
Pov Seroja
Namaku Seroja, sebuah nama yang begitu indah bukan? Ya, bagiku dan mungkin di mata kebanyakan orang, Seroja merupakan nama yang begitu indah. Salah satu nama bunga yang di mataku memiliki daya tarik tersendiri. Sebelumya aku tidak terlalu memperdulikan apa makna yang tersirat di balik nama Seroja yang ibu berikan. Namun, akhir-akhir ini aku sedikit terusik dengan apa makna nama yang aku miliki ini.
Seroja, bunga yang sama dengan bunga teratai. Bunga yang tumbuh dengan subur di permukaan air kolam, rawa, ataupun danau. Wujudnya begitu cantik. Memiliki warna kelopak bunga yang cerah nan indah dengan daun lebar yang mengapung di permukaan air yang semakin menambah pesona kecantikan bunga itu sendiri.
Apa yang kalian rasakan tatkala terlahir menjadi wanita berparas cantik? Pasti akan sangat membahagiakan bukan? Namun sepertinya itu semua tidak berlaku untukku. Bagiku, memiliki wajah cantik tidaklah memberikan sebuah keberuntungan. Karena dengan kecantikan yang aku miliki ini justru membuatku sering mendapatkan perlakuan yang seakan semakin melecehkan aku sebagai seorang wanita.
Kulit kuning langsat, rambut hitam legam sedikit bergelombang, hidung mungil, bibir tipis, dan kedua bola mata lebar yang terbingkai indah di dalam bulu mata panjang nan lentik, seakan semakin menegaskan bahwa aku terlahir cantik secara alami, tanpa harus melakukan perawatan apapun.
Tidak hanya itu saja. Tinggi badan yang semampai, dengan gumpalan-gumpalan daging yang terbentuk sempurna di bagian dada dan juga bok*ong, seakan semakin menegaskan bahwa aku ini memang makhluk Tuhan yang tercipta yang paling sexy. Dan ke-sexy an itulah yang selalu membuat mata para lelaki di luar sana seakan menatapku dengan tatapan penuh damba untuk bisa berkenalan, memiliki atau bahkan mungkin mencicipi tubuhku.
Plak!!!!!
"Brengsek kamu Van! Jauhkan tangan kotormu itu!"
Sebuah tamparan keras aku daratkan di pipi salah seorang lelaki yang tak lain adalah salah satu teman lelaki di sekolahku. Dia bernama Jovan. Seorang lelaki yang terkenal sebagai lelaki yang sering bergonta-ganti pacar. Entah sudah berapa banyak teman-teman wanita di sekolahku ini yang berhasil dikencaninya. Namun, entah mengapa dengan seringnya ia bergonta-ganti pacar justru semakin membuat lelaki itu digilai oleh kaum hawa di sekolahku.
Jovan terlihat meringis kesakitan tatkala pipinya terkena tamparan dariku. Tangan lelaki itu menyentuh pipinya, menahan rasa panas dan nyeri yang mungkin tiba-tiba menjalar di permukaan wajah. Namun aku sungguh tidak perduli dengan apa yang aku berikan untuk lelaki ini. Sekalipun aku harus dikeluarkan dari sekolah karena telah melakukan tindakan kekerasan terhadap putra dari kepala sekolah di tempatku mencari bekal masa depanku ini.
Bagaimana aku tidak naik pitam dengan tingkah kurang ajar lelaki ini? Dengan tiba-tiba Jovan menyergap tubuhku dari arah belakang di saat aku baru saja keluar dari bilik kamar mandi. Lelaki itu memeluk tubuhku dan mere*mas-re*mas gundukan sintal yang tersembunyi di balik seragamku.
Kulihat Jovan mengangkat kepala yang sebelumnya tertunduk saat mendapatkan tamparan dariku. Lelaki itu tersenyum sinis sembari kudengar ia berdecih lirih. Seakan tidak sedikitpun merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat.
"Ayolah, jangan jual mahal seperti itu Ja! Bukankah sudah menjadi sebuah hal yang biasa tubuhmu disentuh oleh lelaki-lelaki di luar sana? Bahkan semua sudah mengetahui bahwa kamu tinggal di salah satu lokalisasi yang ada di kota ini. Dan ibumu juga seorang pela*cur yang sering menjajakan tubuhnya untuk memuaskan na*fsu para lelaki hidung belang. Jadi bukankah kamu sudah terbiasa dengan apa yang aku lakukan tadi?"
