
Tak jauh berbeda dengan pasangan Randy-Seroja, Fakhru-Adiba, pasangan Hakim-Ana pun juga tengah menikmati malam pertama mereka. Bukan di hotel, apartement, ataupun villa, keduanya memilih untuk langsung menuju rumah orang tua Hakim yang mana akan menjadi tempat mereka tinggal setelah menikah.
Selepas makan malam dan menidurkan Alamanda, Ana bergegas menuju ke kamar pribadi miliknya dan juga Hakim. Sebuah kamar yang berada di paling pojok belakang dan dekat dengan taman kecil yang berada di dalam rumah Mukhlas. Entah apa maksud Hakim menjadikan ruangan ini sebagai kamar pribadinya. Yang jelas ia sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari sebelum ia menikahi Ana. Bagi Hakim sendiri, ruangan ini terasa begitu nyaman untuk dijadikan kamar pribadi. Mengingat suasananya yang hening dan tidak berdekatan dengan kamar-kamar yang lain sehingga membuatnya bebas melakukan apapun.
"Sayang? Alamanda sudah tidur?"
Hakim yang tengah menyenderkan tubuhnya di headboard ranjang sembari membaca sebuah buku, terdengar menyapa Ana kala tubuh Ana sudah memasuki kamar. Sedangkan Ana, wanita itu hanya tersipu malu kala untuk kali pertama seorang laki-laki yang saat ini telah sah menjadi suaminya ini memanggilnya dengan panggilan sayang. Meskipun malu, namun buncahan rasa bahagia itu tidak dapat ia sembunyikan sama sekali. Ya, ia merasa sangat tersanjung mendengar panggilan manis dari suaminya ini.
"Sudah Mas. Alhamdulillah, Alamanda tidak rewel. Bagaimanapun juga ini adalah hari pertama ia tidur bukan di tempat biasanya, namun ia justru nampak begitu nyaman."
Ana duduk di depan meja rias. Ia mulai melepas jilbab yang ia kenakan dan memulai ritual mengoles minyak zaitun di wajahnya. Hakim yang memperhatikan wajah sang istri melalui pantulan cermin itu hanya mengulas senyumnya, dan berupaya untuk mendekat ke arahnya.
"Alhamdulillah, Mas ikut senang mendengarnya. Itu artinya, Alamanda akan sangat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru."
Tubuh Ana sedikit terperanjat, kala merasakan ada sesuatu yang mendarat di ceruk lehernya. Setelah ia perhatikan dengan lekat, ternyata kepala sang suami sudah bersemayam di sana. Dan lengan tangan lelaki itupun juga sudah begitu erat melingkar di perutnya.
"Mas, bisakah kamu menjauhkan kepalamu dari leherku. Aku merasa geli Mas!"
Hakim terkekeh lirih. Mendengar permintaan sang istri tidak lantas mengabulkannya, ustadz muda itu justru semakin ingin mencumbui Ana.
"Memang kenapa Sayang? Bukankah ini terasa begitu menyenangkan?"
Kedua bola mata Ana terbelalak dan membulat sempurna kala merasakan bibir Hakim yang mengecup ceruk lehernya. Bahkan tidak hanya sampai di sana, lelaki itu pun juga menyapu bagian telinga sang istri dengan bibirnya. Hal itulah yang membuat Ana seakan tersengat oleh aliran listrik. Ia merasakan gelenyar-gelenyar aneh memenuhi aliran darahnya.
"Mas Hakim ....."
Suara Ana tercekat. Ia menggigit bibir bawahnya kala sensasi rasa nikmat itu menjalar di tubuhnya. Mengetahui sang istri sudah memberikan sebuah respon, Hakim berbisik lirih di telinga sang istri.
__ADS_1
"Maukah kamu aku ajak untuk beribadah Sayang? Ibadah, yang tidak hanya bernilai pahala namun juga akan membuat kita merasakan apa itu surga dunia."
Ucapan Hakim bak sebuah mantra yang mampu menghipnotisnya. Tanpa berpikir panjang, Ana menganggukkan kepalanya lirih. Mendapatkan persetujuan dari sang istri, Hakim mulai beranjak dari posisinya. Tubuhnya sedikit membungkuk dan ia bopong tubuh istrinya ini ala-ala bridal style.
"Mas, aku bisa jalan sendiri!"
Ana terhenyak, kala mendapati perlakuan Hakim yang serba tiba-tiba ini. Namun Hakim hanya tergelak lirih sembari mencium lembut bibir istrinya ini. Tak selang lama, ia sampai di tepian ranjang. Dengan hati-hati Hakim mulai membaringkan tubuh istrinya ini.
"Malam ini, jadilah milikku seutuhnya Sayang!"
