Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 91 : Pernikahan Masal?


__ADS_3


Suasana taman kafe milik Rama yang berada di kota Bandung terlihat berbeda dari biasanya. Sejak kemarin beberapa orang terlihat berlalu lalang mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Kafe yang cukup luas dan memiliki konsep garden, menjadi pilihan keluarga besar Mukhlas, Abdul dan juga Rama sendiri sebagai venue acara pernikahan putra-putri mereka. Beribu-ribu tangkai mawar putih terlihat mendominasi tempat ini, sebagai lambang cinta suci yang akan mereka jalani di bawah ikatan yang suci pula yaitu pernikahan. Tiga set kursi pelaminan sudah siap, yang nantinya akan diduduki oleh masing-masing mempelai setelah acara akad dilaksanakan. Meski terkesan sederhana, namun sama sekali tidak mengurangi makna yang tercipta.


"Bu, jangan menangis lagi. Jika seperti ini Seroja pasti juga ikut menangis."


Di sebuah ruangan, seorang MUA nampak tengah memoles wajah Seroja dengan peralatan make-up yang ia bawa. Untuk pernikahannya kali ini, ia memakai riasan Sunda sigger, yang sudah sejak dulu menjadi mimpinya. Ini bukan kali pertama ia menikah, namun kali ini rasanya sungguh berbeda. Ternyata, menikah yang disaksikan dan dihadiri oleh banyak orang jauh lebih terasa begitu membahagiakan daripada menikah secara sembunyi-sembunyi.


Terlebih saat ini, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu sudah bertemu dengan wali nikah yang berhak atasnya yaitu sang ayah. Sehingga dapat dipastikan pernikahannya kali ini akan jauh lebih sakral. Di dalam hati, tiada henti Seroja beristighfar. Memohon ampun atas segala kesalahan dan kekeliruan yang pernah terjadi di masa-masa yang telah lalu. Tidak lupa, ia juga merapalkan doa, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dalam pernikahannya kali ini. Berkah, sampai ajal menjemputnya nanti.


"Bagaimana Ibu tidak menangis Sayang. Baru sekejap Ibu bertemu dan berkumpul denganmu namun sebentar lagi kamu akan meninggalkan Ibu lagi. Pastinya di saat kamu tinggal bersama suamimu."


Seroja hanya tersenyum tipis. Ia meraih tangan Lily dan menggenggamnya dengan erat. "Ibu jangan khawatir, setiap hari Seroja pasti akan bertandang ke rumah Ibu. Jadi Ibu jangan cemas. Terlebih ketika Seroja akan berangkat ke ruko, pasti lebih dulu melintas di kediaman Ibu, bukan? Jadi, Seroja bisa mengunjungi Ibu setiap hari."


Lily sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia peluk Seroja dari arah sisi kanannya. "Setelah apa yang kamu lalui di masa lalu, semoga kali ini kamu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, Sayang."


"Aamiin, aamiin ya rabbal aamiin." Seroja menghela nafas panjang dan ia hembuskan perlahan berupaya untuk menghalau rasa sesak yang tiba-tiba datang menyapanya. "Ada baiknya, Ibu ke ruangan suster Ana. Ia pasti kesepian karena tidak ada yang menemani, Bu."


Seakan sependapat dengan ucapan sang putri, Lily mulai beranjak dari posisinya. "Baiklah Nak, Ibu akan ke ruangan kakak iparmu."


Seroja menganggukkan kepala seraya menyapu pandangannya ke arah sang ibu yang lambat laun sudah menghilang di balik pintu. Tak selang lama, wanita paruh baya itupun tiba di sebuah ruangan di mana Ana berada.


Di ambang pintu, Lily melihat calon menantunya ini berdiri di depan jendela. Wanita itu sudah selesai di make-up dan tinggal menunggu acara akad saja. Dari kejauhan, wanita itu nampak seperti larut dalam pikirannya sendiri.


"Sayang! Tidak baik melamun di saat-saat seperti ini!"


Ucapan Lily sukses membuat tubuh Ana sedikit terperanjat. Ia yang sebelumnya menautkan pandangannya ke arah luar jendela, kini ia geser ke arah wanita paruh baya yang berjalan pelan menghampirinya. Ana hanya mengulas senyum simpul di bibirnya.


"Ibu?"


Lily juga hanya membalas senyum sang calon menantu dengan seutas senyuman pula. "Apa yang membuatmu murung di hari yang seharusnya kamu berbahagia seperti ini Sayang?"


Ucapan Lily justru semakin membuat Ana diserang oleh rasa sesak layaknya dihimpit oleh dua bongkahan batu besar dalam dada. Bagaimana tidak sesak? Seharusnya hari ini, ia bisa melihat binar kebahagiaan dari kedua orang tuanya saat mendapati putrinya melepas masa lajang dan berhasil dipersunting oleh lelaki shaleh yang merupakan sosok imam yang sempurna. Namun pada kenyataannya adalah sebaliknya. Kini, ia sendirian kala menapaki hari-hari terakhir menikmati kebebasannya sebagai seorang insan yang belum memiliki status sebagai seorang istri.

__ADS_1


"A-Ana hanya teringat kepada kedua orang tua Ana, Bu. Ana hanya tengah merindukan mereka."


Paham betul akan apa yang dirasakan oleh calon menantu, buru-buru Lily mendekap erat tubuh Ana. Berusaha menjadi tempat paling nyaman bagi wanita itu untuk berkeluh kesah.


