Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 64 : Dia? Dahlia?


__ADS_3


Ana PoV


Dengan tangan bergetar, aku mengambil kotak beludru berwarna merah yang ustadz Hakim berikan. Aku tatap dengan intens sebuah cincin yang terbuat dari emas putih yang terlihat begitu cantik itu. Sekilas, aku melihat raut wajah orang-orang yang ada di hadapanku ini. Wajah ustadz Hakim yang seakan memancarkan sebuah rasa cemas dengan jawaban apa yang akan aku berikan. Dan raut wajah kedua paruh baya yang juga dipenuhi oleh rasa penasaran akan apa yang menjadi keputusanku.


Aku kembali menatap cincin putih ini. Aku rain benda itu dan kemudian aku kenakan di jari manisku. Seperti instruksi yang diberikan oleh ustadz Hakim, dengan aku memakai cincin ini, artinya aku menerima pinangan ustadz Hakim.


"Saya Firda Ana Syafira, dengan sadar dan tanpa adanya unsur keterpaksaan, menerima lamaran ustadz Hakim." Sejenak ku jeda ucapanku dan.. "Bismillahirrahmanirrahim ... saya bersedia untuk menjadi pendamping hidup ustadz Hakim!"


"Alhamdulillah ya Allah..."


Aku dengar semua orang yang duduk di ruangan ini mengucap hamdalah bersamaan. Kulihat rona penuh kebahagiaan juga terukir jelas di raut wajah orang-orang yang berada di ruangan ini. Terlebih ustadz Hakim. Ustadz muda itu nampak begitu bahagia mendengar jawaban apa yang telah aku berikan. Tiada henti ia mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangan sebagai isyarat rasa syukur akan nikmat yang telah Allah berikan.


"Terimakasih Ana, terimakasih. Karena engkau bersedia menerima pinanganku. Aku sungguh berbahagia. Sangat-sangat bahagia."


Hatiku menghangat mendengar ucapan ustadz muda ini. Ah, rasa-rasanya, apa yang diucapkan oleh ustadz Hakim sangatlah berlebihan. Karena seharusnya akulah yang mengucapkan rasa terimakasih itu.


"Saya yang seharusnya berterimakasih kepada ustadz Hakim. Meskipun ada banyak kekurangan dalam diri saya, namun ustadz Hakim dengan hati besar dan lapang bisa menerima keadaan saya. Saya benar-benar berterimakasih."


Lelaki paruh baya yang mendengar ucapanku, menyunggingkan seutas senyum tipis di bibirnya. Kulihat, beliau menautkan pandangannya ke arahku.


"Jodoh kalian sudah tertulis di Lauhul mahfudz, Nak. Sehingga apapun kekurangan yang ada dalam dirimu tidak akan pernah mengubah ketetapan dari Allah. Takdir mubram, yang tidak akan pernah bisa berubah." Kini pandangan lelaki paruh baya itu tertuju kepada Hakim. "Nak, malam ini Ayah, Ibu dan juga nak Seroja menjadi saksi akan apa yang telah kamu ucapkan. Kamu sudah mengetahui segala kekurangan yang nak Ana miliki dan dengan tangan terbuka, kamu menerimanya. Ayah harap, kamu bisa bertanggung jawab atas apa yang telah menjadi keputusanmu ini."


Kudengar pak Mukhlas memberikan petuahnya kepada ustadz Hakim. Dari semua yang beliau ucapkan seakan mengingatkan lelaki itu untuk bertanggung jawab atas keputusan besar yang sudah ia ambil, di mana ia telah memilihku. Ya, memilih seorang wanita yang penuh kekurangan seperti aku ini untuk menjadi pendamping hidupnya.


"InshaAllah, Hakim akan bertanggung jawab atas apa yang telah Hakim putuskan Yah. InshaAllah, Hakim akan tetap berada di sisi Ana, apapun keadaannya. Semoga ini semua bisa menjadi salah satu jalan bagi Hakim meraih surga Allah, dengan menerima apapun yang ada dalam dirinya. Kesabaran dan keikhlasan dalam menerima ketetapan dari Allah, semoga menjadi jalan bagi Hakim dan Ana untuk meraih jannah Nya."


