Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 61 : Persiapan


__ADS_3


"Umi benar-benar merindukanmu, Nak. Sudah lama sekali rasanya kamu tidak datang kemari."


Di depan teras rumah milik Abdul, Fakhru terlihat duduk di sebuah kursi dengan ditemani oleh berbagai macam kudapan berupa kue-kue kering. Tidak lupa, secangkir teh hangat juga turut menemani kue-kue kering itu untuk bisa dinikmati.


"Terimakasih banyak Umi."


Fakhru mulai menyeruput teh hangat yang ada di hadapannya dan menyomot kue kering itu untuk ia masukkan ke dalam mulut. Selalu saja, apapun yang disuguhkan oleh keluarga Diba, hanya meninggalkan jejak rasa nikmat tiada tara.


"Mohon maaf ya Umi, karena saya jarang ke panti. Agenda di tempat saya dan ustadz Hakim memang sedang banyak-banyaknya, dan tidak bisa ditinggal."


Mencoba menanggapi rasa rindu yang ditampakkan melalui bahasa tubuh umi Aisyah, Fakhru menjelaskan kesibukannya di lokalisasi. Karena memang pada dasarnya hal itulah yang membuatnya menjadi jarang berkunjung ke panti.


Senyum simpul tersungging di bibir wanita paruh baya itu. "Tidak apa-apa Nak, Umi paham sekali dengan aktivitasmu di luar sana." Umi Aisyah sedikit menjeda ucapannya dan kemudian ia lanjutkan. "Oh iya, apakah kamu yang akan mengantar Diba ke tempat saudaranya?"


Fakhru mengangguk pelan. "Iya Umi, Fakhru yang akan mengantar Diba pergi ke tempat saudaranya. Kasihan jika Diba berangkat sendirian. Hari sudah beranjak sore dan jika sampai larut malam pasti akan sangat berbahaya untuk Diba yang mengemudikan mobilnya sendiri. Terlebih jalanan yang akan dilalui sedikit berada di pelosok daerah bukan?"


"Itu benar sekali Nak," ucap Aisyah membenarkan perkataan Fakhru. Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum penuh kelegaan. "Alhamdulillah ada kamu yang bersedia mengantarkan Diba, Nak. Ibu tidak tahu mau mintak tolong kepada siapa jika kamu tidak menawarkan diri untuk menemani Adiba. Ayah Adiba sedang menghadiri acara di balai desa, dan mungkin baru seusai shalat maghrib nanti beliau akan pulang."


"Umi tidak perlu berterimakasih seperti itu, ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama muslim untuk saling membantu."


Obrolan Fakhru dan umi Aisyah terpangkas kala derap langkah kaki seseorang mulai terdengar di indera pendengaran mereka. Tak selang lama, Adiba menyusul sang ibu dan juga Fakhru di depan teras.


"A' bisa kita berangkat sekarang? Nanti takut kemalaman tiba di sana."


Masih dalam posisi berdiri, Adiba mengajak Fakhru untuk segera berangkat. Pemuda tampan nan shaleh itu menakutkan pandangannya ke arah Adiba dan sekilas menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


Fakhru mengangguk pelan. "Baiklah Diba, mari kita berangkat. Benar apa katamu, mumpung hari masih belum terlalu sore."


Fakhru beranjak dari posisi duduknya. Ia mendekat ke arah umi Aisyah untuk berpamitan. Ia raih telapak tangan umi Aisyah dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. "Saya berangkat terlebih dahulu ya Umi."


Umi Aisyah mengangguk. "Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya. Ibu titip Adiba."


Fakhru hanya menganggukkan kepala. Setelahnya dilanjutkan oleh Adiba yang berpamitan kepada sang ibu.


"Diba pamit ya Umi."


"Iya Nak, Hati-hati. Titip salam untuk keluarga di sana ya."

__ADS_1


"Iya Umi, inshaAllah nanti Diba sampaikan."


Pada akhirnya, Diba dan Fakhru mengayunkan langkah kaki mereka untuk bersegera meninggalkan tempat ini. Keduanya mengambil posisi masing-masing di dalam mobil. Perlahan, mobil yang dikemudikan oleh Fakhru bergerak dan mulai meninggalkan pelataran rumah milik umi Aisyah.


Wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti. Sejak pertama bertemu dengan pemuda tanpan nan shaleh itu, ia benar-benar telah dibuat jatuh cinta akan ketampanan dan kepribadian Fakhru.


Semoga Engkau mendengarkan doa-doa yang setiap malam aku panjatkan kepadaMu ya Rabb. Semoga Adiba memang benar-benar berjodoh dengan Fakhru. Aamiinn...


🍁🍁🍁🍁🍁


"Iya nak Randy, kamu ikut sekalian saja ya. Biar ramai."


Selepas menunaikan ibadah shalat Asar, Mukhlas, Lily, Randy dan Hakim terlihat duduk-duduk di sebuah gazebo yang berada di kebun belakang. Sembari menikmati udara sore hari ini, keempat orang itu terlihat larut dalam sebuah obrolan sembari mempersiapkan segala keperluan lamaran Hakim malam nanti. Sebenarnya tidak banyak yang dipersiapkan oleh keluarga Hakim. Hanya beberapa hantaran saja yang mereka bawa sebagai buah tangan untuk Ana dan semua orang yang tinggal bersamanya.


Sembari menatap ikan-ikan nila yang ada di kolam, Randy hanya bisa mengukir sedikit senyum di bibirnya. "Tidak perlu Bu. Setelah ini saya pulang saja. Lagipula tidak enak, jika saya ikut keluarga pak Mukhlas untuk datang ke rumah suster Ana."


"Loh tidak apa-apa jika kamu ikut Nak. Bagi Bapak dan ibu, kamu sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri," ucap Mukhlas ikut membujuk Randy untuk ikut ke acara lamaran sang putra.


"Iya Mas, benar kata ayah dan juga ibu. Mas Randy ikut saja. Barangkali mas Randy bisa bertemu jodoh di rumah Ana," sambung Haki dengan seringai bercanda.


Randy tergelak lirih. "Maksud ustadz Hakim, jodoh saya suster Ana? Jika jodoh saya suster Ana, lalu ustadz Hakim ingin menikahi siapa?"


Hakim juga ikut tergelak. Ia ingat bahwa ia belum menceritakan kepada Hakim perihal Seroja. "Astaghfirullah aku lupa belum bercerita kepadamu Mas."


"Begini Mas, selain suster Ana, ada seorang wanita yang juga tinggal di sana. Namanya Seroja. Dia sosok wanita dewasa yang juga memiliki paras begitu cantik. Salah seorang teman saya sempat mengungkapkan perasaannya kepada Seroja, namun hanya ada penolakan yang ia dapatkan."


Randy sedikit terkejut mendengar penuturan Hakim. Tidak ia sangka jika pesona mantan istrinya itu benar-benar terlihat nyata. Sampai-sampai ada seorang laki-laki yang menyatakan perasaan cinta kepadanya.


"Seperti itukah Tadz? Memang apa yang membuat wanita itu menolak lelaki itu?"


Hakim menghela nafas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan. "Entahlah Mas, saya juga kurang paham. Teman saya itu belum sempat menjelaskan apapun kepada saya mengapa ia ditolak oleh Seroja. Namun, dia sempat mengatakan jika Seroja masih terikat sebuah rasa terhadap lelaki yang ada di masa lalunya."


Randy semakin terkesiap pada saat mencerna perkataan Hakim. Lelaki itu tidak bergeming sama sekali, dan nampak larut dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang ia pikirkan.


Hakim tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Randy yang menjadi sukar diartikan itu. "Barangkali mas Randy bisa berjodoh dengan Seroja. Tidak ada yang tahu bukan, jika Seroja menolak kehadiran teman saya itu dan malah terpikat pada mas Randy?"


Mukhlas yang mendengar ucapan sang putra juga hanya bisa tergelak lirih. Lelaki paruh baya itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Nak, kamu jangan coba-coba menjodoh-jodohkan nak Randy ini dengan wanita bernama Seroja itu. Rasa cinta nak Randy ini telah habis ia berikan kepada sang mantan istri, dan tak ada lagi yang tersisa." Mukhlas menautkan pandangannya ke arah Randy. "Benar begitu kan Nak?"


Randy menatap netra Mukhlas dan Hakim secara bergantian. Lelaki itupun hanya bisa tersenyum kikuk dibuatnya.