Ana membelai wajah tampan milik Hakim dengan lembut. Ia menatap manik mata suaminya yang sudah dipenuhi oleh kabut hasrat ini dengan tatapan teduh. "Sepenuhnya, aku akan memberikan semuanya kepadamu, Mas. Semua yang ada dalam diriku, adalah milikmu."
Hakim tersenyum manis seraya mengecup lembut bibir merah Ana ini. "Terima kasih Sayang."
Hakim berdiri, ia ayunkan langkah kakinya untuk mendekat ke arah saklar. Klik, suasana kamar yang sebelumnya begitu terang, kini nampak temaram. Ia kembali mendekat ke arah sang istri dan memulai ritual ibadah mereka sebagai sepasang suami-istri.
🍁🍁🍁🍁
Dialah Rosmala. Setelah Randy menceraikannya, ia berupaya untuk kembali mendapatkan perhatian dari Randa. Ia kembali hadir mengusik ketentraman ayah dari anak-anaknya itu. Menginginkannya kembali di dalam hidupnya. Namun sia-sia saja. Randa bahkan sudah tidak mau lagi berurusan dengan Rosmala. Dan ia pun meminta agar wanita itu tidak lagi mengganggunya.
Ia pikir setelah istri Randa mengetahui akan apa yang pernah ia lakukan bersama Randa, istri Randa itu segera minta untuk berpisah. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Dengan tidak hormat, Rosmala diusir dari kediaman Randa saat ini.
"Nyonya, sampai kapan Nyonya seperti ini? Lebih baik saat ini Nyonya mengisi perut terlebih dahulu."
Ferdi, lelaki yang menjadi tangan kanan Rosmala, nampak berjalan mendekat ke arah bos nya ini. Sungguh memprihatinkan keadaan bos nya kali ini. Ia nampak sedikit kurus, wajah sayu, dengan kantung mata yang nampak begitu menghitam. Keadaan Rosmala saat ini menegaskan bahwa beberapa saat ini tidak mengistirahatkan tubuhnya dengan benar.
Setelah menidurkan si kembar, Ferdi membawakan makan malam untuk sang bos. Berharap, ia bisa mengisi perutnya meski hanya tiga suap saja.
"Sudahlah Nyonya, jangan terlalu dipikirkan. Ada baiknya saat ini Nyonya kembali berbenah diri dan menyelamatkan apa yang memang masih bisa diselamatkan," ucap Ferdi seraya meletakkan piring yang ia bawa di atas meja.
__ADS_1
Rosmala tersenyum miring sembari mengacak rambutnya sedikit kasar. "Hahaha haha lihatlah Fer, saat ini akulah wanita yang paling menyedihkan di dunia ini. Randy maupun Randa tidak ada yang bisa aku miliki. Sungguh sangat malang nasibku. Mereka semua pergi dari hidupku."
Meski Rosmala mencoba untuk terbahak, namun suara wanita itu terdengar bergetar. Bergetar menahan luapan-luapan emosi yang ia rasa.
Ferdi tersenyum getir melihat kondisi bosnya ini. Seumur hidupnya, baru sekali ini ia berjumpa dengan seorang wanita yang benar-benar berada di titik akhir. Ia terlihat larut dalam kesedihan itu. Hal itulah yang membuat Ferdi begitu bersimpati terhadap Rosmala.
"Nyonya, jika Nyonya mengizinkan, saya ingin menggantikan posisi ayah si kembar."
Ferdi tidak main-main dengan ucapannya. Sejatinya, setelah Rosmala ditalak oleh Randy, ia sudah memiliki keinginan untuk menjadi pendamping hidup sang bos. Ia teramat tidak tega melihat wanita itu terpuruk dalam keadaan seperti ini.
Rosmala yang sebelumnya membenamkan wajahnya di sela-sela paha sembari menekuk lututnya seketika menoleh ke arah Ferdi. Ia sungguh tidak paham dengan maksud ucapan Ferdi.
"Maksud kamu apa Ferdi? Mengapa aku tidak paham sama sekali."
Ferdi tersnyum simpul. Lebih ia dekatkan tubuhnya ke arah Rosmala. "Nyonya, saya ingin menggantikan posisi pak Randa untuk si kembar. Saya ingin menjadi teman untuk si kembar yang selalu ada setiap saat."
Rosmala terperangah. "M-Maksud kamu apa Fer?"
Sarat akan makna, Ferdi menatap lekat kedua bola mata Rosmala. Lelaki itupun tersenyum tipis. "Saya ingin menikahi Nyonya. Jika Nyonya menyetujui saya akan segera menikahi Nyonya."
Rosmala hanya bisa berusaha mencari tahu apa makna yang tersimpan di dalam hati Ferdi dengan cara terdiam, terpaku dan membeku. "Aku sungguh tidak paham Fer. Aku tidak paham."
"Nyonya, menikahlah denganku. Aku janjikan hanya akan ada kebahagiaan yang menyelimuti hati Nyonya."
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1