__ADS_1
Plakkk!!!
Lagi, sebuah tamparan keras aku berikan untuk membungkam mulut lelaki yang sungguh sangat keterlaluan ini. "Jaga mulutmu Van! Jangan sekalipun kamu menyamakan aku dengan orang-orang yang berada di sekitarku. Sampai saat ini, aku selalu menjaga apa yang aku miliki. Dan justru tangan kotormu inilah yang membuatku seperti wanita yang tidak memiliki harga diri!"
Dadaku terasa bergemuruh tatkala dengan entengnya Jovan mengatakan bahwa aku sudah terbiasa melakukan sesuatu yang sering dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekelilingku. Meski aku tinggal di lokalisasi, yang di dalam pandangan kebanyakan orang merupakan tempat yang sarat akan maksiat, namun aku tetap menjaga dan mempertahankan apa yang aku miliki. Meski sejak kecil aku tinggal di tempat itu, sedikitpun aku tidak pernah menjamah dan menginjakkan kaki atau bahkan mungkin menenggelamkan tubuhku untuk mengikuti apa sering dilakukan oleh wanita-wanita yang berada di sekitarku.
"Cih... Jangan munafik kamu Ja! Mana mungkin tubuhmu sekalipun tidak pernah disentuh oleh para lelaki hidung belang yang sering keluar masuk area tempat tinggalmu?"
Jovan kembali menatap wajahku dengan sorot mata yang sukar untuk aku artikan. Mungkin ia merasa jika apa yang aku ucapkan itu sebuah dusta karena tidak bisa diterima secara logika. Bagaimana bisa diterima oleh logika jika aku tinggal di tempat yang dipenuhi oleh gemerlap dunia yang dipenuhi oleh kenikmatan namun tidak sedikitpun aku mengecapnya? Pasti bagi orang yang mendengarkan jawaban dari mulutku seketika mengatakan bahwa itu semua adalah omong kosong belaka.
Dunia yang menyajikan sebuah kemudahan dalam mencari uang untuk menyambung hidup tanpa harus mati-matian membanting tulang, pundi-pundi rupiah itu dapat dengan mudah mereka dapatkan.
Aku masih termangu memperhatikan raut wajah Jovan. Sedangkan ia semakin menampakkan ekspresi wajah yang begitu sulit untuk aku artikan. Lelaki itu berusaha mati-matian menahan rasa sakit akibat tamparan yang aku berikan, namun senyum seringai itu tidak terbenam juga dari wajahnya.
"Atau jangan-jangan, kamu menjadi salah satu simpanan lelaki beristri?"
"Awwwwhhh....!!!"
Luapan emosi jiwaku seakan kian mencapai titik didihnya. Tepat di ubun-ubun, emosi itu seperti uap air panas yang mendorong tutup panci yang siap untuk memuntahkan isi di dalam panci itu. Dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain dengan cara menendang bagian bawah perut Jovan agar ia berhenti mengatakan tuduhan keji tanpa bukti itu.
"Ini akibatnya jika kamu berani berkata yang tidak-tidak terhadapku Van! Asal kamu tahu, aku bukanlah wanita simpanan seperti yang keluar dari mulut burukmu itu."
Sedikit ku putar tumitku. Dengan maksud segera pergi meninggalkan lelaki ini. Baru beberapa langkah aku menjauh dari tubuh Jovan yang masih memegang area bawah perutnya, sedikit aku balikkan tubuhku. "Jika kamu masih berkata ataupun berpikir buruk terhadapku tanpa ada bukti sama sekali, aku pastikan milikmu itu tidak lagi bisa berdiri!"
Tidak tahan lagi, sungguh aku tidak tahan lagi berada di tempat ini. Sebuah tempat dimana seharusnya aku mendapatkan sebuah ketenangan dan kenyamanan dalam mengawali masa depanku, namun di tempat ini pula lah banyak orang yang membuatku tersudut hanya karena aku tinggal di lokalisasi.