"Aamiin ya Rabbal alaamiin. Ayah dan Ibu percaya bahwa kamu adalah seorang laki-laki yang tidak pernah berkhianat akan janji yang telah kamu ucapkan. Ayah dan Ibu hanya bisa mendoakan, semoga kebahagiaan senantiasa mengiringi langkah kakimu dan juga calon istrimu."


"Aamiin, aamiin ya rabbal alaamiin..."

__ADS_1


Aku mendengar dengan seksama percakapan ayah dan anak yang duduk di hadapanku ini. Tidak ada sebuah rasa yang memenuhi relung-relung seonggok daging bernyawa dalam tubuhku ini selain sebuah rasa bahagia yang terasa begitu membuncah. Sebuah rasa yang telah berhasil mengikis habis segala rasa takut, rendah diri bahkan rasa tidak memiliki arti sebagai seorang wanita dikarenakan sudah tidak memiliki rahim sebagai tempat dimulainya sebuah kehidupan baru, berubah menjadi rasa bahagia sekaligus rasa haru yang bercampur menjadi satu. Hingga segala rasa itu bercampur menjadi satu, dan hanya menyisakan binar-binar kebahagiaan yang begitu kentara yang terlukis jelas di wajah. Sebuah kebahagiaan yang aku yakini bisa juga dirasakan oleh para pembaca semua.


Fabiayyi ala irobbikuma tukadzibanΒ , maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan. Ayat itu sampai diulang sebanyak tiga puluh satu kali di dalam surat Ar-Rahman seakan menjadi pengingat untukku bahwa aku, sebagai seorang hamba seharusnya senantiasa bersyukur akan apa yang telah Allah berikan dan hadirkan untukku. Ujian demi ujian yang datang menyapa dan menghampiri jalan hidupku ternyata di balik itu semua Allah telah mempersiapkan sebuah penawar yang bisa meredam, menghapus bahkan membuang jauh segala kepahitan yang aku rasakan. Ya, Allah telah menghadirkan sosok seorang laki-laki sempurna seperti ustadz Hakim untuk menjadi pelengkap ketidaksempurnaanku.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hakim PoV


Aku membuang nafas lega karena pada akhirnya, wanita yang telah berhasil mencuri perhatianku menerima pinanganku. Sungguh tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini selain banyak-banyak bersyukur akan apa yang telah Allah berikan. Sebentar lagi, tangan ini akan terulur untuk menyambut tangan seorang wanita yang akan aku rengkuh ke dalam pelukan penuh cinta di bawah ikatan suci pernikahan.


Aku sedikit terkejut kala mendengarkan penuturan Ana di mana ia bercerita akan kepelikan hidup yang ia alami. Sungguh, sebuah cerita hidup yang terasa begitu menyayat hati yang aku yakin tidak setiap orang bisa sabar, tabah dan ikhlas dalam menjalaninya. Namun Ana berbeda. Di mataku, dia adalah wanita tangguh dengan keikhlasan yang menyelimuti hatinya. Dengan ikhlas, ia menjalankan perannya sebagai seorang hamba di dunia yang fana ini.


Kekurangan yang ada di dalam diri Ana, sungguh tidak sedikitpun meruntuhkan niatku untuk mempersuntingnya. Allah telah memberikanku ketetapan dan ketetapan hati untuk memilih Ana. Dan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan aku membatalkan niat baikku ini. Aku selalu percaya, bahwa Allah selalu menyisakan sebuah hikmah di balik ujian yang Dia berikan kepada hambaNya.


Lalu bagaimana jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mendapatkan keturunan? Aku bahkan sudah sangat ikhlas menerimanya. Aku berpikir masih banyak cara lain untuk bisa memperoleh generasi penerus meski tidak berasal dari rahim istriku. Aku percaya, Allah sudah mempersiapkan sesuatu yang indah untuk masa depanku nanti.


Aku mencintai Ana dengan utuh. Apapun kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya, inshaAllah dapat aku terima dengan hati yang lapang dan ikhlas. Semoga kehidupan yang akan aku jalani bersama Ana nanti bisa membuat kami menjadi hamba Allah yang bisa lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Berpasrah, berserah akan jalan yang telah dipilihkan oleh sang Maha penggenggam kehidupan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Suasana yang sebelumnya dipenuhi oleh keharuan, kini seketika berubah menjadi suasana hangat yang dipenuhi oleh canda dan tawa. Orang-orang yang berada di tempat ini terlihat begitu hangat bercengkerama, bercerita tentang apapun yang pernah mereka lalui. Sembari menikmati bolu pelangi yang ada di hadapan mereka, mereka terlihat semakin larut dalam keakraban itu.


