Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 51 : Meminta Bantuan


__ADS_3


"Maaf ya Mbak, rumahnya sempit dan juga berantakan."


Seroja merapikan sisa-sisa kain perca yang berserakan di lantai. Sejak pagi ia dan suster Ana memang sibuk berada di surau untuk acara bakti sosial dan baru selesai sore ini, sehingga sisa-sisa kain semalam di mana ia menyelesaikan pesanan salah satu pelanggan belum sempat ia bersihkan sama sekali. Alhasil ruang depan rumahnya ini nampak sedikit berantakan.


"Tidak apa-apa Mbak, saya yang justru minta maaf karena merepotkan. Kalau tidak di sini, saya tidak tahu harus beristirahat di mana lagi."


Adiba mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu. Pandangan matanya menyapu ke arah sekeliling. Dan terlihat banyak sekali baju-baju yang menggantung di sisi-sisi tembok.


"Oh iya Mbak, mau minum apa? Biar saya buatkan," ucap Seroja menawarkan.


Adiba menggeleng pelan. "Tidak perlu repot-repot Mbak. Perut saya sudah kenyang. Oh iya Mbak, panggil saya Adiba saja, tidak perlu memakai embel-embel mbak. Sepertinya usia saya jauh di bawah mbak Seroja."


Seroja tergelak lirih. "Baiklah kalau begitu Diba."


Adiba masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia nampaknya benar-benar terkesima dengan hasil jahit wanita yang kini duduk di hadapannya ini. "Mbak Seroja sudah lama memproduksi pakaian-pakaian ini?"


Adiba bangkit dari posisi duduknya dan mendekat ke arah gamis dengan motif floral berwarna salem. Ia melihat dengan lekat hasil jahitan Seroja ini, dan sungguh hasilnya begitu halus.


"Belum terlalu lama Diba, mungkin baru beberapa minggu."


Setelah puas melihat dengan detail hasil jahitan Seroja, Diba memilih untuk kembali duduk di tempat semula. "Oh iya Mbak, saya dengar mbak Seroja ini teman masa kecilnya a' Fakhru ya?"


Seroja yang sedang berbalas pesan dengan pelanggan-pelanggan baru hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan Diba ini. "Iya, Diba. Aku menang teman masa kecil Fakhru. Kok kamu bisa tahu?"


"Tadi a' Fakhru yang bercerita sendiri kalau mbak Seroja ini teman masa kecilnya. Oh iya Mbak, apa boleh saya sedikit bertanya tentang a' Fakhru?"


Pandangan mata Seroja yang sebelumnya terpaku pada layar ponselnya, kini ia geser untuk menatap wajah Adiba. Ia letakkan ponsel di atas meja dan mulai fokus dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Diba. "Bertanya perihal apa, Diba? Kalau aku tahu jawabannya pasti akan aku jawab."

__ADS_1


Adiba tersenyum simpul. "Makanan kesukaan a' Fakhru apa Mbak?"


"Makanan kesukaan Fakhru?" Sejenak Seroja jeda ucapannya. Namun setelah itu bibirnya nampak menganga. "Aaahhhh .... apakah ini artinya kamu...?"


Adiba menundukkan wajahnya. Nampaknya sinyal yang tersembunyi di balik pertanyaan makanan apa yang disukai oleh Fakhru, bisa ditangkap oleh Seroja. Gadis itu pun hanya bisa tersipu malu.


"MashaAllah ... ternyata ada yang memendam perasaan terhadap Fakhru?" Seroja tergelak lirih. Ia mencoba untuk mengingat-ingat tentang makanan apa yang disukai teman kecilnya ini. "Hmmmm ... sejak kecil Fakhru itu suka sekali dengan cilor, cilok dan juga seblak, Diba. Dulu ia seringkali membeli jajanan itu kemudian dibagi-bagikan."


"Sungguh, hanya makanan itu Mbak?" Adiba sedikit tidak percaya karena makanan sederhana itu yang disukai oleh Fakhru.


"Iya Diba, hanya makanan sederhana seperti itu. Namun kamu harus hati-hati, Fakhru tidak bisa makan udang. Dia langsung alergi jika makan udang."


Tetiba Seroja ingat saat salah seorang teman masa kecilnya mengadakan acara ulang tahun. Ada udang di dalam kotak makanan itu, dan setelah Fakhru memakannya seketika kulitnya memerah dan gatal-gatal.


