
"Jadi, ini sebenarnya apa yang terjadi Pak? Mengapa Bapak-bapak yang berada di tempat ini memaksa untuk mengarak saudara saya ini?"
Dengan tatapan tajam, Hakim mencoba berbicara dari hati ke hati kepada warga yang berkumpul di tempat ini. Meski ia tahu atas dasar apa para warga memaksa Fakhru dan Diba untuk diarak, namun ia ingin mendengar secara langsung dan lebih detail dari kumpulan bapak-bapak ini.
Selepas menunaikan shalat subuh, Fakhru, Diba, Hakim dan semua yang berada di tempat ini berkumpul dan duduk di lincak yang ada. Yang pasti, mereka akan membahas perihal Fakhru dan Diba yang berdua-duaan berada di dalam rumah kosong ini.
"Begini Ustadz, kami bermaksud mengarak dua orang yang belum sah terikat dalam ikatan pernikahan ini karena mereka telah berbuat tidak senon*oh di rumah kosong ini. Kami tidak mau, jika kampung kami ini terkena azab karena dipakai untuk bermaksiat. Betul begitu kan Bapak-bapak?" ujar salah satu seorang lelaki yang berada di dalam kerumunan itu dan berusaha memprovokasi teman-temannya untuk sependapat dengan apa yang ia pikirkan.
"Betul," ucap mereka bersamaan.
"Nah, Ustadz Hakim melihat sendiri bukan, kalau semua yang berada di tempat ini setuju jika dua orang ini di arak keliling kampung? Itu satu hal yang lumrah untuk memberikan efek jera bagi para pelaku pelanggar norma-norma kesusilaan yang ada di dalam masyarakat. Oleh karenanya ayo kita arak dua orang ini, saat ini juga!"
"Ayo!!!"
Hakim hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengelus dada melihat apa yang akan dilakukan oleh kumpulan bapak-bapak ini yang begitu bersemangat untuk mengarak Fakhru dan Diba untuk keliling kampung. Hakim terlihat begitu santai menanggapi apa yang terjadi di hadapannya ini. Sedangkan Fakhru dan Diba, dari raut wajah keduanya terlihat begitu pias.
"Sebelum Bapak-bapak mengarak saudara saya ini, apakah dari Bapak-bapak ada yang melihat saudara saya ini berbuat tidak seno*noh? Atau melakukan perbuatan mesum seperti yang Bapak-bapak tuduhkan? Setidaknya empat orang saksi?"
Mendengar ucapan Hakim, membuat kumpulan Bapak-bapak tersentak seketika. Mereka yang sebelumnya mengeluarkan aura garang, mendadak dihinggapi oleh kebingungan. Mereka saling melempar pandangan dan sesekali terlihat saling berbisik.
Hakim tersenyum simpul melihat perubahan ekspresi wajah kumpulan bapak-bapak ini. Ia merasa, setelah ini, kesalahan pahaman yang sempat terjadi, akan bisa segera teratasi.
"Seandainya mereka tidak dapat mendatangkan empat saksi atas tuduhannya itu, maka saat itulah mereka disebut orang-orang yang bohong di hadapan Allah." (QS. An-Nur: 23).
"Allah juga berfirman. "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita suci (berzina), kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur: 4)"
Hakim menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Bagaimana? Apakah dari Bapak-bapak ini ada yang melihat saudara saya ini berzina? Atau melakukan hal yang tidak baik? Jika tidak ada, kita tidak bisa membuat kesimpulan bahwa mereka sebelumnya telah berbuat mesum."
"Tapi Ustadz, bisa saja bukan mereka melakukannya di luar penglihatan kita?" ujar salah seorang Bapak yang kekeuh pada pendiriannya.
Hakim hanya tergelak lirih. Karena masih saja yang beranggapan tidak baik terhadap Fakhru dan juga Adiba. "Tidak mungkin saudara saya ini berbuat zina sebelumnya. Bapak-bapak melihat sendiri bukan, setelah bangun tidur, saudara saya ini langsung menunaikan shalat subuh? Dia tidak mandi wajib terlebih dahulu. Dan bukankah saat Bapak-bapak memasuki rumah ini mereka berdua berada di tempat berbeda? Dan Bapak-bapak juga bisa melihat bukan, pakaian saudara saya ini tidak berantakan sama sekali dan masih sempurna menutup tubuh mereka?"
