
Flashback on...
Mas, aku hamil!"
Di sebuah ruang keluarga yang cukup luas, nampak seorang wanita berusia dua puluh empat tahun dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kekalutan dan kegusaran berdiri di depan jendela lebar yang terletak di sudut ruangan. Bagaimana wajahnya tidak kalut dan tidak gusar jika saat ini ada janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya, di saat ia belum menikah sama sekali.
Sedangkan seorang lelaki yang tengah duduk di sofa ruangan ini tidak terlalu terkejut dengan berita apa yang dibawa oleh wanita ini, karena pada dasarnya ia dapat menangkap sinyal kehamilan itu saat sang wanita sering muntah-muntah di kala bertemu dengannya.
"Iya Ros ... aku tahu itu... "
"Jika kamu tahu, jadi kamu juga tahu apa yang harus kamu lakukan bukan? Aku mau kamu bertanggung jawab atas kehamilanku ini Mas!"
Masih sambil menatap suasana sebuah taman yang berada di luar jendela, Rosmala memangkas ucapan sang lelaki. Ia mencoba untuk melayangkan sebuah pertanyaan retoris kepada lelaki ini. Ia berharap jika lelaki yang tengah duduk di sofa ruangan ini beresegera untuk menikahinya.
Terlihat sang lelaki memijit-mijit pelipisnya. Tetiba rasa pening itu menjalar, memenuhi aliran darah di kepalanya. Terasa berat, bagai memikul sebuah beban yang berlebihan.
"Aku tahu bahwa aku harus bertanggung jawab. Tapi aku tidak bisa untuk menikahimu. Karena satu minggu lagi aku sudah harus menikah dengan wanita yang sudah dipilihkan oleh kedua orangtuaku."
Rosmala berbalik badan. Ia memutar tumitnya untuk menghampiri sang lelaki. Dan ia pun mendaratkan bokongnya di samping lelaki itu.
"Kamu tidak bisa melakukan itu semua terhadapku Mas. Aku sudah memberikan semuanya untukmu. Bahkan keperawanan milikku pun sudah aku berikan untukmu. Jadi tidak seharusnya kamu tidak membatalkan acara pernikahanmu."
Rosmala tidak terlalu terkejut dengan apa yang akan menjadi jawaban lelaki ini. Karena ia sudah cukup tahu bahwa lelakinya ini akan segera menikah. Namun, ia tidak ingin jika anak yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya ini akan lahir tanpa ayah. Maka dari itu ia akan mendesak lelaki ini untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan wanita yang sudah dijodohkan dengannya.
"Ros! Ini semua tidak sepenuhnya kesalahanku. Sejak awal kamu tahu bahwa aku sudah memiliki calon pendamping hidup, namun kamu selalu saja datang kepadaku dan menggodaku!"
"Meski aku selalu datang dan menggodamu seharusnya kamu tidak tergoda Mas. Tapi apa? Apa kenyataannya? Kamu malah terlihat sangat menyambut kedatanganku!"
"Bagaimana aku tidak tergoda, jika penampilanmu saja selalu memancing hasratku untuk menjamahmu Ros? Aku lelaki normal dan memiliki naf*su. Tidak akan bisa tahan melihat penampilanmu yang memang membuatku terangsang."
"Aku tidak mau tahu Mas. Saat ini aku minta, kamu membatalkan rencana pernikahanmu dengan wanita itu. Kamu harus menikah denganku Mas!"
"Itu tidak akan pernah bisa aku lakukan Ros! Karena keluargaku banyak berhutang budi dengan keluarga calon istriku!"
__ADS_1
"Persetan dengan itu semua Mas! Aku mau, kamu menikah denganku!"
"Ros, aku.... "
"Randa! Apa maksud ucapan wanita ini!"
Suara seseorang yang tiba-tiba terdengar memenuhi langit-langit ruang keluarga ini, sukses membuat dua orang yang sebelumnya terlibat dalam perdebatan itu terkejut setengah mati. Mereka menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di atas kursi roda datang menghampirinya sembari didorong oleh seorang pemuda tampan yang sepantaran dengan lelaki yang sedang terlibat dalam perdebatan itu.
"Ibu ... Randy!"
"Apa maksud dari ucapan wanita ini Ran? Apakah benar bahwa kamu sudah menghamili wanita ini?"
Titik-titik embun nampak berkumpul di pelupuk mata wanita paruh baya itu. Di balik dinding kamar yang letaknya memang tidak jauh dari ruang keluarga, membuat wanita paruh baya itu begitu jelas mendengar apa yang menjadi bahan pembicaraan dua orang ini.
