Cahaya Cinta Untuk Seroja

Cahaya Cinta Untuk Seroja
CCUS 38 : Bias Cahaya


__ADS_3


Seroja menyenderkan punggungnya di headboard ranjang sembari sesekali membelai wajahnya yang masih terasa begitu nyeri. Kekalapan Rosmala benar-benar menyisakan rasa sakit yang teramat mendera. Tulang-tulang wajahnya terasa kebas, yang hanya bisa membuatnya meringis kesakitan. Beruntung ada Ana. Sedari tadi suster itu begitu sabar dan telaten mengompres pipinya dengan es batu dan mengoleskan krim penghilang rasa nyeri dan sekaligus dapat memudarkan lebam-lebam itu.


"Mbak Seroja makan dulu ya, biar tubuh mbak Seroja memiliki sedikit tenaga."


Ana meletakkan nampan berisikan satu mangkuk sup jamur salju dan juga segelas air putih di atas nakas. Ia raih mangkuk itu dan bermaksud untuk menyuapi Seroja. Namun, Seroja bergegas mencegah apa yang akan dilakukan oleh suster itu.


Seroja menarik kedua sudut bibirnya hingga membuat lengkungan bulan sabit di wajah yang masih dipenuhi oleh lebam itu. Tidak ingin membuat Ana semakin kerepotan, ia bermaksud makan dengan tangannya sendiri. "Biar aku makan sendiri Sus. Suster Ana istirahat saja. Pasti sangat melelahkan, sedari tadi mengurusku, Alamanda dan juga ibu."


Seroja mulai memasukkan sesuap nasi dan sayur sup itu ke dalam mulut. Seketika membuat mulut, kerongkongan dan perutnya dimanjakan oleh sensasi rasa nikmat yang dihadirkan oleh sayur ini.


Ana hanya tergelak lirih sembari menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak Mbak. Saya justru merasa senang karena bisa melakukan ini untuk mbak Seroja dan keluarga."


Ucapan Ana seakan menarik perhatian Seroja. Ia baru ingat jika setelah lepas dan memilih pergi dari kehidupan Randy, itu artinya sudah tidak ada lagi yang menjadi penopang hidupnya. Dan itu berarti mulai saat ini ia pasti akan kesulitan untuk menggaji Ana.


"Sus... "


Seroja nampak ragu dengan apa yang harus ia katakan. Ia menjeda ucapannya seakan kata-kata itu tercekat di dalam tenggorokan akibat sesuatu yang menghalangi suaranya.


"Iya Mbak, bagaimana?"


Seroja meletakkan sendok yang ia pegang ke dalam mangkuk. Ia tautkan pandangan matanya ke arah suster muda ini. Sekilas, ia menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Sus, saat ini sudah tidak ada lagi yang menjadi penopang hidupku. Itu artinya aku sudah tidak bisa lagi menggaji suster Ana. Aku... "


"Mbak Seroja tidak perlu merasa tidak enak. Saya akan tetap membantu mbak Seroja untuk mengurus ibu dan juga Alamanda."


Seroja terkejut bukan main mendengarkan penuturan Ana. Ucapan Ana masih terdengar ambigu namun sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa suster muda ini tulus untuk membantunya.

__ADS_1


"M-maksud suster Ana?"


Senyum manis itu kembali terbit di bibir Ana. Semoga apa yang menjadi rencananya ini, bisa menjadi awal kehidupan Seroja untuk bisa lebih baik lagi.


"Mbak Seroja tidak perlu terlalu risau memikirkan gaji saya. Saat ini yang harus mbak Seroja pikirkan bagaimana caranya agar mbak Seroja bisa kembali melanjutkan hidup."


Wajah Seroja mendadak pias. Kepergiannya dari hidup Randy memang mendadak, dan belum sempat memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini.


"Sepertinya aku harus kembali bekerja Sus. Mungkin aku bisa kembali ke pabrik. Barangkali aku masih bisa diterima di sana."


"Mbak Seroja tidak perlu kembali bekerja di pabrik jika sebenarnya mbak Seroja memiliki kemampuan untuk bisa berusaha sendiri."


Dahi Seroja mengerut dan kedua alisnya kembali bertaut. Tidak paham dengan maksud Ana. "Suster bicara apa? Aku sungguh tidak paham."


Lagi-lagi Ana mengulas senyum manis di bibirnya. Seroja sampai dibuat bingung oleh ekspresi wajah Ana yang sedikitpun tidak mengeluarkan ekspresi cemas. "Bagaimana jika mbak Seroja mulai membuka usaha jahit baju? Saya rasa, membuka jasa jahit tidak bertentangan dengan jurusan yang Mbak ambil ketika sekolah dulu."


Entah sudah keberapa kali Ana berhasil membuat Seroja terkesiap dan terkejut setengah mati. Kata demi kata yang terlisan dari bibir wanita ini seakan tersirat sebuah rencana-rencana untuk masa depan. Usulan dari Ana memang terdengar begitu menjanjikan, dimana ia bisa berusaha di atas telapak kakinya sendiri. Namun bagaimana caranya bisa memulai jika ia tidak memiliki modal sama sekali? Karena keluar dari apartement, ia tidak membawa apapun. Hanya membawa tubuh dan pakaian yang melekat di badannya.


