Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 72 : Ikhlas Menerima


__ADS_3


Keheningan yang sempat menyelimuti atmosfer ruangan depan ini, seketika dipecah oleh suara tangis seorang wanita paruh baya yang membahana. Tidak hanya wanita paruh baya itu saja, suami dan juga anak sulungnya pun juga ikut menumpahkan segala rasa sakit yang terasa menghujam jiwa. Sakit dan hancur dalam waktu yang bersamaan, kala mendengar jalan hidup seperti apa yang dilalui salah satu anggota keluarga mereka.


"Astaghfirullahalazim ya Allah ... mengapa seperti ini jalan hidup yang Engkau tuliskan kepada putriku ya Allah? Mengapa semua terasa begitu pelik seperti ini? Di waktu ia kecil, ia harus berpisah dengan orang tua kandungnya. Di saat ia mulai merangkak dewasa, kehormatannya di renggut paksa oleh seorang lelaki biadab dan seakan ujian hidup itu belum cukup untuk ditanggung oleh putriku, dia di jerumuskan ke dalam kubangan nista. Ya Allah ... apa salah putriku ya Allah? Apa salah putriku?"


Lily menangis tergugu sembari menumpahkan segala bentuk protes yang ia layangkan kepada sang Maha penggenggam kehidupan. Sejak sang putri bercerita tentang kehidupan yang selama dua puluh tujuh tahun ia lalui ini, tidak ada bahasa tubuh dan ekspresi yang ia tampakkan, selain hanya sebentuk ekspresi seorang ibu yang berusaha menahan segala rasa sesak dalam dada. Menahan sayatan-sayatan pisau tak kasat mata yang telah berhasil merobek-robek jantung hatinya dan kini yang nampak hanyalah seonggok raga yang seakan tiada bernyawa.


Nyawa Lily sebagai ibu kandung Seroja, dimana selama sembilan bulan ia mengandung buah hatinya dengan limpahan cinta dan kasih sayang yang tiada bertepi, saat ini seakan dicabut paksa oleh malaikat maut yang membuat tubuhnya semakin remuk redam. Di malam hari ini, untuk ke sekian kali, tubuhnya kembali meluruh di atas lantai dengan derai air mata yang tidak bisa berhenti mengalir dari telaga beningnya. Ribuan anak panah seakan menancap tepat di jantungnya yang untuk ke sekian kalinya mengalirkan darah luka yang tak kasat mata yang berhasil menghujam jiwa.


Tidak jauh berbeda dengan Lily, Mukhlas dan Hakim juga merasakan kepedihan hati itu. Keduanya nampak menahan segala rasa yang berkecamuk dalam dada. Antara rasa sakit, marah, iba, dan juga terenyuh akan jalan hidup yang dilalui oleh Seroja. Dua lelaki berbeda generasi itu sekuat mungkin menahan perubahan emosi yang meletup-letup di dalam hati dan juga kepala, dan hanya bisa tersirat dan ditampakkan melalui bulir-bulir bening yang meluncur bebas dari kedua jendela hati mereka.


Sedangkan Ana dan Alamanda yang sedari tadi berada di dalam kamar Dahlia, juga hanya bisa duduk terpaku. Suara orang di ruang depan sayup-sayup terdengar menembus dinding kamar dan merembet masuk ke dalam indera pendengaran Ana dan Alamanda. Sebelumnya seluruh keluarga Mukhlas berada di dalam kamar Dahlia. Namun, kemudian mereka menggeser tubuh masing-masing untuk mereka bawa ke ruang depan.


Seroja berkali-kali nampak menyeka hujan tangis yang mengalir deras membasahi pipi. Sembari memegangi dadanya yang kian berdenyut nyeri kala kembali mengingat kepingan-kepingan memory itu. Berkali-kali ia juga membuang nafas kasar, agar bisa terlepas dari lilitan-lilitan tali tambang yang terasa menyesakkan dada dan membelenggu jiwa.


"S-Seroja wanita kotor. Rasanya Seroja tidak pantas untuk menjadi bagian keluarga pak Mukhlas, ibu Lily dan ustadz Hakim."


Lidah wanita yang kini juga haya bisa meluruhkan tubuhnya di atas lantai itu, masih belum terbiasa untuk memanggil Mukhlas, Lily dan Hakim dengan panggilan yang mengisyaratkan sebuah hubungan keluarga. Terlebih, tentang masa lalu yang pernah ia lalui. Seakan kian membuat wanita itu merasa rendah diri dan merasa tidak pantas untuk menjadi bagian di dalam keluarga mereka.


Lily, Hakim, dan Mukhlas saling melempar pandangan. Ucapan Seroja ini tidak lantas mereka benarkan namun justru semakin menyeret ketiga orang itu ke dalam jurang lara yang begitu menganga. Seonggok daging bernyawa dalam tubuh masing-masing seakan ikut diremas dan diremukkan oleh kepelikan hidup yang dijalani oleh Seroja.