"Dasar anak pela*cur. Sekali darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah pela*cur. Maka selamanya akan menjadikanmu sebagai pela*cur juga Ja!"
__ADS_1
Sayup-sayup masih kudengar Jovan melontarkan kata-kata yang terdengar begitu menghujam jantungku. Bahkan hatiku seperti tersayat oleh sebilah pisau tajam yang semakin membuat terkoyak seonggok daging bernyawa itu. Aku mendongakkan kepala. Mencoba untuk menahan tetes air mata ini agar tidak terjatuh. Begitu hinakah aku menjadi anak seorang wanita malam? Padahal selama ini, aku senantiasa menjaga diriku dan juga kehormatanku agar sedikitpun tidak terjembab ke dalam gemerlap dunia yang penuh dengan kenikmatan semu itu.
🍁🍁🍁🍁
Duduk di pinggir lapangan sepak bola yang berada di depan sekolah, aku mencoba untuk menikmati suasana siang hari ini. Berada di bawah pohon beringin yang berjajar rapi di pinggir lapangan seakan membuat suasana hatiku jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku yang sebelumnya dibuat marah dan emosi oleh Jovan, saat ini mulai sedikit lebih bisa untuk aku kendalikan. Sungguh, menahan emosi di dalam kepala hanya membuat tubuh ini terasa semakin lelah saja.
Pandanganku nyalang ke depan. Perkataan-perkataan Jovan benar-benar sukses memporak-porandakan batinku. Apa sebegitu burukkah aku di mata teman-temanku hanya karena aku tinggal di lokalisasi? Aku merasa, sekalipun aku berada di lingkungan yang di mata orang begitu kotor, aku selalu berupaya untuk tetap bersih dengan cara tidak sedikitpun menjamah dunia itu.
Seperti tempat hidup bunga Seroja. Air dan lumpur sangat dibutuhkan bunga itu untuk bertahan hidup. Meskipun lingkungan yang ditempati oleh bunga itu kotor dan berbau tidak sedap, tapi keadaan itu tak menghalangi dirinya untuk menunjukkan keindahan bunganya dan terjaga untuk tetap bersih.
Mungkin itulah salah satu maksud yang tersirat mengapa ibu memberiku nama Seroja. Menggambarkan bahwa manusia sejatinya memang tetap membutuhkan satu sama lain, meski pada orang yang kurang baik sekalipun. Tapi, bukan berarti aku harus mengikuti dan meniru keburukan yang berada di sekitarku. Dan sampai saat ini, hal itulah yang menjadi salah satu pegangan hidupku.
Angin berhembus kencang membuat rambut yang aku biarkan tergerai sedikit berantakan. Ku hirup udara dalam-dalam untuk bisa mengurai rasa sesak dalam dada ini. Sejatinya, bukan hanya perkataan Jovan saja yang begitu membuatku tidak nyaman berada di sekolah ini. Bahkan hampir satu sekolahku turut memandangku dengan sebelah mata. Tidak sedikit pula dari mereka yang melontarkan tuduhan-tuduhan pedas yang sama sekali tidak pernah aku lakukan.
Tidak hanya ucapan-ucapan dari mulut mereka saja yang terdengar mengiris perih batinku. Tingkah laku teman-teman lelaki yang berada di sini pun juga tidak kalah semakin membuatku seperti tersiksa. Perlakuan tidak senonoh itu seringkali aku dapatkan dari teman-temanku sendiri. Salah satunya yang dilakukan oleh Jovan tadi. Bahkan, sebelum Jovan melakukan hal itu, pernah satu kali, salah seorang teman lelakiku secara terang-terangan menunjukkan miliknya tepat di hadapanku.
Namun tidak ada yang dapat aku lakukan selain hanya menulikan telingaku dari cemoohan itu dan sekuat tenaga harus tetap bertahan berada di tempat yang tinggal dua bulan lagi akan aku tinggalkan. Tepatnya, setelah hari kelulusan itu tiba.
Seroja .... Semoga garis takdirmu secantik bunga yang menjadi namamu....
Itulah mantra yang selalu aku rapalkan untuk menguatkan batin yang sejak kecil sudah terkoyak ini...
.
.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Flashback dulu ya Kak.. Kehidupan Seroja di masa-masa sekolah 🤗🤗🤗