"Nak, bolehkah Ibu menumpang ke kamar mandi?"


Obrolan penuh kehangatan itu terpangkas di kala Lily meminta izin untuk ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi, wanita paruh baya itu sepertinya nampak tengah menahan hasrat ingin membuang sesuatu di kamar mandi.


"Silakan Bu. Ibu lurus saja kemudian belok kiri. Nanti di sebelah dapur ada kamar mandi di sana," ucap Seroja sembari menunjukkan arah ke kamar mandi.


Lily mengangguk pelan. "Terimakasih Nak."


Lily mulai beranjak dari posisi duduknya. Sebelum ia mengayunkan kakinya, tangan Mukhlas menahan pergerakan tubuh istrinya ini. "Mau Ayah antar, Bu?"

__ADS_1


Lily terkekeh geli sembari menggelengkan kepalanya samar. "Tidak perlu Yah. Ibu bisa sendiri."


"Ya barangkali Ibu takut ke kamar mandi sendiri. Maka dari itu akan Ayah temani."


Lily semakin tergelak. Selalu saja seperti ini, sejak dulu sang suami tidak pernah berubah. Selalu memberikan perhatian penuh kepadanya. "Tidak Yah. Ibu bisa sendiri. Lagipula Ibu bukanlah anak kecil yang takut ke kamar mandi."


Sedikit berdecak, Lily mulai mengayunkan kakinya untuk bersegera ke kamar mandi. Rasa-rasanya ia sudah sangat tidak tahan untuk membuang sesuatu dari dalam perutnya. Sesuai arahan yang diucapkan oleh Seroja, pada akhirnya wanita paruh baya itu berhasil menemukan kamar mandi itu.


Tak selang lama, setelah ia selesai dengan segala urusannya, ia berniat kembali ke ruang tamu. Dari tempatnya ia berada saat ini terdengar orang-orang yang berada di ruang tamu masih bercengkerama dalam suasana penuh kehangatan. Kala telapak kaki Lily melintas di depan sebuah kamar dengan gordyn yang separuh terbuka, entah apa yang membuat wanita paruh baya itu menghentikan langkah kakinya. Pandangannya tertaut pada sosok seorang wanita yang tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakangi pintu.


"Siapa wanita itu? Apakah ia ibu dari Seroja? Namun sedari tadi Seroja sama sekali belum bercerita tentang ibunya. Ah, mungkin ia memang belum sempat bercerita."


Lily bermonolog lirih tentang siapa gerangan wanita yang saat ini tengah terbaring di atas ranjang itu. Langkah kakinya hampir terayun untuk kembali ke ruang depan. Namun seketika ia urungkan niatnya kala wanita yang tengah berbaring di atas ranjang itu mulai bergeliat. Perlahan, tubuh wanita itu berbalik hingga kini wajahnya dapat Lily lihat dengan jelas.


Kedua bola mata Lily terbelalak dan membulat sempurna kala netranya menatap lekat wajah wanita itu. Tubuhnya bergetar hebat. Bibirnya menganga lebar. Tiada percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya ini. Meski wajah wanita itu sudah nampak tua dengan keriput-keriput tipis yang menghiasi wajah, namun Lily bisa dengan mudah mengenali siapa wanita itu. Wanita yang sudah sejak dua puluh tujuh tahun yang lalu ia cari keberadaannya, yang hilang bak di telan bumi kini ada di hadapannya.


"Kak Dahlia?!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Untuk kak Maimun yang bertanya bagaimana cara nge vote, klik banner seperti ini, lalu cari Cahaya cinta untuk Seroja ya Kak😘😘



Nah, tinggal di vote. Bukan hanya untuk kak Maimun. Para pembaca setia Cahaya Cinta untuk Seroja yang ingin mendukung author remahan kulit kuaci ini bisa juga memberikan vote nya.. Berapapun, akan saya Terima dengan penuh rasa syukur ☺☺☺


Terima kasih Kakak❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2