Takdir itu tidak hanya meremukkan raga dan jiwa Seroja saja, namun juga menyisakan serpihan-serpihan luka yang bahkan mungkin akan selalu mengiris perih batin wanita itu kala menjalani masa depannya. Serpihan luka yang mungkin tidak akan pernah bisa terhapus oleh masa.

__ADS_1


Bibir Mukhlas hanya bisa terkatup. Lidahnya juga ikut kelu tidak mampu berucap sepatah katapun. Sendi-sendi di tubuhnya juga seakan kian melemas, melemahkan kekuatan raga yang ada padanya. Namun, ia ingat akan satu hal, bahwa ia harus menjadi sosok lelaki kuat yang bisa menjadi tempat bersandar bagi kerapuhan jiwa putra putrinya. Tidak sepatutnya ia merasa marah ataupun kecewa akan segala kepelikan hidup yang dialami oleh sang putri. Karena sejatinya ini semua merupakan takdir yang telah tertulis di dalam lembar kehidupan Seroja.


Dengan sisa kekuatan yang ada. Mukhlas mencoba untuk beranjak dari posisi memeluk erat tubuh sang istri yang meluruh di atas lantai. Meski langkah kakinya terasa begitu getir namun ia tetap berupaya untuk menguatkan pijakan kakinya, mengokohkan tangannya dan melapangkan dadanya agar bisa merengkuh tubuh Seroja untuk ia bawa keluar dari kubangan luka yang tengah ia rasa.


Sejenak, Mukhlas berdiri tepat di hadapan Seroja yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Nafas wanita itu juga terlihat tersengal-sengal untuk menahan isak tangis yang masih saja belum mau berhenti. Miris, sungguh sangat miris. Selama dua puluh tujuh tahun, sang putri mencoba menguatkan hatinya sendiri agar bisa senantiasa kuat dalam menjalani takdir hidup yang telah tertulis. Beruntung ia memiliki jiwa yang kuat. Meski luka, lara dan kepedihan hati selalu menghantamnya dengan membabi buta, nanun wanita ini masih tetap bertahan untuk menjalankan perannya di atas panggung sandiwara ini. Tanpa banyak membuang waktu, tubuh Mukhlas ikut menunduk. Ia gunakan lututnya sebagai tumpuan dan bergegas menarik tubuh Seroja untuk ia bawa ke dalam pelukannya.


"Apapun yang telah kamu lalui, tidak akan pernah mengubah posisimu sebagai putri Ayah, Nak. Sekotor, sehina dan sekelam apapun masa lalumu, kamu tetaplah putri Ayah dan ibu yang terlahir dari rahim seorang wanita yang memiliki hati yang mulia. Dan Ayah percaya, bahwa hatimu pun juga mulia seperti ibumu. Dan sejatinya kamu adalah wanita terhormat." Mukhlas sejenak menjeda ucapannya. Dan menghela nafas dalam. "Ini semua bukan kesalahan siapapun. Karena ini semua merupakan takdir mubram yang tidak dapat kita rubah. Oleh karena itu, kamu tidak perlu lagi merasa rendah diri. Ayah, ibu dan juga kakakmu inshaAllah akan selalu ada untuk menemanimu."


"S-Seroja malu. Seroja malu untuk menjadi salah satu bagian dari keluarga pak Mukhlas. Masa-masa yang telah Seroja lalui pastinya akan mempermalukan keluarga pak Mukhlas."


Ada sepercik kehangatan yang mengalir di dada Seroja kala ia membenamkan kepalanya di dada bidang milik lelaki paruh baya ini. Dekapan penuh cinta dan kasih sayang dari sosok seorang ayah yang selama ini tidak pernah ia rasakan, seketika memenuhi ruang-ruang hatinya kala Mukhlas, memeluk erat tubuhnya. Mungkin inilah yang dinamakan dengan sebuah ikatan darah. Pelukan lelaki ini terasa begitu menenangkan jiwanya yang tengah terkoyak.


Mukhlas mencoba menguatkan Seroja sembari mengusap punggung sang putri dengan penuh kelembutan. Ia paham, jika saat ini yang dibutuhkan oleh Seroja hanyalah rengkuhan tangan juga pelukan hangat dari keluarganya. Dengan begitu, mereka bisa membawa Seroja untuk segera keluar dari kubangan luka yang mungkin masih menenggelamkan hatinya.


Kini, Mukhlas melerai sedikit pelukannya. Ia tatap lekat manik coklat milik sang putri yang masih dihiasi oleh kabut lara. Dengan lembut, ia kecup kening sang putri dengan intens, seakan mentransfer kekuatan untuk Seroja. "Kamu adalah putri Ayah. Apapun adanya dirimu dan bagaimana pun masa lalumu tidak akan pernah bisa mengubah ketetapan bahwa Ayah adalah Ayah kandungmu dan kamu adalah putri Ayah yang begitu Ayah cinta."