Randa dan Rosmala bergeming, tak berucap apapun. Wajah Randa nampak begitu pias karena saat ini sang ibu sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan Randa! Apa benar bahwa kamu sudah menghamili wanita ini?"
Wanita paruh baya itu berteriak lantang, memaksa sang anak untuk mengakui apa yang telah ia perbuat. Nafasnya terlihat terengah-engah dan memburu seakan mengeluarkan semua amarah yang tertimbun dalam dada.
Pemuda yang berada di balik punggung wanita paruh baya itu, hanya bisa mengusap-usap pundak sang ibu. Sekuat tenaga ia berupaya untuk meredakan emosi wanita paruh baya ini. "Bu ... jaga emosi Ibu. Jangan sampai penyakit jantung Ibu kambuh lagi!"
Wanita paruh baya yang sebelumnya berteriak lantang, kini suaranya terdengar lirih dan bergetar diiringi dengan tetes-tetes air mata yang mulai membasahi pipi. Sesekali, ia nampak memegang bagian dada sebelah kirinya. Menghalau rasa sesak yang masih saja bergelayut manja.
"Ibu ... maafkan Randa, Bu. Maafkan Randa. Randa khilaf!"
Lelaki bernama Randa itu beranjak dari posisi duduknya dan meluruhkan tubuhnya di hadapan sang ibu. Bersimpuh di atas pangkuannya.
Wanita paruh baya itu menghela nafas sedikit dalam dan ia hembuskan perlahan. Ia memang marah dengan perbuatan anak sulungnya ini. Namun, apa yang bisa ia lakukan jika keadaan sudah terlanjur menjadi seperti ini.
"Ibu tidak tahu apa yang harus Ibu lakukan Ran! Satu minggu lagi kamu akan menikah, namun sekarang ada kejadian seperti ini. Katakan pada Ibu apa yang harus Ibu lakukan Ran? Apa?" Wanita paruh baya itu kembali membuang nafas kasar. "Tidak mungkin jika Ibu membatalkan acara pernikahanmu. Undangan sudah tersebar. Gedung, catering dan semua yang menjadi perlengkapan acara pernikahanmu sudah siap bahkan seluruh biaya sudah ditanggung oleh calon mertuamu. Apa yang harus Ibu lakukan Ran? Apa?"
Randa yang masih menenggelamkan wajahnya di pangkuan sang ibu hanya bisa menangis tergugu sembari menggelengkan kepalanya. Ia juga nampak kalut. Tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Randy yang tidak lain adik dari Randa, hanya bisa menatap apa yang tersaji di depan matanya ini dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Otaknya mendadak buntu, akan jalan apa yang harus ia lakukan untuk bisa membantu sang ibu agar bisa keluar dari kerumitan ini.
Wanita paruh baya ini mengusap air matanya. Sedikit ia menoleh ke atas untuk bisa menatap wajah putra bungsunya. "Ren ... bisakah Ibu meminta tolong kepadamu?"
__ADS_1
Dahi Randy mengerut, sedikit tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu. "Maksud Ibu bagaimana? Apa yang harus Rendy lakukan untuk bisa menolong Ibu?"
"Menikahlah dengan wanita ini Ren. Gantikan posisi kakakmu untuk bertanggungjawab atas anak yang berada di dalam kandungannya!"
Flashback off..
🍁🍁🍁🍁🍁
Randy PoV
Aku Randy Giri Raga, seorang lelaki yang saat ini berusia tiga puluh tahun. Itulah salah satu kisah hidupku. Kisah hidup yang mungkin tidak banyak orang ketahui. Lagipula, sejatinya aku juga tidak perlu menceritakan itu semua karena mungkin di mata para pembaca, aku memang salah satu lelaki breng*sek yang sudah berani mempermainkan apa itu pernikahan. Tidak mengapa. Karena memang, di sini aku juga bersalah. Bersalah karena aku telah menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Rosmala.
Aku menikahi Rosmala di saat aku berusia dua puluh lima tahun. Dan di saat ia juga tengah mengandung darah daging dari kakak kandungku sendiri, Randa. Jangan ajak aku untuk berdebat akan hukum agama yang melarang menikahi wanita yang tengah hamil atau memperbolehkannya. Karena sejatinya aku memang tidak paham dengan syariat-syariat agama. Yang pasti saat itu, aku melakukan itu semua karena permintaan dari ibuku, wanita yang paling aku cintai dalam hidupku.