__ADS_1


Kalau saja mereka tahu, bahwa mereka menceritakan seorang wanita yang sama, entah apa yang menjadi penilaian mereka. Wanita yang diceritakan oleh ustadz Hakim adalah mantan istri yang dimaksud oleh pak Mukhlas yang begitu aku cintai dan ... tidak akan pernah terganti.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mbak, aku benar-benar gugup!"


Setelah menunaikan ibadah shalat Isya', Ana mematutkan tubuhnya di depan cermin. Berkali-kali ia mere*mas-re*mas telapak tangannya untuk menghalau segala kegugupan yang ia rasa.


Seroja tersenyum simpul. Ia paham betul dengan apa yang dirasakan oleh Ana. Seorang wanita cantik berhati mulia yang sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Dan kini, seorang laki-laki sempurna seperti ustadz Hakim datang kepadanya dengan membawa niat baik untuk mempersunting wanita berhati malaikat itu. Seroja menghela nafas pelan, ternyata memang benar apa yang ada di dalam kitab al-qur'an, bahwa lelaki yang baik adalah untuk wanita yang baik pula.


Perlahan, Seroja raih telapak tangan Ana. Ia genggam erat tangan yang sudah terasa begitu dingin itu. "Suster Ana terlihat cantik sekali malam ini. Jadi, tidak ada yang perlu suster Ana takutkan."


"Tapi Mbak, aku benar-benar takut jika...."


"Sssttt ... sudahlah Sus. Jangan lagi suster Ana mengatakan hal itu. InshaAllah ustadz Hakim dan keluarga akan menerima keadaan suster Ana dengan hati yang lapang." Seroja kembali tersenyum simpul. "Bukankah suster Ana sendiri yang mengatakan bahwa jodoh itu sudah tertakar dan tidak akan pernah tertukar? Jika memang ustadz Hakim adalah jodoh yang telah dituliskan oleh Allah, apapun keadaan suster Ana, pasti akan disatukan dengan ustadz Hakim."


Ana tersenyum simpul. Mendengar ucapan Seroja, membuat hatinya sedikit lebih tenang. Ia pun memeluk tubuh Seroja yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.


"Terimakasih mbak Seroja. Aku sekarang benar-benar merasa lebih tenang."


"Sama-sama Sus!"


Seroja mengusap-usap punggung Ana. Ada kegetiran yang ia rasakan kala ia bebicara tentang jodoh seperti ini. Pikirannya kembali menerawang, teringat akan seorang laki-laki yang masih merajai hati dan juga pikirannya. Namun, seketika ia sadar bahwa tidak seharusnya ia terjebak dalam perasaan terhadap sang mantan. Karena saat ini lelaki itu pasti sudah hidup bahagia bersama Rosmala dan si kembar.


Mas Randy ... semoga kamu senantiasa berbahagia dengan keluarga kecilmu. Semoga si kembar bisa tumbuh sempurna di dalam dekapan keluarga yang utuh. Rasa ini masih tersimpan rapi untukmu, Mas. Dan entah bagaimana caranya untuk bisa melumpuhkan ingatanku tentang dirimu.


Suasana melankolis yang tercipta di antara Seroja dan Ana terpangkas ketika terdengar suara seseorang yang mengucap salam dari arah pintu depan. Seroja mengurai sedikit pelukannya dan kembali tersenyum simpul di hadapan Ana.


"Tamu kita sudah tiba Sus. Mari, kita ke depan!"


Ana mengangguk samar. Lagi, ia menghirup udara dalam-dalam, mencoba mengisi rongga dadanya dengan oksigen, kemudian ia hembuskan perlahan.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Hihihi hihihi hihihi... Tahan sebentar ya Kak.. Mohon maaf telat sekali update episode terbarunya. Keperluan di RL sedang banyak jadi saya hanya bisa update 1 episode setiap harinya. Mohon dimaklumi ya kak😚😚 Dan mohon maaf juga karena saya jadi jarang membalas komentar kakak-kakak semua satu persatu. Namun percayalah, saya tetap membacanya dan hal itulah yang menjadi suplay semangat untuk tetap melanjutkan cerita ini hingga tamat.


Salam love, love, love❤️❤️❤️


__ADS_2