"A-Ayah ...!"


"Iya Nak, ini Ayah. Ayah kandungmu. Di mana di dalam tubuhmu mengalir darah milik Ayah."


Layaknya sebuah tanggul yang diterjang oleh banjir bandang, air mata Seroja kembali tumpah ruah membasahi wajahnya. Tangis pilu yang sebelumnya terdengar begitu menyayat hati, kini berubah menjadi tangis bahagia yang dipenuhi oleh rasa bahagia dan rasa syukur yang membuncah. Kini, dia lah yang mendekap erat tubuh lelaki paruh baya ini.


"Ibu pun juga begitu. Tidak perduli dengan apa yang menjadi masa lalumu, Ibu tetaplah ibu kandungmu Nak. Seorang wanita yang begitu mencintaimu."

__ADS_1


Ucapan Lily berhasil membuat perhatian Seroja terpecah. Ia mengurai pelukannya dari tubuh sang ayah dan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat, Lily berjalan pelan mendekat ke arahnya.


"I-Ibu..."


Sudah tidak kuasa menahan segala gejolak rasa yang berkecamuk dalam dada, tanpa berpikir panjang, Lily juga ikut memeluk tubuh sang putri dengan erat. Wanita paruh baya itu menumpahkan rasa bahagianya karena bisa dipertemukan kembali dengan sang putri di dalam pelukan Seroja.


"Maafkan Ibu dan juga Ayah, Nak. Seharusnya kami bergerak cepat untuk bisa menemukanmu. Namun saat itu, kehilanganmu menjadi ujian terdahsyat yang Ibu lalui sehingga membuat jiwa Ibu terguncang dan bahkan menjelma menjadi sosok wanita yang mengalami gangguan mental. Setiap hari, dengan penuh kesabaran, ayahmu mengurus Ibu. Bertahun-tahun Ibu berada di dalam guncangan jiwa itu, namun Ibu bersyukur karena Allah menghadirkan sosok malaikat seperti ayahmu yang senantiasa setia mendampingi Ibu hingga Ibu sembuh seperti sedia kala. Maafkan kami Nak, maafkan kami."


Seroja menggeleng lirih. Ia tidak mungkin menyalahkan siapapun karena kembali lagi, ini semua memang sebuah jalan hidup yang harus ia lalui. "Ayah, Ibu tidak bersalah sama sekali. Seroja percaya bahwa ini semua memang hal terbaik yang diberikan oleh Allah untuk Seroja."


Ikut menyusul ayah dan juga ibunya, Hakim mendekat ke arah Seroja. Ia pun juga ikut memeluk tubuh sang adik.


"Kakak!"


"Tetaplah menjadi Seroja yang cantik baik lahir maupun batinnya. Beruntunglah kamu menjadi salah satu hamba Allah yang mendapatkan hidayahNya, Dik. Dengan hidayah itu inshaAllah bisa menjadikanmu sosok wanita yang jauh lebih baik lagi. Allah tidak pernah perduli bagaimana masa lalu hamba-hambaNya, yang terpenting saat ini kamu bisa merubah dirimu untuk menjadi sosok hamba yang jauh lebih baik lagi. Di mata manusia, seribu kebaikan bisa luruh dan menghilang dengan satu kesalahan. Namun di mata Allah SWT, seribu bahkan sejuta keburukan dan dosa seorang hamba bisa hilang tanpa bekas dengan satu perbuatan, yakni taubatan nasuha. Kakak yakin, adik Kakak ini sudah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Semoga kamu senantiasa istiqomah, Adikku!"


Suara tangis itu kembali memenuhi langit-langit ruangan ini. Sebuah potret kehidupan yang terlihat mengharukan. Setelah dipisahkan oleh jarak yang jauh dan waktu yang tidak sebentar, pada akhirnya mereka kembali dipertemukan dan dikumpulkan di dalam sebuah bingkai keluarga yang utuh. Jiwa-jiwa yang sebelumnya rapuh, kini seakan mendapatkan kekuatan penuh untuk bisa menjalani sisa-sisa usia yang masih harus mereka tempuh. Sayap-sayap yang patah, kini kembali sempurna tatkala salah seorang anggota keluarga yang sebelumnya hilang, kinikembali mereka temukan dan mereka rengkuh dalam dekapan. Sayap itu kembali sempurna, dan siap mereka kepakkan untuk bisa meraih kehidupan yang jauh lebih sempurna dari sebelumnya.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Mohon maaf, part Randy, Fakhru dan Diba belum bisa saya hadirkan ya Kak.. Mau saya jadikan satu dengan part ini namun sepertinya akan panjang sekali. Mohon bersabar ya Kak🥰🥰🥰


__ADS_2