
"Nak, kamu benar ingin ikut adikmu ke Bandung?"
Fakhru yang tengah duduk bersimpuh di atas sajadah dengan sarung dan baju kokonya, sedikit terkesisp kala suara bariton mulai terdengar memenuhi rongga telinga. Ia rotasikan tubuhnya, dan terlihat sang papa telah masuk ke dalam kamar dan ikut duduk di sisinya.
Setelah tiga kali gagal untuk menikah, membuat raut penuh kebahagiaan semakin tenggelam di paras tampan pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu. Tergantikan oleh kabut duka yang begitu pekat dan mungkin saja akan sulit untuk menghilang dari wajahnya. Seketika, pemuda yang bisanya banyak bicara tatkala bertemu dengan seluruh anggota keluarganya, kini mendadak bertransformasi menjadi sosok pemuda yang sering menutup diri dan seperti berusaha mati-matian untuk tidak membagi segala lara yang masih saja terasa menikam hati.
Masih tetap pada posisinya, Fakhru mulai menanggapi pertanyaan sang papa dengan senyum tipis yang terlukis di bibirnya. "Iya Pa, Fakhru memang berencana untuk ikut Fakhri ke Bandung."
Rama menatap wajah putranya ini dengan tatapan intens. Sesekali, lelaki paruh baya itu terdengar membuang nafas sedikit kasar. "Nak, pergi meninggalkan kota ini hanya karena kamu sedang diuji seperti ini bukanlah sesuatu yang bijaksana. Kamu seperti mencoba untuk lari dari ujian yang tengah kamu hadapi."
Fakhru tergelak lirih. Ia paham jika setiap orang yang mendengar berita bahwa saat ini ia akan pergi ke Bandung pasti mereka beranggapan bahwa ia sedang berupaya untuk lari dari kenyataan. Namun sejatinya bukan karena itu.
"Pa, Fakhru memutuskan ke Bandung bukan karena ingin melarikan diri dari kenyataan." Fakhru menghela nafas sedikit dalam dan ia hembuskan perlahan. "Meski niat untuk lebih menenangkan diri memang ada, namun ada sesuatu yang ingin Fakhru lakukan di kota itu."
Dahi Rama mengernyit. Ia sedikit tidak paham dengan apa yang akan dilakukan oleh sang putra di kota Bandung itu. "Maksud kamu bagaimana, Nak?"
Netra yang sebelumnya tertaut pada wajah teduh sang papa, kini sedikit ia geser untuk menatap ke sembarang arah dengan tatapan menerawang. "Fakhru ingin membalas budi akan kebaikan seseorang yang telah menyelamatkan Fakhru dari satu kesalahan yang hampir saja menjerumuskan Fakhru ke dalam keburukan, Pa."
Dahi milik Rama semakin mengerut. Perkataan sang putra tidak membuatnya semakin mengerti akan niat apa yang tersimpan di balik keputusannya untuk pergi ke Bandung, namun justru semakin membuat lelaki paruh baya itu kesulitan untuk memahami.
"Maksud kamu bagaimana Nak? Papa sungguh tidak paham."
Rama kembali mengulas sedikit senyumnya. Pikirannya kembali tertambat pada sesuatu yang terjadi sehari setelah kegagalan itu kembali ia alami.
Flashback On...
__ADS_1
Fakhru PoV....
Bagaimana rasanya ketika kalian sebagai seorang laki-laki akan menyambut sebuah salah satu fase kehidupan yang sangat sakral? Begitu membahagiakan bukan? Raga yang sebelumnya sendirian menapaki hari demi hari, dengan fase sakral itu akan menjadi sebuah gerbang di mana ada raga lain yang akan menemani.
Kebahagiaan yang hampir saja aku raih dengan menghalalkan seorang gadis bernama Rumana, pada kenyataannya terenggut seketika dan kembali menjadi goresan luka yang menyayat seonggok daging bernyawa dalam dada. Kegagalan itu untuk ketiga kalinya kembali aku alami.
Apa yang sebenarnya salah terhadapku? Hingga takdir begitu mempermainkan aku seperti ini. Kejadian masa lalu yang kembali terulang sungguh tidak hanya berdampak terhadap psikis ku saja, namun juga nama baik keluarga. Lagi-lagi setiap orang yang mengetahui akan kegagalan yang aku alami ini membuat mereka dengan bebas berkomentar akan lakon apa yang sedang aku mainkan di panggung sandiwara ini.
Kasihan ya Fakhru, dia itu selalu saja gagal menikah. Sepertinya memang nasibnya selalu buruk.
Dulu calonnya ada yang tiba-tiba meninggal, sekarang ia ditinggalkan oleh calon mempelai wanita. Sepertinya setiap orang yang berhubungan dengan Fakhru selalu saja sial ya.
Iya, ibu-ibu ... lebih baik jangan sampai anak-anak permpuan kita dipinang oleh Fakhru, bisa-bisa nasibnya juga ikut sial.
