Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 68 : Tentang Masa Lalu -4-


__ADS_3


"Ananda Mukhlas Al-Huda bin Faisal Rahman!"


"Saya!"


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Lily Ayu Purnama binti Abdul Latief dengan mas kawin seperangkat alat shalat, Al-Qur'an, dan seratus gram emas dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Lily Ayu Purnama binti Abdul Latief dengan mas kawin seperangkat alat shalat, Al-Qur'an, dan seratus gram emas dibayar tunai!!!"


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!!"


"Alhamdulillah!"


Suara ijab-qobul yang baru saja terucap terdengar menggema memenuhi langit-langit sebuah masjid dengan hiasan bunga mawar putih yang berada di sisi kanan kirinya. Meski terlihat sederhana namun sama sekali tidak mengurangi makna dari sebuah akad, di mana Allah dan malaikat-malaikatNya turut menyaksikan acara sakral itu. Acara yang menjadi gerbang awal bagi sepasang manusia untuk menjalani kehidupan berumah tangga di dalam sebuah ikatan halal. Dan sebuah acara di mana perjanjian berat dalam perjalanan hidup manusia, diikrarkan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di kehidupan yang akan datang.


Setetes bulir bening jatuh dari pelupuk mata seorang gadis berusia dua puluh dua tahun itu. Ya dialah Lily Ayu Purnama. Di usianya yang terbilang masih teramat belia, ia memutuskan untuk menikah. Perkenalannya dengan Mukhlas Al-Huda, seorang laki-laki yang terpaut tiga tahun lebih tua darinya dan terbilang singkat, sama sekali tidak membuatnya meragu bahwa laki-laki yang baru saja mengucap kalimat qabul itu dapat bertanggungjawab untuk menopang hidupnya. Tidak hanya di dunia tapi juga di kehidupan yang kekal kelak.


Ia memandang teduh kedua bola mata laki-laki yang saat ini telah sah menjadi suaminya. Ia raih tangan kokoh laki-laki itu, dan menciumnya. Sebagai pertanda bahwa mulai hari ini, ia akan menyerahkan hidupnya untuk berbakti kepadanya.


"Bantu aku untuk berbakti kepadamu juga keluarga kita Mas, serta pegang tanganku, agar aku bisa selalu bersamamu untuk meraih surga Allah," ucap Lily lirih dengan air mata yang sudah tidak lagi dapat ia bendung.


Mukhlas menundukkan kepalanya. Di sela- sela ucapan lirih Lily, ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kelembutan dan penuh cinta. Pastinya cinta suci yang berada di bawah ikatan pernikahan.


"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu Sayang. menggantikan peran ayahmu untuk mencintai dan melindungimu. Aku berjanji akan setia hanya kepadamu. Dan akan menjadi suami sekaligus ayah terbaik untuk keluarga kecil kita nanti," ucap Mukhlas dengan penuh keyakinan.


Sebuah senyum simpul terulas di bibir tipis Lily. Ada seberkas kehangatan mengalir di dalam aliran darahnya. Mengalirkan aliran-aliran kebahagiaan yang sungguh tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan karena ia telah dipersunting oleh lelaki sholeh bernama Mukhlas Al-Huda. Ia sangat-sangat percaya bersama Mukhlas hidupnya pasti akan dipenuhi dengan kebahagiaan. Baik lahir maupun batinnya.


Raut penuh kebahagiaan nampak terukir jelas di wajah orang-orang yang berkumpul di tempat ini. Semua keluarga dan sanak saudara turut menjadi saksi akan kebahagiaan sepasang manusia yang telah resmi menjadi sepasang suami istri itu. Dari raut wajah keduanya terpancar jelas binar-binar kebahagiaan yang kentara seakan memberikan sugesti semua orang yang berada di tempat ini juga turut berbahagia.