Kali ini, perkataan ustadz Hakim sukses membungkam tuduhan-tuduhan yang mengarah ke Fakhru dan Adiba. Kumpulan bapak-bapak ini kembali saling melempar pandangan dan kali ini mereka melakukan aksi saling sikut menyikut sebagai pertanda tidak lagi dapat menyangkal ataupun membantah ucapan ustadz muda ini. Mereka tetiba hanya tersenyum kikuk dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa tidak enak hati.
"Kalau begitu kami mohon maaf Ustadz. Maaf atas tuduhan kami ini. Kami memang tidak memiliki saksi dan bukti apapun."
Akhirnya setelah dirasa tidak lagi memiliki bukti untuk menuduh Fakhru dan Adiba melakukan hal yang melanggar norma-norma asusila, salah seorang dari bapak itupun meminta maaf dengan menundukkan kepalanya. Merasa tidak enak hati karena telah terlalu jauh ber persepsi.
"Bapak tidak memiliki kesalahan apapun terhadap saya. Karena sejatinya yang Bapak-bapak tuduh bukanlah saya."
__ADS_1
Seakan mengerti akan apa yang dilisankan oleh ustadz Hakim, Bapak itu pun beranjak dari tempat ia duduk dan mendekat ke arah Fakhru.
"Maafkan kami ya Mas. Maaf jika tuduhan kami terlalu menyakitkan."
"Saya juga Mas."
"Saya juga Mas."
"Saya juga Mas."
Bergantian, kumpulan bapak-bapak itu meminta maaf kepada Fakhru. Pemuda tampan itupun hanya mengulas sedikit senyum tipis di bibirnya. Meski tipis, namun sungguh ia ikhlas memaafkan semua tuduhan yang dilayangkan oleh Bapak-bapak ini.
"Sudah saya maafkan Pak. Semoga ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua. Demi Allah, kami hanya beristirahat di tempat ini. Karena mobil yang kami tumpangi terhalang oleh pohon yang tumbang."
"Beruntung tidak ada sesuatu yang dialami oleh Mas dan mbak ketika bermalam di sini," sambung salah seorang Bapak yang sukses membuat Fakhru, Diba dan Hakim saling melempar pandangan.
"Maksud Bapak bagaimana?" tanya Fakhru begitu penasaran.
"Tiga bulan yang lalu, pemilik rumah ini meninggal karena gantung diri setelah mendengar suaminya berselingkuh, Mas. Maka dari itu tempat ini dibiarkan saja tidak terjamah sama sekali. Kami takut karena seringkali orang-orang yang tengah melintas di depan jalan ini melihat penampakan makhluk tak kasat mata," ucap Bapak itu menjelaskan.
Adiba hanya bergidik ngeri mendengar penuturan salah seorang bapak ini. Tetiba bulu kuduknya meremang, membayangkan apa yang terjadi di dalam rumah ini. Pandangannya mengedar memperhatikan dengan lekat setiap sudut ruangan. Khawatir jika dulu pemilik rumah ini gantung diri di dekat tempat ia terduduk saat ini.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk almarhumah, Pak. Dan jika memungkinkan, di tempat ini sering dipakai untuk membaca Al-Quran saja sehingga bisa terhindar dari tipu daya jin yang menyerupai manusia. Setiap Ahad bisa diagendakan untuk gotong royong membersihkan rumah ini, lampu-lampu pun bisa diganti yang lebih terang, sehingga tidak meninggalkan kesan menakutkan."
Kumpulan bapak-bapak itu manggut-manggut mendengar usulan Hakim. Nampaknya mereka menyetujui apa yang diucapkan oleh ustadz muda ini.
"Baiklah Ustadz, mulai minggu depan akan kami agendakan untuk membersihkan rumah ini." Bapak itupun menautkan pandangan ke arah teman-temannya. "Ayo Bapak-bapak, kita mulai bergotong royong menyingkirkan pohon yang tumbang itu. Setelah itu kita bersihkan rumah ini."
"Ayo!!!"
"Biar saya dan saudara ini juga ikut membantu Pak," ucap Hakim menawarkan diri.
"Terima kasih banyak Ustadz, terima kasih."
