Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 47 : Rasa yang Terpendam?


__ADS_3


Cat dinding berwarna hitam, putih, dan abu-abu nampak mendominasi suasana kamar ini. Di sudut ruangan terlihat sebuah rak buku yang di dalamnya telah tertata rapi buku-buku dengan nuansa religi. Buku-buku fiqih, hadist, dan bacaan-bacaan bernuansa Islami lainnnya. Dan di salah satu dinding kamar, terlihat sebuah pigura yang lumayan besar dengan goresan kaligrafi berlafalkan laa illaha illaallah.


Hampir seperempat jam Randy mengelilingi kamar ini. Melihat dengan intens apa saja yang ada di kamar ini. Memang sepertinya kurang sopan mengingat dia adalah seorang tamu di rumah ini yang tidak seharusnya lancang mengamati setiap barang yang dimiliki oleh sang pemilik kamar. Namun rasa penasarannya tidak dapat ia bendung. Melihat susunan-susunan buku dengan nuansa religi begitu tertata rapi, seakan menggerakkan tangannya untuk terulur mengambil salah satu isi dalam rak itu. Dan kini, sebuah Al-Qur'an lengkap dengan terjemahannya berada di dalam genggaman tangannya.


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Qs. Al-Baqarah : 186)


Kala jemarinya menyentuh Al-Qur'an itu, entah apa yang terjadi, halaman yang terbuka adalah salah satu bagian dari surah Al-Baqarah. Manik mata lelaki itu langsung tertuju pada salah satu ayat tepat di ayat 186.


Deg....


Sungguh tak dapat ia pahami, kala manik matanya melihat dan bibirnya mengeja arti ayat ini, ada sesuatu yang ia rasakan dalam dadanya. Jantungnya tiba-tiba berdenyut kencang dan tubuhnya sedikit bergetar. Tidak ada makna khusus dari ayat itu, namun seakan dapat menembus dinding jantung yang selama ini mungkin tidak pernah tersentuh dan terjamah oleh apapun. Ia merasakan sesuatu yang sangat asing. Jika ditanya itu perasaan apa, ia sendiripun juga tidak dapat menjawabnya.


Ceklek....


Pintu kamar terbuka dan tak selang lama seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam kamar.


"Nak... "


Randy yang tengah hanyut dalam arti ayat Al-Quran itu sedikit terperanjat kala seorang laki-laki paruh baya menepuk pundaknya. Ia tautkan pandangannya ke arah samping, di mana sumber suara itu berasal.


"Ah ... maafkan saya Pak, jika saya lancang melihat-lihat apa yang ada di dalam rak buku ini. Sungguh, baru buku ini yang saya lihat."


Randy tersenyum kikuk kala Mukhlas melihat apa yang ia lakukan. Sembari menunjukkan Al-Qur'an itu ia mencoba untuk memberitahu Mukhlas bahwasanya baru Al-Qur'an itu yang ia lihat-lihat.


Mukhlas tersenyum simpul mendengar penuturan Randy. Baru kali ini ia mendengar ada seseorang menyebut Al-Qur'an dengan buku. "Ini biasa disebut dengan Al-Qur'an, Nak, bukan buku." Sejenak, Mukhlas menjeda ucapannya sembari menghela nafas sedikit dalam. "Tidak masalah jika kamu melihat-lihat apa yang ada di dalam kamar ini Nak. Kamar ini milik putra saya, jadi jika kamu ingin membaca apapun, silakan."


Randy terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika melihat isi kamar ini, dapat dipastikan bahwa putra dari lelaki paruh baya ini merupakan salah satu sosok yang pandai tentang ilmu agama. Karena memang hampir seluruh buku yang tersusun di rak ini, merupakan buku-buku tentang agama.


"Apakah putra Bapak salah satu ustadz?"


Mukhlas hanya tergelak lirih. "Saya sendiri juga bingung Nak. Dia sering mengisi kajian-kajian keagamaan. Bahkan saat ini namanya tengah naik daun. Namun jika Bapak memanggilnya ustadz, ia sama sekali tidak mau. Ia jauh lebih ingin dipanggil dengan namanya saja. Entah jika dengan orang lain, apakah mau dipanggil ustadz atau tidak."


Randy ikut tergelak lirih. Dari apa diucapkan oleh Mukhlas, ia sedikit tahu bahwa putra lelaki paruh baya ini, meski sedang naik daun namun tetap rendah hati.

__ADS_1


"Apakah putra Bapak tinggal di sini?"


"Ya, dia ada di sini Nak. Namun saat ini tengah sibuk dengan misinya."


Dahi Randy sedikit mengerut. "Misi? Misi apa itu Pak?"


"Misi untuk memakmurkan salah satu surau di sebuah tempat. Dan mencoba berdakwah di sana." Mukhlas kembali menepuk bahu Randy. "Mari kita makan terlebih dahulu, setelah itu kita shalat Isya' berjamaah."


Randy sedikit terkesiap. "S-Shalat?"


"Iya Nak, shalat. Ada apa? Kamu muslim kan?"