__ADS_1


Namun, kebahagiaan itu tidak nampak di wajah salah seorang yang hadir di tempat ini. Ya, dia adalah Dahlia. Semenjak ia mengetahui bahwa bukan dirinya yang dicintai oleh lelaki tampan nan rupawan itu, justru adiknya lah yang dicintai oleh lelaki itu, membuat hatinya semakin dipenuhi oleh tunas-tunas kebencian kepada sang adik. Tunas-tunas yang meskipun dipangkas, ia tetap akan tumbuh tiada terkendali.


Kebencian itu bukan hanya untuk sang adik seorang. Lelaki bernama Mukhlas Al-Huda itupun juga ikut ia benci. Lelaki yang ia anggap tidak pernah peka akan perasaan yang ia miliki. Seorang laki-laki yang telah memberikannya sebuah harapan palsu dan seorang laki-laki yang berhasil meluluhlantakkan hatinya dalam waktu yang sekejap.


Dari kejauhan, Dahlia menatap lekat sepasang suami istri yang tengah bersalam-salaman dengan para tamu undangan itu dengan tatapan membidik. Sebuah tatapan layaknya seekor singa betina yang siap menerkam mangsanya. Dadanya bergemuruh hebat layaknya gulungan-gulungan ombak yang memecah batu karang. Tangannya mengepal erat seakan menahan segala amarah yang berkecamuk di dalam dada. Kobaran amarah yang dikelilingi oleh percikan-percikan kebencian yang mungkin tidak akan pernah padam sampai kapanpun.


Saat ini kalian akan aku biarkan untuk berbahagia di atas kehancuran hatiku. Namun, bersiap-siaplah kalian untuk menerima sebuah kehancuran yang akan aku berikan. Luka harus dibayar dengan luka. Aku pastikan suatu saat nanti, kalian akan merasakan kepedihan dan kehancuran hati ini.


🍁🍁🍁🍁


"Nak, kamu benar-benar ingin pergi dari kota ini?"


Melati yang tengah duduk di tepi ranjang milik sang putri hanya bisa menatap penuh rasa heran dengan apa yang dilakukan oleh putri sulungnya ini. Setelah acara pernikahan Lily dan Mukhlas selesai, tidak ada angin dan tidak hujan, Dahlia mengatakan akan pergi dari kota ini.


Dahlia nampak memasukkan pakaian-pakaiannya untuk ke dalam sebuah tas besar berwarna cokelat. Ia menganggukkan kepala, menanggapi perkataan sang ibu. "Iya Bu, Dahlia memutuskan akan pergi dari kota ini. Dahlia akan menjalani kehidupan yang baru di kota lain."


"Tapi mengapa tiba-tiba seperti ini Nak? Mengapa tidak pernah kamu bicarakan sebelumnya rencana seperti ini kepada Ibu?"


Dahlia membuang nafas sedikit kasar. "Ini tidak tiba-tiba Bu. Dahlia sudah memiliki rencana ini sejak dulu. Dahlia ingin merubah nasib dengan hidup di kota yang jauh lebih bisa menjamin kehidupan Dahlia menjadi lebih layak lagi."


Dahlia memberikan sebuah alasan yang cukup masuk akal. Namun sejatinya bukan hal itu yang menjadi alasan ia pergi dari kota ini. Kebencian kepada adik dan juga adik iparnya lah yang membuat ia harus melakukan ini semua. Pergi dari kota ini sembari mengatur strategi apa yang akan ia lakukan untuk bisa membalas segala rasa sakit dan kehancuran yang ia rasakan.


"Tapi Nak, di sini pun kamu masih bisa untuk merubah nasib dan bisa hidup dengan layak. Tidak harus pergi ke luar kota."


Lagi, Melati menahan Dahlia agar tidak pergi dari kota ini. Wanita paruh baya itu tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa hidup dengan berjauhan dari putri-putri nya. Baru saja Lily resmi menjadi seorang istri, dan pastinya setelah ini ia akan hidup bersama sang suami. Belum genap dua puluh empat jam Dahlia juga ikut berencana untuk pergi dari rumah. Sungguh tidak bisa ia bayangkan bagaimana hidupnya jika jauh dari kedua putrinya.