Aku tidak pernah menyangka jika sang penulis skenario kehidupanku menorehkan ujian hidup yang begitu berat seperti ini di saat kakakku akan menyambut hari bahagianya. Bahkan bukan hanya hari bahagia untuk kakakku sendiri, namun juga ibuku. Beliau begitu bahagia karena tinggal menghitung hari, beliau akan resmi menjadi mertua untuk calon menantu yang sangat beliau cintai. Namun, dalam sekejap, kebahagiaan itu sirna kala Rosmala datang ke rumah untuk meminta pertanggungjawaban dari kak Randa akan janin yang sedang dikandungnya.
Ibu berada di posisi terjepit kala itu. Beliau tidak mungkin membatalkan acara pernikahan kak Randa, mengingat semua persiapan sudah dipersiapkan secara sempurna. Namun, jika pernikahan tetap berlanjut, maka darah daging yang berada di dalam rahim Rosmala dipastikan akan terlahir tanpa adanya sosok seorang ayah. Sebagai seorang wanita, kala itu Ibu juga merasakan kehancuran yang mungkin akan dirasakan oleh Rosmala. Hingga pada akhirnya, beliau memintaku untuk menggantikan posisi kak Randa. Hingga pada akhirnya pernikahan antara aku dan Rosmala benar-benar terjadi. Meski terpaksa, namun hanya ada satu yang menjadi tujuanku. Aku hanya tidak ingin mempermalukan keluarga besarku. Dan satu lagi, aku melakukan itu semua hanya untuk Ibu, bukan untuk yang lain.
Apakah setelah aku menceritakan ini semua, aku meminta para pembaca untuk mengasihaniku? Tentu saja tidak. Karena aku tetap dalam posisi bersalah. Bersalah karena aku sudah menduakan Rosmala.
Bertahun-tahun aku menjalani pernikahanku dengan Rosmala tanpa adanya rasa cinta. Karena memang sejak awal aku tidak pernah mencintai wanita itu. Aku bertahan untuk menjalani rumah tangga ini, semata-mata untuk membahagiakan ibu. Aku selalu melimpahi Rosmala dengan perhatian-perhatian layaknya seorang suami terhadap istri. Bahkan aku menjalankan peranku sebagai ayah sambung untuk Runa dan Roni dengan baik pula. Seluruh perhatian dan kasih sayang, aku berikan sepenuhnya untuk anak kembar itu. Namun perihal urusan ranjang, aku sama sekali belum pernah melakukannya. Kalian boleh tidak percaya, namun memang seperti itulah kenyataannya. Aku tidak bisa melakukannya dengan wanita yang memang sama sekali tidak aku cintai.
Begitu pula dengan Rosmala, dia tidak pernah protes tidak pernah mendapatkan jatah ranjang dariku. Aku merasa dia begitu mencintai kak Randa sehingga ia juga merasa enggan untuk berhubungan badan denganku. Ia nampak sudah sangat berbahagia dengan fasilitas-fasilitas apa yang sudah aku berikan.
Hingga pada akhirnya, suatu malam di perjalanan pulangku dari luar kota, aku mendapati seorang wanita yang sedang menangis di pinggir jalan. Kala itu tubuh wanita itu basah kuyup akibat air hujan yang menerpanya. Aku tepikan mobil yang aku kemudikan di pinggir jalan dan menatap lekat apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Ingin rasanya aku bersegera menghampiri wanita itu, namun seketika niat itu terhenti di saat ia mencoba menyebrangi jalan dengan tatapan kosong dan tetiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan menghantamnya. Namun wanita itu justru selamat dari kecelakaan itu setelah seorang gadis kecil tiba-tiba mendorong tubuhnya.
Ya, wanita itu adalah Seroja Ayu Anjani. Wanita yang sudah sejak kali pertama aku bertemu dengannya, aku merasakan apa itu jatuh cinta. Semenjak kecelakaan itu, aku berusaha keras untuk mencari siapa gerangan wanita itu. Bahkan aku sempat membuntutinya sampai di rumah sakit. Dari sanalah aku tahu bahwa Seroja adalah salah satu korban kebiadapan ayah tiri yang dengan paksa merenggut kesuciannya.
.
.
🍁🍁🍁🍁
Nama Randy yang sebelumnya Randy Priambudi, saya ganti dengan Randy Giri Raga ya Kak... Hihihi hihihi nanti sambil saya revisi ulang. 🤭🤭
__ADS_1
Bagaimana? Sudah terjawab bukan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak kakak-kakak semua?
Lalu, jika sudah seperti ini bagaimana? Apakah Seroja akan berjodoh dengan Fakhru atau tetap berjodoh dengan Randy? Hihihi tetap temani saya untuk menyelesaikan nupel ini hingga tamat ya Kak... ❤️❤️❤️