"Mbak Seroja tidak perlu khawatir jika yang menjadi beban pikiran mbak Seroja adalah perihal modal."


Suster Ana tetiba bangkit dari posisi duduknya. Ia ayunkan langkah kakinya untuk menuju sebuah container susun yang terbuat dari plastik di mana biasa ia menyimpan pakaiannya. Sebuah amplop coklat ia keluarkan dari sana dan ia kembali menghampiri Seroja.


"Saya memiliki sedikit tabungan dan bisa Mbak gunakan untuk membuka usaha jahit baju. Semoga bisa bermanfaat ya Mbak."


Ana mengulurkan amplop cokelat itu ke arah Seroja. Sedangkan Seroja sendiri masih berada dalam mode terkesima. Tidak tahu harus mengangguk atau menggelengkan kepala.


Ana tergelak lirih melihat Seroja yang nampak seperti kehilangan separuh nyawa. Ia raih tangan wanita ini dan memaksa telapak tangannya untuk menerima pemberiannya ini. "Gunakan ini Mbak. Aku yakin bahwa mbak Seroja bisa kembali menata hidup. Dan aku yakin bahwa mbak Seroja senantiasa kuat untuk menjalani peran mbak Seroja di kehidupan yang sementara ini."

__ADS_1


"Sus ... mengapa suster Ana melakukan ini semua? Mengapa suster Ana begitu baik terhadapku?"


Entah apa yang dirasakan oleh Seroja. Saat ini hatinya seakan terasa begitu sesak. Sesak bukan karena menahan beban hidup yang begitu berat namun sesak karena dipenuhi oleh rasa haru. Haru karena kehadiran Ana seperti malaikat penolong untuk keluarganya.


Ana hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum simpul. "Entahlah Mbak, saya juga tidak tahu. Namun yang perlu mbak Seroja yakini adalah ini semua merupakan pertolongan dari Allah untuk mbak Seroja yang Dia berikan melalui kehadiran saya. Jadi sejatinya bukan saya yang menolong mbak Seroja, namun Allah sendiri lah yang memberikan pertolongan itu."


Tanpa terasa tetes-tetes kristal bening itu terjun bebas dari kedua mata Seroja. Perkataan Ana kali ini sungguh telah berhasil memporak-porandakan hatinya. "Mengapa Tuhan masih mau menolongku Sus dan tidak membiarkan aku mati saja? Padahal selama ini aku tidak pernah menjadi hambaNya yang bertaqwa?"


Ana kembali tersenyum simpul. Ia merasa hati Seroja sudah mulai sedikit terbuka. Ia yakin setelah ini, Seroja akan menemukan titik baliknya.


"Allah memberikan pertolongan untuk mbak Seroja, mungkin sebagai balasan kebaikan yang pernah mbak Seroja lakukan. Sedangkan Allah tidak membiarkan mbak Seroja mati terlebih dahulu, itu semua sebagai wujud kasih sayang Allah. Memberikan kesempatan kepada mbak Seroja agar bisa berbenah diri untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi."


"T-tapi aku tidak pernah melakukan kebaikan apapun Sus. Bahkan hanya dosa dan dosa yang selalu aku lakukan."


"Ketika mbak Seroja melihat ada kerikil di tengah jalan, kemudin reflek mbak Seroja menyingkirkan kerikil itu, sudah menjadi satu kebaikan yang tercatat. Inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, yang bahkan mungkin tidak nampak secara nyata, namun Allah tetap mencatatnya sebagai satu kebaikan. Dan kita tidak pernah tahu suatu saat nanti kebaikan-kebaikan kecil itulah yang akan membukakan jalan dari Allah untuk memberikan pertolonganNya untuk kita."


Seroja menundukkan wajahnya. Ada sebuah perasaan asing yang tiba-tiba bergelayut manja di hatinya. Apa yang diucapkan oleh Ana benar-benar telah meruntuhkan dinding-dinding keras hatinya.


"Apakah Tuhan masih mau menerimaku jika aku kembali kepadaNya? Apakah aku belum terlambat jika saat ini aku ingin mendekat kepadaNya?"


"Selama jantung mbak Seroja masih berdetak. Selama nadi mbak Seroja masih berdenyut. Dan selama nyawa masih ada di dalam badan mbak Seroja, Allah pasti akan menyambut 'kepulangan' mbak Seroja dengan penuh damba. Pulang lah ke fitrah kita sebagai manusia Mbak. Bahwa kita hanyalah manusia lemah yang senantiasa membutuhkan pertolongan dan kasih sayang Allah."


Seroja mendongakkan wajahnya. Ia tatap lekat wajah Ana dengan sorot mata penuh keteduhan. Tidak ada yang mampu ia ucapkan selain hanya air mata yang terus mengalir deras dari jendela hatinya.


Apakah Engkau masih mau menerima taubatku, Tuhan?


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2