"Keputusan Dahlia sudah bulat Bu. Dahlia akan pergi dari kota ini. Dahlia ingin memperbaiki nasib di kota lain."


"Nak... "


"Sudahlah Bu. Seberapa kuat Ibu menahan Dahlia untuk pergi, itu semua tidak akan pernah mengubah keputusan yang telah Dahlia ambil. Dahlia akan tetap pergi dari kota ini."

__ADS_1


Dahlia menutup resleting tas besar yang ia gunakan untuk mengemasi pakaian-pakaiannya. Ia jinjing tas besar itu. Ia ayunkan langkah kakinya menuju teras dan bersiap-siap untuk pergi ke terminal.


🍁🍁🍁🍁


"Kak Dahlia mengapa pergi? Tidakkah kak Dahlia tetap berada di sini saja? Agar kita tidak saling berjauhan?"


Dengan derai air mata yang membasahi pipi, Lily memeluk erat tubuh kakak semata wayangnya ini. Ia sungguh berat hati membiarkan sang kakak pergi.


Cih, tidak saling berjauhan? Justru jika aku dekat denganmu, aku akan semakin tersiksa Ly. Aku tidak akan pernah bisa menerima keadaan bahwa kamu sudah merampas apa yang menjadi kebahagiaanku. Kamu rampas semuanya dan hanya menyisakan puing-puing luka yang menancap kuat dalam dada.


"Sudahlah, jangan seperti ini. Saat ini hidupmu sudah bahagia bersama Mukhlas. Jadi kamu tidak perlu berlebihan seperti ini."


"Tapi Kak, aku sungguh menyayangi Kakak. Aku tidak ingin jika Kakak berada jauh dariku. Tetaplah tinggal di sini Kak! Tetaplah tinggal di sini!"


Lily masih berusaha menahan kepergian sang kakak. Ia sungguh mencintai Dahlia dan rasa-rasanya tidak bisa jauh darinya. Mungkin ikatan saudara kandunglah yang membuatnya berat ditinggal pergi oleh Dahlia.


Omong kosong apa lagi yang kamu ucapkan itu Ly? Jika kamu menyayangiku, seharusnya kamu menolak lamaran Mukhlas dan membiarkannya menikahiku. Namun apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu lakukan terhadapku? Kamu merebut Mukhlas dariku! Kamu merebut kebahagiaanku!


Dahlia melerai pelukan Lily. Wanita itupun hanya tersenyum tipis. "Sudahlah, aku akan segera pergi ke terminal. Jika kamu masih merengek-rengek seperti ini, aku bisa ketinggalan bus yang akan aku tumpangi."


Pada akhirnya, langkah kaki Dahlia terayun untuk mendekat ke arah tukang ojek yang akan membawanya ke terminal. Sedangkan Lily, Abdul dan juga Melati hanya bisa menatap nanar tubuh wanita yang bayang tubuhnya semakin lama semakin hilang dari pandangan mereka. Kepergian wanita itu diiringi dengan isak tangis dari orang-orang terdekatnya.


Di perjalanan menuju terminal, berkali-kali Dahlia mengusap wajahnya kasar. Nampaknya, ia sudah semakin mantap untuk meninggalkan kota ini.


Lihatlah tiga atau lima tahun yang akan datang. Aku akan kembali pulang, pastinya dengan sebuah rencana untuk menghancurkan kehidupan kalian. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah rela kalian berbahagia di atas penderitaanku ini. Aku bersumpah, akan menghancurkan kehidupan kalian, perlahan-lahan.


Ruas-ruas jalanan beraspal ini turut menjadi saksi akan sumpah yang telah diucapkan oleh Dahlia di dalam hati. Sebuah sumpah yang ia yakini bisa membalaskan semua rasa sakit yang ditorehkan oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Dan sebuah sumpah, yang akan membelenggu hati Dahlia dalam kebencian-kebencian yang tiada pernah berakhir.


.


.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2