Randy hanya tersenyum kikuk. Di KTP memang tertulis islam sebagai agamanya. Namun semasa hidupnya ia jarang bahkan tidak pernah mengerjakan shalat. Mungkin hanya shalat sewaktu hari raya saja. "Iya Pak, saya muslim. Namun... "


"Namun tidak pernah mengerjakan shalat?"


Tebakan Mukhlas sukses membuat kepala Randy mengangguk seketika. "I-iya, saya memang tidak pernah shalat."


Mukhlas tersenyum penuh arti. Kembali ia tepuk pundak lelaki ini. "Mulai sekarang, mari kerjakan shalat. InshaAllah kamu akan selalu mendapatkan ketenangan hidup, Nak!"


Bak sebuah mantra, ucapan Mukhlas benar-benar membuat Randy seketika menganggukkan kepala. Tanpa banyak berpikir, ia letakkan kembali Al-Qur'an itu ke tempat sebelumnya dan ia mulai mengikuti langkah kaki lelaki paruh baya itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Seusai menunaikan ibadah shalat isya', Fakhru sengaja menghentikan langkah kaki Seroja, Ana, Alamanda, untuk meminta mereka berkumpul di serambi. Sesuai dengan agenda yang dibuat, esok hari Hakim dan juga Fakhru akan mengadakan bakti sosial untuk warga yang tinggal di sekitar tempat ini.


"InshaAllah aku dan suster Ana bisa membantu Ru." Seroja menautkan pandangannya ke arah Ana. "Benar begitu kan Sus?"


Ana mengangguk mantap. "InshaAllah saya juga bisa membantu, Pak!"


Fakhru dan ustadz Hakim tersenyum simpul.


"Jangan panggil saya Pak, Mbak. Saya belum menikah dan masih lajang. Jadi sepertinya terdengar lucu jika dipanggil dengan Pak," ucap Hakim seakan tidak berkenan jika dipanggil Pak oleh wanita ini.


Ana tergelak lirih. "Jika saya tidak memanggil Pak, lalu saya harus memanggil ustadz dengan apa?"

__ADS_1


"Panggil ustadz Hakim ini dengan Mas, Sus. Sepertinya beliau ingin dipanggil Mas oleh suster Ana," timpal Fakhru yang seketika membuat Ana dihinggapi oleh sebuah perasaan yang sukar untuk diartikan. Wanita itupun hanya menundukkan wajahnya karena malu. Sedangkan Seroja juga ikut tergelak lirih karena ia menangkap sinyal yang berbeda dari Ana.


Ya Allah, perasaan apa ini? Mengapa aku merasakan sesuatu yang begitu asing seperti ini? Apakah mungkin ustadz Hakim....? Astaghfirullah, jangan masukkan aku ke dalam perangkap rasa yang memang tidak benar ya Allah.


Hakim hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sekilas ia mencuri pandang ke arah wanita yang menjadi pengasuh Manda itu namun kemudian kembali ia tundukkan wajahnya.


Rasa yang aku miliki untuk wanita bernama Ana ini, jauh berbeda dengan rasa yang aku miliki untuk Seroja. Ya Allah, apakah mungkin ini sebagai pertanda bahwa aku memang sedang jatuh cinta? Jika memang iya, tetapkan hatiku agar aku bisa mencintai makhluk ciptaanMu ini dengan cara-cara terhormat. Pastinya dengan cara-cara yang akan membawaku dalam kebaikan.


"Lalu, teknis acara untuk besok bagaimana Ru?"


Mencoba mencairkan suasana yang sebelumnya membeku, Seroja kembali mengajak Fakhru untuk membahas acara yang akan diadakan esok hari. Dan benar saja, suasana kembali seperti semula.


"Besok pagi tolong bantu kami untuk membuat bingkisan sembako ya Ja. Setelah itu, selepas dzuhur bisa langsung kita distribusikan."


"Baiklah Ru, InshaAllah aku dan suster Ana akan membantumu."


Mereka semakin terlihat larut dalam rencana bakti sosial yang besok akan diadakan. Sebuah agenda yang diharapkan oleh Hakim bisa sedikit mengetuk pintu hati orang-orang sekitar sini setidaknya untuk menganggap ada keberadaan tempat ibadah ini. Jika surau ini sudah ada di hati dan benak orang-orang di sekitar sini, Hakim yakin hati mereka akan terketuk untuk mengensal siapa Tuhan mereka.


Namun, obrolan orang-orang di serambi surau itu tiba-tiba terhenti kala manik mata mereka melihat orang-orang yang tinggal di tempat ini berlarian menuju ke arah yang sama.


Fakhru, Hakim, Seroja dan Ana sama-sama bangkit dari posisi duduk mereka. Perlahan Seroja menghampiri salah seorang yang berlarian itu.


"Pak, ini ada apa? Kok lari-lari seperti ini?"


"Itu Neng, ada yang menjadi korban pembunuhan."


Seroja terkesiap. "Korban pembunuhan? Siapa Pak?"


"Salah satu anak asuh mami Laura. Dia dibunuh oleh lelaki yang menjadi teman kencannya."


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun... "


.


.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sedikit saya selingi kisah Hakim ya Kak... Hehehehe 🤭


__ADS_2