kasih banyak A'. Aku tidak akan menuntut apapun dari Aa'. Aku hanya minta, Aa' bisa menjalankan kewajiban Aa' sebagai suami dengan baik."

__ADS_1


Fakhru mengangguk dengan mantap. "InshaAllah aku akan selalu berusaha untuk menjadi imam yang terbaik untukmu, Diba. Namun jika ada kekurangan dariku, aku minta kamu juga ikut menegurku. Kita saling bekerja sama untuk meraih apa itu sakinah, mawadah dan warahmah dalam rumah tangga yang kita bangun ini."


Diba menyusuri pipi Fakhru dengan jemarinya. "A', aku boleh minta sesuatu?"


"Apa itu Diba? Katakanlah! Jika aku mampu memenuhi pasti akan aku penuhi."


"Jangan pernah menduakan aku, A'. Aku sadar, mungkin aku ini jauh dari kata sempurna. Mungkin di luar sana banyak wanita-wanita yang jauh lebih segalanya. Tapi aku minta jangan pernah sekalipun Aa' membagi perasaan Aa' dengan wanita lain di luar sana."


Entah apa yang terjadi pada Diba. Tiba-tiba saja ia merasa insecure terhadap dirinya sendiri. Padahal, di mata Fakhru sendiri, Adiba merupakan sosok wanita yang sempurna. Ucapan sang istri inilah yang membuat kening Fakhru sedikit mengerut. Namun kemudian, ia tersenyum simpul.


"InshaAllah, inshaAllah aku berjanji akan selalu mencintaimu, Diba. Dan tidak akan pernah membagi cinta yang aku miliki ini dengan perempuan lain. Kecuali....." Fakhru menjeda ucapannya yang seketika membuat Diba sedikit merasa kalut.


Kini giliran Adiba yang mengernyitkan dahinya. Mencoba menebak kata apa yang akan dilanjutkan oleh suaminya ini dengan perasaan yang bercampur aduk. "Kecuali apa A'?"


Fakhru mengulas sedikit senyumnya dan tak selang lama, ia peluk tubuh Diba dengan erat. Ia dekatkan bibirnya di ceruk leher sang istri seraya berbisik lirih. "Kecuali jika kita diberikan anak perempuan, jadi secara otomatis cinta yang aku miliki terbagi untukmu dan untuk anak perempuan kita."


Merasakan hembusan nafas yang berada di antara leher juga telinga membuat Diba seperti terkena sengatan arus listrik. Membuatnya merinding tiada terkira. Tanpa permisi, Fakhru meraih dagu Adiba agar wanita ini bisa menatap lekat wajahnya. Dan setelah itu, ia daratkan kecupannya di bibir sang istri.


Kali pertama berciuman, membuat tubuh Adiba hanya terpaku. Bibirnya terkatup, sama sekali tidak memberikan respon apapun. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Namun nalurinya sebagai manusia yang memiliki hasrat, akhirnya ia pun membuka bibirnya, mempersilakan lidah sang suami untuk bermain-main di dalam rongga mulutnya. Lama keduanya larut dalam ciuman panas itu. Hingga semua terhenti kala Diba terlihat sedikit kehabisan nafas.


Fakhru mengusap lembut bibir Adiba yang nampak basah ini. "Sayang, kita berikhtiar untuk membuat dedek bayi yuk!"


Muka Adiba memerah, dadanya terasa kian bergemuruh. Reflek ia menganggukkan kepalanya sembari tersipu malu. Anggukan kepala Adiba itu menjadi awal dimulainya ritual malam pertama bagi pengantin baru itu. Meneguk kenikmatan dunia di bawah ikatan suci pernikahan yang pastinya akan bernilai ibadah.


.


.


🍁🍁🍁🍁


MP Hakim dan Ana akan hadir episode selanjutnya ya Kak.. Hihi hihihi ☺☺☺


**Thor, kok gak hot sih? Kurang greget tahu...!


Untuk nupel ini sengaja saya buat tidak begitu hot ya Kak... Yang hot, besok saya kasih di bang duda🤣🤣**

__ADS_1


InshaAllah tinggal 10 part lagi novel ini akan tamat. Sekali lagi mohon maaf karena jadi jarang update. Ini saya sedikit oleng ke bang Duda dulu😄😄 Oja jadi terlupakan...


Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang masih setia mengikuti cerita ini. Banyak cinta untuk kakak-kakak semua ❤️❤️❤️


__ADS_2