"Ssstttt ... sudah ya Nak, kamu jangan bersedih lagi. Percayalah jika saat ini kedua orang tuamu juga tengah tersenyum melihatmu akan memasuki gerbang kehidupan baru. Pastinya dengan sosok seorang imam yang begitu mencintai dan memuliakanmu."


Lidah Ana terasa begitu kelu, tiada mampu untuk berucap sepatah katapun. Hanya bulir-bulir bening yang mengalir dari jendela hati miliknya itulah yang menjadi sebuah isyarat bahwa hari ini ia teramat bahagia.


"Terima kasih banyak Ibu, terima kasih."


Hanya ucapan terima kasih yang dapat Ana lisankan dari bibirnya. Sebagai bentuk rasa terima kasih karena keluarga Mukhlas dapat menerima kehadirannya dengan penuh kelapangan dada. Meski banyak kekurangan yang ada di dalam dirinya, namun mereka dengan hati yang lapang menerimanya.


Lily mengurai pelukannya dari tubuh calon menantunya ini. Ia usap bahu Ana dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Sudah, jangan bersedih lagi ya Nak. Hari ini, kamu harus berbahagia."


Ana mengangguk pelan seraya tersenyum manis. "Ana bahagia Bu, Ana bahagia."


"Alhamdulillah."


Sementara itu, di salah satu ruangan lain juga nampak seorang gadis dengan kebaya warna putih sedang dirias oleh MUA yang ada. Wanita paruh baya yang tak lain adalah sang ibu juga terlihat berdiri di sisi gadis itu. Melihat dengan seksama kecantikan sang putri yang bertambah berkali-kali lipat kala menjelang detik demi detik ia akan melepas masa lajangnya.


Adiba tersenyum simpul. Menjadi anak semata wayang yang selama ini selalu berada di dalam dekapan kedua orang tuanya, membuatnya juga merasa sedikit berat jika harus berada jauh dari kedua orang tuanya. Namun mau bagaimana lagi? Ini merupakan salah satu fase kehidupan yang harus ia lalui, di mana ia harus mengikuti kemana lelaki yang akan menjadi imamnya tinggal. Hal itu juga merupakan satu bentuk kepatuhannya kepada sang suami.


"Alhamdulillah Allah mempertemukan Diba dengan jodoh Diba di usia yang masih tergolong muda ini Umi. Diba bahagia karena pada akhirnya Diba dipersunting oleh lelaki seperti aa' Fakhru. Diba yakin aa' Fakhru bisa menjadi imam yang baik untuk Diba."


Aisyah menganggukkan kepala seakan sependapat dengan apa yang diucapkan oleh sang anak. Sebagai seorang ibu, ia juga terlampau bahagia karena pada akhirnya sang anak mendapatkan pendamping hidup yang baik. Sosok lelaki shaleh yang ia yakini bisa membahagiakan sang anak lahir, batin di dunia dan di akhirat kelak.


"Apakah kamu benar-benar sudah siap untuk melepaskan statusmu ini Nak?"


"Tidak ada alasan bagi Diba untuk belum siap, Umi. Diba sungguh sudah sangat siap lahir dan batin. InshaAllah ini adalah kebahagiaan yang selama ini Diba cari."


"Alhamdulillah. Kalau begitu mari kita bersiap-siap. Sepertinya para penghulu sudah tiba."


Adiba mengangguk perlahan. Riasan di wajahnya telah paripurna dan ia bersiap untuk menuju ke tempat di mana akan diadakan prosesi ijab qabul.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim"


🍁🍁🍁🍁🍁


"Saya terima nikah dan kawinnya Seroja Ayu Anjani binti Mukhlas Al Huda. Dengan mas kawin seperangkat alat shalat, Al-Quran, dan tiga puluh gram emas di bayar tunai!!!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Adiba Rahma Shaleha binti Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat shalat, Al-Qur'an dan uang senilai dua puluh juta rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Firda Ana Syafira binti almarhum Aji Syamsudin dengan seperangkat alat shalat, Al-Qur'an dan dua puluh gram emas dibayar tunai."


Kalimat qabul dari tiga orang laki-laki terdengar bergantian memenuhi taman ini. Dengan selesainya ketiga lelaki itu mengikrarkan kalimat qabul menjadi pertanda bahwa saat ini mereka resmi menyandang gelar sebagai seorang suami yang akan menjadi imam dalam kehidupan rumah tangga mereka. Seorang imam yang memiliki tugas yang begitu berat untuk dapat membimbing keluarganya agar bisa terhindar dari api neraka. Sosok seorang imam yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat tentang bagaimana ia membimbing keluarganya.


Dan ketiga wanita yang saat ini tengah berkumpul di salah satu ruangan juga sama-sama merasakan keharuan yang begitu luar biasa. Tanpa terasa bulir-bulir bening dari pelupuk mata mereka menetes perlahan.


"Alhamdulillah.... "


Di bibir masing-masing terlisan ucapan hamdalah. Sebagai ucapan rasa syukur karena pada akhirnya acara hari ini dapat berjalan lancar tanpa satu halangan apapun. Mereka juga teramat bahagia karena pada akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan jodoh terbaik mereka.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Seroja Ayu Anjani



Adiba Rahma Shaleha



Firda Ana Syafira

__ADS_1



__ADS_2