Adiba mengangguk-anggukkan kepala. "Terimakasih banyak mbak Seroja. Sepertinya saya harus banyak bertanya tentang a' Fakhru kepada mbak Seroja. Karena saya yakin mbak Seroja jauh lebih mengenal a' Fakhru daripada saya."


Seroja hanya tergelak lirih. Pada dasarnya ia tidak terlalu paham dengan bagaimana Fakhru. Karena semenjak usia lima tahun, ia tidak pernah lagi bersama-sama dengan lelaki itu. "Sepertinya kamu terlalu berlebihan Diba. Aku tidak terlalu banyak mengenal Fakhru. Mungkin ustadz Hakim yang saat ini jauh lebih mengenal Fakhru. Aku rasa kamu bisa banyak bertanya dari ustadz Hakim."


Seroja sedikit terperanjat. "Kamu dan ustadz Hakim sepupuan?"


"Iya Mbak. Ayah ustadz Hakim kakak kandung ayah saya."


"MashaAllah ... aku sungguh tidak menyangka." Seroja kembali mengulas sedikit senyum di bibirnya. "Baiklah kalau begitu Diba, aku akan membantumu untuk bisa lebih dekat dengan Fakhru. Semoga Allah memberikan ridho untukmu ya."


"Aamiin, aamiin, aamiin ... terimakasih banyak mbak Seroja."


🍁🍁🍁🍁


"Ibu makan dulu ya."

__ADS_1


Seroja duduk di kursi plastik kecil yang berada di sisi ranjang Dahlia sembari membawa sebuah piring lengkap dengan nasi, sayur dan juga lauk. Dengan telaten, Seroja menyuapi sang ibu yang saat ini dalam posisi bersandar di head board ranjang. Meski wanita paruh baya itu terlihat tidak terlalu na*fsu untuk makan, namun sedikit demi sedikit makanan itu masuk ke dalam mulut sang ibu.


Menatap lekat wajah sang ibu, membuat hati Seroja menghangat seketika. Ia teramat bersyukur karena hubungannya dengan sang ibu, semakin hari semakin membaik. Wajah yang sebelumnya menampakkan raut wajah penuh kebencian ketika bertatap netra dengannya, kini berubah menjadi raut wajah penuh keteduhan. Kondisi jiwa wanita paruh baya itu nampak semakin membaik dari hari ke hari.


"Alhamdulillah makanan ini sudah habis. Sekarang Ibu kembali beristirahat ya."


Seroja mengusap sudut bibir Dahlia yang sedikit kotor karena sisa nasi yang menempel di sana. Setelah itu ia beranjak dari posisi duduknya bermaksud untuk meletakkan piring kotor ini di dapur.


"Lili ... Lili ... Lili ... "


Langkah kaki Seroja terhenti kala sang ibu terdengar memanggil nama seseorang. Ia urungkan niatnya untuk ke dapur dan memilih untuk kembali duduk di kursi plastik yang sebelumnya ia duduki.


"Ibu .... Siapa Lili? Mengapa sejak kemarin Ibu terus memanggil nama Lili?"


"Lili ... Lili ... Lili...."


Lagi, Dahlia kembali memanggil nama itu. Dahi Seroja semakin nampak berkerut kal sang ibu lagi-lagi memanggil nama Lili.


"Ibu memanggil nama Lili lagi Mbak?"


Suara Ana yang tiba-tiba memasuki kamar ini, sukses membuat Seroja mengalihkan pandangan matanya. Ia yang sebelumnya menatap lekat wajah sang ibu, kini ia geser untuk menatap sang suster.


"Iya Sus. Ibu lagi-lagi memanggil nama Lili. Aku jadi penasaran kira-kira siapa ya Sus Lili itu?"


Ana hanya bisa mengedikkan bahu. Ia sendiri pun juga tidak terlalu paham dengan nama Lili yang sering dipanggil oleh Dahlia ini. "Saya sendiri juga tidak paham Mbak. Namun sepertinya nama Lili ada kaitannya dengan masa lalu bu Dahlia. Dan sampai saat ini saya pun juga tidak mengetahui tentang masa lalu bu Dahlia."


"Apakah menurut suster ada kaitannya denganku?"


"Saya juga tidak paham Mbak. Semoga saja setelah ini akan ada jalan terangnya."

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2