Komentar-komentar tajam dari mulut-mulut tetangga semakin menambah duka lara dalam jiwa. Siapa yang ingin mengalami jalan hidup seperti ini? Jika aku diminta untuk memilih, akupun tidak ingin ini semua terjadi kepadaku. Sungguh, ucapan-ucapan dari tetangga itu hanya semakin membuatku rapuh. Terlebih jika aku mengingat wajah papa dan juga mama. Mereka berupaya mati-matian untuk bersikap tegar dan tenang namun aku paham bahwa mereka juga merasakan beban luka itu. Seharusnya mereka bisa tersenyum lega kala melihat putranya bisa melepas masa lajangnya, namun yang terjadi adalah sebaliknya, putranya ini kembali gagal menikah untuk ketiga kalinya.
Mencoba sejenak lari dari ujian ini, aku melajukan mobilku untuk menembus pekatnya malam menuju ke arah kota. Tak tahu kemana aku harus berlari, namun ingin rasanya aku segera hilang ingatan akan apa yang baru saja aku alami. Hampir satu jam aku mengemudikan mobil ini tanpa arah, hingga akhirnya aku menepi di bahu jalan yang sudah terlihat sedikit sepi di jam dua belas malam ini.
Aku menatap lekat bangunan itu. Sebuah tempat yang di dalamnya hanya terdapat kesenangan dan mungkin tidak ada duka yang dirasakan oleh para pengunjungnya. Aku berpikir, apakah aku ikut masuk saja ke dalam sana? Agar aku bisa segera lupa akan luka yang terasa semakin menganga? Lama otak dan hatiku beperang. Bisikan malaikat dan bisikan setan seakan saling berebut untuk menguasai hati dan juga pikiranku. Dan akhirnya, aku memilih untuk keluar dari mobil ini.
Mobil tetap terhenti di bahu jalan. Kulangkahkan kakiku untuk menyebrangi jalan dan bermaksud untuk memasuki bangunan ini. Aku rasa di dalam sana nanti aku bisa sejenak melupakan kejadian apa yang baru saja aku alami. Aku semakin mantap untuk masuk ke dalam bangunan ini. Aku rasa tidak mengapa jika sekali saja aku menikmati apa yang tersaji di dalam sana.
Klub malam, sebuah tempat yang menyajikan apa itu kesenangan dunia. Di dalam sana tidak ada yang nampak selain hanya wajah orang-orang yang dipenuhi oleh kebahagiaan dan seakan terlepas dari sebuah beban kehidupan. Mereka tertawa-tawa dan berteriak-teriak kencang di bawah dentuman suara musik yang terdengar memekak telinga. Menggerakkan tubuh mereka dengan bebas seakan tidak ada sebuah beban hidup yang mereka rasakan.
Aku menghela nafas dalam kala kaki ini sudah berpijak di depan bangunan ini. Aku merasa semakin yakin untuk memasukinya.
"Fakhru!"
__ADS_1
Langkah kecilku terhenti tatkala kudengar suara seseorang memanggil namaku. Suara seorang laki-laki yang sukses menarik paksa pikiranku yang sebelumnya larut dalam kegamangan yang kurasa. Aku menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat seorang lelaki berparas tampan dengan setelan hoodie warna putih dan celana jeans, mendekat ke arahku.
"Ustadz Hakim?"
Aku sedikit terkesip tatkala aku melihat siapa gerangan lelaki yang menghampiri aku ini. Seorang ustadz muda yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Cara pembawaan ustadz ini dalam berdakwah begitu digandrungi oleh para kaum muda. Selain memiliki wajah yang rupawan, ia juga bisa menyentuh hati para jamaah dengan bahasa yang mudah dipahami.
Aku mengenalnya tatkala ia memberikan sebuah tausyiah di salah satu majelis yang sering aku datangi. Entah mengapa aku merasa klop saja dengan ustadz muda ini.
Ustadz Hakim tersenyum ke arahku dan sedikit menepuk pundakku. "Apa yang antum lakukan di tempat ini di malam hari seperti ini?"
Netra yang sebelumnya menatap wajah tampan ustadz muda ini, seketika bergeser ke arah bawah. Aku menundukkan kepala dan tetiba kegugupan itu datang menyapa. "S-saya.... "
"Bukan tempat ini yang seharusnya antum datangi ketika Allah tengah memberikan sebuah ujian hidup untuk antum seperti ini."
Aku sedikit terperanjat karena ustadz Hakim tahu dengan apa yang terjadi kepadaku. "Ustadz, saya..."
Ustadz Hakim kembali tersenyum simpul. "Bagaimana kalau antum ikut ana ke Bandung? InshaAllah di sana akan ada banyak kegiatan bermanfaat yang bisa antum lakukan untuk bisa melupakan kepahitan hidup yang tengah antum rasakan."
Entah apa yang terjadi denganku. Ucapan ustadz Hakim ini layaknya sebuah mantra yang berhasil menghipnotisku. Seketika aku menganggukkan kepala. Pertanda menyetujui apa yang ditawarkan oleh ustadz Hakim.
"Allah tengah menguji keimanan dan ketakwaan antum dengan ujian ini. Ana berdoa semoga antum dapat melaluinya dan bersegera bangkit dari ini semua."
Aku tertawa getir. Entah apa yang terjadi jika tadi ustadz Hakim tidak menemukanku. "Terimakasih banyak ustadz."
Aku kembali menatap bangunan yang ada di hadapanku ini. Aku membuang nafas lega karena Allah mengirimkan pertolongannya melalui ustadz Hakim. Menghentikan langkah kakiku untuk masuk ke dalam kesenangan dunia yang sesaat ini.
.
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