Pada akhirnya, permasalahan Fakhru dan Adiba telah selesai dengan jalan keluar yang baik. Dan kini, merekapun bergotong royong untuk menyingkirkan pohon yang tumbang itu.
🍁🍁🍁🍁
"Jadi bagaimana bisa ustadz Hakim tahu bahwa saya dan Diba ada di tempat ini? Kata kak Maimun, ustadz Hakim ini seperti doraemon yang memiliki pintu ajaib dan seketika bisa tiba di sini."
Fakhru, Hakim dan Diba berada di dalam mobil. Setelah selesai membersihkan rumah kosong itu, kini tiba saatnya untuk kembali ke rumah. Fakhru duduk di depan kemudi, Hakim di bangku sebelah sedangkan Diba, duduk di bangku belakang.
__ADS_1
Hakim hanya tersenyum simpul dibuatnya. "Sejak semalam bibi Aisyah mencoba menghubungi kalian, namun sama sekali tidak ada respon. Oleh karenanya, beliau meminta ana untuk menyusul kalian. Beliau khawatir jika terjadi sesuatu pada kalian."
"Maaf kak Hakim, di ponsel Diba benar-benar tidak ada sinyal yang terdeteksi, maka dari itu ponsel Diba sama sekali tidak bisa dihubungi."
"Milik saya juga mati Tadz, sepertinya kehabisan baterai," sambung Fakhru pula sembari menginjak pedal gas mobilnya perlahan.
"Iya, ana paham. Sejak semalam hujan memang hujan turun dengan lebat dan juga ada badai. Oleh karena itu sangat wajar jika ponsel kalian tidak ada sinyal yang terdeteksi."
"Lalu, bagaimana caranya ustadz Hakim bisa sampai tempat ini?"
"Ana hanya bertanya perihal kondisi cuaca yang ada di sekitar sini kepada salah seorang teman Ana yang tinggal di sini. Katanya, di sini memang hujan badai dan ada salah satu pohon yang tumbang. Maka dari itu, setelah hujan reda, Ana memesan ojek online untuk mengantarkan ke tempat ini. Dan alhamdulillah kita bertemu kan?"
Fakhru tergelak lirih mendengar cerita ustadz muda ini. "Alhamdulillah juga ya Tadz, ada sopir ojek online yang bersedia mengangkut Ustadz, terlebih di pagi buta seperti itu."
"Ya begitulah. Alhamdulillah Allah memudahkan segala urusan Ana sehingga Ana bisa sampai di sini."
Hakim kembali memandang ke arah depan. Jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan-kendaraan bermotor yang berlalu lalang.
"Adiba, apakah akhir minggu ini abi dan juga umi ada waktu luang?" tanya Fakhru masih sambil fokus dengan kemudinya.
"InshaAllah ada A', memang ada apa?"
Senyum tipis tersinggung di bibir Fakhru. "Tidak ada apa-apa, Diba. Aku hanya ingin mengajak papa dan juga mamaku untuk bersilaturahmi ke rumahmu."
Adiba terkesiap. "Silaturahmi bersama papa dan juga mama Aa'?"
"Iya, silaturahmi. Bagaimana? Apakah kamu keberatan?"
"T-tidak A', sama sekali tidak. Aku justru merasa senang jika a' Fakhru dan juga papa mama bersilaturahmi ke rumahku."
Diba berujar sembari tersipu malu. Ia benar-benar bahagia mendapatkan kabar bahagia seperti ini.
"Syukurlah. InshaAllah, aku dan keluargaku akan mengunjungi rumahmu."
Senyum penuh kebahagiaan tidak pernah lepas dari bibir tipis Diba. Gadis itu tersenyum lebar saat mengetahui rencana Fakhru untuk bersilaturahmi ke kediamannya.
Ya Allah, aku benar-benar bahagia mendengar rencana aa' Fakhru ini. Semoga, ini merupakan awal yang baik untuk kehidupan kami. Aamiin -Adiba-
Sudah beberapa waktu aku mencoba untuk membuka hati. Diba memang wanita yang baik. Tidak ada salahnya jika aku mulai serius menjalin hubungan dengan gadis ini. Benar kata Seroja, apa yang aku rasakan terhadapnya bukanlah cinta. Namun hanya sekedar rasa saling menyayangi antar sesama sahabat.
.
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